Supir pribadinya sudah menunggu di depan apartemen dengan
mobil yang puluhan kali lebih mahal dari milik pribadinya dulu, ah benar dia
seorang CEO sekarang. Mengenakan kemeja dan jas yang senada Kyuhyun turun dengan menenteng tas kerja.
Klien? Haha, benar kata Hyeon. Terlalu pagi untuk menemui
Klien pukul 07.00, ini hanya alasan Kyuhyun saja agar dia cepat pergi dari
apartemen.
“Hallo, Iya...Oh Tuan Yong.. bagaimana dengan pertemuannya?
Oh baiklah... tidak masalah bagiku. Sampai Jumpa nanti malam. Iyaa... iyaa...
selamat pagi.”
Tlut...
Sambungan teleponnya terputus. Kyuhyun seharusnya bertemu
Klien pukul 10.00 nanti tapi secara sepihak kliennya menunda pertemuannya
menjadi nanti malam. Kyuhyun tidak menolak, toh dia juga ingin pulang terlambat
agar tidak lama lama bersama dengan Hyeon Jung.
Atas perintah Kyuhyun, supirnya membawa Kyuhyun ke apartemen
lamanya yang sekarang hanya dihuni Min Ho.
“Hyeong... kau datang? Pagi sekali?”
“ Aku berencana berteu Klien jam 10 tapi mereka menunda jadi
nanti malam. Jadi kusempatkan kemari.”
“Jam 10 dan kau sudah berangkat pagi begini? Memangnya
meetingmu di luar kota?”
“Kau banyak bertanya..”
“Kau sudah sarapan Hyeong?”
Kyuhyun hanya menggeleng. “Mau ku buatkan juga?” Kyuhyun
tidak menolaknya dan langsung mengiyakan.
“Sebenarnya aku lapar sekali pagi ini.” Terang Kyuhyun.
Kakaknya itu terlihat menyedihkan. Apa sahabatnya itu tidak membuatkan makanan
untuk kakak kesayangannya setelah menikah.
“Hyeon tidak memasak?” Tanya MinHo dan Kyuhyun tidak
menjawab. Hanya senyum simpul dengan sedikit paksaan yang menjadi jawaban Kyuhyun
dari pertanyaan Min Ho.
“benar benar anak itu. Kenapa suaminya malah sarapan di
sini? Hyeong, aku akan memperingatkannya.” Ucap Min Ho kesal.
“Tidak perlu... lagipula hanya sarapan.” Kyuhyun
mencegahnya.
“Tapi Hyeong...”
“Sudahlah...” Akhir Kyuhyun.
“Bagaimana rasanya tinggal sendiri?”
“ Yaa, sangat menyenangkan karena aku menguasai apartemen
ini sendiri hahaha...” Katanya sombong. “Oh iya, Hyeong, aku ingin menjual
mobilku.”
“Kenapa? Kau butuh uang? Kenapa tidak bilang padaku?” Tanya
Kyuhyun.
“Bukan Hyeong....”
“Kalau uang saku dariku tidak cukup nanti akan ku tambah.”
“Hyeong, cafemu
saja sudah membuatku
berkecukupan, kau tidak perlu memberiku tambahan uang saku, dan soal mobil. Aku
hanya tidak pernah memakainya dan aku merasa kasian padanya. Aku bukan pemilik
yang baik, bahkan aku tidak sempat merawatnya. Lagipula aku belum dapat surat
ijin mengemudi jadi terlalu sulit untuk membawanya kemana mana. Aku akan
menyimpan uangnya dan membeli mobil setelah aku masuk kuliah nanti. Bagaimana
menurutmu?”
“bukan ide yang buruk kalau itu memang maumu. Tapi jangan
pernah menjual mobilmu kalau kau membutuhkan sesuatu yang lain. Hyeong akan
membantumu.”
“Ne Hyeong.”
“Oh iya, apa kau
membersihkan kamarku? Kau melihat jam tangan yang saat itu ku beli di Paris
bersamamu?
“Aku menyimpannya di laci jam tanganku ambil saja. Kau
meninggalkannya begitu saja di sini, aku merasa kasihan.” Kata Min Ho. Pria itu
memang terlalu sensitif. Dia pernah memungut boneka panda besar yang diletakkan
di depan apartemennya karena merasa kasihan ditinggal pemiliknya sendiri. Dia
juga orang yang akan mengelap sepatu sepatu dan barang barang berdebu di
apartemennya dengan alasan ‘kasihan’. Kasihan mereka sangat kotor, kasihan
mereka tidak pernah dipakai, atau kasihan dia tidak pernah dirawat.
“Yaaak, kau sensitif sekali pada benda mati. Baiklah akan
kuambil dulu.”
Kyuhyun naik ke kamar Min Ho untuk mengambil barangnya.
Sementara Min Ho menyiapkan dua mangkuk nasi dan sup daging masakannya di atas
meja.
Ting tong ting tong..
Bel pintu apartemen berbunyi dan Min Ho segera mengecek
siapa yang datang.
“Hyeon?”
“Ta daaa.... aku membawa banyak makanan untuk sarapan. Kau
belum sarapan kan? Ayo sarapan bersama. Tadinya aku mau sarapan bersama Kyuhyun
Oppa tapi dia mau bertemu Klien dan aku malas sarapan sendiri lagi. Jadi aku
kemari saja.” Hyeon Jung menunjuk kotak makan yang dia bawa, menerobos masuk dengan
mulutnya yang tidak mau berhenti bicara itu ke apartemen Min Ho. Hyeon Jung
langsung saja menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan yang dibawanya.
“Mwo-ya? Kau tahu aku datang jadi sudah menyiapkan dua
piring nasi? Heol, sahabatku ini benar benar hebat.” Puji Hyeong.
“Min Ho-ya, apa sarapannya
sudah siap? Setelah ini aku langsung ke kantor sa...”
Hyeon Jung yang
sedang sibuk membuka kotak makannya sedikit terkejut dengan suara yang sangat
dia kenali itu.
Begitupun Kyuhyun yang mendapati seseorang yang lain di meja
makan, membuat Kyuhyun berhenti di anak
tangga terakhir dan menyadari kehadiran Hyeon.
“Oppa, kau di sini?”
“ Eo.. kenapa kau di sini?” Tanya Kyuhyun. “Bukankah tidak
baik istri orang pergi ke apartemen laki laki lain pagi pagi begini?”
“Laki laki lain apanya. Min Ho kan adikmu.” Hyeon Jung
tersenyum kepada suaminya “Oh iya, Kau
bilang mau meeting bersama Klien?”
“Mereka menundanya. Jadi aku kemari.”
