Hari hari sudah kembali seperti biasa. Hyeon tidak
mempermasalahkan kejadian di apartemen Min Ho beberapa hari yang lalu. Tapi
tetap saja, bukan berarti melupakan kejadian itu. Dia hanya memberi kesempatan
kepada Kyuhyun walaupun Kyuhyun tidak memohon untuk memberinya kesempatan.
Hyeon hanya ingin mengetahui kesadaran Kyuhyun tentang statusnya sebagai
suaminya. Tidaklah baik jika seorang suami masih bermain main dengan wanita
lain diluar terlebih dia adalah seorang CEO yang setiap celah buruknya akan
selalu dikorek oleh saingan bisnisnya.
Tok tok tok
Hyeon pagi ini bertingkah tidak biasa, dia biasanya hanya
akan menunggu Kyuhyun turun baru mengajaknya sarapan, tapi kali ini Hyeon
mengetuk pintu kamarnya dan memintanya sarapan.
“wae?” tanya Kyuhyun dengan kaos putih dalaman dan kemeja
putih yang masih setengah badan dia memakainya.
“Kau akan sarapan atau tidak? Jika tidak aku tidak jadi
memasak.”
“ Biasanya tanpa bertanya kau sudah memasak begitu saja.”
“Kau sering mengabaikan makanan yang sudah mati matian ku masak,
jadi aku memilih bertanya dulu padamu.”
“Bukankah Eommeoni membawa banyak kimchi kemarin?”
“Iya..”
“Berarti kau harus memasak sup kimchi.”
“mwo? Kau memintaku memasak sup kimchi?”
“Kenapa? Tidak bisa?”
“Eii...tentu saja bisa...”
Akhir akhir ini Kyuhyun berubah, sikapnya sedikit lebih baik
dari sebelumnya. Entah karena kejadian di apartemen itu atau setelah kedatangan
ibu Hyeon. Apa Kyuhyun mulai menyadarinya atau hanya untuk menutupi rasa
bersalahnya. Hyeon juga tidak tahu dengan pasti. Paling tidak Kyuhyun sudah
menganggapnya ada. Mau sedikit berbicara dengannya dan sekarang, dia menyetujui
sarapan bersama. Sedikit kemajuan untuk Hyeon Jung merebut hatinya.
“Oppa, petugas keamanan kemari dan mengatakan nanti akan ada
perbaikan dan pemeliharaan jaringan listrik, jadi jam 9 malam nanti, semua
listrik akan padam sementara. Kau bisa pulang lebih cepat dari itu kan? Aku
benar benar tidak suka sendirian dalam gelap.”
“ Akan kuusahakan.”
“ Gumawo Oppa..” Hyeon tersenyum karena Kyuhyun lagi lagi
mendengarkannya.
“Bisa kau tambahkan nasinya?” Tanya Kyuhyun. Hyeon
meliriknya sambil tersenyum. “Bukan karena makanan buatanmu enak, aku hanya
sedang lapar.” Jawab Kyuhyun ketika menyadari tatapan menggoda Hyeon tertuju
padanya.
“Arraseo... Apa nanti malam mau kubuatkan sup kimchi lagi?”
Tanya Hyeon bersemangat.
“kau hanya bisa memasak sup kimchi?” Balas Kyuhyun.
“Aigo..lihat siapa yang mengejekku? Orang yang sangat lahap
memakan masakanku baru saja?.” Goda Hyeon Jung pada suaminya.
“Sudah ku bilang aku lapar.” Tegasnya.
“Arra arra... nanti malam akan ku masakkan sesuatu yang
lebih enak dari sup kimchi. Bagaimana? Makan malam jam tujuh tepat.”
“Baiklah, Aku tidak janji jam tujuh, tapi kuusahakan sebelum
jam sembilan aku sudah sampai apartemen. Oh Iya, Aku akan melewati sekolahmu,
apa mau kuantar sekalian?”
“Kenapa jadi tiba tiba begini?” Tanya Hyeon merasa aneh
dengan sikap Kyuhyun yang tiba tiba berubah menjadi baik padanya.
“ya sudah kalau kau tidak mau.” Kyuhyun bangkit dari
kursinya hendak pergi. Tapi Hyeon Jung lebih cepat.
