Thursday, March 3, 2016

All In, Love (Part 2)



Supir pribadinya sudah menunggu di depan apartemen dengan mobil yang puluhan kali lebih mahal dari milik pribadinya dulu, ah benar dia seorang CEO sekarang. Mengenakan kemeja dan jas yang senada  Kyuhyun turun dengan menenteng tas kerja.


Klien? Haha, benar kata Hyeon. Terlalu pagi untuk menemui Klien pukul 07.00, ini hanya alasan Kyuhyun saja agar dia cepat pergi dari apartemen.



“Hallo, Iya...Oh Tuan Yong.. bagaimana dengan pertemuannya? Oh baiklah... tidak masalah bagiku. Sampai Jumpa nanti malam. Iyaa... iyaa... selamat pagi.”



Tlut...




Sambungan teleponnya terputus. Kyuhyun seharusnya bertemu Klien pukul 10.00 nanti tapi secara sepihak kliennya menunda pertemuannya menjadi nanti malam. Kyuhyun tidak menolak, toh dia juga ingin pulang terlambat agar tidak lama lama bersama dengan Hyeon Jung.



Atas perintah Kyuhyun, supirnya membawa Kyuhyun ke apartemen lamanya yang sekarang hanya dihuni Min Ho.



“Hyeong... kau datang? Pagi sekali?”



“ Aku berencana berteu Klien jam 10 tapi mereka menunda jadi nanti malam. Jadi kusempatkan kemari.”



“Jam 10 dan kau sudah berangkat pagi begini? Memangnya meetingmu di luar kota?”



“Kau banyak bertanya..”



“Kau sudah sarapan Hyeong?”



Kyuhyun hanya menggeleng. “Mau ku buatkan juga?” Kyuhyun tidak menolaknya dan langsung mengiyakan.



“Sebenarnya aku lapar sekali pagi ini.” Terang Kyuhyun. Kakaknya itu terlihat menyedihkan. Apa sahabatnya itu tidak membuatkan makanan untuk kakak kesayangannya setelah menikah.



“Hyeon tidak memasak?” Tanya MinHo dan Kyuhyun tidak menjawab. Hanya senyum simpul dengan sedikit paksaan yang menjadi jawaban Kyuhyun dari pertanyaan Min Ho.



“benar benar anak itu. Kenapa suaminya malah sarapan di sini? Hyeong, aku akan memperingatkannya.” Ucap Min Ho kesal.



“Tidak perlu... lagipula hanya sarapan.” Kyuhyun mencegahnya.



“Tapi Hyeong...”



“Sudahlah...” Akhir Kyuhyun.  “Bagaimana rasanya tinggal sendiri?”



“ Yaa, sangat menyenangkan karena aku menguasai apartemen ini sendiri hahaha...” Katanya sombong. “Oh iya, Hyeong, aku ingin menjual mobilku.”



“Kenapa? Kau butuh uang? Kenapa tidak bilang padaku?” Tanya Kyuhyun.



“Bukan Hyeong....”



“Kalau uang saku dariku tidak cukup nanti akan ku tambah.”



“Hyeong, cafemu  saja  sudah membuatku berkecukupan, kau tidak perlu memberiku tambahan uang saku, dan soal mobil. Aku hanya tidak pernah memakainya dan aku merasa kasian padanya. Aku bukan pemilik yang baik, bahkan aku tidak sempat merawatnya. Lagipula aku belum dapat surat ijin mengemudi jadi terlalu sulit untuk membawanya kemana mana. Aku akan menyimpan uangnya dan membeli mobil setelah aku masuk kuliah nanti. Bagaimana menurutmu?”



“bukan ide yang buruk kalau itu memang maumu. Tapi jangan pernah menjual mobilmu kalau kau membutuhkan sesuatu yang lain. Hyeong akan membantumu.”



“Ne Hyeong.”



“Oh iya,  apa kau membersihkan kamarku? Kau melihat jam tangan yang saat itu ku beli di Paris bersamamu?



“Aku menyimpannya di laci jam tanganku ambil saja. Kau meninggalkannya begitu saja di sini, aku merasa kasihan.” Kata Min Ho. Pria itu memang terlalu sensitif. Dia pernah memungut boneka panda besar yang diletakkan di depan apartemennya karena merasa kasihan ditinggal pemiliknya sendiri. Dia juga orang yang akan mengelap sepatu sepatu dan barang barang berdebu di apartemennya dengan alasan ‘kasihan’. Kasihan mereka sangat kotor, kasihan mereka tidak pernah dipakai, atau kasihan dia tidak pernah dirawat.



“Yaaak, kau sensitif sekali pada benda mati. Baiklah akan kuambil dulu.”



Kyuhyun naik ke kamar Min Ho untuk mengambil barangnya. Sementara Min Ho menyiapkan dua mangkuk nasi dan sup daging masakannya di atas meja.



Ting tong ting tong..



Bel pintu apartemen berbunyi dan Min Ho segera mengecek siapa yang datang.



“Hyeon?”



“Ta daaa.... aku membawa banyak makanan untuk sarapan. Kau belum sarapan kan? Ayo sarapan bersama. Tadinya aku mau sarapan bersama Kyuhyun Oppa tapi dia mau bertemu Klien dan aku malas sarapan sendiri lagi. Jadi aku kemari saja.” Hyeon Jung menunjuk kotak makan yang dia bawa, menerobos masuk dengan mulutnya yang tidak mau berhenti bicara itu ke apartemen Min Ho. Hyeon Jung langsung saja menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang dibawanya.



“Mwo-ya? Kau tahu aku datang jadi sudah menyiapkan dua piring nasi? Heol, sahabatku ini benar benar hebat.” Puji Hyeong.



“Min Ho-ya, apa  sarapannya sudah siap? Setelah ini aku langsung ke kantor sa...”



Hyeon Jung  yang sedang sibuk membuka kotak makannya sedikit terkejut dengan suara yang sangat dia kenali itu.



Begitupun Kyuhyun yang mendapati seseorang yang lain di meja makan, membuat  Kyuhyun berhenti di anak tangga terakhir dan menyadari kehadiran Hyeon.



“Oppa, kau di sini?”



“ Eo.. kenapa kau di sini?” Tanya Kyuhyun. “Bukankah tidak baik istri orang pergi ke apartemen laki laki lain pagi pagi begini?”



“Laki laki lain apanya. Min Ho kan adikmu.” Hyeon Jung tersenyum kepada suaminya “Oh iya,  Kau bilang mau meeting bersama Klien?”



“Mereka menundanya. Jadi aku kemari.”



