Mengapa rindu yang tidak berujung ini selalu mengetuk setiap malamku? Mengapa aku masih merindukannya? Mengapa yang kuingat hanya memori di kala senja saat kami melangkah bersama di gerbang besar dan menghabiskan banyak waktu berdua?
Aku semakin terbiasa dengan kenangan kenangan yang tidak pernah lepas sedetik saja dari otakku. tapi aku sudah merasa baik baik saja dan ku pikir aku semakin baik baik saja sekarang.
Mungkin kenangan itu memang tidak bisa tergantikan, atau aku yang tidak mau menggantinya dengan kenangan lain?
Tapi kenangan lain tentang siapa? Aku bahkan masih tidak memiliki seseorang untuk menciptakan kenangan yang baru untuk menutupi kenangan lamaku.
Mengapa tidak memiliki seseorang untuk menciptakan kenangan baru?
Ya Tuhan, Tidak bisakah mereka diam dan tidak menanyakannya?
Atau perlu ku jawab dengan hal yang begitu menyakitkan seperti
‘sejujurnya aku tidak bisa melupakan dia’.
Dia, yang kini pasti sudah semakin baik dengan hidup barunya.
“Selamat pagi nona Seo...” Sapa Ran Ahjumma, seorang petugas kebersihan di kantor tempatku bekerja. Aku hanya melambaikan tangan padanya dan berlari menuju lift. Ran Ahjumma tersenyum. Kebiasaanku sudah bisa terbaca, selalu terlambat pada hari Senin setelah weekend yang membuatku terlena. Jangan anggap aku terlalu bersemangat liburan hingga melupakan jam kantor. Aku bahkan tidak punya tenaga untuk keluar dari kamarku yang menyedihkan.
“Aku sudah menyiapkan susu rendah lemakmu di lemari pantry. Jangan lupa meminumnya.” Katanya lagi. Aku melingkarkan telunjuk dan ibu jariku membentuk tanda OK dan tersenyum.
Akuadalah salah seorang staff HRD di perusahaan produksi makanan instan di Korea. Orang orang menganggapku seorang pendiam dan kaku dan aku setuju dengan penilaian itu. Aku tidak mampu bergaul dan tidak punya teman ataupun sahabat. Kehidupanku biasa saja, pergi ke kantor lalu pulang ke apartemen dan tidak melakukan apapun. Kehidupanku empat tahun lalu malah lebih menyedihkan, aku hanya berangkat ke kampus, lalu pulang dan menangis. Tapi sekarang, menangis sudah tidak lagi ku lakukan.
Prestasiku di kantor juga tidak mencolok, aku melakukan pekerjaaan sesuai perintah atasan dan tidak melakukan gebrakan gebrakan “out of the box” agar karyawan bisa meningkatkan kinerjanya seperti yang rekan rekan HRDku lakukan. Untuk promosi jabatan atau apalah maksudnya, aku tidak tertarik. Tidak terlambat sampai di kantor adalah hal terbaik yang bisa ku lakukan.
Rekan kantorku bukannya mengucilkanku, tapi aku yang menutup diriku sendiri. Aku berbicara pada mereka seperlunya dan lebih sering mengunci mulutku. Jika kami sedang berkumpul dan membicarakan sesuatu, aku pasti akan berada di paling ujung pembicaraan dan memilih untuk diam atau mendengarkan mereka mengobrol saja. Saat di kantin, Jika mereka menanyakan kehidupan pribadiku, aku hanya akan tersenyum dan memilih melanjutkan aktifitas mengunyahku.
Aku terbiasa hidup sendiri, jangankan untuk menjalin hubungan dengan pria. Menjalin pertemanan dengan wanita saja sulit ku lakukan. Di kantor, hanya Ran Ahjumma yang sabar menghadapi sikap pendiamku. Iya, petugas kebersihan yang tadi ku temui di lobi kantor. Dia begitu tulus memperlakukanku, tidak seperti teman teman yang lain, mereka tidak mengucilkanku tapi membicarakanku di belakang. Menganggapku boneka hidup atau robot kantor. Aku benci kemunafikan itu.
Kebiasaanku untuk menyendiri memang sudah kulakukan sejak masih kuliah, aku tidak memiliki sahabat dekat, Ayah Ibuku sudah lama tinggal di Jepang dan aku menolak untuk ikut dengan mereka. Alasannya adalah hidup di Korea saja sudah terlampau sulit bagiku menyesuaikan diri dan bergaul dengan orang lain, apalagi di negara lain dengan bahasa yang berbeda pula. Aku mungkin tidak akan bicara selamanya.
Kehidupan kuliahku yang kupikir akan biasa biasa saja dan datar seperti berkutat dengan buku buku tebal, perpustakaan, kuliah, bertemu profesor, pulang apartemen dan mengerjakan tugas akhirnya berubah sedikit demi sedikit setelah kehadirannya di hidupku.