“Ooh, begitu. Ya sudah kalau begitu kita sarapan bertiga
saja. Setelah itu aku akan berangkat sekolah bersama Min Ho. Apa oppa mau
mengantar kami?”
Gadis polos itu bukan tidak tahu Kyuhyun menghindarinya pagi
ini, dia tahu betul tidak ada meeting dengan Klien jam tujuh pagi. Bukankah terlalu
pagi untuk membahas kerjasama perusahaan?
Hyeon sedikit kecewa melihat Kyuhyun di apartemen Min Ho, dia sudah
memasak banyak makanan tapi Kyuhyun pergi begitu saja. Tapi di sisi lain dia
bersyukur, tidak ada tempat untuk Kyuhyun pergi kecuali ke apartemennya yang
dulu. Itu lebih melegakan daripada dia berada di tempat lain.
*****
”Hyeong, bukankah
Hyeon memasak. Kenapa kau malah sarapan di sini? Hei jangan jangan kalian
sedang bertengkar.” Min Ho menaruh curiga pada mereka.
“Tidak...” Jawab kyuhyun cepat.
“ Tidak...” Hyeon Jung juga menjawab hal yang sama
bersamaan. “Tadi aku belum selesai memasak, karena oppa buru-buru mau bertemu
klien ya sudah kami tidak jadi sarapan bersama.”
“Kau kan bisa menunggunya selesai memasak Hyeong, kenapa
malah kemari?”
“Klienku membatalkan janji jadi aku kemari mengunjungimu.
Kau tidak senang kedatangan Hyeongmu?”
“Yaa, tetap saja...”
“Yaaa, Choi Min Ho... kau berani meninggikan suaramu di
depan suamiku?” Ancam Hyeon Jung dengan sumpit yang di hentakannya ke meja
“Apa? Suamimu? Wooaaah, geli aku mendengarnya. Kau sudah
mulai sombong karena kakakku ini sudah
menjadi milikmu Hyeon padahal aku sedang membelamu sekarang. Aa molla!! Aku mandi
saja kalau begitu” Jawab Min Ho setelah meletakkan sumpitnya ke atas meja makan
persegi panjang itu.
Min Ho pergi ke kamar mandi dan tinggallah mereka berdua di
meja makan. Mereka hanya duduk berdua, tidak saling bicara. Kyuhyun merasa
bersalah karena berbohong pada Hyeon tentang meeting bersama klien sepagi ini,
dan Hyeon tidak lagi banyak bicara setelahnya. Ada satu hal yang akhirnya di
sadari Hyeon selama satu bulan pernikahannya. Kyuhyun tidak pernah menghabiskan waktu bersamanya. Kyuhyun
berusaha menghindari kebersamaan dan pembicaraan selayaknya sepasang suami
istri. Walaupun Hyeon menemukannya tidak
bersama wanita lain, tetap saja dia sedikit kecewa dengan sikapnya. Apakah
begitu sulit menghabiskan waktu sebentar untuk sarapan bersama berdua saja?
“Aku mungkin pulang terlambat nanti malam, jangan
menungguku. Kali ini benar benar jangan menungguku seperti kemarin, karena
meeting pagi ini ditunda nanti malam.” Pinta Kyuhyun. Kemarin malam Hyeon
menunggunya di depan pintu apartemen sampai tertidur di sana, dengan kaki yang
ditekuk dan wajah yang ditelungkupkan ke lututnya. Menyedihkan, seperti seseorang yang terusir
dari rumahnya sendiri.
“Ne Oppa...” Jawab Hyeon tidak menjawab apa apa lagi.
Meeting berjalan lancar seperti biasa. Pertemuan selanjutnya mereka hanya perlu menandatangani kontrak
kerja dan itu berarti Kyuhyun sudah sangat berhasil membawa perusahaannya
stabil kembali. Kerjasama dengan perusahaan fashion sebagai sponsor utama
departemen store yang kembali membuka
cabang terbaru dengan konsep taman bermain sukses di tangan Kyuhyun.
Walau pengalamannya hanya sebatas perusahaan ayahnya dulu
dan dia sama sekali belum pernah menjabat sebagai CEO, tapi ayahnya telah
mengajarkan Kyuhyun banyak hal. Termasuk bagaimana bekerja sama dengan
perusahaan lain, apa saja yang harus dipersiapkan dan hal hal apa saja yang mungkin
akan terjadi dalam sebuah kerjasama perusahaan. Kyuhyun sudah mengantisipasinya
dengan sangat baik. Dan terbukti, sponsor utama sudah berada dalam genggaman
Kyuhyun.
“Bukankah setidaknya kita harus minum minum bersama untuk
merayakan kerjasama ini?” Kata kliennya yang
bertubuh gempal itu.
“ Aah mungkin lain kali saja. Saya ada pekerjaan lagi malam
ini.” Tolak Kyuhyun.
“Ayo lah, bagaimana bisa anda menghandel pekerjaan sampai
larut malam. Lebih baik kita minum minum atau...” kliennya seperti memikirkan
hal yang lain. Sebuah tempat yang memiliki daya tarik pada malam hari. Dimana
lagi selain casino.
“Emm...”
“Atau kita perlu ke tempat lain?”
“Baiklah, kita ke casino saja.” Jawab Kyuhyun mantap setelah
memikirkan ini sebelumnya. “Kita hanya perlu bermain kemudian pulang kan?”
Kliennya hanya mengangguk.
Kyuhyun dan kliennya datang ke casino. Mereka memesan ruang
VIP ditemani gadis gadis penghibur yang lain. Lalu pemilik casino menawarkan
dua gadis lagi untuk mendampinginya di meja judi. Dan entah takdir apa yang
membawa Kyuhyun kepadanya, dari sekian banyak gadis penghibur itu. Kyuhyun
akhirnya bertemu dengan orang yang
dicintainya dulu. Sarah...
Dulu? Ah apa benar
hanya dulu? Bagaimana dengan sekarang? Apa sudah hilang?
Sarah yang mendampingi Kyuhyun di meja judi melawan kliennya. Kliennya
sungguh dibuat terkejut dengan permainan Kyuhyun yang sangat hebat. Dia
memenangkan permainan hingga akhir dan kliennya menelan kekalahan yang menyedihkan. Ketika pertandingan selesai dan Kliennya
berjalan keluar bersama wanita penghibur lainnya. Kyuhyun belum terbangun dari
mejanya. Akhirnya dia mengenang kembali masa masa indahnya bersama sarah
sebelum ada seorang pewaris
perusahaan yang datang menghancurkan
hubungannya.
“Apa kabarmu?” getaran getaran cinta yang tadinya sudah jadi
setitik itu dalam hitungan detik saja akhirnya semakin membuncah. Perasaannya
tak terkendali. Bahkan setelah sekian lama dia hidup bersama wanita lain.