“Ooh, begitu. Ya sudah kalau begitu kita sarapan bertiga saja. Setelah itu aku akan berangkat sekolah bersama Min Ho. Apa oppa mau mengantar kami?”



Gadis polos itu bukan tidak tahu Kyuhyun menghindarinya pagi ini, dia tahu betul tidak ada meeting dengan Klien jam tujuh pagi. Bukankah terlalu pagi untuk membahas kerjasama perusahaan?  Hyeon sedikit kecewa melihat Kyuhyun di apartemen Min Ho, dia sudah memasak banyak makanan tapi Kyuhyun pergi begitu saja. Tapi di sisi lain dia bersyukur, tidak ada tempat untuk Kyuhyun pergi kecuali ke apartemennya yang dulu. Itu lebih melegakan daripada dia berada di tempat lain.



*****

Hyeong, bukankah Hyeon memasak. Kenapa kau malah sarapan di sini? Hei jangan jangan kalian sedang bertengkar.” Min Ho menaruh curiga pada mereka.



“Tidak...” Jawab kyuhyun cepat.



“ Tidak...” Hyeon Jung juga menjawab hal yang sama bersamaan. “Tadi aku belum selesai memasak, karena oppa buru-buru mau bertemu klien ya sudah kami tidak jadi sarapan bersama.”



“Kau kan bisa menunggunya selesai memasak Hyeong, kenapa malah kemari?”



“Klienku membatalkan janji jadi aku kemari mengunjungimu. Kau tidak senang kedatangan Hyeongmu?”




“Yaa, tetap saja...”



“Yaaa, Choi Min Ho... kau berani meninggikan suaramu di depan suamiku?” Ancam Hyeon Jung dengan sumpit yang di hentakannya ke meja



“Apa? Suamimu? Wooaaah, geli aku mendengarnya. Kau sudah mulai sombong  karena kakakku ini sudah menjadi milikmu Hyeon padahal aku sedang membelamu sekarang. Aa molla!! Aku mandi saja kalau begitu” Jawab Min Ho setelah meletakkan sumpitnya ke atas meja makan persegi panjang itu.



Min Ho pergi ke kamar mandi dan tinggallah mereka berdua di meja makan. Mereka hanya duduk berdua, tidak saling bicara. Kyuhyun merasa bersalah karena berbohong pada Hyeon tentang meeting bersama klien sepagi ini, dan Hyeon tidak lagi banyak bicara setelahnya. Ada satu hal yang akhirnya di sadari Hyeon selama satu bulan pernikahannya. Kyuhyun tidak pernah  menghabiskan waktu bersamanya. Kyuhyun berusaha menghindari kebersamaan dan pembicaraan selayaknya sepasang suami istri. Walaupun Hyeon  menemukannya tidak bersama wanita lain, tetap saja dia sedikit kecewa dengan sikapnya. Apakah begitu sulit menghabiskan waktu sebentar untuk sarapan bersama berdua saja?



“Aku mungkin pulang terlambat nanti malam, jangan menungguku. Kali ini benar benar jangan menungguku seperti kemarin, karena meeting pagi ini ditunda nanti malam.” Pinta Kyuhyun. Kemarin malam Hyeon menunggunya di depan pintu apartemen sampai tertidur di sana, dengan kaki yang ditekuk dan wajah yang ditelungkupkan ke lututnya.  Menyedihkan, seperti seseorang yang terusir dari rumahnya sendiri.



“Ne Oppa...” Jawab Hyeon tidak menjawab apa apa lagi.  




Meeting berjalan lancar seperti biasa. Pertemuan selanjutnya  mereka hanya perlu menandatangani kontrak kerja dan itu berarti Kyuhyun sudah sangat berhasil membawa perusahaannya stabil kembali. Kerjasama dengan perusahaan fashion sebagai sponsor utama departemen store  yang kembali membuka cabang terbaru dengan konsep taman bermain sukses di tangan Kyuhyun.




Walau pengalamannya hanya sebatas perusahaan ayahnya dulu dan dia sama sekali belum pernah menjabat sebagai CEO, tapi ayahnya telah mengajarkan Kyuhyun banyak hal. Termasuk bagaimana bekerja sama dengan perusahaan lain, apa saja yang harus dipersiapkan dan hal hal apa saja yang mungkin akan terjadi dalam sebuah kerjasama perusahaan. Kyuhyun sudah mengantisipasinya dengan sangat baik. Dan terbukti, sponsor utama sudah berada dalam genggaman Kyuhyun.



“Bukankah setidaknya kita harus minum minum bersama untuk merayakan kerjasama ini?” Kata kliennya  yang bertubuh gempal itu.



“ Aah mungkin lain kali saja. Saya ada pekerjaan lagi malam ini.” Tolak Kyuhyun.



“Ayo lah, bagaimana bisa anda menghandel pekerjaan sampai larut malam. Lebih baik kita minum minum atau...” kliennya seperti memikirkan hal yang lain. Sebuah tempat yang memiliki daya tarik pada malam hari. Dimana lagi selain casino.



“Emm...”



“Atau kita perlu ke tempat lain?”



“Baiklah, kita ke casino saja.” Jawab Kyuhyun mantap setelah memikirkan ini sebelumnya. “Kita hanya perlu bermain kemudian pulang kan?”



Kliennya hanya mengangguk.




Kyuhyun dan kliennya datang ke casino. Mereka memesan ruang VIP ditemani gadis gadis penghibur yang lain. Lalu pemilik casino menawarkan dua gadis lagi untuk mendampinginya di meja judi. Dan entah takdir apa yang membawa Kyuhyun kepadanya, dari sekian banyak gadis penghibur itu. Kyuhyun akhirnya  bertemu dengan orang yang dicintainya dulu. Sarah...




Dulu? Ah apa benar hanya dulu? Bagaimana dengan sekarang? Apa sudah hilang?



Sarah yang mendampingi Kyuhyun  di meja judi melawan kliennya. Kliennya sungguh dibuat terkejut dengan permainan Kyuhyun yang sangat hebat. Dia memenangkan permainan hingga akhir dan kliennya menelan kekalahan yang  menyedihkan.  Ketika pertandingan selesai dan Kliennya berjalan keluar bersama wanita penghibur lainnya. Kyuhyun belum terbangun dari mejanya. Akhirnya dia mengenang kembali masa masa indahnya bersama sarah sebelum  ada seorang pewaris perusahaan  yang datang menghancurkan hubungannya.



