Cast :
Baekhyun EXO as Byun Baekhyun EXO
Irene Red Velvet as Bae Joo Hyun / Irene
Other Cast :
Find it By Ur Self
Malam itu, Baekhyun masih betah menempel pada Young Soo
meski Irene sudah membolehkannya pulang setelah makan malam. Ini karena Young
Soo merengek minta ditemani tidur di kamarnya sebelum Baekhyun kembali dan Baekhyun tidak bisa menolaknya.
“Eomma, aku mengantuk.” Kata Young Soo saat mereka sedang
menghabiskan waktu malas mereka dengan berbaring di depan televisi. “Eomma, kau
mau menemaniku tidur kan?” tanya Young Soo pada ibunya.
“Tentu saja nak. Ayo! Tapi sebelumnya kau harus mengucapkan selamat
tinggal pada paman Baekhyun.”
“Tidak, paman Baekhyun juga akan menemaniku tidur, iya kan
paman?” Pinta Young Soo.
Mata Baekhyun terbelalak lebar mendengar permintaan Young
Soo. begitu pula Irene yang memperlihatkan ekspresi yang sama, mereka terkejut
setengah mati.
“Eomma kan sudah menemanimu tidur, dan paman Baekhyun harus
pulang sebelum larut malam Young Soo-ya.” Bujuk Irene.
“Ibumu benar Young Soo-ya, Paman harus bekerja besok jadi
paman harus pulang. Kan sudah ada Eomma yang menemanimu.” Timpal Baekhyun yang
diiringi wajah kecewa Young Soo. Mukanya di lipat dan bibirnya mengerucut. Lucu
sekali...
“Paman besok bekerja?
Bukankah kita sepakat untuk pergi berenang besok. Apa orang dewasa suka
melupakan janji? Eomma juga suka melupakan janjinya padaku.” Si kecil Young Soo merajuk.
“ Ya Tuhan Paman Baekie lupa... Baiklah besok kita berenang
jadi bersiaplah. Sekarang sana pergi tidur.”
Young Soo menggeleng “Tidak mau jika Paman dan Eomma tidak
menemaniku bersama.”
“ Young Soo-ya..kau kan tahu paman Baekhyun harus...” Jawab
Irene. Tapi Baekhyun segera memotong pembicaraannya.
“Baiklah, ayo Youngiee... kita ke kamar!” Jawab Baekhyun. Dia tak mau
berdebat dan membuang waktu.
Irene mengkode, matanya bergerak gerak dan mulutnya bicara
tanpa suara yang diikuti kedikan bahu Baekhyun dengan tatapan tajamnya seakan
mengatakan. “ayo lakukan saja dan segera akhiri setelah Young Soo tertidur!”
Young Soo terlalu semangat berjalan menuju kamar sambil menggoyang goyangkan tangannya bak
tentara hendak berlatih baris berbaris. Diikuti Irene dan Baekhyun yang sama sama
bersikap salah tingkah.
“Paman Baekie, kau disini...” menepuk tangan kirinya di
samping kiri dan menepuk tangan kanan untuk Eommanya “ Eomma disini dan Aku di
tengah.” Katanya.
Baekhyun dan Irene menurut saja mereka bertiga berbaring di
tempat tidur yang sama tetapi pandangan keduanya berhambur kemana saja, asalkan
tidak saling menatap. Kecanggungan diantara mereka terjadi di atas
sekotak tempat tidur kecil milik Young Soo.
“Paman Baekie, mana tangan kirimu?” Young Soo menarik tangan
kiri Baekhyun diatas perutnya, begitu pula tangan Irene yang diperlakukan sama
“Eomma, mana tangan kananmu?” Young Soo meletakkan kedua tangan mereka di atas
perutnya.
“Hmm... aku suka seperti ini...” Young Soo mengangkat tangan Baekhyun dan
meletakkan di atas tangan Irene. Irene yang terkejut langsung menarik tangannya,
tapi Baekhyun tiba tiba menangkapnya terlebih dulu dan menggenggamnya.
Kepalanya mengangguk, memberi kode pada Irene untuk menurut saja. “Sudah lah
turuti saja...” kira kira begitu Irene menafsirkan anggukan dan kedipan mata
Baekhyun.