Wanita inilah yang hanya ada di pikiran dan hatinya. Sarah...
“Oppa, aku merindukanmu...” Sarah memeluk Kyuhyun erat,
tidak seperti biasanya. Pelukannya terasa hangat. Kyuhyun bahkan bisa merasakan
itu. Tidak seperti pelukannya yang dulu. Pelukan kali ini terasa lebih hangat,
menenangkan dan penuh ketulusan.
“Kau merindukanku?” Tanya Kyuhyun tidak percaya.
“Kenapa tidak pernah datang? Aku benar benar menyesal telah
menyakitimu. Apa kau kemari karena merindukanku?”
Kyuhyun terdiam, tapi dia merasa kenyamanan yang diberikan
sarah padanya dulu akhirnya kembali. Kyuhyun merasa kembali ke dunianya yang
sangat membahagiakan baginya. Dunia dimana dia hanya bersama sarah dan tidak
melihat ke arah manapun.
“Apa aku harus merindukan seseorang yang sudah memiliki
kekasih?” tanya Kyuhyun. Sebuah
pertanyaan yang semua orang tahu hanya untuk memastikan apakah dia memiliki
kekasih atau tidak.
“Oppa, maafkan aku. Kau benar. Siwon tidak benar benar
mencintaiku. Dan kau benar, hanya kau yang akan menerimaku apa adanya. Maafkan
aku, kau mau memaafkanku kan? Sejak kau tidak pernah datang kemari, aku benar
benar merasa sulit, hatiku sakit. Aku baru menyadari aku telah menyia nyiakan
orang baik sepertimu”
Perasaan perasaan itu kembali menguras emosi keduanya. Rasa
rindu keduanya berlanjut hingga esok pagi, di kamar yang sama ribuan malam yang
telah lalu.
Di apartemennya, Seo Hyeon Jung gelisah menunggu suaminya
pulang. walaupun meeting dilakukan malam hari tapi bukankah tidak akan sampai
selarut ini? Ini sudah jam dua pagi dan Hyeon Jung masih mondar mandir dengan
handphone di genggamannya. Menghubungi Kyuhyun puluhan kali dan mengirimi pesan
ratusan baris yang tidak pernah di baca.
Hyeon Jung mengkhawatirkan kyuhyun lebih dari apapun. Dia
takut terjadi apa apa pada suaminya. Hyeon ingin menghubungi ibunya untuk
menyuruh anak buah ayahnya mencari Kyuhyun tapi pikirannya tidak boleh sesepele itu.Menggantungkan
masalahnya pada orang tua? Baginya, ini adalah masalah keluarga kecilnya
sendiri. Dia tidak ingin dicap gadis yang tidak bisa menyelesaikan permasalahan
sepele dan membiarkan orang lain turut campur dalam kehdupan pernikahannya.
“Kyuhyun Oppa pasti akan marah jika aku melakukan ini.
Haish, kekanakan sekali sih pikiranku ini. Untung aku tidak jadi melapor pada
ayah dan ibu.”
Hyeon Jung menahan matanya yang terkantuk kantuk, dia bahkan
tidak menuju ke kamar walaupun Kyuhyun sduah memintanya untuk tidak menunggunya
malam ini. Tapi perasaannya tidak karuan, suaminya belum pulang selarut ini.
*****
Kyuhyun terbangun dengan seseorang yang masih memeluknya
erat, pakaian mereka entah kemana dan Kyuhyun juga tidak menyadari keberadaan
handphonenya semalam. Selimut tebal menjadi penutup dua tubuh manusia yang
semalam sudah semakin gila karena rindu yang akhirnya tersalurkan.
“ Kau sudah bangun?” tanyanya. Sarah mengambil handphone
Kyuhyun yang berada di nakas. “Sejak semalam aku melihat handphonemu berdering
dan banyak pesan masuk dari orang yang sama. Seo Hyeon Jung. Siapa dia? Apa dia
kekasihmu yang baru?”
“Emm, dia istriku.”
“Apa? Istrimu? Kau sudah menikah? Secepat itu?”Tanya Sarah
dengan wajah santai, kyuhyun mengangguk.
“Sudah lah, aku tidak
ingin membahasnya sekarang.”
“Sebenarnya aku sudah bertanya tanya sejak semalam. Aku
melihat seperti cincin pernikahan di jarimu.Tapi aku tidak ingin merusak malam
kita. Jadi aku tidak terlalu mempedulikannya.”
“Jadi kau tahu sejak semalam?” Sarah mengagguk sambil terus
bersandar di dada kyuhyun. “dan kau baik
baik saja tentang itu?”
“Aku sedikit terkejut tentu saja, tapi aku sudah terlalu
bahagia bersamamu malam ini.”
“Jadi maksudmu..”
“Aku tidak masalah
dengan pernikahanmu. Asal kau tetap mencintaiku dan menemuiku seperti ini.”
Kyuhyun berada di ujung kebimbangan. Bagaimana bisa dia bahkan
tidak memikirkan Hyeon, istrinya. Sejak semalam dia sudah terlanjur gila
bersama Sarah dan bahkan tidak sedetikpun dia mengingat bahwa dia sudah
beristri.
Aaah Hyeon, gadis malang
itu...
“Oppa, ayo kita berpacaran...” Ajak Sarah. Kyuhyun semakin
ragu, dia tidak mengerti mengapa sarah begitu tiba tiba mengatakan hal semacam
itu. Apakah Sarah memang benar benar menyadari bahwa dia mencintai Kyuhyun atau
dia sudah tahu Kyuhyun adalah seorang CEO tiga perusahaan berpengaruh di korea
selatan. Tapi Sarah benar benar masih mengisi hatinya, membuatnya bahagia dan
semangat hidupnya kembali seperti dulu.
“Kenapa kau ingin bersamaku? Kau bahkan menolakku saat itu.”
“Aku benar benar menyesal karena terlalu bodoh menyia
nyiakan pria baik sepertimu. Wanita hina dan kotor sepertiku ini seharusnya
bangga dicintai pria baik sepertimu.” Jelas Sarah.
Dengan mengesampingkan statusnya sebagai suami Hyeon
Jung. Kyuhyun akhirnya dengan senang hati menerima Sarah sebagai kekasihnya.
Bagaimana dengan Hyeon Jung?
Aku sudah
memberitahunya sejak dulu kalau aku tidak mencintainya.