Pria itu, yang merubah kehidupan monotonku menjadi sangat sempurna. Cho Kyuhyun, pria itu mendekatiku dan memintaku menjadi kekasihnya. Aku sungguh tidak percaya, Kyuhyun yang begitu menyenangkan dan disukai banyak gadis bisa menyukai gadis yang kaku sepertiku. Tapi kehidupan cintaku dan dia selalu menjadi hujatan karena aku yang sangat tidak menyenangkan bisa mendapatkan cinta pria yang disukai banyak orang. "The Weird and The Lovable couple" begitu mereka selalu memanggil kami.
.
.
Aku tidak peduli, hanya mengingat bahwa dia adalah milikku dan dia berada di sisiku saja aku sangat bahagia. Melakukan aktifitas bersamanya dan mengakhirinya hingga senja. Berjalan bersamanya diantara pohon pohon tinggi sebelum meninggalkan gerbang kampus, atau menghabiskan waktu di apartemenku dengan menonton film serta memesan jjangmyeon kesukaannya.
Tapi aku adalah aku.Walaupun perasaanku sangat bahagia, kepribadianku tidak berubah hanya karena aku mencintai seseorang. Aku tidak menjadi terbuka atau menjadi seseorang yang mudah mengungkapkan rasa cintanya, aku sangat buruk untuk mengungkapkan rasa sayangku padanya. Terlalu malu bagiku untuk mengakui bahwa aku mencintainya seperti yang selalu dia katakan padaku. Untuk menunjukkan perasaanku, Aku melakukannya dengan cara yang lain, selalu menuruti keinginannya, mengiyakan semua kata katanya, menjadi pendengar setianya dan tidak pernah berdebat apapun dengannya.
Tapi aku adalah aku.Walaupun perasaanku sangat bahagia, kepribadianku tidak berubah hanya karena aku mencintai seseorang. Aku tidak menjadi terbuka atau menjadi seseorang yang mudah mengungkapkan rasa cintanya, aku sangat buruk untuk mengungkapkan rasa sayangku padanya. Terlalu malu bagiku untuk mengakui bahwa aku mencintainya seperti yang selalu dia katakan padaku. Untuk menunjukkan perasaanku, Aku melakukannya dengan cara yang lain, selalu menuruti keinginannya, mengiyakan semua kata katanya, menjadi pendengar setianya dan tidak pernah berdebat apapun dengannya.
Tapi seiring berjalannya waktu, dia sepertinya mulai jenuh padaku. Tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersamaku seperti sebelumnya. Dia tidak pernah terlihat menungguku saat selesai kuliah. Tidak mengirimi pesan seperhatian dulu atau meneleponku setiap waktu lagi. Aku tahu ada yang disembunyikannya akhir akhir ini.
Hingga pada akhirnya, aku melihatnya suatu sore di taman kampus bersama Shin Hae Kyung. Gadis paling populer di kampus kami.
Hingga pada akhirnya, aku melihatnya suatu sore di taman kampus bersama Shin Hae Kyung. Gadis paling populer di kampus kami.
Kalau sudah begini, aku hanya bisa berlari ke apartemenku dan menangis hingga pagi.
Aku benar benar ingin tahu apa alasan dia menjaga jaraknya denganku dan malah duduk bercanda bersama Hae Kyung di sana. Apa aku melakukan kesalahan hingga dia tidak lagi seperti dulu. Aku benar benar ingin tahu apa yang membuatnya berubah. Jika dia mau menjelaskan dan memintaku untuk melakukan apa yang dia inginkan aku pasti akan melakukannya. Asalkan dia kembali seperti seseorang yang kucintai dulu.
Aku benar benar ingin tahu apa alasan dia menjaga jaraknya denganku dan malah duduk bercanda bersama Hae Kyung di sana. Apa aku melakukan kesalahan hingga dia tidak lagi seperti dulu. Aku benar benar ingin tahu apa yang membuatnya berubah. Jika dia mau menjelaskan dan memintaku untuk melakukan apa yang dia inginkan aku pasti akan melakukannya. Asalkan dia kembali seperti seseorang yang kucintai dulu.
Tapi sore itu, sekembalinya aku dari kuliah terakhir. Kami duduk membisu di tempat yang sama saat aku melihat dia bersama Hae Kyung. Taman kampus, yang selalu menjadi tempat pertemuan kami.
“Entah kenapa, akhir akhir ini aku selalu memikirkan gadis lain, maafkan aku...”
“Lalu apa yang akan kau lakukan?" Tanyaku padanya. “Mengejarnya?” lanjutku.
“Aku tidak tahu...” jawabnya lemah.
