Berawal dari notifikasi direct message instagram di
handphoneku tentang cecepy (cewe cewe happy) yang personelnya Julia Perez, Ayu
Tingting dan Sazkia Gotik dari salah satu sahabat terbaikku. Panggil saja
namanya dewi. Ini nama sebenarnya. Isi Dmnya
begini “Ayo nyaingin Cecepy, bertiga sama Thian” candanya.
Aku dan Dewi adalah sahabat sejak awal masuk kuliah, dan
kami menjadi sangat akrab karena kami mengerti perasaan masing masing. Perasaan
apa? Tentu saja, perasaan dikhianati. Korban LDR, begitu orang orang yang
mengetahui ceritanya menganggap kami. Dan kisah kami sungguh sangat mirip.
Hanya saja, dia masih bisa bersikap baik pada mantan kekasihnya dengan hati
malaikatnya itu. Tapi aku tidak, hatiku masih penuh kebencian walaupun
perasaanku masih tetap sama.
Suatu saat kami bergosip tentang Display Picture BBM
seseorang. Salah satu temanku di kampus, namanya Thian. Dia sudah berpacaran
dengan kekasihnya seusia pacaranku dengan mantan kekasihku. Tiga tahun. Mereka
lebih intens bertemu karena satu kampus
dan satu tempat kerja paruh waktu. Suatu
saat, Display Picture Thian adalah kekasihnya yang akan berangkat menuju Jakarta
untuk bekerja. Keisengan kami pun sebagai senior korban LDR muncul
dengan mengatakan “Duh Thian LDR. Delok wae, dilit neh ilang.” (( Trans : Duh Thian LDR. Liat saja, sebentar lagi
(pacarnya) ilang )) dan Dewi pun menambahi “Delok Wae, dilit neh nggandeng sing
anyar.” (trans : Liat saja, sebentar lagi gandeng yang baru)
Belum juga aku dan Dewi melupakan kalimat itu seiring berjalannya
waktu. Kami mengetahui kalau Thian sudah putus dengan kekasihnya.
“Kak, liat PMnya tian!” kata Dewi.
Ketika aku menskrol recent update di BBM, statusnya cukup
frontal dan semua orang juga tahu untuk siapa status itu diberikan.
“Dasar kelakuan dari dulu kaya gitu yaa mau gimana juga
nggak bakal berubah!”
“Silakan pergi dengan semua kebohongan kamu!”
“Jane ket mbiyen yo ngono, tapi aku wae sing pekok!” ( Trans
: Sebenarnya dari dulu kaya gitu, tapi aku aja yang bodoh!)
Karena dibekali empati yang semakin di asah karena tuntutan
tugas kampus, akhirnya kami bertanya tentang masalahnya. Setelah dia
menceritakan semuanya, entah kenapa kami bertiga menjadi dekat. Saling
menanyakan kabar masing masing, bagaimana move on berjalan dan berandai andai
akan sesuatu.
Selain itu, bagian terpenting dari sekumpulan cewe yang
dikhianati ini adalah saling menguatkan.
“Aku lo, dijanjeni dilamar bar wisuda..hahahaha” (Aku lo,
dijanjiin dilamar setelah wisuda) Kata
Thian, tapi sebelum Thian wisuda mereka sudah
putus lebih dulu.
“dia lo, udah
minta maaf ro aku eh dibaleni neh, milihe sing berjas putih. Apalah dayaku sing
mung berjas hujan. hahahaha” (dia loh, udah minta maaf sama aku, eh diulangi
lagi, (dia) memilih yang berjas putih (dokter). Apalah dayaku yang cuma berjas
hujan) “ Itu kata kata Dewi yang selalu ku ingat.
“Julian lo, selama pacaran ngomong ameh nglamar setelah tiga
lebaran. Wis ngomong bapake soal ngelamar. Eh lagi 2 lebaran wis nggandeng cewe liyo. Foto prewedding wisan
hahahaha.” (Julian lo, selama pacaran selalu bilang mau melamar setelah tiga lebaran. Udah ngomong bapaknya soal melamar. Eh baru dua lebaran udah nggandeng cewe lain. Udah foto preweding juga.) Timpalku.
Kenapa menyelipkan hahahaha dibelakang kalimat kalimat kami,
entahlah. Kami hanya menertawakan diri kami sendiri. Begitu mudahnya percaya
dengan kalimat kalimat mereka yang hanya omong kosong tanpa bukti. Kalimat
kalimat yang keluar dari mulut mereka dengan mudah dan dengan mudahnya juga dipercaya
oleh kami.
Satu atau dua teman kami selalu bertanya, "Gimana udah move on?"
"Udah lah..." Jawabku. Aku selalu tidak ingin merasa rapuh walaupun sebenernya masih sangat terluka.
"Jadi pacarnya siapa sekarang?"
Kami dengan gasspoll selalu mengatakan " Emang move on harus punya pacar ya? Eh bertahan hidup sendiri setelah ditinggal sampai sejauh ini aja udah hebat loh. Kenapa harus move on dengan orang lain? Ntar disakitin lagi, move on nya nggak kelar kelar dong?"