“Nee... nee... aku akan bersiap siap.” Hyeon melompat dari
kursinya, dan mengganti bajunya dengan seragam sekolah, menata isi tasnya dan
memakai sepatu.
Hyeon terus saja tersenyum sepanjang jalan. Bersenandung dan
mengetuk ketukkan jarinya dtepi kursi mobilnya.
Pertama kalinya Kyuhyun mengantarnya ke sekolah. Entah apa yang terjadi
pada Kyuhyun. Dia melakukan segala sesuatunya untuk pertama kali.
“Kau sepertinya senang sekali?”
“Bagaimana tidak senang. Biasanya aku berdesakan naik subway
dan berharap kau mengantarku ke sekolah sekali saja.”
“Jadi kau hanya berharap sekali saja?”
“Memangnya kau mau mengantarku setiap hari? Kau berangkat
kerja saja aku masih sibuk di dapur.”
“Benar.. ini hanya sekali saja.” Kata Kyuhyun.
Hyeon sedikit kecewa dengan jawabannya, tapi tetap saja ini
adalah kemajuan pesat untuk hubungannya dengan Kyuhyun.
“Sampai..”
“Gomawo Oppa, jangan lupa jam tujuh nanti malam.” Hyeon
mengingatkan Kyuhyun. Dia hanya mengangguk. Walau belum terlihat senyum di
wajahnya, tapi Kyuhyun sudah mau bicara hal selain yang selalu dia katakan
semacam aku tidak sarapan atau aku akan pulang malam jangan menungguku.
****
Sepulang sekolah, Hyeon ditemani Min Ho berbelanja bahan
makanan untuk makan malamnya dengan Kyuhyun.
“Jadi kalian sudah baikan?”
“Entahlah, dia hanya bersikap lebih baik.”
Kata Hyeon sambil memilih beberapa sayuran. Mengambil
beberapa yang masih segar dan memasukkannya ke trolly belanja.
“Mudah mudahan kalian lebih baik, ah gila. Kalau aku
mengingat bagaimana aku marah pada Hyeong saat itu, aku benar benar adik kurang
ajar.”
“ Yaak, kau memarahi Kyuhyun Oppa.”
“Aku sangat marah,jadi semuanya terjadi begitu saja.”
“Kau mau mati?” Hyeon menggunakan sayuran seolah akan
memukul Min Ho.
“ Tidak, aku masih ingin masuk timnas, jangan bunuh aku
sekarang.” Ledek Min Ho.
“Kau pikir itu lucu?”
“ Hahaha, lalu? Aku membelamu dan kau malah membela Hyeong?
Apa itu tidak lucu?”
“Diam atau pergi lah.” Perintah Hyeon.
Hyeon memasak sup abalon dan beberapa lauk sebentar lagi
pukul tujuh dan Kyuhyun belum ada tanda tanda akan pulang.
Dia membuka handphone nya, mengetik sesuatu dan kemudian
menghapusnya lagi.
Kyuhyun Oppa tidak
akan lupa kan?
Apa aku harus
menghubunginya?
Hyeon mengetik beberapa huruf lalu menghapusnya lagi dan
lagi. Mengganti dengan kalimat yang lain kemudian mnghapusnya lagi.
Sudah jam tujuh lebih
lima
Kyuhyun belum nampak juga di ujung pintu. Akhirnya Hyeon
menelepon Kyuhyun.
“Yeobseo..Oppa.”
“Ne, Hyeon.”
“Ini sudah jam tujuh, kau belum akan pulang.”
“Oh yaa yaa, sebentar lagi. Aku tinggal memeriksa satu laporan dari bagian manajemen. Lalu aku
akan pulang.”
“Baiklah..”
07.50 PM KST
“Hampir jam delapan, Kyuhyun oppa belum datang juga. Ah iya,
aku ada tugas bahasa Inggris yang harus ku kerjakan.”
Hyeon mengambil buku bahasa inggrisnya di kamar, berencana
mengerjakannya di ruang tengah sambil menunggu Kyuhyun.
“Mungkin sebentar lagi...”
TAP TAP TAP...
Belum sampai Hyeon keluar dari kamarnya, lampu apartemen
sudah padam.
****
“Oppa, kau dimana?” Tanya suara perempuan di ujung lain
handphone Kyuhyun.
“Di kantor, wae?” Jawab Kyuhyun. Sambil membolak balikkan
kertas atas meja kerjanya.
