Pertemuanku dengan Hyeon di lift kantor baruku membangunkan kenangan yang sudah bertahun tahun ku endapkan karena cinta baru yang membersamaiku. Perasaanku? Jangan tanyakan perasaanku. Aku sendiri tidak mengerti kenapa hatiku masih bergetar melihatnya berdiri di sana. Mulutku membeku, aku bahkan tidak bisa mengucapkan salam atau sapaan yang pantas untuk seseorang yang sudah sangat lama tidak ku temui.
Hubungan kami memang tidak baik semenjak dia melepaskanku sore itu. Saat aku mengatakan aku selalu memikirkan Hae Kyung, calon istriku sekarang. Saat itu, aku berpikir dia tidak mencintaiku karena dia dengan sangat mudah melepaskanku. Kemudian Hae Kyung hadir mengisi hari hariku dengan sikapnya yang jauh berbeda dengan Hyeon.
Ada beberapa hal yang tidak bisa aku dapatkan dari Hyeon tapi aku mendapatkannya dari Hae Kyung. Hae Kyung orang yang sangat ceria, dia aktif dan agresif. Aku sangat menyukainya. Aku merasa semua yang aku lakukan selalu disambut baik oleh Hae Kyung berbeda dengan Hyeon yang sangat pasif dan hanya tersenyum bila aku melakukan sesuatu padanya, Hae Kyung bisa mengimbangiku.
Kami bisa saling bertukar cerita sampai berjam jam dan saling mengungkapkan perasaan masing masing. Berbeda jika aku dengan Hyeon, aku akan menjadi satu satunya orang yang bercerita ribuan kalimat tetapi Hyeon hanya akan mendengarnya dan tersenyum. Jika aku mengucapkan kata cinta, dia hanya tersenyum, memandangku dengan tatapan matanya yang tidak ku mengerti. Apakah dia menyukainya atau dia menatapku geli dengan kalimat kalimat itu. Aku tidak tahu apakah Hyeon benar benar mencintaiku atau tidak. Karena ekspresinya yang datar dan tidak pernah membalas pernyataan cintaku, membuatku meraguinya.
Aku sangat menikmati waktu waktuku yang seru dan menyenangkan bersama Hae Kyung. Aku benar benar jatuh hati padanya walaupun aku baru mengenalnya satu bulan hingga akhirnya kami memutuskan untuk berkencan. Satu dua bulan berlalu, aku masih merasakan kenyamanan. Bulan ketiga cintaku masih berkembang dengan sempurna. Aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan bersama Hyeon.
Tapi bulan bulan berlalu. aku merasakan ada yang hilang dari diriku. Aku terlalu nyaman dengan Hae Kyung, tapi ketika menilik ke dalam hatiku, aku merasa kosong. Hampa...Aku merindukan Hyeon...
Tiga tahun berlalu, aku masih menjalani hubunganku dengan Hae Kyung. Hae Kyung memintaku meminangnya pada suatu malam dan aku menyetujuinya. Aku melakukan itu untuk menyakinkan diriku bahwa sudah tidak ada waktu lagi untuk bermain main dengan sebuah hubungan. Aku juga menginginkan hubungan yang serius agar hatiku tidak goyah lagi. Aku harus berkomitmen dengan Hae Kyung.
Setelah pesta pertunangan, aku malah semakin tidak yakin. Kenapa cinta yang bertahun tahun ku bangun ini malah semakin rapuh karena aku masih memikirkan Hyeon. Cinta lamaku, yang aku tinggalkan demi seorang Hae Kyung.
Pertemuanku pagi ini dengan Hyeon di lift kantor benar benar seperti takdir yang mempermainkan hatiku. Mungkin bagi Hyeon ini adalah takdir yang kejam. Tapi aku sedikit bersyukur dengan takdir ini. Entah apa yang terjadi padaku, aku sedikit merasa lega dan bahagia. Tapi apa yang bisa ku lakukan padanya. Sekarang aku adalah pria yang sudah bertunangan dan sebentar lagi akan menggelar pernikahan.
Aku sudah bekerja sama dengan wedding planner untuk pernikahanku, gedung sudah ku pesan dua bulan sebelumnya. Foto prewedding sudah tersebar di SNS milikku dan milik Hae Kyung. Gaun pengantin? Aku sudah melakukan fitting dua kali dan besok akan ketiga kalinya. Undangan sudah tercetak ribuan lembar. Jadi tidak ada alasan untuk membatalkan semuanya.