“Apa kabarmu?” getaran getaran cinta yang tadinya sudah jadi setitik itu dalam hitungan detik saja akhirnya semakin membuncah. Perasaannya tak terkendali. Bahkan setelah sekian lama dia hidup bersama wanita lain. Wanita inilah yang hanya ada di pikiran dan hatinya. Sarah...


“Oppa, aku merindukanmu...” Sarah memeluk Kyuhyun erat, tidak seperti biasanya. Pelukannya terasa hangat. Kyuhyun bahkan bisa merasakan itu. Tidak seperti pelukannya yang dulu. Pelukan kali ini terasa lebih hangat, menenangkan dan penuh ketulusan.


“Kau merindukanku?” Tanya Kyuhyun tidak percaya.



“Kenapa tidak pernah datang? Aku benar benar menyesal telah menyakitimu. Apa kau kemari karena merindukanku?”



Kyuhyun terdiam, tapi dia merasa kenyamanan yang diberikan sarah padanya dulu akhirnya kembali. Kyuhyun merasa kembali ke dunianya yang sangat membahagiakan baginya. Dunia dimana dia hanya bersama sarah dan tidak melihat ke arah manapun.



“Apa aku harus merindukan seseorang yang sudah memiliki kekasih?” tanya Kyuhyun.  Sebuah pertanyaan yang semua orang tahu hanya untuk memastikan apakah dia memiliki kekasih atau tidak.



“Oppa, maafkan aku. Kau benar. Siwon tidak benar benar mencintaiku. Dan kau benar, hanya kau yang akan menerimaku apa adanya. Maafkan aku, kau mau memaafkanku kan? Sejak kau tidak pernah datang kemari, aku benar benar merasa sulit, hatiku sakit. Aku baru menyadari aku telah menyia nyiakan orang baik sepertimu”



Perasaan perasaan itu kembali menguras emosi keduanya. Rasa rindu keduanya berlanjut hingga esok pagi, di kamar yang sama ribuan malam yang telah lalu.



Di apartemennya, Seo Hyeon Jung gelisah menunggu suaminya pulang. walaupun meeting dilakukan malam hari tapi bukankah tidak akan sampai selarut ini? Ini sudah jam dua pagi dan Hyeon Jung masih mondar mandir dengan handphone di genggamannya. Menghubungi Kyuhyun puluhan kali dan mengirimi pesan ratusan baris yang tidak pernah di baca.



Hyeon Jung mengkhawatirkan kyuhyun lebih dari apapun. Dia takut terjadi apa apa pada suaminya. Hyeon ingin menghubungi ibunya untuk menyuruh anak buah ayahnya mencari Kyuhyun tapi  pikirannya tidak boleh sesepele itu.Menggantungkan masalahnya pada orang tua? Baginya, ini adalah masalah keluarga kecilnya sendiri. Dia tidak ingin dicap gadis yang tidak bisa menyelesaikan permasalahan sepele dan membiarkan orang lain turut campur dalam kehdupan pernikahannya.



“Kyuhyun Oppa pasti akan marah jika aku melakukan ini. Haish, kekanakan sekali sih pikiranku ini. Untung aku tidak jadi melapor pada ayah dan ibu.”



Hyeon Jung menahan matanya yang terkantuk kantuk, dia bahkan tidak menuju ke kamar walaupun Kyuhyun sduah memintanya untuk tidak menunggunya malam ini. Tapi perasaannya tidak karuan, suaminya belum pulang selarut ini.


*****


Kyuhyun terbangun dengan seseorang yang masih memeluknya erat, pakaian mereka entah kemana dan Kyuhyun juga tidak menyadari keberadaan handphonenya semalam. Selimut tebal menjadi penutup dua tubuh manusia yang semalam sudah semakin gila karena rindu yang akhirnya tersalurkan.



“ Kau sudah bangun?” tanyanya. Sarah mengambil handphone Kyuhyun yang berada di nakas. “Sejak semalam aku melihat handphonemu berdering dan banyak pesan masuk dari orang yang sama. Seo Hyeon Jung. Siapa dia? Apa dia kekasihmu yang baru?”



“Emm, dia istriku.”



“Apa? Istrimu? Kau sudah menikah? Secepat itu?”Tanya Sarah dengan wajah santai,  kyuhyun mengangguk.



 “Sudah lah, aku tidak ingin membahasnya sekarang.”



“Sebenarnya aku sudah bertanya tanya sejak semalam. Aku melihat seperti cincin pernikahan di jarimu.Tapi aku tidak ingin merusak malam kita. Jadi aku tidak terlalu mempedulikannya.”



“Jadi kau tahu sejak semalam?” Sarah mengagguk sambil terus bersandar di dada kyuhyun.  “dan kau baik baik saja tentang itu?”




“Aku sedikit terkejut tentu saja, tapi aku sudah terlalu bahagia bersamamu malam ini.”



“Jadi maksudmu..”



“Aku  tidak masalah dengan pernikahanmu. Asal kau tetap mencintaiku dan menemuiku seperti ini.”



Kyuhyun berada di ujung kebimbangan. Bagaimana bisa dia bahkan tidak memikirkan Hyeon, istrinya. Sejak semalam dia sudah terlanjur gila bersama Sarah dan bahkan tidak sedetikpun dia mengingat bahwa dia sudah beristri.



Aaah Hyeon, gadis malang itu...



“Oppa, ayo kita berpacaran...” Ajak Sarah. Kyuhyun semakin ragu, dia tidak mengerti mengapa sarah begitu tiba tiba mengatakan hal semacam itu. Apakah Sarah memang benar benar menyadari bahwa dia mencintai Kyuhyun atau dia sudah tahu Kyuhyun adalah seorang CEO tiga perusahaan berpengaruh di korea selatan. Tapi Sarah benar benar masih mengisi hatinya, membuatnya bahagia dan semangat hidupnya kembali seperti dulu.



“Kenapa kau ingin bersamaku? Kau bahkan menolakku saat itu.”



“Aku benar benar menyesal karena terlalu bodoh menyia nyiakan pria baik sepertimu. Wanita hina dan kotor sepertiku ini seharusnya bangga dicintai pria baik sepertimu.” Jelas Sarah.



Dengan  mengesampingkan statusnya sebagai suami Hyeon Jung. Kyuhyun akhirnya dengan senang hati menerima Sarah sebagai kekasihnya.



 Bagaimana dengan Hyeon Jung?

Aku sudah memberitahunya sejak dulu kalau aku tidak mencintainya.