“Tidak menemuiku? Sepertinya aku rindu..”
“Kau rindu padaku? “ Kyuhyun tersenyum mendengar suara di
seberang teleponnya, apalagi setelah mendengar kata dia merindukan Kyuhyun.
“Pekerjaanku sangat banyak, bagaimana kalau besok malam?”
Kata Kyuhyun.
“Ne, sajangniiiim...” jawabnya.
Dua puluh menit setelah Kyuhyun menutup telepon terakhirnya,
dia sudah sampai di depan rumah Sarah, Membawa setangkai mawar putih kesukaan wanita
itu.
“Mau kuantar ke Myeon City (nama casino tempat Sarah bekerja)
?” Kata Kyuhyun yang memang sengaja menunggunya di luar. Sarah yang melihat
Kyuhyun menunggunya di depan rumah langsung memeluknya. Rasa rindunya terhadap
Kyuhyun akhirnya terobati, rasa rindu yang tiba tiba muncul seiring berjalannya
waktu.
Kyuhyun hanya mengantarkan
Sarah ke casino dan meninggalkannya
dengan kecupan hangat di pipi dan keningnya.
Entahlah apa yang membuat Kyuhyun bisa melakukan itu. Begitu
tulus atau begitu bodoh? Entahlah... Tapi bagaimana dia bisa begitu tanpa beban mengantarkan
kekasihnya bekerja untuk melayani pria lain.
“Kau tidak menginap?”
“Mianhanda..”
“Ku mohon hari ini saja..”
“Mianhanda, malam ini aku tidak bisa. besok akan kutemani
kau sepanjang malam Eoh? . Jangan gunakan perasaanmu pada pria pria itu, Ne?”
Kyuhyun mengecek jam
tangannya. Baru jam setengah sembilan. Perjalanan dari casino ke apartemen
memakan waktu dua puluh menit. Dia masih punya waktu sebelum apartemen mati
lampu.
***
Tetapi apartemen mati
sejak jam delapan tadi.
Petugas lupa memberi tahu jika pemadaman akan diajukan
menjadi jam delapan malam.
Hyeon sendirian di apartemennya, dan Kyuhyun cukup lega, dia
memiliki lampu cadangan di ruang gym yang bisa menyala setelah menyimpan daya.
Kyuhyun menelepon Hyeon Jung, bermaksud memberitahu tentang lampu cadangan
yang disimpan di ruang Gym, tapi Hyeon tidak mengangkat handphonenya.
Tepat setelah Kyuhyun tiba di apartemennya, listrik sudah
diperbaiki dan lampu lampu sudah menyala terang. Kyuhyun menyangka apartemennya
belum melakukan pemadaman hingga kepulangannya. Menyadari Kyuhyun hampir terlambat pulang, dia
mempercepat langkahnya agar tepat jam sembilan malam dia sudah sampai di
apartemennya.
***
Dia masuk ke apartemennya dan mendapati sup abalonnya
mendidih sejak tadi. Airnya tumpah di tepian kompor beberapa isinya ikut tercecer.
Apinya hampir saja membakar lemari dapur yang menggantung.
“Hyeon-ah! Kenapa kau meninggalkan dapur dalam keadaan begini!!!”
Teriakan Kyuhyun menggema di dapur dan seluruh ruang
apartemennya. Tapi Hyeon tidak menjawab.
“Hyeon!!”
Dia mencarinya ke kamar mandi, lalu ke kamarnya. Kyuhyun
mendapati seorang gadis yang memeluk lututnya sendiri di lantai dengan buku
yang berserakan. Air matanya mengalir tapi gerakan kepala dan tangannya lebih
aneh. Tangannya gemetar hebat.
“Hyeon, Apa yang kau lakukan di bawah sana....” Kyuhyun
mengamati mata Hyeon yang bergerak tidak beraturan. Tangannya saling meremas
satu sama lain “Hyeon, Gwaencanha? Apa yang terjadi?”
“Kenapa... ke..ke na pa.. kau ba...ru... dat..
dat ang.... “ Bibirnya gemetar
hebat. Selain air mata yang mengalir di wajahnya. Keringat dingin juga menetes
di tepian wajahnya. “Aku..takut...”
“ Apa yang terjadi Hyeon?” Kyuhyun bertanya dengan wajah
kebingungan.