***
Kyuhyun masuk ke apartemen dengan bersenandung, tidak biasanya dia
seceria ini. Bahkan benda
mati di seisi
rumah ini tahu kalau tuannya itu sedang sangat bahagia. Aura bahagia itu
terpancar begitu saja. Saking bahagianya dia tidak menyadari Hyeon yang
tertidur di sofa panjang ruang tengah. Tapi langkah kakinya yang begitu
bersemangat itu akhirnya membangunkan Hyeon yang baru terlelap sekitar
seperempat jam yang lalu.
“Oppa, kau sudah pulang? Kenapa tidak mengangkat teleponmu?”
Tanya Hyeon dengan merapikan rambutnya yang sangat berantakan, dan mungkin
wajahnya juga.
“ Semalam aku minum minum bersama klien sampai lupa untuk
menghubungimu. Kau tidak menungguku
pulang kan?” Tanya Kyuhyun. Hyeon Jung hanya menggeleng, dan berbohong.
“Tidak, aku hanya ketiduran di sini.” Jawab Hyeon Jung. “Kau mau kubuatkan sarapan?”
“Tidak perlu. Aku mau istirahat sebentar. Jam 10 akan ada
rapat perusahaan jadi aku tidak mau membuang waktuku untuk sarapan bersamamu.”
“Mwo? ”
Membuang waktu untuk
sarapan bersama Hyeon?
Kyuhyun meninggalkan Hyeon Jung begitu saja tanpa sepatah
kata lagi sebagai jawaban. Dia langsung menuju kamarnya di lantai dua. A...kamar
di lantai dua adalah kamar utama yang seharusnya dijadikan kamar mereka berdua.
Tapi Kyuhyun membuatnya menjadi kamar pribadi dan si malang Hyeon tidur di
kamar tamu. Benar benar, Kyuhyun sudah berubah menjadi si raja tega.
Namun, Hyeon kemudian menyadari satu hal lagi, menyadari
bahwa Kyuhyun menikahinya hanya karena kepentingannya mengurus perusahaan. Pernikahan
mereka benar benar hanya diatas kertas. Hyeon bahkan tidak memiliki jiwa
ataupun raganya. Bagaimana tidak, pernikahan mereka hanya sebatas sumpah yang
kemudian terabaikan seiring berjalannya waktu dan juga sebatas tanda tangan
dalam surat nikah.
Membuat Kyuhyun mencintainya ternyata tidak semudah yang dia
bayangkan sebelumnya. Hatinya terlalu sulit untuk digapai seorang Hyeon,
walaupun Hyeon Jung sudah sekuat tenaga mengurusnya sebagaimana istri yang baik
dan tidak pernah melupakan tanggung jawabnya. Kyuhyun tidak bergeming
sedikitpun. Hyeon sadar Kyuhyun tidak mencintainya bahkan sebelum pernikahan,
dia sudah sangat tahu hal itu, tapi sikapnya setelah menikah lebih mengerikan
dari sebelumnya. Kyuhyun menjadi lebih dingin dari sebelum pernikahan. Dulu,
Hyeon hanya mendapatkan kata kata Kyuhyun yang kasar dan selalu tidak di saring
itu. Tapi sekarang lebih dari mulutnya yang kasar, sikap menganggap Hyeon tidak
pernah ada atau menganggapnya ada sekedarnya saja itu kerap kali membuat Hyeon terluka.
Sekalipun Hyeon Jung gadis berisik dan selalu ceria, hatinya
tetaplah hati wanita. Lembut dan rapuh.
Sekalipun dia tahu Kyuhyun tidak mencintainya, dia selalu bertahan demi
perasaan cintanya. Dia selalu bertahan walaupun Kyuhyun tidak pernah
menganggapnya ada. Hyeonjung selalu yakin, bahwa suatu saat Kyuhyun melihat
ketulusannya dan mencintainya lebih dari siapapun.
Meski begitu. Hyeon juga tidak selalu bisa menahan
perlakukan Kyuhyun yang semakin hari semakin tidak mempedulikannya. Kalau sudah
seperti itu, dia hanya menangis tanpa suara di kamarnya yang tidak sebanding
dengan kamar milik Kyuhyun. Hanya ranjang tidur sederhana dan sebuah lemari
besar serta beberapa buku sekolahnya.
Kisah cinta Kyuhyun dan Sarah tidak berhenti pada malam itu
saja. Kini Kyuhyun memulai lagi kebiasaan lamanya. Bermain dari satu meja ke
meja lainnya dan menghabiskan malam bersama Sarah.
“Apa istrimu tidak mencarimu kalau kau setiap malam di
sini?”
“Aku tidak peduli padanya.”
“Kalau kau tidak peduli padanya kenapa kau menikahinya?”
“Karena aku ingin mendapatkan perusahaan ayahku kembali.”
“Perusahaan ayahmu?”
Kyuhyun menceritakan bagaimana orang tua Hyeon Jung
mengambil perusahaan ayahnya secara paksa kepada Sarah.
“Kau kan sudah mendapatkannya, lantas apa yang akan kau
lakukan pada Hyeon?”
“Entahlah, aku tidak mungkin meninggalkannya, bukankah itu
terlalu kejam jika aku meninggalkannya setelah aku mengambil ketiga
perusahaannya. Satu satunya cara agar dia pergi dari hidupku adalah dia yang harus melepasku. Jadi aku tidak akan semakin merasa
bersalah.”
“Wooaah, kau bahkan bisa kejam juga?”
“ Orang tuanya yang membuatku menjadi sekejam ini, dan
sayangnya dia yang harus membayar semua ini.”
“Apa perlu ku bantu agar dia melepasmu?”
“ Untuk saat ini jangan lakukan apapun, kau hanya perlu di
sampingku dan mencintaiku seperti ini. Ya Tuhan aku sudah cukup bahagia
melihatmu tersenyum begitu cantik di sisiku begini.”
***
“Oppa, kau sudah siap?” Tanya Hyeon Jung yang sudah sibuk
dengan beberapa sayur untuk sarapan. Dia pergi ke dapur lebih pagi agar bisa
tepat dengan waktu Kyuhyun berangkat ke kantor. Tapi Kyuhyun tidak mau kalah,
entah disengaja atau tidak dia juga berangkat lebih pagi dari biasanya. Dengan
kemeja biru langit dipadu biru langit yang membuatnya semakin tampan saja dia
turun dari kamarnya di lantai dua. Kyuhyun terlihat begitu tampan, perpaduan
kemeja dan jasnya itu yang membuat Hyeon
Jung terpesona dengan suaminya. Yaah, sayang. Hanya suami di atas kertas saja.
Secara fisik dan jiwa dia tidak pernah memilikinya.
Oh ayolah Hyeon, berhenti mengasihani hubunganmu itu! Kau
sudah tahu semuanya sejak awal akan mengalami
hal ini.