Bagiku, Move On adalah pembebasan hati agar siap untuk menerima hati yang baru, bukan memindahkan hati dari satu laki laki (yang membuatmu terluka) ke laki laki yang lain (yang secara tidak sadar juga bisa membuatmu terluka). Karena cara move on begitu akan menimbulkan resiko yang sama. Seperti pengalamanku dari Febrian ke Julian.
Kembali ke permasalahan, kalau secara kasar, kami mengatakan mereka adalah pria pria
seperti kacang yang lupa kulit. Kesamaan mereka adalah mereka meninggalkan kami
setelah mereka mendapatkan pekerjaan yang baik, tetapi mereka lupa siapa yang menemaninya
berjuang saat masih kuliah. Saat uang mepet kami rela kalau hanya makan indomie
berdua, atau kami patungan agar bisa makan hari itu, kami rela tidak kemana
mana saat malam minggu karena uang saku menipis dan belum mendapat pasokan uang dari orang tua. Yah,
semuanya tentu saja bukan hanya tentang uang, tapi tentang perjuangan kami. Aku
yang Jombor-UIN-Jombor , atau Jombor –Tegalrejo-Jombor sebelum dia memiliki
sepeda motor , Jogja Solo Jogja seharian karena Hendra terlalu sibuk bekerja
hingga Dewi yang harus mendatanginya setiap waktu atau Thian yang berjuang
menyambung hidup di Jogja bersama kekasihnya.
Tapi Kota besar dengan segala keangkuhannya itu melahap kesetiaan kekasih kekasih kami dengan
berbagai alasan. Mereka tidak kuat menjalani hubungan jarak jauh atau perasaan
tidak selevel lagi seperti yang dirasakan Thian. Aku dan Dewi hanya seorang
mahasiswa yang masih berjuang untuk lulus dan Thian yang sudah lulus tetapi
belum mendapatkan pekerjaan. Jadi apa hebatnya kami?
Semua terasa lucu ketika selalu muncul pertanyaan yang dilematis
seperti, “bagaimana jika mereka ingin kembali padamu?”
Aku paling bisa menebak keputusan Dewi, dia akan iya tanpa syarat apapun.
Hatinya secantik malaikat bila semuanya itu masih tentang Hendra. Dia selalu
bilang kalau Julian Jahat, tapi ketika aku bilang Hendra sama jahatnya bahkan
lebih jahat, dia tidak akan terima. “Hendra itu nggak jahat. kak!” Cih, menyebalkan
bukan? Tapi begitu lah Dewi jika berurusan tentang Hendra. Sedangkan aku dan
Thian, kami hampir sama. Perasaan kami dengan mantan kekasih kami juga masih
sama. Tapi kali ini harus dengan logika, apa kami sebodoh itu seandainya menerima mereka kembali? Tapi kami tidak pernah mengingkari perasaan perasaan kami yang masih utuh. Jadi sebelum hal itu benar benar terjadi,
kami berdoa kepada Tuhan agar orang yang lebih baik akan datang pada kami lebih cepat.
Tiga gadis bodoh ini semakin akrab saja, saling menguatkan
dengan meme meme di instagram atau
sekedar curhat tentang perasaan masing masing. Tapi karena aku dan dewi sudah
mengalaminya begitu lama, kami tidak terlalu berfokus pada hal hal semacam itu.
Memperbaiki diri dan melakukan aktifitas yang bisa mengabaikan perasaan
perasaan itu sudah menjadi keahlianku dan Dewi. Tapi Thian masih perlu banyak
waktu, dia baru saja patah hati.Thian masih sangat terluka, aku tahu. Dia masih dalam tahap tidak menerima kenyataan bahwa kekasihnya meninggalkannya begitu mudah. Sampai kapanpun aku menjelaskan bagaimana aku bertahan, dia tidak akan mengerti. Dia hanya perlu menjalaninya, dia butuh waktu lebih lama agar bisa menerima keadaan.
Sayangnya Thian sudah pulang dari perantauannya
di Jogja, Rumahnya di Bekasi dan saat ini dia tidak memiliki teman sebaya untuk
berbagi keluh kesahnya, berbeda denganku yang masih bersama sahabat sahabat
terbaikku di sini.
“Jadi udah siap mau nyaingin cecepy?” kata Dewi.
“Jadi siapa nama kita?” Tanya Thian. “Gimana kalau Cecaku?”
“Apaan tuh?” tanyaku
“Cewe cantik kuat...hahaha” Thian geli sendiri dengan akronim
yang dibuatnya. Aku juga geli mendengar kata cantik dan kuat.
“ Gimana kalau ceuceu ceuceu solehah?” kataku setelah mendapat pancingan dari Thian
dengan kata kata Sholehah.
Haha, tentu saja kami masih jauh dari kata Sholehah. Gadis sholehah
tidak akan berpacaran atau galau karena ditinggal mantan kekasih. Tapi paling
tidak, nama itu menjadi sebuah doa untuk kami. Doa gadis gadis bodoh yang
sedang mencemaskan jodoh dan sibuk memperbaiki diri.
No comments:
Post a Comment