“ Aku takut...”
“Apa yang terjadi Hyeon? Kau kenapa?” Kyuhyun masih kebingungan
melihat kondisi Hyeon. Tangannya terus saja menutupi bibirnya yang komat kamit
tidak jelas.
Apa Hyeon punya
gangguan jiwa?
Kyuhyun terus saja
membatin dan berspekulasi sendiri. Apa Hyeon Jung mengalami gangguan panik atau
semacamnya hingga kondisinya begitu menyedihkan.
Hyeon Jung tidak
menjawab apapun, dia hanya bertanya mengapa Kyuhyun baru datang dan menangis
kemudian.
Kyuhyun mengangkatnya
ke tempat tidurnya, membaringkan ke ranjang kecil itu dan duduk di sampingnya.
“Ku ambilkan air...” Kata
Kyuhyun bangkit dari duduknya untuk mengambil air di dapur, tapi tangan Hyeon
Jung lebih cepat untuk menahan Kyuhyun
agar dia tidak pergi ke manapun. Hyeon
Jung menggeleng.
“Hyeon, bisa kau
jelaskan padaku kau kenapa?” Tanya Kyuhyun dengan sangat lembut. Tapi Hyeon
Jung lagi lagi hanya mengeluarkan kalimat kalimat tidak jelas. “Kalau kau
begini saja, aku tidak tahu kau kenapa. Apa ada yang menjahatimu? Siapa dia?
Bagaimana dia bisa menjahatimu?”
Tidak ada jawaban
apapun dari Hyeon, tidak ada yang berubah dari kalimat kalimatnya yang tidak
jelas dan seluruh tubuhnya yang gemetar.
“Hyeon!! Ku mohon
katakan sesuatu!!” Bentak Kyuhyun yang akhirnya membuat Hyeon Jung menangis
keras di depan suaminya.
Sesaat kemudian,
Kyuhyun menyesal karena membentaknya dengan keras dan memaksanya mengatakan
sesuatu disaat kondisi Hyeon yang tidak memungkinkan.
Karena tak kunjung
mendapatkan jawaban. Akhirnya Kyuhyun menelepon Min Ho. Min Ho adalah satu
satunya sahabat Hyeon, dia mungkin tahu soal kondisi ini.
“Min Ho-ya... aku
ingin bertanya sesuatu. Jawab saja tanpa bertanya kembali.”
“Ne Hyeong.”
“Apa Hyeon punya kelainan jiwa?”
“Apa? Hyeong, Neo Micheosseo?
“Sudah ku bilang jawab saja! Kenapa malah menyebutku gila.”
“ Mungkin kau yang gila Hyeong. Haish, malam malam begini
menelepon untuk pertanyaan yang tidak
penting. Kalau kau sedang bertengkar dengannya, jangan menyebutnya gila. Kau sungguh keterlaluan.”
“Sepertinya keputusanku salah meneleponmu. Ku tutup!”
Min Ho malah membuat Kyuhyun semakin marah. Sebenarnya ada
apa dengan Hyeon. Mengapa dia menjadi seperti ini. Bahkan kurang dari dua jam
yang lalu, Hyeon Jung masih bisa dibilang sehat fisik dan jiwa mengingat
caranya menelepon Kyuhyun yang masih berada di kantor.
“Hyeon, kutanya sekali lagi.. bisa kau jelaskan apa yang
terjadi padamu?”
“Aku takut...”
“Takut? Pada siapa? Ada aku di sini. Siapa yang kau
takutkan?”
“Aku takut...”
“Hyeon-ah, ada aku...”
“aku takut... a... ku... ta..kut.. aku ta..kut....” Ucap
Hyeon dengan terbata dan berulang ulang.
“ Hyeon..ku mohon jangan membuatku bingung seperti ini.”
Telepon Kyuhyun berdering.
“Hyeong, apa terjadi sesuatu pada Hyeon Jung?” Tanya
seseorang di seberang telepon itu. Min Ho yang menelepon karena merasa ada yang
tidak beres dengan pertanyaan kakaknya itu.
“Entahlah.. aku tidak mengerti. Dia hanya bilang dia takut
dan tidak menyebutkan alasannya.”
“Jangan jangan, kau meninggalkannya sendiri saat gelap
Hyeong.”