Sudah enam tahun yang lalu, dan Irene masih saja berdebar
ketika tangannya berada di genggaman tangan Baekhyun yang tak kalah lentik
darinya. Irene tak bisa mengendalikan perasaannya dan memilih menutup mata. Kepala
mereka saling berhadapan langsung dan tentu saja membuat manik mata mereka
bertemu satu sama lain.
Irene memilih memejamkan mata daripada harus menatapnya
begitu. Di genggam tangannya saja membuatnya berdebar, apalagi saling menatap
mata. Irene pikir jantungnya akan meledak sebentar lagi.
Tangan Irene, Baekhyun dan Young Soo saling menggenggam
diatas perut Young Soo, dan anak ini sudah tak bersuara lagi. Matanya terpejam
perlahan masih dengan genggamannya yang kuat. Irene pun terlelap tanpa sadar.
Hanya Baekhyun satu satunya manusia yang terjaga. Sesekali
dia menatap Young Soo. Dia akhirnya meyakini bahwa Young Soo memang terlalu
mirip dengannya, tak bisa dipungkiri, tanpa tes DNA pun semua orang yakin
Baekhyun adalah ayah dari Young Soo. Lalu tatapannya menuju pada sesosok wanita
dihadapannya. Dia tertidur dengan nyaman, Baekhyun yakin Irene kelelahan hari
ini jadi dia bisa tidur dengan cepat.
Irene yang tertidur begini mengingatkannya pada peristiwa dulu, ketika
mereka menghabiskan malam bersama dan kemudian Baekhyun sengaja meninggalkannya.
Oh baiklah, harus kuceritakan kejadian saat itu.
Setelah Irene pergi ke toko pienya, Baekhyun akhirnya sadar
apa yang dilakukannya salah dan mungkin akan menimbulkan masalah untuk hidup
dan karirnya. Dia mencemaskan apa yang sudah dia lakukan bersama Irene. Jadi
dia berpura pura mengatakan produser memajukan jadwal rekaman, dan pergi begitu saja. Baekhyun juga sengaja tidak menggunakan SNS
nya selama satu tahun untuk menghilangkan jejaknya pada Irene.
Baekhyun berencana membuat Irene melupakan cinta satu
malamnya itu.
Baekhyun mungkin berpikir dia sudah berhasil karena Irene
tak pernah muncul lagi atau mengganggunya setelah kejadian itu. Baekhyun pikir
Irene sudah melupakannya.
Baekhyun pikir kisahnya bersama Irene sudah tak berjejak
lagi.
Pikiran pikiran Baekhyun ternyata salah besar.
Tak pernah di sangka, sikap pengecutnya itu membuatnya
bermasalah setelah enam tahun berlalu. Pernikahannya mungkin akan gagal jika
Yewon tahu bahwa dia memiliki anak dari wanita lain. Yewon wanita yang memiliki
kehormatan dan harga diri yang tinggi. Dia juga tidak pernah mentolerir sebuah
kesalahan. Bukan berarti Irene tak memiliki kehormatan atau harga diri, Irene
hanya pernah buta oleh cinta pada idolanya, Byun Baekhyun.
Jika ada dua orang wanita di otaknya sekarang, Baekhyun pun akan refleks membandingkan keduanya.
Irene sangat cantik, Dia sederhana dan sangat keibuan, dia
bisa merawat Young Soo dengan baik meskipun berperan sebagai orang tua yang
berperan ganda. Pintar memasak tetapi mudah jatuh cinta, dan satu lagi... dia
pemilik toko pie dari Alsace.
Yewon, dia juga tak kalah cantik, cerdas dan sangat mandiri,
perfeksionis, ingin segalanya berjalan
dengan sempurna. Dia hangat dan ceria, tak segan mengekspresikan cintanya pada
Baekhyun berbeda dengan Irene yang polos dan pemalu. Dan satu lagi.... Yewon
adalah pewaris tahta perusahaan.
Oh Bukan maksud Baekhyun menjadi materialistik. Tapi
keduanya benar benar berbeda satu sama lain, dan saling melengkapi kebutuhan
Baekhyun satu sama lain.