***



Kyuhyun masuk ke apartemen  dengan bersenandung, tidak biasanya dia seceria ini.  Bahkan benda 
mati di seisi rumah ini tahu kalau tuannya itu sedang sangat bahagia. Aura bahagia itu terpancar begitu saja. Saking bahagianya dia tidak menyadari Hyeon yang tertidur di sofa panjang ruang tengah. Tapi langkah kakinya yang begitu bersemangat itu akhirnya membangunkan Hyeon yang baru terlelap sekitar seperempat jam yang lalu.



“Oppa, kau sudah pulang? Kenapa tidak mengangkat teleponmu?” Tanya Hyeon dengan merapikan rambutnya yang sangat berantakan, dan mungkin wajahnya juga.



“ Semalam aku minum minum bersama klien sampai lupa untuk menghubungimu.  Kau tidak menungguku pulang kan?” Tanya Kyuhyun. Hyeon Jung hanya menggeleng, dan berbohong.



“Tidak, aku hanya ketiduran di sini.” Jawab Hyeon Jung.  “Kau mau kubuatkan sarapan?”



“Tidak perlu. Aku mau istirahat sebentar. Jam 10 akan ada rapat perusahaan jadi aku tidak mau membuang waktuku untuk sarapan bersamamu.”



“Mwo? ”



Membuang waktu untuk sarapan bersama Hyeon?



Kyuhyun meninggalkan Hyeon Jung begitu saja tanpa sepatah kata lagi sebagai jawaban. Dia langsung menuju kamarnya di lantai dua. A...kamar di lantai dua adalah kamar utama yang seharusnya dijadikan kamar mereka berdua. Tapi Kyuhyun membuatnya menjadi kamar pribadi dan si malang Hyeon tidur di kamar tamu. Benar benar, Kyuhyun sudah berubah menjadi si raja tega.



Namun, Hyeon kemudian menyadari satu hal lagi, menyadari bahwa Kyuhyun menikahinya hanya karena kepentingannya mengurus perusahaan. Pernikahan mereka benar benar hanya diatas kertas. Hyeon bahkan tidak memiliki jiwa ataupun raganya. Bagaimana tidak, pernikahan mereka hanya sebatas sumpah yang kemudian terabaikan seiring berjalannya waktu dan juga sebatas tanda tangan dalam surat nikah.


 Membuat Kyuhyun mencintainya ternyata tidak semudah yang dia bayangkan sebelumnya. Hatinya terlalu sulit untuk digapai seorang Hyeon, walaupun Hyeon Jung sudah sekuat tenaga mengurusnya sebagaimana istri yang baik dan tidak pernah melupakan tanggung jawabnya. Kyuhyun tidak bergeming sedikitpun. Hyeon sadar Kyuhyun tidak mencintainya bahkan sebelum pernikahan, dia sudah sangat tahu hal itu, tapi sikapnya setelah menikah lebih mengerikan dari sebelumnya. Kyuhyun menjadi lebih dingin dari sebelum pernikahan. Dulu, Hyeon hanya mendapatkan kata kata Kyuhyun yang kasar dan selalu tidak di saring itu. Tapi sekarang lebih dari mulutnya yang kasar, sikap menganggap Hyeon tidak pernah ada atau menganggapnya ada sekedarnya saja  itu kerap kali membuat Hyeon terluka.



Sekalipun Hyeon Jung gadis berisik dan selalu ceria, hatinya tetaplah hati wanita. Lembut dan rapuh.  Sekalipun dia tahu Kyuhyun tidak mencintainya, dia selalu bertahan demi perasaan cintanya. Dia selalu bertahan walaupun Kyuhyun tidak pernah menganggapnya ada. Hyeonjung selalu yakin, bahwa suatu saat Kyuhyun melihat ketulusannya dan mencintainya lebih dari siapapun.



Meski begitu. Hyeon juga tidak selalu bisa menahan perlakukan Kyuhyun yang semakin hari semakin tidak mempedulikannya. Kalau sudah seperti itu, dia hanya menangis tanpa suara di kamarnya yang tidak sebanding dengan kamar milik Kyuhyun. Hanya ranjang tidur sederhana dan sebuah lemari besar serta beberapa buku sekolahnya.



Kisah cinta Kyuhyun dan Sarah tidak berhenti pada malam itu saja. Kini Kyuhyun memulai lagi kebiasaan lamanya. Bermain dari satu meja ke meja lainnya dan menghabiskan malam bersama Sarah.



“Apa istrimu tidak mencarimu kalau kau setiap malam di sini?”



“Aku tidak peduli padanya.”



“Kalau kau tidak peduli padanya kenapa kau menikahinya?”



“Karena aku ingin mendapatkan perusahaan ayahku kembali.”



“Perusahaan ayahmu?”




Kyuhyun menceritakan bagaimana orang tua Hyeon Jung mengambil perusahaan ayahnya secara paksa  kepada Sarah.



“Kau kan sudah mendapatkannya, lantas apa yang akan kau lakukan pada Hyeon?”



“Entahlah, aku tidak mungkin meninggalkannya, bukankah itu terlalu kejam jika aku meninggalkannya setelah aku mengambil ketiga perusahaannya. Satu satunya cara agar dia pergi dari hidupku adalah dia yang harus  melepasku. Jadi aku tidak akan semakin merasa bersalah.”



“Wooaah, kau bahkan bisa kejam juga?”



“ Orang tuanya yang membuatku menjadi sekejam ini, dan sayangnya dia yang harus membayar semua ini.”



“Apa perlu ku bantu agar dia melepasmu?”



“ Untuk saat ini jangan lakukan apapun, kau hanya perlu di sampingku dan mencintaiku seperti ini. Ya Tuhan aku sudah cukup bahagia melihatmu tersenyum begitu cantik di sisiku begini.”


***


“Oppa, kau sudah siap?” Tanya Hyeon Jung yang sudah sibuk dengan beberapa sayur untuk sarapan. Dia pergi ke dapur lebih pagi agar bisa tepat dengan waktu Kyuhyun berangkat ke kantor. Tapi Kyuhyun tidak mau kalah, entah disengaja atau tidak dia juga berangkat lebih pagi dari biasanya. Dengan kemeja biru langit dipadu biru langit yang membuatnya semakin tampan saja dia turun dari kamarnya di lantai dua. Kyuhyun terlihat begitu tampan, perpaduan kemeja dan jasnya  itu yang membuat Hyeon Jung terpesona dengan suaminya. Yaah, sayang. Hanya suami di atas kertas saja. Secara fisik dan jiwa dia tidak pernah memilikinya.



Oh ayolah Hyeon, berhenti mengasihani hubunganmu itu! Kau sudah tahu semuanya sejak awal akan mengalami  hal ini.