“Bukankah sudah ku bilang tidak perlu memasak sarapan? Aku
pergi dulu ada hal yang harus kuurus.” Jawab Kyuhyun.
“Tapi tidak ke apartemen Min Ho untuk sarapan kan?”
“Memangnya ada apa aku harus kesana setiap pagi?”
“Ku pikir seperti waktu itu. Oh, Kau sangat cocok memakai
kemeja itu Oppa.” Hyeon tersenyum menggoda. Tapi Kyuhyun tidak menyambut
godaannya. Dia malah membuang muka,
berjalan mengambil sepatunya dan pergi begitu saja.
“Oppa, Eomma akan
kemari akhir pekan. Kau bisa kan mengosongkan jadwal weekend mu?”
“Akan kuusahakan.” Jawab Kyuhyun dari ujung pintu.
Jadwal weekend? Apalagi itu.
Yaah, hanya lelucon dari seorang Kyuhyun agar dia tidak meghabiskan
waktunya di apartemen bersama Hyeon Jung. Bisa saja pergi main golf bersama
klien atau memancing dengan teman sekampusnya dulu, pergi bowling dengan Min Ho
atau hanya berjalan jalan menghabiskan waktu sendiri hingga petang.
****
Hari yang sama terulang kembali. Hyeon berjalan sendirian ke
stasiun subway dengan memakai seragam
SMAnya. Sudah keberapa kalinya dia harus memakan sarapannya sendiri sebelum
berangkat sekolah. Meminta suaminya mengantarnya sampai ke gerbang sekolah
bahkan rasanya tidak mungkin. Kyuhyun selalu mendahuluinya pergi, belum sampai
mulutnya meminta Kyuhyun mengantarnya. Kyuhyun sudah pergi ke kantor secepat
kilat.
“Ya Tuhan bagaimana ini? Aku lupa tidak mengerjakan tugas.”
Hyeon Jung melupakan satu tugas matematika yang diberikan gurunya. “Matematika jam pelajaran ke lima apa masih
sempat aku mengerjakannya di kelas. “
Jam pelajaran ke empat berakhir dan semua siswa berebut
untuk makan di kantin. Friday is meat day. Jadi mereka selalu rindu hari jumat
dan selalu berbondong bondong ke kantin pada hari jumat. Tapi Hyeon masih sibuk
dengan pekerjaan rumahnya yang lupa dia kerjakan. Hyeon begitu bodoh tentang matematika, jadi
mau bagaimanapun dia berusaha. Dia tidak akan mampu mengerjakan soal soal ini.
“Hyeon, cepat ke lapangan, Min Ho terkilir!”
“Mwo?”
Hyeon bangkit dari kursinya, seakan melupakan ugas yang
belum satupun berhasil dia kerjakan. Min Ho lebih penting sekarang.
“Yak Choi Min Ho, gwaencanha?”
“ Oh, hanya terkilir sedikit.” Hyeon Jung memukul kepala Min Ho.
“Yak bagaimana seperti ini hanya sedikit, athlete sepak bola
sekolah tidak boleh terkilir, apalagi hampir menuju seleksi timnas. Ayo kuantar
ke rumah sakit?”
“Tidak apa apa, ke ruang kesehatan sekolah sudah cukup. Ada
dokter Min disana”
“Eoh, jebal Choi Min Ho. Kakimu harus di rontgen agar kita tahu tidak ada yang serius. Ayo ke
rumah sakit!”
“ Yaaak, aku yang terkilir. Kenapa kau begitu panik. Ini
hanya luka kecil. Istirahat sebentar saja sudah sembuh.”
“ Min Ho-ya jebal...” Ekspresi Hyeon Jung semakin aneh saja.
Wajahnya bukan lagi terlihat mengkhawatirkan Min Ho, tapi mengkhawatirkan
dirinya sendiri.
“ Waee?” tanya Min Ho gemas.
“Aku belum mengerjakan tugas matematikaku. Oh ayolah, kita
ke rumah sakit supaya aku terhindar dari
Kim Saem kali ini. Pleasee... Choi Min Ho kau adalah sahabat terbaikku, kau
adalah adik terbaikku, kau adalah pah...” Hyeon Jung memohon pada Min Ho.
“Keuman!!” teriak Min Ho yang sudah mulai geli dengan pujian
Hyeon yang sangat berlebihan itu.
Min Ho memang pria yang bisa diandalkan, dengan sedikit
akting kesakitannya. Hyeon dan Min Ho lolos dari sekolah dengan alasan
memeriksakan kakinya ke rumah sakit.
Tidak sulit bagi Min Ho meminta ijin karena dia atlet berprestasi di
sekolahnya yang tentu saja harus menjaga fisiknya dengan baik. Lalu Hyeon? Dia
pergi atas negosiasi Min Ho dengan guru BK yang sangat akrab dengannya.
“Suamimu itu kan hebat dalam urusan hitung menghitung.
Kenapa tidak minta tolong padanya?”
“Haish, yang benar saja. Mau ditaruh di mana wajahku kalau
aku meminta suamiku mengerjakan PR. Seperti anak kecil saja.”
“Yaaaak, kau memang masih kecil. Kau saja yang terlalu cepat
menikah.”
“Lihat lihat, siapa yang sedang mengataiku?”
“Hyeon, aku tidak mau ke rumah sakit. Kemana kita akan
pergi?”
“Mall?”
“Yang benar saja, kakiku sedikit sakit lagipula kita berseragam SMA dan berkeliaran pada saat
jam pelajaran di Mall? Kalau ketahuan sanksinya lebih berat daripada kau
melalaikan tugas matematikamu.”
“Jadi?”
“Ke apartemenku saja. Aku punya dvd baru. Kita menonton
sampai jam pelajaranmu selesai kemudian
kita kembali ke sekolah pukul tiga. Bagaimana?”
Setelah membeli beberapa makanan ringan untuk teman menonton
film. Hyeon dan Min Ho menuju apartemennya.
***
“Oppa, kenapa lama seka...” Tanya seseorang yang sedang
bergulingan di atas karpet di depan televisi apartemen Min Ho. Min Ho dan Hyeon
Jung terkejut melihat siapa yang berada di sana.
Beberapa makanan ringan berantakan di mana mana, wanita itu
cukup cantik dengan kaki mulusnya yang tidak terbungkus apapun. Tapi satu hal
yang membuat Hyeon lebih terkejut lagi. Wanita itu mengenakan kemeja biru
langit kebesaran sampai menutupi setengah pahanya yang seputih susu. Kemeja
yang sangat membuat Hyeon terpesona tadi pagi. Tapi tunggu, apakah yang Hyeon pikirkan
benar?