Dengan sangat egois, malam itu Baekhyun berpikir tentang “Mengapa aku menginginkan keduanya?
Bagaimana jika aku menginginkan keduanya. Apa aku salah?”
Fokus pikirannya terpecah ketika tangan Irene terlepas dari
genggamannya. Melihat Irene mencoba membuka mata. Baekhyun memejamkan mata, dia berpura pura tidur.
Selain untuk mengatasikecanggungan, Baekhyun juga tidak ingin ketahuan kalau
dia menatap Irene selama dia berbaring di sana dengan pikiran pikiran dan pengandaiannya yang
tidak mudah digapai.
Dalam pejaman matanya dia lalu memikirkan dalam dalam
tentang “memangnya siapa aku? Sekalipun
aku seorang idol dan digilai banyak gadis, Yewon akan tetap meninggalkanku jika
dia tahu aku memiliki anak... dan Irene, dia memiliki harga diri yang tinggi
hingga tak pernah merengek untuk meminta pertanggung jawabanku tentang Young
Soo. Jika dia tak memiliki harga diri, dia pasti sudah menemuiku setelah
kehamilannya dan membuat masalah kemudian menghancurkan karirku. Aku tahu, aku
tak sesempurna itu untuk menginginkan keduanya.”
Dalam samar samar mata Baekhyun yang terpejam, wanita itu
memandangnya penuh tak berkedip atau beranjak menatap hal lain.
“Bogoshipeo!” lirih Irene. Tangannya yang tadi berada dalam
genggaman Baekhyun mencoba mendekat ke wajah innocent Baekhyun yang terlelap. Irene ingin
menyentuhnya, sangat ingin.... Tapi Irene urung, matanya mengkristal hampir tak terbendung.
Irene menahan keinginannya untuk menyentuh wajah yang selama
ini dirindukannya dalam diam. Tapi mengungkapkannya seperti ini malah
membuatnya ingin menangis.
Irene bangkit dan duduk di samping tempat tidur Young Soo,
membelakangi mereka yang sudah terpejam.
Kepalanya mendongak ke atas dan menekan nekan ujung matanya dengan jari jari.
Irene tidak mau menangis di hadapan mereka tentu saja.
“Kenapa seperti ini?” Irene bertanya pada dirinya sendiri.
Kakinya melangkah keluar, menuju halaman belakang. Tempat
Baekhyun dan Young Soo bermain tadi siang. Irene duduk sendirian di bangku
taman berwarna putih. Bahunya bergerak naik turun. Ternyata Irene tak tahan dan
menangis di sana.
Dia mengambil handphonenya dan menelepon seseorang.
“Hallo, Bibi.... bagaimana kabarmu? Eoh, aku baik baik
saja.... Yaa... Young Soo sudah bertemu Baekhyun. Dia di kamarsekarang. Yaa....
aku? Apa aku baik baik saja?.....tentu saja
tidak bi. Aku ingin memeluk Baekhyun, aku ingin bercerita betapa aku membutuhkan
dia disisi kami.” Irene berhenti berkisah.... sementara seseorang di ujung sana
bicara.
“Aku tidak bisa bi, sudah aku bilang aku tidak kemari untuk
merusak pernikahannya demi bertanggung jawab atas kami.... Yaa aku tahu... aku
pikir aku hanya berharap dia mau menemui Young Soo. Tapi harapanku jadi terlalu
banyak. Aku berubah serakah setelah bertemu dengannya...aku ingin memeluknya,
aku ingin mengatakan padanya kalau selama ini aku sangat ingin menemuinya. Aku
berharap dia masih sama seperti dulu.”
“Iya bi, aku juga ingin bicara padanya berdua saja.... tapi
aku takut aku semakin menginginkan Baekhyun.”
Tanpa di sadari, ada seseorang yang memperhatikan
Irene di balik pintu. Mendengarkan semuanya... tidak terlewatkan sedikitpun,
bahkan hanya senggukan Irene di sela sela pembicaraannya.
Jadi selama ini Irene
masih mencintaiku?