Kata kata itu meruntuhkan harapanku, ketika aku ingin memulainya dari awal dan memperbaiki segalanya. Dia malah menjatuhkan perasaanku sedalam dalamnya. Menyakitkan, sungguh...
Akhirnya dengan senyuman getir di bibirku, aku memilih untuk melepaskannya. Membiarkan dia terus memikirkan gadis lain. Membiarkan dia mengejar cinta barunya dengan mengorbankan perasaanku yang sudah hancur. Aku bisa apa selain melepaskannya? Memaksanya untuk tinggal walaupun dia menaruh hati pada gadis itu? Aku tidak sekejam itu. Aku sangat mencintainya, dia adalah orang yang sangat berarti di hidupku, tapi aku tidak akan egois untuk memikirkan perasaanku saja.
Aku melepaskannya, agar dia meraih kebahagiaannya dan agar aku menemukan kebahagiaan yang baru. Tapi ternyata tidak semudah itu, apa yang harus ku lakukan jika aku tidak bisa melupakannya? Apa aku harus berada dalam kenangan yang selalu membersamaiku? Kenanganku tentang dia?
Ting...
Pintu lift terbuka seperti takdir. Seperti mengulang kembali kenangan senja milikku dengan dia. Dia berdiri di dalam sana dengan kebanggaannya dan aku berdiri di sisi luar dengan detakan jantung yang tidak lagi berirama. Kakiku rasanya terpaku di luar lift, terlalu sulit melangkah masuk.
“Nona, kau tidak mau masuk?” tanya seseorang lainnya. Perlahan aku masuk dan berdiri membelakangi mereka. Saat aku melirik ke arah tombol lift. Kenapa hanya lantai 23 yang menyala? Oh Ya Tuhan, jadi tujuan kami sama?
Benar benar ini adalah takdir yang kejam ketika aku harus mengetahui bahwa dia bekerja di tempat yang sama denganku, bahkan satu departemen. Dia baru saja dipindahkan dari perusahaan periklanan ke perusahaan kami untuk mengatasi kinerja pegawai yang semakin menurun dan banyak terjadi turn over . Dedikasinya pada perusahaan sebelumnya sangat baik, dia bukan dibuang dan dipindahkan begitu saja ke perusahaan kami, kedatangannya kemari adalah permintaan langsung dari CEO kami yang juga pemilik perusahaan periklanan tempatnya bekerja sebelumnya.
“Ini adalah Staff HRD baru kita, Cho Kyuhyun. Silakan memperkenalkan diri.” Kata Manajer kami.
Cho Kyuhyun, dia masih tetap sama, selalu mempesona siapapun dan selalu dikelilingi banyak gadis gadis. Sementara yang lain mulai mendekatinya, aku malah menjauh, dan lihat saja Yeo Bi, dia akan menyisir rambutnya ribuan kali dan memegang cerminnya setiap menit untuk membetulkan letak poninya yang bergeser sedikit dari tempatnya. Cho Kyuhyun adalah tipe semua gadis di departemen kantor kami. Tidak heran jika Yeo Bi mulai bertingkah.
“ Ku dengar Tae Yang Corps lebih baik karenamu.” Puji Yoo Jin.
“Haha, bagaimana bisa seorang staff HRD sepertiku bisa membuat Tae Yang lebih baik. Karyawanlah yang mau berubah untuk membangun perusahaannya lebih baik.” Jawab Kyuhyun.
Dia selalu ramah dan rendah hati. Selalu tersenyum dan bersikap baik pada semua orang. Bahkan pria pun akan iri pada kepribadiannya yang sempurna. Lihat saja sekarang, dia sudah mengambil hati semua rekan kerjaku dengan kepribadiannya yang menyenangkan.
Dia selalu ramah dan rendah hati. Selalu tersenyum dan bersikap baik pada semua orang. Bahkan pria pun akan iri pada kepribadiannya yang sempurna. Lihat saja sekarang, dia sudah mengambil hati semua rekan kerjaku dengan kepribadiannya yang menyenangkan.
Aku menatapnya dari jauh, tidak menyapanya. Dia saja tidak menyapaku saat di lift, wajahnya pun biasa saja saja melihatku di sana. Baiklah, memang lebih baik tetap seperti itu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal sebelumnya.
Atau memang benar kata orang orang dulu, bahwa dia malu memiliki kekasih sepertiku dan saat ini dia tidak ingin semua orang kantornya tahu hubungan kami di masa lalu.
Atau memang benar kata orang orang dulu, bahwa dia malu memiliki kekasih sepertiku dan saat ini dia tidak ingin semua orang kantornya tahu hubungan kami di masa lalu.
Baiklah, jika kau tidak ingin semua orang tahu tentang masa lalu kita bukankah itu lebih baik?