“Nuguseyo?” Tanya Min Ho.
“Eoh, maaf...” Wanita itu bangkit dari karpet yang senada
dengan warna kemeja yang dipakainya. “Kau
pasti Min Ho kan?”
“Ne, kau siapa dan kenapa ada di apartemenku?”
“ Aku teman Kyuhyun Oppa..”
DEG...
Begitu rasanya hati Hyeon Jung, serasa dihantam karang yang
paling keras di samudra pasifik. Teman macam apa yang akan dibawa Kyuhyun ke
apartemennya dan lihat bajunya! Kemeja itu adalah kemeja yang Kyuhyun kenakan
sebelum berangkat tadi pagi. Hyeon Jung masih ingat karena kemeja itu yang
selalu membuatnya terkesima dengan penampilan Kyuhyun. Dengan melihat saja, sudah bisa dipastikan dia
tidak memakai celana dan hanya memakai kemeja itu untuk menuutupi tubuhnya.
Lalu siapa yang tidak akan berpikiran macam macam jika melihat pemandangan
seperti ini di depan mata?
“Maaf, Kyuhyun Oppa sedang membeli beberapa makan siang
untuk kami. Apa perlu aku telepon Kyuhyun Oppa untuk membelikannya lebih
banyak. Kita bisa makan bersama nanti.”
Choi Min Ho tidak kalah terkejut dengan Hyeon Jung. Setelah
diingat ingat, sepertinya dia tahu siapa wanita ini. Dia pernah melihatnya di
handphone Hyeongnya saat dia sedang benar benar tergila gila pada wanita ini.
“Oh, tidak perlu. Jung-ah, kita pergi saja!” Tanya Min Ho
yang melihat Hyeon Jung berdiri kaku di tempatnya. Hyeon Jung hanya menggeleng, Min Ho melihat
wajahnya memerah. Dia ingin memastikan Kyuhyun Oppa yang dia maksud adalah
Kyuhyun Oppa suaminya ataukah Kyuhyun Oppa yang lain.
Hyeon hanya bertingkah bodoh karena melakukan ini, sudah
jelas Kyuhyun oppa itu adalah suaminya. Ini adalah apartemennya dulu yang
sekarang masih dihuni adik sepupunya . Tentu saja Kyuhyun masih punya akses
untuk masuk kemari.
“ Aku ingin memastikannya.” Jawab Hyeon.
“Min Ho-ya, Kyuhyun banyak bercerita tentangmu padaku akhir
akhir ini dan siapa dia? Kekasihmu?”
Kyuhyun kemudian datang dengan banyak bungkusan di tangan
kanannya.
“Chagi, mianhae. Kau pasti menunggu lama. Aku bertemu
kawanku di restoran jadi aku mengobrol sebentar.” Kata Kyuhyun sembari masuk ke
ruang tengah.
Tidak kalah terkejut dengan yang lain, Kyuhyunpun melihat ketegangan di ruangan itu. Kini yang
ada di hadapannya adalah Sarah, Min Ho, dan Hyeon Jung.
“Min Ho-ya, aku sudah memastikannya sekarang. sepertinya kau
harus kembali ke sekolah sendiri.”
Hyeon jung menjatuhkan semua makanannya ke lantai dan pergi
segera dari apartemen Min Ho. Kyuhyun hanya mematung. Mengejar Hyeon rasanya
percuma, dia pasti hanya akan menghindar dan jika terus di kejar hanya akan
menimbulkan keributan di luar. Pasti sangat memalukan...
“Hyeong, aku ingin bicara padamu. Sarah-sshi, kau sebaiknya
pulang sekarang.” Kata Min Ho.
“Kuantar kau pulang...” Kata Kyuhyun merujuk pada Sarah.
“Hyeong, istrimu saja kau biarkan pergi tanpa peduli
bagaimana perasaannya, kenapa mau mengantar wanita ini?!!” Min Ho mulai
menunjukkan otot ototnya saat bicara.
“Sarah-sshi, kau pulang lah. Atau harus aku beritahu keadaan yang
sebenarnya?”
“Min Ho-ya, aku akan pergi dan kau tidak perlu menjelaskan
apapun. Aku sudah tahu semuanya.” Jawab Sarah tidak terlalu peduli. Dengan memungut beberapa
bajunya di lantai. Sarah menuju kamar mandi untuk mengganti baju.
“Dan kau masih saja mengganggu suami wanita lain. Kau tidak
punya harga diri?” teriak Min Ho.
“Yak Choi Min Ho!” Kyuhyun juga mulai menaikkan pita
suaranya.
“Mwo!! Kau juga brengsek Hyeong. Aku pikir kalian sudah
berakhir setelah pernikahanmu. Kau
anggap apa Hyeon Jung? Kenapa kau tega sekali. Kurang baik apa dia padamu.
Menyerahkan ketiga perusahaannya padamu,mencintaimu sepenuh hatinya, Kau
seharusnya berterimakasih karena hidup kita akhirnya membaik. tapi kau
membalasnya dengan bermain dibelakang Hyeon?”
“Aku hanya mengambil yang menjadi hakku, kalau urusan cinta.
Bukankah kau tahu hatiku untuk siapa? Siapa yang memaksaku menikahinya, huh?”
“Hak apa? Lalu apa bagimu cara ini benar Hyeong? Aiiissh,
aku benar benar menyesal memaksamu menikahinya. Dan kalau kau tidak mau
menikahinya yaa tidak usah menikah, tapi kenapa kau menyetujuinya?”
****
Pertengkaran masih terjadi diantara Min Ho dan Kyuhyun.
Hyeon Jung yang sudah kembali ke apartemennya kini hanya bisa menangis,
berteriak karena hatinya sungguh terluka. Sakitnya melebihi ketika Kyuhyun
tidak pernah menerima cintanya.
Hyeon tidak menyangka Kyuhyun mencuranginya di pernikahan mereka yang baru berjalan 2
bulan itu. Bahkan rencana Hyeon untuk membuat Kyuhyun jatuh cinta padanya belum
terlaksana, tapi Kyuhyun sudah mengambil langkah mencuranginya semacam ini.
Hyeon hanya mengunci dirinya di kamar, air matanya tidak
berhenti mengalir sampai dia teringat ibunya yang akan mengunjunginya dan
Kyuhyun besok. Hyeon mengusap air matanya dan melakukan aktifitas seperti biasa.
“Apa aku harus menyerah begitu saja?” Hyeon bertanya pada
dirinya sendiri.