“Tidak, aku sampai di apartemen sebelum listriknya mati, eh,
tunggu dulu... Min Ho kututup!”
“Yak Hyeong jangan ditutup dulu. Hyeong...”
Tlut...
Sudah hampir satu jam Kyuhyun menanyainya tentang alasan
mengapa Hyeon Jung menjadi seperti ini
tetapi nihil, jadi sekarang pukul 09.57 PM KST.
Pemberitahuan pemadaman adalah jam 09.00 PM KST tapi sampai
sekarang mereka tidak melakukannya. Apa ada sesuatu sebelumnya?
Kyuhyun menanyakan pada pihak keamanan Apartemen, dan benar dugaan Kyuhyun, pemadaman dilakukan
lebih awal dari jadwal yang telah diberitahukan sebelumnya.
“Jadi pemadaman terjadi pukul 08.00?”
“Ne, pemadaman sekitar
45 menit. apa terjadi sesuatu?”
“Bisa tolong cek CCTV di depan apartemen kami pada saat
pemadaman?” Pinta Kyuhyun pada petugas keamanan, kalau ada yang ganjil tolong
beritahu kami.
Tidak lama kemudian Min Ho menelepon dari ponselnya.
“Yak, Hyeong! Kau meninggalkan Hyeon saat mati lampu kan?
Jujur saja! Tadi siang dia bilang padaku saat pulang sekolah kalau apartemennya
akan dilakukan pemadaman.”
“Memangnya ada apa jika aku meninggalkannya saat mati
lampu?”
“Kau benar benar meninggalkannya? Neo Miccheosseo?” Min Ho menaikkan nada suaranya.
“Memangnya kenapa? Dan kenapa kau mengumpat terus padaku?!”
tanya Kyuhyun semakin bingung.
“Kau benar benar tidak tahu?” Tanya Min Ho.
Kyuhyun hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan Min Ho.
“Ya sudah ku beritahu saja, Hyeon memiliki ketakutan pada
gelap. Alasannya karena dia pernah di
culik. Ah tidak, bukan itu, kenapa aku terlalu dramatis. Karena Hyeon pernah
tersesat dalam hutan pada malam hari saat kami berkemah lima tahun yang lalu.
Saat itu, kita baru kelas VII Sekolah Menengah Pertama. Dia tidak mau bicara selama dua minggu
setelahnya. Jadi setelah kejadian itu, Hyeon sangat takut dalam gelap.
Fobia...Yaa mungkin dia sudah dalam tahap fobia kegelapan.”
“Hanya karena dia tersesat daalam hutan?” tanya Kyuhyun tak
percaya.
“Yaak! Dia terluka di wajahnya, pipinya sobek, tulang
kakinya patah dan dia ditemukan di tepi jurang yang aah, aku saja tidak sanggup
membayangkan. Kau pikir dengan pengalaman seperti itu tidak membuat seorang
gadis trauma?”
Ya Tuhan, Hyeon.
Aku membuat Hyeon
mengulang traumanya karena aku mengabaikan janjiku padanya.
“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang..”
“Hyeon bukan gadis yang mudah mengatakan takut. Jika dia
sampai mengatakan takut. Maka keberanian di dalam dirinya memang sudah tidak
ada lagi. Apa yang harus kau lakukan? Kau hanya perlu disampingnya beberapa
hari sampai dia benar benar sembuh Hyeong.”
“Dokter.. apa perlu ku panggilkan dokter?”
“Seseorang yang dia sayangi akan cukup membuatnya merasa
aman Hyeong, dan aku pikir jangan beritahukan Ibunya tentang kondisi Hyeon.
Ibunya sudah cukup mengkhawatirkan ayahnya. Apakah bijak jika kau memberitahu
kondisi Hyeon? Kau pasti bisa mengatasinya Hyeong... temani dia.”
“Eoh, baiklah. Ku tutup!” Kyuhyun menghempaskan tubuhnya ke sofa
panjang. Berpikir apa yang telah dilakukannya kepada Hyeon. Dia menyesali
kepergiannya menemui Sarah.
“Kenapa aku harus menemui Sarah, sedangkan aku berjanji
menemani Hyeon sebelum lampu apartemen mati. Harusnya aku tahu kondisi Hyeon
lebih awal.” Dia bertanya ke dirinya
sendiri. “ Tunggu, kenapa aku mencemaskan Hyeon, kenapa hatiku jadi begini? Ah
tidak tidak, aku mungkin hanya merasa bersalah saja padanya. “
Tapi kenapa hatiku
sakit melihat kondisinya?