***
Seperti biasa, kantin selalu menjadi tempat favorit kami jika terlalu malas pergi ke luar mencari makan pada jam istirahat, dan kali ini topik yang teman teman departemen ku bicarakan adalah Kyuhyun. Mantan kekasihku.
“Oh iya, ku dengar dia sudah memiliki kekasih.” Kata Go Eun.
“Iya, mereka berpacaran sejak kuliah dan sebentar lagi mereka akan menikah, Dia benar benar pria yang setia. aku melihat di SNS miliknya, beberapa foto preweddingnya sudah tersebar. Kalau saja aku mengenalnya lebih awal. Aku akan mengejar Kyuhyun sampai dapat.” Jelas Yeo Bi.
“Kau mencari tahu tentang Kyuhyun sampai ke SNS nya? Kau stalker atau apa.” Tanya Go Eun heran. Benar, jika Yeo Bi menyukai seseorang, dia tidak akan setengah setengah mencari informasi, dan untungnya Yeo Bi mencari tahu hingga titik dimana Kyuhyun berpacaran dengan kekasihnya yang sekarang.
Aku rasanya ingin menyangkal sekencang kencangnya saat Yeo Bi mengatakan bahwa Kyuhyun adalah pria yang setia. Rasanya tenggorokanku gatal dan ingin meluruskan kekeliruan penilaian mereka tentang Kyuhyun. Dia meninggalkanku demi gadis lain, itu yang dinamakan setia? Demi Tuhan, mereka tidak tahu saja. Siapa yang membuatku tidak bersemangat hidup seperti ini.
“Uhuk....” Aku tersedak saat tiba tiba Kyuhyun menarik kursi di hadapanku sambil menenteng makan siangnya.
“Boleh aku bergabung?” Tanya Kyuhyun.
“ Tentu saja.” Yeo Bi dengan sigap menjawab pertanyaan itu.
“Kyuhyun-sshi, ku dengar kau akan menikah bulan depan? Benarkah?” Tanya Kang Haneul.
“Waaaa, bagaimana kalian bisa tahu bahkan undangan belum ku sebar?”
Ya Tuhan pembicaraan apalagi ini. Haruskah mereka menanyakan hal itu, dan haruskah Kyuhyun menjawabnya begitu. Apa sekarang dia sedang memamerkan hubungannya padaku?
Foto Prewedding? Ah, aku bahkan tidak pernah berpikir tentang foto prewedding dengannya. Dia berada disisiku saja sudah sangat cukup membuatku bahagia walaupun aku tidak mampu mengungkapkannya.
Foto Prewedding? Ah, aku bahkan tidak pernah berpikir tentang foto prewedding dengannya. Dia berada disisiku saja sudah sangat cukup membuatku bahagia walaupun aku tidak mampu mengungkapkannya.
“Jadi sebentar lagi Kyuhyun menikah, Begitu pula Haneul, Go Eun akan segera bertunangan, dan Yeo Bi, ah biarlah dia mencari pria tampan pilihannya, aku sudah malas mendekatinya, dia selalu memilih pria lain.” Kata Yoo Jin.
“Heiiii, kenapa membawa bawa namaku lagi?” Yeo Bi sebal, pria di sampingnya itu selalu menggodanya dan kemudian mencampakannya, begitu saja seterusnya hingga aku bisa berorasi di depan kalian semua.
“Dan kau Hyeon, apa yang akan kau lakukan dengan statusmu yang single selama bertahun tahun itu?” Tanya Go Eun.
Yeo Bi dan Go Eun sama saja, mereka selalu saja menggangguku dengan pertanyaan pertanyaan seputar status lajangku yang memang sudah cukup berkarat. Mereka juga tahu aku tidak akan menjawabnya, tapi mereka tidak pernah menyerah menggangguku.
Selama ini aku sudah cukup bersabar setiap mereka mengejek status lajangku ini, tapi kali ini mengapa mereka harus menanyakannya di depan Kyuhyun. Bukankah selain menyakitkan, itu sangat menjatuhkan harga diriku? Bagaimana bisa mantan kekasihku hampir menuju pelaminan tetapi aku masih tidak bisa pergi dari kenangan tentangnya.
“Ehm, aku kembali ke meja dulu. Pekerjaanku masih banyak.” Akhirnya senjata andalan terakhirku kupergunakan. Biasanya aku hanya bisa mengabaikan mereka dan terus menikmati makananku. Tapi kali ini Kyuhyun berada di sana, kerongkonganku tiba tiba rasanya tersumbat. Semua makananku tidak bisa masuk ke lambungku.
“Hyeon Jung-sshi, Kenapa kau selalu tidak menghabiskan makananmu? ” Pertanyaan itu muncul dari seseorang yang duduk di hadapanku baru saja.