Tapi saat terbukanya pintu lift dan melihat Hyeon berdiri di ujung luar sana, rasanya aku ingin berlari dari semua rencana pernikahan itu. Aku semakin yakin jika perasaanku pada Hyeon masih banyak. Melebihi perasaanku pada Hae Kyung. Tapi apa yang harus ku lakukan? Seumur hidupku aku tidak pernah melanggar komitmenku sendiri dan aku juga tidakpernah berencana menggagalkan pernikahanku yang 89% telah dipersiapkan dengan sangat baik.
Di kantor, aku selalu mencuri pandangku pada Hyeon. Atau aku terkadang mendapati Hyeon sedang memperhatikanku entah sejak kapan. Saat tatapan mata kami bertemu, dia akan menunduk atau berpura pura melihat layar desktopnya.
Malam ini aku melihat Hyeon duduk di kursi kerjanya sendirian. Semua rekan kerjanya sudah pulang. Hyeon kedapatan lembur malam itu. Aku kembali ke kantor untuk mengambil berkas yang tertinggal untuk ku serahkan ke atasanku. Aku ingin sekali menyapanya, tapi Hyeon terlihat menghindariku. Aku menyadari itu sejak kedatanganku kemari. Dia bahkan tidak berada di dekatku barang satu meter saja. Dia menjauhiku sebisa mungkin, dan menghindar untuk berbicara padaku. Jika suatu saat kami kebetulan berada dalam satu lift atau satu lorong. Dia tidak akan menatapku. Dia hanya akan menunduk dan berpura pura tidak melihatku. Aku juga sering melihatnya membalikkan badan saat mengetahui aku akan berjalan mendekatinya.
Aku tidak menyapa Hyeon saat bersama rekan kerjaku karena pasti akan membuat kami canggung, terlebih Hyeon yang sangat tertutup. Saat aku mencoba bertanya padanya soal kebiasaan makannya yang tidak pernah habis, rekan rekanku malah bertanya bagaimana aku tahu tentang kebiasaan itu. Itu membuatku harus menggunakan berbagai macam alasan yang bodoh, mmebuatku jera dan tidak akan pernah melakukannya lagi.
Setelah aku meninggalkan dia di ruangan tanpa sapaan, aku menuju lantai 24 untuk bertemu dengan manajer pemasaran. Akhirnya kami dipertemukan lagi di dalam lift malam itu. Hyeon terlihat begitu terkejut, sebenarnya tidak jauh berbeda denganku. Aku juga terkejut tetapi aku bisa mengatasinya.
Lift malam itu terasa sangat lambat, apa karena aku gugup satu lift dengannya atau memang karena kami tidak saling bertegur sapa hingga membuat suasana menjadi sangat dingin.
Akhirnya ku beranikan diri menyapanya. Aku cukup terkejut dengan jawabannya. Dia memintaku untuk tidak menyapanya seperti yang biasa ku lakukan di kantor saat bersama rekan kerja kami. Padahal bukan maksudku untuk pura pura tidak mengenalnya. Aku hanya mencari waktu yang tepat, untuk menyapanya dan berbicara padanya. Tapi Hyeon sudah terlanjur salah paham.
Hujan malam itu akhirnya membawaku duduk berdua bersama Hyeon. Aku mengantarnya pulang setelah berdebat cukup panjang. Dia mungkin terkejut aku membentaknya, tapi aku tidak ingin dia pulang sendirian malam begini dengan pakaiannya yang basah kuyup itu.
Aku jadi teringat saat saat bersamanya dulu, walaupun aku sangat aktif dalam hubungan kami dan Hyeon yang pendiam serta menuruti saja apa mauku terus menerus mendominasi hubungan kami. Tapi aku benar benar merindukannya. Aku merindukan dia duduk disampingku begini. Tapi kali ini aku tidak bisa menggenggam erat tangannya seperti dulu.Mengisi sela sela jarinya dengan jari jariku. Menciumnya punggung tangannya puluhan kali. Sekarang Hyeon selain pendiam, dia terlihat tidak suka padaku, dia bahkan tidak mau menjawab pertanyaanku.