Bagaimana bisa?
Aku meninggalkan dia
dengan mudah,
Tidak peduli
keadaannya setelah kejadian itu.
Membuatnya merawat
Young Soo sendirian.
Tapi perasaannya masih
begitu dalam padaku?
Baekhyun cukup terkejut dengan kenyataan itu. Irene sangat
pintar menyembunyikan perasaannya, seolah olah Irene sudah tak pernah lagi
memikirkannya dan hanya memperhatikan dan mendedikasikan dirinya untuk merawat Young
Soo.
Baekhyun berbalik, dia masuk ke dalam dan duduk bersandar di
meja bar dapur. Memikirkan banyak hal,
seperti sepatah kata yang diucapkan Irene saat dia pura pura tertidur tadi.
Irene merindukanku?
Setelah sedikit tenang, Irene kembali dan melihat Baekhyun
duduk merenung di dapur.
"Baekhyun-sshi?"
“ Dari mana? Aku mencarimu.” Tanya Baekhyun setelah melihat
Irene menghampirinya.
“Mencari udara segar, Kenapa ada di dapur? Kau lapar?” tanya Irene.
Baekhyun menggeleng. “ Tidak..” tapi perutnya menggerutu...
Krrrrrrk............... Irene tersenyum, seolah menangkap
basah kebohongan lucu Baekhyun.
“Perutmu marah Baek, tunggu sebentar. Aku akan buatkan
makanan untukmu. Sebelum kau pulang”
“ Tidak usah...” tolak Baekhyun segera.
“Sandwich?” Irene bersikeras.
“Tidak Irene....” Baekhyun tak kalah bersikeras.
“Atau kau mau nasi? Aku bisa buatkan omurice atau....”
“Irene-sshi, Jangan bertingkah baik baik saja. Aku benci
melihatnya.” Baekhyun menaikkan satu oktaf suaranya, menegaskan kemarahan atau ketidaksukaannya atau mungkin,
kegusarannya.
Baekhyun juga tidak mengerti mengapa kata itu yang keluar dari mulutnya,
tapi yang diucapkan Baekhyun baru saja adalah sebuah kejujuran. Baekhyun benci ketika melihat Irene
menangis di halaman belakang tadi. Hatinya ikut terluka tanpa disadari. Apalagi
setelah tahu, jika itu karena dirinya.
“ Aku hanya akan membuatkanmu makanan.”
“Tidak usah, aku pulang dulu.” Baekhyun tampak tak peduli
dan pergi begitu saja.
“Baekhyun-sshi...” Panggil Irene. Irene ragu akan
melanjutkan kalimatnya atau tidak, tetapi Baekhyun sudah terlanjur menoleh padanya.
“Aku membuat pie anggur. Aku pikir kita bisa...”
“Sudah malam Joo Hyun-ah.”Jawab Baekhyun sebelum Irene
melanjutkan kata katanya. Bagi Irene, ketika Baekhyun memanggil nama aslinya. Itu
adalah permohonan Baekhyun yang sangat mendalam dari hatinya. Dia tidak ingin
berlama lama lagi, batin Irene.
“Bawa pulang dorm saja, Aku membuat satu loyang besar kau
bisa membaginya untuk Chanyeol-sshi, dan member yang lain.”
“ Jangan terlalu perhatian!” Jawab Baekhyun kaku. “Aku tidak
akan tersentuh dengan sepotong pie, dan jangan mencoba membawa kenangan kita
enam tahun lalu. Aku sudah melupakannya.”
Kata kata Baekhyun baru saja membuat Irene tersadar akan satu
hal...
waktu mungkin tidak
merubah perasaanmu, tapi mungkin merubah perasaan orang lain. Enam tahun mungkin tak merubah rumahmu, tapi bisa merubah
pekarangan rumahmu menjadi gedung yang tinggi seiring berjalannya waktu.
Pohonpun berbunga
pada musim semi dan kehilangan daunnya ketika musim panas.
Semua hanya tentang waktu.
“Mengapa hanya aku yang tak berubah, ketika waktu sudah merubah segalanya?” batin Irene.
*Accidentally Love*

No comments:
Post a Comment