Kyuhyun masih mengingatnya? Kebiasaan itu? Aku memang tidak pernah menghabiskan makananku, jadi sebelum aku memakan makananku, aku akan menaruh setengahnya di piring Kyuhyun. Sebelum dia mengomel lebih banyak tentang makananku aku akan memasang wajah kekenyangan yang selalu berhasil membuat dia menghabiskan semua yang ada di piringnya.
“Aku sudah kenyang.” Jawabku lalu pergi meninggalkan kantin.
“Kyuhyun-sshi, kenapa kau bisa tahu Hyeon tidak pernah menghabiskan makanannya?” Yeo Bi penasaran mengapa Kyuhyun tahu soal kebiasaan makanku. Samar samar ku dengar jawaban yang begitu menggelikan.
“Aa, itu? Aku diberitahu pak Hwang soal kebiasaan kalian semua.”
"Haah? Pak Hwang? Apa kau tidak salah?" Yeo Bi terkejut mendengarnya.
Cih, jawaban konyol seorang Kyuhyun itu membuatku tertawa. Apakah Kyuhyun tahu kalau Yeo Bi itu ssi cantik yang sangat jorok, dia suka mengelap ingusnya dengan tangan kemudian berjabat tangan dengan siapapun, atau Go Eun yang suka berfoto dimanapun hingga tak bisa menikmati kegiatannya. Atau Haneul yang suka mengoleksi blue film di handphone pribadinya dan Pak Hwang yang sering mengonsumsi obat penenang karena pekerjaannya yang terlalu berat.
Kenapa harus pak Hwang yang memberi tahu kebiasaan kebiasaan mereka. Dia bahkan tidak bisa memperhatikan dirinya sendiri?
***
Malam ini aku harus mengerjakan beberapa laporan hingga selesai. Semua pegawai di lantai 23 sudah pulang, kecuali aku dan beberapa petugas keamanan. Saat aku membereskan semua laporanku dan bersiap pulang, tiba tiba sosok tinggi yang selalu muncul dalam kenangan malamku kini muncul dalam dunia nyataku. Dengan tergesa gesa dia mengambil beberapa berkas yang sepertinya tertinggal di mejanya. Aku menunduk, agar dia tidak melihatku. Tapi sepertinya dia melihatku. Mata kami bertemu beberapa detik kemudian aku memalingkan wajahku.
Aku benar benar khawatir dia akan menghampiriku dan menyapa.
Aku benar benar khawatir dia akan menghampiriku dan menyapa.
Tapi setelah melihatku, dia pergi begitu saja. Menyapa? Mendekat padaku saja tidak. Berhenti berkhayal Hyeon. Dia sudah tidak tertarik lagi padamu.
Aku mengatur kembali nafas dan irama jantungku. Aku terlalu percaya diri jika Kyuhyun akan menghampiriku. Benar, dia sudah memiliki kekasih dan akan segera menikah. Mengapa dia harus menyapaku? bahkan saat kami hanya berdua dan tidak ada yang tahu.
Otot otot leherku rasanya kaku, mataku lelah karena belasan jam memandang layar desktop, otakku mendidih karena beberapa laporan tadi dan hatiku, kenapa hatiku masih bergetar saat melihat Kyuhyun bahkan hanya dari kejauhan, bukan satu langkah atau satu inchi di hadapanku. Apa benar aku masih belum bisa berpaling dari pesona pria itu?
Ting....
Aku benar benar heran dengan takdir yang selalu terbuka bersamaan dengan lift kantorku. Kyuhyun berada di sana dengan tas kerja dan berkas berkas yang diambilnya baru saja. Aku masih mematung sampai Kyuhyun harus menekan tombol tahan agar pintunya tidak segera tertutup.
“Kau tidak masuk? Akan lama jika menunggu lift yang lain. Ini sudah jam sebelas. Tidak baik wanita sendirian di kantor.” Katanya.
Aku melangkah masuk ke dalam lift tanpa sepatah katapun. Begitupun keadaan di dalam lift saat melewati satu demi satu lantai kantornya. Aku berdiri di belakangnya, menatap punggung lebar itu. Aku benar benar ingin memeluknya.
Tiba tiba Kyuhyun menyamakan posisinya, dan berdiri bersebelahan denganku.
Tiba tiba Kyuhyun menyamakan posisinya, dan berdiri bersebelahan denganku.
“Bagaimana kabarmu........ Hyeon?” Pertanyaan itu keluar dari bibir Kyuhyun yang membuat ku harus mengakui bahwa kami pernah saling mengenal sebelumnya. Bahkan tidak hanya saling mengenal, tetapi pernah saling membahagiakan.