Kalau kau menyerah,
maka perusahaanmu telah menjadi milik Kyuhyun. Lalu bagaimana nasib
perusahaanmu nanti? dan yang terpenting
adalah bagaimana pengobatan ayahmu? Bertahanlah.. kau pasti bisa membuatnya
mencintaimu, bersabarlah... jika kau tidak bisa melakukan demi dirimu,
setidaknya ini demi ayahmu.
Akhirnya Hyeon mengirim pesan untuk Kyuhyun.
“Oppa, pulanglah. Aku
memasak untuk makan malam kita. Kali ini aku tidak ingin kau menolaknya lagi.
Saranghae!”
Setelah perdebatan panjang dengan Min Ho, akhirnya Kyuhyun
memutuskan untuk pulang menemui Hyeon, dan kebetulan Hyeon juga menunggunya
untuk makan malam bersama.
“Eoh Oppa, kau sudah sampai? duduklah.. aku baru selesai
memasak.” Kata Hyeon Jung tanpa raut wajah kecewa seperti yang Kyuhyun
bayangkan di perjalanan. Dia hanya membayangkan Hyeon dan dirinya akan duduk
saling diam, atau Hyeon yang akan meminta penjelasan padanya dan kemudian
diiringi tangisan yang menyedihkan karena merasa di hianati. Tapi semuanya jauh
dari apa yang Kyuhyun harapkan “Pasti
Min Ho mengomel padamu, Haish dia itu pria tapi mulutnya benar benar lebih
berisik dari mulutku.”
“Itu berarti dia mendukungmu.”
“ eoh, kau benar Oppa. Oppa, kau mau ikan atau ayam?”
“Aku akan mengambilnya sendiri.”
“Oppa...” Kata Hyeon meluncurkan rengekan imutnya tapi bagi Kyuhyun terasa menjengkelnya. Apa
maksudnya semua ini? Hyeon benar benar gadis tidak normal.
“Hyeonn! Jebal...” Teriak Kyyuhyun.
“Waee? Kenapa kau berteriak?” Tanya Hyeon.
“Apa kau pikir ini tidak aneh, kau seharusnya mengutukku,
mengurung diri di kamar, menangis di depanku, atau meneriakiku semaumu. Tapi
kenapa sikapmu seperti ini? Kau benar benar lebih mengerikan dari yang ku
pikirkan Hyeon! Kau tidak sedang meracuni makananku kan?
“Hahaha, Oppa, kau terlalu sering membaca berita
internasional. Kenapa tidak ku ajak saja kau ke kedai kopi dan meracunimu
dengan sianida?”
“Hyeon! Apa kau pikir ini lucu?”
“Lalu apa aku harus seperti yang kau bilang tadi?
Mengutukmu, meneriakimu, menangis hingga tertidur dan kemudian esok pagi kedua
mataku akan seperti buah apel yang hampir matang? Oppa, besok ibuku kemari.
Lalu apa yang harus ku jelaskan padanya nanti dengan mata bengkakku? Anaknya
dicurangi suaminya dengan wanita lain?”
“Hyeon-ah!” Kyuhyun
meninggikan suaranya lagi. Tapi Hyeon kini lebih menguasai pembicaraan.
“Oppa, kau bisa saja melukaiku seperti ini semaumu selama
aku masih kuat menanggung rasanya. Tapi ku mohon jangan pernah melakukannya
didepan orang tuaku. Aku tidak mau terlihat menyedihkan dengan pilihanku
sendiri.” Hyeon menyudahi pembicaraannya dan meninggalkan Kyuhyun yang berada
tepat di hadapannya.
***
Ting tong ting tong...
“Ya Tuhan, Eomma!” Pekik Hyeon Jung dari kamarnya. “Kenapa
pagi pagi sekali sudah di datang sih. Apa jadinya aku kalau tahu anaknya baru
bangun dan tidak memberikan suaminya sarapan.”
Hyeon keluar dari
kamarnya tanpa mencuci muka dan hanya menyisir rambutnya yang berantakan dengan
tangan.
“Ckckck... kau malas sekali jam segini baru bangun.” Kata
Kyuhyun dengan celemek hitam di tubuhnya. Dia kemudian melepas celemek hitamnya
dan memasangkannya di tubuh Hyeon. “Aku
sudah memasak, jadi akuilah itu sebagai masakanmu nona Hyeon.”
“Wae?”
“Atau mau ku laporkan pada eommeoni kalau kau baru bangun
dan aku yang memasak semua ini huh?”
“Andwe!”
“Cepat buka pintunya. Atau sebaiknya kita membukanya bersama
sama?”
“Tidak perlu berlebihan Cho!” Hyeon segera menuju pintu
depan meninggalkan Kyuhyun yang masih memperdebatkan soal siapa yang akan
membuka pintu.
“Cho katamu? yaak!” Kyuhyun mengekor di belakangnya dan
menyambut ibu mertuanya dengan senyum terbaik. Sikapnya sangat menyenangkan, ramah dan sangat
jauh berbeda dari hari hari sebelumnya.
Sikapmu sangat baik
oppa, tapi sayang sekali itu hanya akting.
“ Eommeoni, Hyeon pagi ini memasak sangat banyak karena tamu
sepesial akan datang.” Kata Kyuhyun.
“Jjinjja? Nuguseyo?” tanya Ibunya.
“ Kenapa Eomma masih bertanya? Tentu saja kau eomma.” Jawab
Hyeon.
Ibunya tersenyum melihat kebahagiaan rumah tangga anaknya, percakapan
demi percakapan diantara mereka bertiga tidak berhenti hanya di meja makan.
Setelah selesai sarapan, mereka
melanjutkan obrolan di ruang tengah sambil menonton serial kesukaan ibunya.
“Kalian berdua, belum akan memberikan kabar baik untukku?”
“Kabar baik?” Kyuhyun nampak tidak mengerti maksud ibu
mertuanya, tapi Hyeon tanpa diberi penjelasanpun sudah sangat mengerti. Kabar
baik apa yang ingin ibunya dengar.
“Ya Tuhan, Eomma, Kenapa harus meminta hal semacam itu
sekarang?” Tanya Hyeon Jung.
“Kau kan sudah bersuami, kenapa tidak bisa aku meminta hal
itu?” Jawab Ibunya.
“Enam bulan lagi aku ujian SAT kemudian mendaftar perguruan
tinggi. Aku juga belum kuliah
kenapa harus memiliki anak. Lagipula kami juga
belum...”
Tiba tiba saja bibir Kyuhyun menyentuh pipi Hyeon, yah lebih
tepatnya mencium pipi Hyeon. Bukan tanpa maksud Kyuhyun melakukannya. Dia ingin
membuat Hyeon Jung terkejut dan menghentikan kata kata yang keluar dari bibir
berisiknya yang bisa saja membocorkan segalanya.