“Bukankah sudah ku bilang tidak perlu memasak sarapan? Aku pergi dulu ada hal yang harus kuurus.” Jawab Kyuhyun.



“Tapi tidak ke apartemen Min Ho untuk sarapan kan?”



“Memangnya ada apa aku harus kesana setiap pagi?”



“Ku pikir seperti waktu itu. Oh, Kau sangat cocok memakai kemeja itu Oppa.” Hyeon tersenyum menggoda. Tapi Kyuhyun tidak menyambut godaannya.  Dia malah membuang muka, berjalan mengambil sepatunya dan pergi begitu saja.



“Oppa,  Eomma akan kemari akhir pekan. Kau bisa kan mengosongkan jadwal weekend mu?”



“Akan kuusahakan.” Jawab Kyuhyun dari ujung pintu.
Jadwal weekend? Apalagi itu.  Yaah, hanya lelucon dari seorang Kyuhyun agar dia tidak meghabiskan waktunya di apartemen bersama Hyeon Jung. Bisa saja pergi main golf bersama klien atau memancing dengan teman sekampusnya dulu, pergi bowling dengan Min Ho atau hanya berjalan jalan menghabiskan waktu sendiri hingga petang.





****


Hari yang sama terulang kembali. Hyeon berjalan sendirian ke stasiun subway  dengan memakai seragam SMAnya. Sudah keberapa kalinya dia harus memakan sarapannya sendiri sebelum berangkat sekolah. Meminta suaminya mengantarnya sampai ke gerbang sekolah bahkan rasanya tidak mungkin. Kyuhyun selalu mendahuluinya pergi, belum sampai mulutnya meminta Kyuhyun mengantarnya. Kyuhyun sudah pergi ke kantor secepat kilat.



“Ya Tuhan bagaimana ini? Aku lupa tidak mengerjakan tugas.” Hyeon Jung melupakan satu tugas matematika yang diberikan gurunya.  “Matematika jam pelajaran ke lima apa masih sempat aku mengerjakannya di kelas. “



Jam pelajaran ke empat berakhir dan semua siswa berebut untuk makan di kantin. Friday is meat day. Jadi mereka selalu rindu hari jumat dan selalu berbondong bondong ke kantin pada hari jumat. Tapi Hyeon masih sibuk dengan pekerjaan rumahnya yang lupa dia kerjakan.  Hyeon begitu bodoh tentang matematika, jadi mau bagaimanapun dia berusaha. Dia tidak akan mampu mengerjakan soal soal ini.



“Hyeon, cepat ke lapangan, Min Ho terkilir!”



“Mwo?”



Hyeon bangkit dari kursinya, seakan melupakan ugas yang belum satupun berhasil dia kerjakan. Min Ho lebih penting sekarang.



“Yak Choi Min Ho, gwaencanha?”



“ Oh, hanya terkilir sedikit.” Hyeon Jung  memukul kepala Min Ho.



“Yak bagaimana seperti ini hanya sedikit, athlete sepak bola sekolah tidak boleh terkilir, apalagi hampir menuju seleksi timnas. Ayo kuantar ke rumah sakit?”



“Tidak apa apa, ke ruang kesehatan sekolah sudah cukup. Ada dokter Min disana”


“Eoh, jebal  Choi Min Ho. Kakimu harus di rontgen agar kita tahu tidak ada yang serius. Ayo ke 
rumah sakit!”



“ Yaaak, aku yang terkilir. Kenapa kau begitu panik. Ini hanya luka kecil. Istirahat sebentar saja sudah sembuh.”



“ Min Ho-ya jebal...” Ekspresi Hyeon Jung semakin aneh saja. Wajahnya bukan lagi terlihat mengkhawatirkan Min Ho, tapi mengkhawatirkan dirinya sendiri.




“ Waee?” tanya Min Ho gemas.



“Aku belum mengerjakan tugas matematikaku. Oh ayolah, kita ke rumah sakit supaya aku terhindar  dari Kim Saem kali ini. Pleasee... Choi Min Ho kau adalah sahabat terbaikku, kau adalah adik terbaikku, kau adalah pah...” Hyeon Jung memohon pada Min Ho.



“Keuman!!” teriak Min Ho yang sudah mulai geli dengan pujian Hyeon yang sangat berlebihan itu.



Min Ho memang pria yang bisa diandalkan, dengan sedikit akting kesakitannya. Hyeon dan Min Ho lolos dari sekolah dengan alasan memeriksakan kakinya ke rumah sakit.  Tidak sulit bagi Min Ho meminta ijin karena dia atlet berprestasi di sekolahnya yang tentu saja harus menjaga fisiknya dengan baik. Lalu Hyeon? Dia pergi atas negosiasi Min Ho dengan guru BK yang sangat akrab dengannya.



“Suamimu itu kan hebat dalam urusan hitung menghitung. Kenapa tidak minta tolong padanya?”



“Haish, yang benar saja. Mau ditaruh di mana wajahku kalau aku meminta suamiku mengerjakan PR. Seperti anak kecil saja.”



“Yaaaak, kau memang masih kecil. Kau saja yang terlalu cepat menikah.”



“Lihat lihat, siapa yang sedang mengataiku?”



“Hyeon, aku tidak mau ke rumah sakit. Kemana kita akan pergi?”



“Mall?”



“Yang benar saja, kakiku sedikit sakit lagipula  kita berseragam SMA dan berkeliaran pada saat jam pelajaran di Mall? Kalau ketahuan sanksinya lebih berat daripada kau melalaikan tugas matematikamu.”



“Jadi?”



“Ke apartemenku saja. Aku punya dvd baru. Kita menonton sampai jam pelajaranmu  selesai kemudian kita kembali ke sekolah pukul tiga. Bagaimana?”



"Call!"



Setelah membeli beberapa makanan ringan untuk teman menonton film. Hyeon dan Min Ho menuju apartemennya.



***
“Oppa, kenapa lama seka...” Tanya seseorang yang sedang bergulingan di atas karpet di depan televisi apartemen Min Ho. Min Ho dan Hyeon Jung terkejut melihat siapa yang berada di sana.
Beberapa makanan ringan berantakan di mana mana, wanita itu cukup cantik dengan kaki mulusnya yang tidak terbungkus apapun. Tapi satu hal yang membuat Hyeon lebih terkejut lagi. Wanita itu mengenakan kemeja biru langit kebesaran sampai menutupi setengah pahanya yang seputih susu. Kemeja yang sangat membuat Hyeon terpesona tadi pagi. Tapi tunggu,  apakah yang Hyeon pikirkan benar?



“Nuguseyo?” Tanya Min Ho.