Ini lah yang kutakutkan jika kami bertemu hanya berdua, membuat sebuah percakapan seperti manusia yang saling mengenal satu sama lain. Walau aku sangat ingin, tapi itu tidak boleh terjadi lagi.
“Bersikaplah seperti biasanya. Seperti kau tidak pernah mengenalku.”
“bukan begitu Hyeon-ah, aku hanya ingin menyapamu di waktu yang tepat.”
“Dan bagiku tidak pernah ada waktu yang tepat untuk saling menyapa lagi, Kyuhyun-sshi.”
“Apa kau baik baik saja setelah aku pergi?”Tanyanya. Aku tidak menjawab lagi, hingga pintu lift terbuka dan aku bergegas keluar.
“Kau menyimpan dendam padaku?”
Aku berhenti, ingin sekali mulut ini menyangkal dan menjelaskan betapa sebenarnya aku ingin merengkuhnya dalam pelukanku lagi, seperti dulu. Tapi seketika harapan itu ku tepis jauh jauh, setelah mengingat tentang rencana pernikahannya itu. Yaa, aku terluka lagi, di tempat yang sama.
Ting,
Aku mendengar bunyi lift tertutup dan menelan Kyuhyun ke parkir underground.
Menyimpan dendam? Kalau saja aku bisa menyimpan dendam kemudian bisa membalaskannya padamu dan hatiku akan menjadi baik baik saja. Pasti sudah akan kulakukan.
Bukan Kyu, aku tidak menyimpan dendam padamu, aku menyimpan rapi kenangan kita dan itu yang membuatku tidak bisa menerima pertanyaan pertanyaan tadi.
Bukan Kyu, aku tidak menyimpan dendam padamu, aku menyimpan rapi kenangan kita dan itu yang membuatku tidak bisa menerima pertanyaan pertanyaan tadi.
Bagaimana kabarku? Apa aku baik baik saja? Apa aku menyimpan dendam? Aah benar, sudah lama aku bahkan tidak menanyakan hatiku tentang semua ini. Hai hati, apa kau baik baik saja setelah kedatangan Kyuhyun di kantor? Yaah, dia tidak menjawabnya seperti mauku. Tapi dadaku terasa nyeri , dan itu menyakitkan.
Belum berapa lama aku melangkah keluar dari kantorku, hujan sudah mengguyur jalanan hingga setengah basah. Jarak antara kantor dengan halte masih beberapa ratus meter lagi. Apa aku harus naik taxi?
Tiba tiba mobil porsche hitam berhenti tepat di tempatku berteduh. Seseorang membuka kaca jendela dan menawarkan diri untuk mengantar. Lagi lagi pria itu adalah Kyuhyun. Kenapa dia tidak pergi saja, kenapa menggangguku dengan menawari tumpangan?
Dia mengklakson berkali kali.
“Aku naik bus saja?” Aku melanjutkan perjalananku, tapi hujan semakin deras. Ya Tuhan, kenapa harus hujan di saat dramatis seperti ini.
“Kau tidak lihat ini jam berapa? Sudah jarang bus beroperasi.” Kyuhyun mengikutiku dengan mobilnya tepat di sisi jalan.
“Kalau begitu aku naik taxi saja.” Begitu aku turun ke jalan untuk menghentikan taxi. Tangan besar itu menarik tanganku dan memaksaku masuk ke mobilnya.
“Aku bilang masuk!” Kyuhyun berteriak padaku. Satu hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya, berteriak dan dengan ototnya yang semakin mencengkeram tangan kecilku. Aku tentu saja terkejut dengan perlakuannya padaku. Bukankah Kyuhyun yang dulu tidak sekasar ini?
Aku begitu perasa hingga mau menangis.
Aku begitu perasa hingga mau menangis.
Kyuhyun menarikku masuk ke mobilnya, aku yang masih syok dengan teriakan tadi masih tidak menyangka. Bagaimana bisa aku duduk di samping kemudi bersama Kyuhyun. Membisu berdua seperti ini mengingatkanku pada hari dimana aku melepaskannya. Melepasnya untuk berjuang mendapatkan hati gadis lain.
Kyuhyun mengambil jasnya di kursi belakang dan memberikan padaku. Tanganku tidak menyambutnya. Aku tidak menerimanya sampai Kyuhyun meletakkan jas hitam itu di pangkuanku.
“Aku tahu kau kedinginan.”
Kau salah besar Kyu! Aku bahkan kepanasan hingga tidak bisa bernafas, jantungku berdetak tidak karuan dan...
“dan...” Kyuhyun mendehem seperti ragu ragu mengatakannya” Ehm, dalamanmu terlihat dari luar” Refleks segera aku menutupi tubuhku dengan jasnya.
“Yak!”
“Itu sebabnya aku tidak mau kau pulang naik bus atau naik taxi. Mereka bisa melihatnya.”