“Apa? Jangan jangan kalian belum pernah..”
“Eomma!” Hyeon malu mengakuinya, tapi Kyuhyun membantunya
dengan kata katanya yang lebih cerdas
“Kami melakukannya Eommeoni, hanya saja aku harus
memperhatikan Hyeon. Dia masih remaja dan kesehatan reproduksinya belum begitu
matang jadi kami membatasi itu.Maafkan kami kalau belum memberikan kabar baik
seperti yang Eommeoni inginkan.”
“Aaah, kau benar. Duh, kenapa aku hanya memikirkan cucu saja
tanpa memikirkan anakku ini. Kyuhyun-ah, terimakasih kau menjaga Hyeon dengan
baik dan begitu memperhatikan Hyeon. Kalian terlihat begitu bahagia, aku harap
kalian seperti ini selamanya.”
Hyeon tersenyum miris, bahagia? Hyeon juga berharap begitu
bersama Kyuhyun. Tapi kemarin Kyuhyun sudah menghancurkan harapan itu. Berkeping
keping...
Tanpa sadar Hyeon mengelus pipi yang baru saja disentuh
Kyuhyun.
Dia menciumku.
Ini pertama kalinya
Kyuhyun menciumku
“Eommeoni, bagaimana kabar aboji?”
“Dia belum memberikan tanda tanda akan sadar. Aku juga
sangat khawatir. “ kata ibu Hyeon.
“Eomma, maaf aku jarang menjenguk appa..” sesal Hyeon Jung.
“Tidak apa apa, kau pasti sangat sibuk sekolah dan mengurus
suamimu. Lagipula Kyuhyun datang ke rumah sakit dua kali seminggu jadi kau
tidak usah khawatir.”
“Kyuhyun oppa?” Hyeon memalingkan wajahnya pada Kyuhyun,
menatapnya heran.
“ Bukankah menjenguk mertua adalah kewajiban seorang menantu.
Kenapa menatapku aneh begitu?”
“Kau tidak pernah memberi tahuku.”
“Seperti yang eommeoni bilang, kau pasti sibuk sekolah dan
mengurusku jadi aku tidak memberitahumu.”
Aktingnya semakin baik
saja, bahkan dia tidak berbicara padaku hal lain selain aku tidak makan, sudah
kubilang jangan menungguku, sudah ku bilang jangan membuat sarapan, di kantor
saja, aku akan pulang malam, weekend ini aku akan memancing dengan teman
kuliahku. Jadi mengapa aku berharap dia memberitahuku kalau dia menjenguk appa?
“Ya sudah tidak usah
dipikirkan. Mau kau atau Kyuhyun yang datang Eomma dan Appa pasti sangat
senang. Kalau kau memang sibuk dan lelah dengan dua tugas utamamu. Kami tidak
akan memaksamu datang, karena Kyuhyun sudah mewakilimu sebagai anak kami.
Bersyukurlah kau punya suami yang baik sepertinya. Pilihanmu memang yang
terbaik Hyeonie...”
Lagi lagi senyuman miris itu yang nampak di bibir Hyeon
Jung. Menertawai dirinya sendiri yang menjadi bodoh karena pernikahan atas
pilihannya sendiri.
“Eoh, Eomma harus segera ke rumah sakit. Lain kali kita harus
berkumpul bersama ayahmu juga setelah dia sadar dan kembali ke rumah.”
“Ne Eomma...”
Ibu Hyeon meninggalkan sekotak kimchi lobak dan sawi putih
serta beberapa makanan fermentasi lain di meja dapur.
“ Akan kuantar ke rumah sakit.” Kata Kyuhyun.
“Ah tidak usah, menantuku, aku sudah menelepon supir Nam
agar datang kemari.”
Eomma, aku pasti merindukanmu.” Hyeon memeluk erat ibunya.
“Nado Hyeonie... aigoo anak manja ini sudah menikah saja.
Eomma hampir tidak percaya. Kyuhyun-ah, jaga Hyeon baik baik ya..”
“Ne Eommeoni..”
Kyuhyun berjalan membelakangi mereka, membukakan pintu untuk
ibu mertuanya dan memeluk ibu mertuanya sebentar.
“Hati hati di jalan Eommeoni, sampaikan salamku untuk aboji.”
Kyuhyun yang berdiri bersebelahan dengan Hyeon langsung
merangkul Hyeon dengan tangan kanannya. Seolah olah pasangan ini masih dalam
tahap hangat hangatnya usia pernikahan.
“Bagaimana aktingku?” tanya Kyuhyun dengan tangannya masih
melingkar di bahu Hyeon. Hyeon melepaskan tangan Kyuhyun di bahunya lalu
berjalan masuk ke kamarnya.
“Kalau mau pergi, pergilah. Aku akan membereskan dapur dan
ruang tengah. Jadwal Weekendmu masih tersisa 11 jam.” Kata Hyeon.
“Aku lelah ingin tiduran saja di rumah.” Katanya sembari
membalikkan tubuhnya ke arah tangga.
“Oppa...” Panggil Hyeon. Kyuhyun berbalik ke arah suara Hyeon.
“Gomapta...” lanjutnya.
“Sudahlah, kalau hanya soal akting, itu hal yang mudah.
Tidak usah berterimakasih.” Kata Kyuhyun menanggapinya santai.
“ Karena telah meluangkan waktumu menjenguk Appa...”
DEG...
Ucapan tulus yang Kyuhyun dengar dari seorang Hyeon. Gadis itu terus saja baik pada Kyuhyun
walaupun dia tahu Kyuhyun mencuranginya.
Bahkan dia juga berterimakasih pada kyuhyun karena hal sepele ini. Kyuhyun benar benar heran,
terbuat dari pada hati gadis itu.
“Aku bahkan lupa menjenguknya sekali atau dia kali dalam
seminggu tapi kau melakukannya.”
Tangisannya
meledak seketika dan Kyuhyun sempat tidak tahu apa yang harus dia lakukan.
Melihat gadis menangis tanpa sandaran,
membuat Kyuhyun mendekatinya. Memeluknya.... Hyeon semakin terkejut lagi. Kali
ini juga untuk yang pertama, Kyuhyun memeluknya.
“Sudahlah, jangan menangis.” Tangannya ingin mengusap rambut
coklat yang tergerai di bawah dagunya. Tapi dia urungkan.
“Kau mungkin lelah, istirahat lah. Aku saja yang
membersihkan dapur dan ruang tengah.”
“Tidak bisa begitu, itu kan tugasku. Oh, kalau begitu kau
membersihkan ruang tengah, aku membersihkan dapur. Bagaimana?”
“Hm, terserah kau saja.”
****
No comments:
Post a Comment