“Eoh, maaf...” Wanita itu bangkit dari karpet yang senada dengan warna kemeja yang dipakainya.  “Kau pasti Min Ho kan?”



“Ne, kau siapa dan kenapa ada di apartemenku?”



“ Aku teman Kyuhyun Oppa..”




DEG...



Begitu rasanya hati Hyeon Jung, serasa dihantam karang yang paling keras di samudra pasifik. Teman macam apa yang akan dibawa Kyuhyun ke apartemennya dan lihat bajunya! Kemeja itu adalah kemeja yang Kyuhyun kenakan sebelum berangkat tadi pagi. Hyeon Jung masih ingat karena kemeja itu yang selalu membuatnya terkesima dengan penampilan Kyuhyun.  Dengan melihat saja, sudah bisa dipastikan dia tidak memakai celana dan hanya memakai kemeja itu untuk menuutupi tubuhnya. Lalu siapa yang tidak akan berpikiran macam macam jika melihat pemandangan seperti ini di depan mata?



“Maaf, Kyuhyun Oppa sedang membeli beberapa makan siang untuk kami. Apa perlu aku telepon Kyuhyun Oppa untuk membelikannya lebih banyak. Kita bisa makan bersama nanti.”



Choi Min Ho tidak kalah terkejut dengan Hyeon Jung. Setelah diingat ingat, sepertinya dia tahu siapa wanita ini. Dia pernah melihatnya di handphone Hyeongnya saat dia sedang benar benar tergila gila pada wanita ini.



“Oh, tidak perlu. Jung-ah, kita pergi saja!” Tanya Min Ho yang melihat Hyeon Jung berdiri kaku di tempatnya.  Hyeon Jung hanya menggeleng, Min Ho melihat wajahnya memerah. Dia ingin memastikan Kyuhyun Oppa yang dia maksud adalah Kyuhyun Oppa suaminya ataukah Kyuhyun Oppa yang lain.



Hyeon hanya bertingkah bodoh karena melakukan ini, sudah jelas Kyuhyun oppa itu adalah suaminya. Ini adalah apartemennya dulu yang sekarang masih dihuni adik sepupunya . Tentu saja Kyuhyun masih punya akses untuk masuk kemari.



“ Aku ingin memastikannya.” Jawab Hyeon.


“Min Ho-ya, Kyuhyun banyak bercerita tentangmu padaku akhir akhir ini dan siapa dia? Kekasihmu?”




Kyuhyun kemudian datang dengan banyak bungkusan di tangan kanannya.



“Chagi, mianhae. Kau pasti menunggu lama. Aku bertemu kawanku di restoran jadi aku mengobrol sebentar.” Kata Kyuhyun sembari masuk ke ruang tengah.


Tidak kalah terkejut dengan yang lain, Kyuhyunpun  melihat ketegangan di ruangan itu. Kini yang ada di hadapannya adalah Sarah, Min Ho, dan Hyeon Jung.



“Min Ho-ya, aku sudah memastikannya sekarang. sepertinya kau harus kembali ke sekolah sendiri.”
Hyeon jung menjatuhkan semua makanannya ke lantai dan pergi segera dari apartemen Min Ho. Kyuhyun hanya mematung. Mengejar Hyeon rasanya percuma, dia pasti hanya akan menghindar dan jika terus di kejar hanya akan menimbulkan keributan di luar. Pasti sangat memalukan...



“Hyeong, aku ingin bicara padamu. Sarah-sshi, kau sebaiknya pulang sekarang.” Kata Min Ho.




“Kuantar kau pulang...” Kata Kyuhyun merujuk pada Sarah.



“Hyeong, istrimu saja kau biarkan pergi tanpa peduli bagaimana perasaannya, kenapa mau mengantar wanita ini?!!” Min Ho mulai menunjukkan otot ototnya saat bicara.  “Sarah-sshi, kau pulang lah. Atau harus aku beritahu keadaan yang sebenarnya?”



“Min Ho-ya, aku akan pergi dan kau tidak perlu menjelaskan apapun. Aku sudah tahu semuanya.” Jawab Sarah tidak terlalu peduli. Dengan memungut beberapa bajunya di lantai. Sarah menuju kamar mandi untuk mengganti baju.



“Dan kau masih saja mengganggu suami wanita lain. Kau tidak punya harga diri?” teriak Min Ho.



“Yak Choi Min Ho!” Kyuhyun juga mulai menaikkan pita suaranya.



“Mwo!! Kau juga brengsek Hyeong. Aku pikir kalian sudah berakhir setelah pernikahanmu.  Kau anggap apa Hyeon Jung? Kenapa kau tega sekali. Kurang baik apa dia padamu. Menyerahkan ketiga perusahaannya padamu,mencintaimu sepenuh hatinya, Kau seharusnya berterimakasih karena hidup kita akhirnya membaik. tapi kau membalasnya dengan bermain dibelakang Hyeon?”



“Aku hanya mengambil yang menjadi hakku, kalau urusan cinta. Bukankah kau tahu hatiku untuk siapa? Siapa yang memaksaku menikahinya, huh?”



“Hak apa? Lalu apa bagimu cara ini benar Hyeong? Aiiissh, aku benar benar menyesal memaksamu menikahinya. Dan kalau kau tidak mau menikahinya yaa tidak usah menikah, tapi kenapa kau menyetujuinya?”




****


Pertengkaran masih terjadi diantara Min Ho dan Kyuhyun. Hyeon Jung yang sudah kembali ke apartemennya kini hanya bisa menangis, berteriak karena hatinya sungguh terluka. Sakitnya melebihi ketika Kyuhyun tidak pernah menerima cintanya.



Hyeon tidak menyangka Kyuhyun mencuranginya  di pernikahan mereka yang baru berjalan 2 bulan itu. Bahkan rencana Hyeon untuk membuat Kyuhyun jatuh cinta padanya belum terlaksana, tapi Kyuhyun sudah mengambil langkah mencuranginya semacam ini.



Hyeon hanya mengunci dirinya di kamar, air matanya tidak berhenti mengalir sampai dia teringat ibunya yang akan mengunjunginya dan Kyuhyun besok. Hyeon mengusap air matanya dan melakukan aktifitas seperti biasa.



“Apa aku harus menyerah begitu saja?” Hyeon bertanya pada dirinya sendiri.



Kalau kau menyerah, maka perusahaanmu telah menjadi milik Kyuhyun. Lalu bagaimana nasib perusahaanmu nanti?  dan yang terpenting adalah bagaimana pengobatan ayahmu? Bertahanlah.. kau pasti bisa membuatnya mencintaimu, bersabarlah... jika kau tidak bisa melakukan demi dirimu, setidaknya ini demi ayahmu.