“Lalu kau pikir kau orang yang punya hak untuk melihatnya?”
“Itu sebabnya aku memberimu jas kantorku. Kau tidak pernah berpikir aku pria mesum kan?”
Aku tidak menjawabnya lagi, yah aku memang tidak ingin berbicara lebih banyak lagi dengan Kyuhyun. Lebih baik diam dan memperhatikan jalanan saja.
“Turunkan aku di halte bus terdekat saja.”
“aku akan mengantarmu, kau masih di apartemen yang dulu kan?”
“Kyuhyun-sshi...”
Belum sempat aku melanjutkan kata kataku. Telepon masuk dari Eomma di Jepang. Seperti biasa, eomma selalu menelepon pada jam jam malam seperti ini.
“Yeobseo eomma...Di perjalanan pulang dari kantor. Wae...? Ah sebentar kuperiksa dulu... siapa? Sepertinya aku pernah punya kartu namanya sebentar kuambil dompet dulu.. Ah ketemu, iya mau kubacakan nomornya? Atau ku foto kartu namanya? Baiklah, sebentar lagi ku kirimkan.. oh, ini. Aku lembur eomma, masih dalam perjalanan...akuu naik taxi... nee... nee... saranghae eomma. Ne...” aku menutup teleponnya dan memasukkan handphone dan kartu nama tadi ke dalam tas.
“Taxi?" tanya Kyuhyun.
"Taxi dengan supir yang memaksa." Jawabku.
" Eomma? Bagaimana kabar beliau?”
"Taxi dengan supir yang memaksa." Jawabku.
" Eomma? Bagaimana kabar beliau?”
“Keuman! Kau tidak bisa diam dan menyetir saja?”
Kemudian suasananya kembali seperti semula, dua orang yang membisu dan tidak tertarik untuk mencairkan suasana yang sudah terlanjur beku. Bibir kami beku, begitupun tubuhku yang sudah tidak lagi tertarik untuk aktif bergerak. Aku lelah dengan pekerjaanku dan kali ini aku juga lelah karena harus berhadapan dengan Kyuhyun.
Aku terbangun dari tidurku dan mengecek penunjuk waktu di tanganku.
“Oh, jam 1? Kenapa tidak membangunkanku?” Tanyaku. Perjalanan dari kantor ke apartemenku mungkin hanya 30 menit jika menggunakan mobil pribadi. Jadi dipastikan kami sampai di apartemen jam dua belas malam dan aku tidur di sana sudah sejak satu jam yang lalu?
“Kau lelah, mana berani aku membangunkanmu.” Jawab Kyuhyun. Ah, pria ini masih saja manis padaku padahal dia mau menikah dengan wanita lain. Kalau saja kau bukan milik siapa siapa Kyu, aku pasti akan sangat bahagia berada di sampingmu seperti ini. Bahkan tidak hanya satu jam, dua jam atau tiga jam. Asalkan bersamamu begini aku sangat bahagia.
“Terimakasih tumpangannya, dan aku tidak berharap kau melakukan ini lagi. Kau harus ingat dengan calon istrimu, tidak baik mengantar wanita lain pulang tengah malam begini.”
“Tidak, calon istriku tentu akan mengerti. Dia tidak akan marah kalau aku mengantar rekan kerjaku yang kemalaman di jalan. Walaupun dia adalah seorang wanita. Bukankah setiap wanita harus dilindungi.”
Lalu kenapa dia harus mempertegas kata calon istri di depanku? apa dia sangat membanggakannya?
“Yaah, mungkin begitu Kyu. Tapi akan berbeda ceritanya kalau yang kau antar adalah mantan kekasihmu yang kau tinggalkan demi calon istrimu.”
“Apa? Mantan kekasih?”Tanya Kyuhyun.
“Aa, atau kau tidak pernah menganggapku mantan kekasih?”
Apa yang ku katakan sekarang? Ah mulutku, kenapa kau begitu kurang ajar sampai mengatakan hal yang sudah ku tahan sejak kedatangannya. Aku membuka pintu mobil dan bergegas masuk ke apartemen. Aku berjalan menuju kamarku masih dengan merutuki kebodohanku tentang pembicaraan tadi.
Malam ini agendaku sudah bisa ku tebak. Aku perlu menyiapkan tissue dan bantal untuk meredam suaranya. Demi Tuhan, kenapa malam seperti ini datang lagi? Kenapa Tuhan menambahkan lagi jumlah malam yang harus kuhabiskan dengan menangisi Kyuhyun? Kenapa hatiku begitu perasa dan mudah menangis?
Ting tong... ting tong...
Dan kenapa ada yang bertamu malam malam begini apa mereka tidak punya jam? Dimana sopan santunnya?