BruKk
“ Hyeon?” Kyuhyun berlari menuju kamar Hyeon, memastikan
suara apa yang terdengar sebelumnya. Kyuhyun terkejut, Tubuh Hyeon tersungkur di
bawah ranjang dan getaran tangannya semakin hebat.
“Hyeon, kau baik baik saja? Hyeon..” Kyuhyun mengangkatnya
kembali ke ranjang dan duduk di sampingnya.
“Tto..tto... na...jji..mmma.... Op...opp..oppa”
“Ne, aku disini, aku tidak akan meninggalkanmu, jangan
takut. Tidak akan terjadi apa apa.” Kata Kyuhyun menggenggam tangan Hyeon erat agar intensitas getarannya berkurang. Kyuhyun
duduk di sampingnya, melingkarkan tangannya ke bahu Hyeon. Memeluknya dan akan
menjaganya sepanjang malam. Wajah Hyeon terbenam di dada bidang Kyuhyun yang
basah berurai air mata.
Malam dramatis itu akhirnya berlalu, berganti dengan pagi
dan menyisakan bekas bekas air mata di pipi dan kemeja Kyuhyun. Bahkan Kyuhyun
tidak sempat mengganti bajunya. Pelukan Hyeon sangat erat.
‘dan hangat’
Ting tong ting tong...
Kyuhyun merutuk pada si tamu, kenapa mendatangi rumahnya pagi
begini. Melihat kondisi Hyeon begini dia tidak mungkin membawanya keluar
menemui tamu itu. Tapi bagaimana jika tamu itu orang tua Hyeon atau teman
Hyeon.
AH tidak mungkin Hyeon memberitahu teman temannya perihal tempat tinggalnya, dia kan tidak pernah mengatakan
kepada teman temannya kalau dia sudah menikah. Jadi apa dia Eommeoni? Minggu kemarin dia
kemari pagi pagi begini juga.
“Hyeong.....”
Tebakannya salah besar, walau hanya satu, tetap saja ada
temannya yang sudah tahu kalau Hyeon menikah, dan itu adiknya sendiri. Min
Ho...
“Ada apa kemari?” Tanya Kyuhyun.
“Hyeon bagaimana? Apa sudah sehat?”
“ Kondisinya masih belum stabil.”
“Aku mau menemaninya di sini. Bukankah kau mau berangkat ke
kantor? Maka dengan inisiatifku sendiri
aku akan menjaga Hyeon untukmu sampai kau pulang kantor. Bagaimana aku sangat
membantu bukan?”
“Lalu sekolahmu?”
“Hyeon kan tidak masuk, jadi aku juga tidak akan masuk.”
“Lalu apa aku akan mengijinkan istriku dijaga oleh pria
lain?”
“ Hyeong!”
Perdebatan sengit dua bersaudara ini akhirnya terdengar oleh
Hyeon Jung yang menghampiri mereka.
“Kalian tidak usah bertengkar. Aku sudah baik baik saja.
Oppa, bersiaplah ke kantor dan Min Ho-ya, bukankah hari ini kau ada latihan
fisik untuk timnas? “
“Itu...haruskah aku pergi?” kata Min Ho sambil menggaruk
garuk kepalanya yang bahkan tidak gatal.
“Em... aku bisa menyuruh pak Lee menghandel pekerjaan di
kantor.” Kata Kyuhyun.
Ya Tuhan apa yang
mulutku lakukan? Kenapa bicara begitu saja?
“Aku sudah tidak apa apa. Kalian pergilah ke kantor dan ke
sekolah. Oppa, lampu yang di gym itu bisa digunakan kan?”
“Iya, tapi...”
“Presdir harus selalu datang ke kantor kan? Nanti siapa yang
mengurus perusahaan?”
“Hyeong, aku harus pergi. Kau harus tetap menjaga Hyeon
Jung. Kenapa? Bukankah kita tidak mau kondisinya memburuk lagi? Dan tidak ke kantor sehari tidak akan membuat perusahaanmu bangkrut kan?"
(TBC parah... belum edit. masih banyak typo)
No comments:
Post a Comment