Akhirnya Hyeon mengirim pesan untuk Kyuhyun.



“Oppa, pulanglah. Aku memasak untuk makan malam kita. Kali ini aku tidak ingin kau menolaknya lagi. Saranghae!”



Setelah perdebatan panjang dengan Min Ho, akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk pulang menemui Hyeon, dan kebetulan Hyeon juga menunggunya untuk makan malam bersama.



“Eoh Oppa, kau sudah sampai? duduklah.. aku baru selesai memasak.” Kata Hyeon Jung tanpa raut wajah kecewa seperti yang Kyuhyun bayangkan di perjalanan. Dia hanya membayangkan Hyeon dan dirinya akan duduk saling diam, atau Hyeon yang akan meminta penjelasan padanya dan kemudian diiringi tangisan yang menyedihkan karena merasa di hianati. Tapi semuanya jauh dari apa yang Kyuhyun harapkan  “Pasti Min Ho mengomel padamu, Haish dia itu pria tapi mulutnya benar benar lebih berisik dari mulutku.”



“Itu berarti dia mendukungmu.”



“ eoh, kau benar Oppa. Oppa, kau mau ikan atau ayam?”



“Aku akan mengambilnya sendiri.”



“Oppa...” Kata Hyeon meluncurkan rengekan imutnya tapi  bagi Kyuhyun terasa menjengkelnya. Apa maksudnya semua ini? Hyeon benar benar gadis tidak normal.



“Hyeonn! Jebal...” Teriak Kyyuhyun.



“Waee? Kenapa kau berteriak?” Tanya Hyeon.



“Apa kau pikir ini tidak aneh, kau seharusnya mengutukku, mengurung diri di kamar, menangis di depanku, atau meneriakiku semaumu. Tapi kenapa sikapmu seperti ini? Kau benar benar lebih mengerikan dari yang ku pikirkan Hyeon! Kau tidak sedang meracuni makananku kan?



“Hahaha, Oppa, kau terlalu sering membaca berita internasional. Kenapa tidak ku ajak saja kau ke kedai kopi dan meracunimu dengan sianida?”



“Hyeon! Apa kau pikir ini lucu?”



“Lalu apa aku harus seperti yang kau bilang tadi? Mengutukmu, meneriakimu, menangis hingga tertidur dan kemudian esok pagi kedua mataku akan seperti buah apel yang hampir matang? Oppa, besok ibuku kemari. Lalu apa yang harus ku jelaskan padanya nanti dengan mata bengkakku? Anaknya dicurangi suaminya dengan wanita lain?”



 “Hyeon-ah!” Kyuhyun meninggikan suaranya lagi. Tapi Hyeon kini lebih menguasai pembicaraan.



“Oppa, kau bisa saja melukaiku seperti ini semaumu selama aku masih kuat menanggung rasanya. Tapi ku mohon jangan pernah melakukannya didepan orang tuaku. Aku tidak mau terlihat menyedihkan dengan pilihanku sendiri.” Hyeon menyudahi pembicaraannya dan meninggalkan Kyuhyun yang berada tepat di hadapannya.


***


Ting tong ting tong...



“Ya Tuhan, Eomma!” Pekik Hyeon Jung dari kamarnya. “Kenapa pagi pagi sekali sudah di datang sih. Apa jadinya aku kalau tahu anaknya baru bangun dan tidak memberikan suaminya sarapan.”



Hyeon keluar  dari kamarnya tanpa mencuci muka dan hanya menyisir rambutnya yang berantakan dengan tangan.



“Ckckck... kau malas sekali jam segini baru bangun.” Kata Kyuhyun dengan celemek hitam di tubuhnya. Dia kemudian melepas celemek hitamnya dan memasangkannya di tubuh Hyeon.  “Aku sudah memasak, jadi akuilah itu sebagai masakanmu nona Hyeon.”



“Wae?”



“Atau mau ku laporkan pada eommeoni kalau kau baru bangun dan aku yang memasak semua ini huh?”



“Andwe!”



“Cepat buka pintunya. Atau sebaiknya kita membukanya bersama sama?”



“Tidak perlu berlebihan Cho!” Hyeon segera menuju pintu depan meninggalkan Kyuhyun yang masih memperdebatkan soal siapa yang akan membuka pintu.



“Cho katamu? yaak!” Kyuhyun mengekor di belakangnya dan menyambut ibu mertuanya dengan senyum terbaik.  Sikapnya sangat menyenangkan, ramah dan sangat jauh berbeda dari  hari hari sebelumnya.



Sikapmu sangat baik oppa, tapi sayang sekali itu hanya akting.



“ Eommeoni, Hyeon pagi ini memasak sangat banyak karena tamu sepesial akan datang.” Kata Kyuhyun.



“Jjinjja? Nuguseyo?” tanya Ibunya.



“ Kenapa Eomma masih bertanya? Tentu saja kau eomma.” Jawab Hyeon.



Ibunya tersenyum melihat kebahagiaan rumah tangga anaknya, percakapan demi percakapan diantara mereka bertiga tidak berhenti hanya di meja makan. Setelah selesai  sarapan, mereka melanjutkan obrolan di ruang tengah sambil menonton serial kesukaan ibunya.



“Kalian berdua, belum akan memberikan kabar baik untukku?”



“Kabar baik?” Kyuhyun nampak tidak mengerti maksud ibu mertuanya, tapi Hyeon tanpa diberi penjelasanpun sudah sangat mengerti. Kabar baik apa yang ingin ibunya dengar.



“Ya Tuhan, Eomma, Kenapa harus meminta hal semacam itu sekarang?” Tanya Hyeon Jung.



“Kau kan sudah bersuami, kenapa tidak bisa aku meminta hal itu?” Jawab Ibunya.



“Enam bulan lagi aku ujian SAT kemudian mendaftar perguruan tinggi. Aku juga belum kuliah 
kenapa harus memiliki anak. Lagipula kami juga belum...”



Tiba tiba saja bibir Kyuhyun menyentuh pipi Hyeon, yah lebih tepatnya mencium pipi Hyeon. Bukan tanpa maksud Kyuhyun melakukannya. Dia ingin membuat Hyeon Jung terkejut dan  menghentikan kata kata yang keluar dari bibir berisiknya yang bisa saja membocorkan segalanya.



“Apa? Jangan jangan kalian belum pernah..”