Aku terkejut ketika yang berada di depan pintu apartemenku adalah Kyuhyun. Mau apa lagi dia di sini? Membuatku menangis lagi? Ku Mohon Kyu, pergilah dari hidupku.
“Kau meninggalkannya di mobilku. Aku pikir barang ini sangat penting jadi aku mengantarkannya sekarang.” Kata Kyuhyun sambil menunjukkan dompet berwarna hitam pink milikku. Aku tidak mau berurusan dengannya lagi dan menghabiskan malamku segera, jadi aku menengadahkan tanganku untuk meminta dompetku kembali.
Tapi Kyuhyun menarik dompetku lagi.
“Kembalikan...”
“Tidak... aku sangat penasaran dengan sesuatu.”
“Aku tidak akan menjawab rasa penasaranmu Kyu, jadi kembalikan dan pergilah.” Aku tidak mengerti apa yang Kyuhyun katakan sampai dia membuka dompetku dan menemukan sesuatu di sana. Hal yang membuatku juga sangat terkejut. Aku melupakan sesuatu..
“Kenapa masih ada foto kita di sini?” Benar saja, aku bahkan belum mengganti foto kami berdua dalam dompet. Foto yang diambil saat kami merayakan seratus hari masa pacaran kami. Kyuhyun merangkulku tanpa melihat kamera dan aku yang mengambil gambarnya. Aku sangat menyukai angle kanan Kyuhyun jadi aku memilih foto itu untuk ku pajang dalam dompetku.
“ Aku tidak sempat membereskan isi dompetku, cepat kembalikan.” Dan aku tidak berniat menggantinya.
“Selama empat tahun?” Cecar Kyuhyun.
“Iya...”
“Kau pikir masuk akal?”
“Lalu aku harus bagaimana? Jangan membuat keributan malam begini. Pulanglah.”
“Kalau begitu ijinkan aku masuk!”
“ Tidak Kyu, pulang lah...”
“Atau aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini.”
“Ini hanya foto Kyu, aku akan melepasnya dan masalah selesai. ”
“Apa kau masih mencintaiku?” Pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Kyuhyun. Membuat jantungku semakin tidak bisa dikendalikan.
“Kau..”
Kyuhyun menarik tanganku dan masuk ke apartemenku. Berdiri di sana cukup lama dengan tatapannya yang seteduh dulu.
“Kenapa Hyeon?” Suaranya parau begitu Kyuhyun menyadari kenyataan bahwa aku masih begitu dalam padanya.
“ Aku tidak...” Sanggahku.
“Bohong. Kenapa kau masih mencintaiku? ” Tatapan teduh itu masih saja bergelayut di mata onixnya yang selalu membuatku hatiku jatuh padanya.
“Aku tidak...”
“Mau berapa kali lagi kau menyangkalnya Hyeon?”
“Bukankah perasaanku padamu itu adalah urusanku?” Aku tidak tahan lagi dengan tekanan atas pertanyaan pertanyaan itu. Memangnya kenapa kalau aku masih mencintainya? Apakah ada alasan untuk melarangku masih mencintainya hingga saat ini.
“Tapi kenapa? Aku sudah mengkhianatimu Hyeon.”
“Andai saja aku bisa menjelaskannya. Aku tidak tahu alasannya, semuanya terjadi terus menerus. Saat aku mencoba melupakanmu , aku malah menata kenangan kita satu persatu. ” Air mataku menggenang di ekor mata kecilku.
“Saat aku mencoba untuk melupakanku , aku malah semakin sering mengingatmu . Sampai akhirnya aku menyerah untuk melupakanmu. Aku membiarkan diriku hidup dalam bayangan masa lalu kita. Aku tidak peduli bagaimana sakitnya. Tapi sampai empat tahun ini, aku berhasil mengatasinya. Kau lihat kan? Aku baik baik saja sekarang.”
“Hyeon, aku benar benar ..” Wajah Kyuhyun berubah sendu, tatapannya semakin dalam ke arahku yang sudah berurai air mata entah sejak kapan.
“Aku sudah menjawab rasa penasaranmu itu kan?” Aku ingin segera mengakhiri perdebatan ini. Aku menghela nafas. Entahlah, apakah ini perdebatan atau sebuah pengakuan.
“Iya, tapi...”
“Biarkan ini menjadi urusanku Kyu. Kau pulanglah...”
Kami berdua masih mematung saling berhadapan. Satu langkah lagi mungkin dia bisa menggapaiku atau jika aku sudah kehilangan akal sehat,aku bisa saja memeluknya.
“Hyeon, bisakah ini menjadi urusanku juga?” Kyuhyun mulai membuatku bingung. Aku hanya menatapnya tanpa berkedip.
“Bagaimana jika aku juga masih mencintaimu?”
No comments:
Post a Comment