Tapi lebih dari itu, ketika aku duduk bersamanya lebih lama, aku menyadari sisi lain dari sikapnya yang tidak menyukaiku. Tentu saja dia tidak akan menyukaiku setelah apa yang kulakukan padanya, tapi aku melihat hal lainnya. Dia bersikap acuh dan kasar padaku hanya untuk menutupi perasaannya. Setelah melihatnya di kantor, aku merasa dia masih memendam rasanya padaku, terlebih, dia tidak lagi menjalin hubungan dengan pria lain seperti kata teman temannya.
Setelah aku mengantar Hyeon ke apartemennya yang belum berubah sejak empat tahun yang lalu, dompet Hyeon tertinggal di mobilku, dia mungkin melupakannya setelah mengambil kartu nama saat ibunya menelepon.
“Apa aku antarkan saja sekarang? Atau besok ku berikan di kantor saja?”
Tetapi saat aku tidak sengaja membuka dompet itu, aku sungguh tidak menyangka bahwa Hyeon masih menyimpannya walaupun sudah empat tahun kami berpisah.
“Foto ini...?”
Aku duduk di belakang kemudiku cukup lama, memandangnya dan berpikir apa yang akan ku lakukan dengan dompet Hyeon dan juga foto itu.
Foto itu merecall memoriku bersamanya lima tahun lalu, Aku memeluk Hyeon tanpa melihat kamera dan Hyeon yang mengambil gambarnya. Hyeon sangat menyukai foto itu, karena dia menyukai sisi kanan tubuhku dan juga wajahku.
“Sisi kananmu lebih tampan, Kyu” . Walaupun sisi kiriku juga sama tampannya, tapi tetap saja aku harus mengiyakan apa yang Hyeon katakan. Hyeon menyukai sisi kanan tubuhku.
Iya, aku memang harus mengantarnya sekarang karena mungkin besok Hyeon membutuhkan dompetnya, dan yang tidak kalah penting. Aku harus tahu mengapa dia masih menyimpan foto kami di sana.
“Kau meninggalkannya di mobilku. Aku pikir barang ini sangat penting jadi aku mengantarkannya sekarang.” Kataku sambil menunjukkan dompet berwarna hitam pink yang sedari tadi kupandangi di dalam mobil.
Hyeon mengulurkan tangannya untuk mengambil dompetnya tapi aku mencegahnya. Aku menarik dompetnya lagi
“Kembalikan...” Pinta Hyeon.
“Tidak... aku sangat penasaran dengan sesuatu.”
“Aku tidak akan menjawab rasa penasaranmu Kyu, jadi kembalikan dan pergilah.” Hyeon masih saja bersikap acuh padaku.
“Kenapa masih ada foto kita di sini?” Tanyaku.
“ Aku tidak sempat membereskan isi dompetku Kyu, cepat kembalikan.” Jawaban yang tidak masuk akal. Hyeon mungkin sudah mengganti dompetnya beberapa kali. Aku ingat persis dompet milik Hyeon dulu, dan berbeda dengan yang ku genggang sekarang. Tapi mengapa foto kami masih terpajang di sana.
“Selama empat tahun?” Cecar Kyuhyun.
“Iya...”
“Kau pikir masuk akal?”
“Lalu aku harus bagaimana? Jangan membuat keributan malam begini Kyu. Pulanglah.”
“Kalau begitu ijinkan aku masuk! Aku masih ingin bicara padamu” Pintaku
“ Tidak Kyu, pulang lah...”
“Atau aku tidak bisa tidur karena memikirkan hal ini.”
“Ini hanya foto Kyu, aku akan melepasnya dan masalah selesai. ”
Bagiku masalahnya tidak akan selesai hanya dengan Hyeon melepas foto itu dari dompetnya. Tapi foto itu masih tersimpan rapi di dompetnya selama empat tahun. Apa Hyeon memang belum bisa melupakanku? Yaa pasti belum, jika sudah dia pasti tidak akan mengijinkan dirinya melihatku setiap dia membuka dompetnya.
“Apa kau masih mencintaiku?” Tanyaku.
“Kau..”