“Eomma!” Hyeon malu mengakuinya, tapi Kyuhyun membantunya dengan kata katanya yang  lebih cerdas



“Kami melakukannya Eommeoni, hanya saja aku harus memperhatikan Hyeon. Dia masih remaja dan kesehatan reproduksinya belum begitu matang jadi kami membatasi itu.Maafkan kami kalau belum memberikan kabar baik seperti yang Eommeoni inginkan.”



“Aaah, kau benar. Duh, kenapa aku hanya memikirkan cucu saja tanpa memikirkan anakku ini. Kyuhyun-ah, terimakasih kau menjaga Hyeon dengan baik dan begitu memperhatikan Hyeon. Kalian terlihat begitu bahagia, aku harap kalian seperti ini selamanya.”



Hyeon tersenyum miris, bahagia? Hyeon juga berharap begitu bersama Kyuhyun. Tapi kemarin Kyuhyun sudah menghancurkan harapan itu. Berkeping keping...



Tanpa sadar Hyeon mengelus pipi yang baru saja disentuh Kyuhyun.



Dia menciumku.


Ini pertama kalinya Kyuhyun menciumku



“Eommeoni, bagaimana kabar aboji?”



“Dia belum memberikan tanda tanda akan sadar. Aku juga sangat khawatir. “ kata ibu Hyeon.



“Eomma, maaf aku jarang menjenguk appa..” sesal Hyeon Jung.



“Tidak apa apa, kau pasti sangat sibuk sekolah dan mengurus suamimu. Lagipula Kyuhyun datang ke rumah sakit dua kali seminggu jadi kau tidak usah khawatir.”



“Kyuhyun oppa?” Hyeon memalingkan wajahnya pada Kyuhyun, menatapnya heran.



“ Bukankah menjenguk mertua adalah kewajiban seorang menantu. Kenapa menatapku aneh begitu?”



“Kau tidak pernah memberi tahuku.”



“Seperti yang eommeoni bilang, kau pasti sibuk sekolah dan mengurusku jadi aku tidak memberitahumu.”



Aktingnya semakin baik saja, bahkan dia tidak berbicara padaku hal lain selain aku tidak makan, sudah kubilang jangan menungguku, sudah ku bilang jangan membuat sarapan, di kantor saja, aku akan pulang malam, weekend ini aku akan memancing dengan teman kuliahku. Jadi mengapa aku berharap dia memberitahuku kalau dia menjenguk appa?



 “Ya sudah tidak usah dipikirkan. Mau kau atau Kyuhyun yang datang Eomma dan Appa pasti sangat senang. Kalau kau memang sibuk dan lelah dengan dua tugas utamamu. Kami tidak akan memaksamu datang, karena Kyuhyun sudah mewakilimu sebagai anak kami. Bersyukurlah kau punya suami yang baik sepertinya. Pilihanmu memang yang terbaik Hyeonie...”


Lagi lagi senyuman miris itu yang nampak di bibir Hyeon Jung. Menertawai dirinya sendiri yang menjadi bodoh karena pernikahan atas pilihannya sendiri.



“Eoh, Eomma harus segera ke rumah sakit. Lain kali kita harus berkumpul bersama ayahmu juga setelah dia sadar dan kembali ke rumah.”



“Ne Eomma...”



Ibu Hyeon meninggalkan sekotak kimchi lobak dan sawi putih serta beberapa makanan fermentasi lain di meja dapur.



“ Akan kuantar ke rumah sakit.” Kata Kyuhyun.



“Ah tidak usah, menantuku, aku sudah menelepon supir Nam agar datang kemari.”



Eomma, aku pasti merindukanmu.” Hyeon memeluk erat ibunya.



“Nado Hyeonie... aigoo anak manja ini sudah menikah saja. Eomma hampir tidak percaya. Kyuhyun-ah, jaga Hyeon baik baik ya..”



“Ne Eommeoni..”



Kyuhyun berjalan membelakangi mereka, membukakan pintu untuk ibu mertuanya dan memeluk ibu mertuanya sebentar.


“Hati hati di jalan Eommeoni, sampaikan salamku untuk aboji.”



Kyuhyun yang berdiri bersebelahan dengan Hyeon langsung merangkul Hyeon dengan tangan kanannya. Seolah olah pasangan ini masih dalam tahap hangat hangatnya usia pernikahan.



“Bagaimana aktingku?” tanya Kyuhyun dengan tangannya masih melingkar di bahu Hyeon. Hyeon melepaskan tangan Kyuhyun di bahunya lalu berjalan masuk ke kamarnya.



“Kalau mau pergi, pergilah. Aku akan membereskan dapur dan ruang tengah. Jadwal Weekendmu masih tersisa 11 jam.” Kata Hyeon.



“Aku lelah ingin tiduran saja di rumah.” Katanya sembari membalikkan tubuhnya ke arah tangga.



“Oppa...” Panggil Hyeon. Kyuhyun berbalik ke arah suara Hyeon. “Gomapta...” lanjutnya.




“Sudahlah, kalau hanya soal akting, itu hal yang mudah. Tidak usah berterimakasih.” Kata Kyuhyun menanggapinya santai.



“ Karena telah meluangkan waktumu menjenguk Appa...”



DEG...



Ucapan  tulus yang Kyuhyun dengar dari seorang Hyeon.  Gadis itu terus saja baik pada Kyuhyun walaupun dia tahu Kyuhyun mencuranginya.  Bahkan dia juga berterimakasih pada kyuhyun karena hal sepele ini. Kyuhyun benar benar heran, terbuat dari pada hati gadis itu.


“Aku bahkan lupa menjenguknya sekali atau dia kali dalam seminggu tapi kau melakukannya.”  


Tangisannya meledak seketika dan Kyuhyun sempat tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Melihat gadis menangis  tanpa sandaran, membuat Kyuhyun mendekatinya. Memeluknya.... Hyeon semakin terkejut lagi. Kali ini juga untuk yang pertama, Kyuhyun memeluknya.



“Sudahlah, jangan menangis.” Tangannya ingin mengusap rambut coklat yang tergerai di bawah dagunya. Tapi dia urungkan.



“Kau mungkin lelah, istirahat lah. Aku saja yang membersihkan dapur dan ruang tengah.”



“Tidak bisa begitu, itu kan tugasku. Oh, kalau begitu kau membersihkan ruang tengah, aku membersihkan dapur. Bagaimana?”





“Hm, terserah kau saja.”

****




Ps :  Niat bikin 3 Shoot kayaknya nggak kesampean deh. Mungkin ceritanya berakhir di 4 atau 5 Shoot deh ya) Nggak panjang panjang kok. 






No comments:

Post a Comment