Aku menarik tangan Hyeon dan masuk ke apartemennya. Apartemen yang bahkan tidak berubah sejak empat tahun yang lalu. Lampu hias di samping televisinya adalah pemberian dariku saat ulang tahunnya. Dia masih menyimpannya, karpet yang dia beli bersamaku di pusat perbelanjaan itu, wallpaper dindingnya masih sama, kami memilihnya berdua dan memasangnya bersama sama. Kenangan itu perlahan seperti diputar seperti film dokumenter dengan efek sepia. Tapi aku merindukannya.
“Kenapa Hyeon?”
“ Aku tidak...” Hyeon menyanggah kata kataku.
“Bohong. Kenapa kau masih mencintaiku? ” Aku menatap ke dalam matanya yang sendu.
“Aku tidak...”
“Mau berapa kali lagi kau menyangkalnya Hyeon?”
“Bukankah perasaanku padamu itu adalah urusanku” Jawabnya.
“Tapi kenapa? Aku sudah mengkhianatimu Hyeon.” Aku sudah menghianatinya dan meninggalkannya. Tapi kenapa Hyeon masih begitu mencintaiku seperti ini.
“Andai saja aku bisa menjelaskan. Aku tidak tahu alasannya, semuanya terjadi terus menerus. Saat aku mencoba melupakanmu , aku malah menata kenangan kita satu persatu. ” Aku melihat cairan itu mengkristal di mata kecilnya.
“Saat aku mencoba untuk melupakanku , aku malah semakin sering mengingatmu . Sampai akhirnya aku menyerah untuk melupakanmu. Aku membiarkan diriku hidup dalam bayangan masa lalu kita. Aku tidak peduli bagaimana sakitnya. Tapi sampai empat tahun ini, aku berhasil mengatasinya. Kau lihat kan? Aku baik baik saja sekarang.”
“Hyeon, aku benar benar ..”
“Aku sudah menjawab rasa penasaranmu itu kan?”
“Iya, tapi...”
“Biarkan ini menjadi urusanku Kyu. Kau pulanglah...”
Aku masih berdiri di sana dengan kebimbangan perasaanku. Aku bahkan tidak mengingat Hae Kyung, karena saat itu di hatiku dipenuhi nama Hyeon Jung. “Hyeon, bisakah ini menjadi urusanku juga?”
“Bagaimana jika aku juga masih mencintaimu?”
“Berhenti bercanda dan pulanglah Kyu.”
“ Hyeon dengarkan aku dulu!”
“Apa? Bagaimana jika kamu masih mencintaiku? Kau tidak salah ucap? Atau aku yang salah dengar?”
“tidak Hyeon!” di sana kami mulai berdebat.
“ Kau akan menikah sebentar lagi dan kau mengatakan itu?”
“Aku tahu aku sudah gila karena hal ini, tapi aku benar benar merindukanmu. Empat tahun berlalu tapi aku masih merindukanmu Hyeon.”
“Kita sudah berakhir Kyu. Kau dan aku sangat tahu hal itu!”
“Tapi perasaan kita masih sama seperti dulu. Kau juga harus mengakui itu.”
“ Perasaan kita? Perasaanku saja Kyu, kau tidak!”
Aku terdiam, Hyeon ada benarnya. Kalau perasaanku masih sama padanya kenapa aku malah bersama wanita lain, merencanakan pernikahan dengan wanita lain dan tidak berusaha menggapainya kembali. Hyeon pasti sangat kecewa padaku bahkan saat pertemuan yang sangat tidak berpihak pada kami. Tapi aku masih mencintainya, sangat... dan dalam...
“Aku tidak bohong Hyeong..”
“Lalu apa yang akan kau lakukan setelah semua ini? Kau akan membatalkan pernikahanmu dan kembali padaku? Apa semudah itu kau mempermainkan komitmenmu pada wanita, huh?”
Aku membisu lagi. Hyeon benar lagi dan aku tidak bisa mengelak.
“kita tidak akan bisa bersama Kyu.”
“Kau menyalahi takdir Tuhan Hyeon. Aku tahu Tuhan mempertemukan kita seperti ini ada tujuannya.”
“ Mungkin kau yang menyalah artikan takdir Tuhan itu Kyu.”
“Hyeon...!”
Apa benar kita tidak bisa bersama, Hyeon?
No comments:
Post a Comment