BDD
Ara pergi ke kantin bersama Seo Jin dan Se Na. Seo Jin mulai menolak makan lagi untuk yang kesekian kalinya.
“Berhenti membuatku ingin makan Ara!” Kata Seo Jin kesal.
“Kau harus makan… kau tidak lihat wajahmu pucat begitu?”
“Ara benar, ayo makan lah bersama kami, kau sudah sangat lemas..”
SeNa menimpali.
“Tidak, aku ingin diet, aku harus kurus, harus cantik untuk ikut
audisi.”
“Tapi kau tidak harus sakit hanya karena ingin ikut audisi..”
“Ara-ya, SeNa-ya Jebal..” Teriak Seo Jin.
“Seo Jin, jebal.. Ayo makan bersama” Ara yang kesal kembali meneriaki Seo Jin.
“Tidak Ara, aku ingin diet. Aku tidak mau makan. Nasi sangat
tinggi kalorinya.”
“Ya sudah kalau begitu kau makan buah saja..”
“Aku sudah makan apel tadi pagi di rumah..”
“Kau bohong, Aku melihat kulkasmu kosong semalam..” Kata Se Na.
Seo jin terus saja menolak makan. Akhirnya dengan terpaksa Ara dan
Se Na membiarkan dia tidak ikut makan bersama.
“Aku mau ke dokter Goong hari ini, kalian makan saja. Aku akan
pergi sendirian.” Kata Seo Jin
“Mau apa lagi kau kesana?”Tanya SeNa pada sahabatnya.
“Kalian makan lah, aku tidak akan memberitahu kalian apa yang akan
kulakukan..” Kata Seo Jin sambil berlari dan tersenyum. Saat Ara melihat Seo
Jin berlalu. Muncul Kyuhyun di belakang Seo Jin. Dia bersama teman temannya dan
beberapa wanita. Wanita wanita itu bergerombol di kanan kiri Kyuhyun. Ara
mengalihkan pandangannya berharap Kyuhyun tidak melihatnya dan mulai makan
sambil mengobrol dengan Se Na.
“Aku khawatir dengan Seo Jin..” Kata Ara.
“Aku juga..sudah berapa kali tubuhnya kena pisau bedah. Tapi dia
belum juga puas.” SeNa mencemaskan temannya.
“Apalagi sekarang, dietnya sudah tidak wajar. Bagaimana bisa dia
satu bulan ini tidak pernah makan bersama kita?”
“Aku rasa Seo Jin sudah berubah..”
*******
Satu minggu kemudian…
“Ara, bagaimana kalau kita menjenguk Seo Jin di rumah
orangtuanya?” Tanya Sena.
“Apa dia mau menerima kedatangan kita? Bahkan pesan kita
diabaikan. Telpon kita selalu dialihkan.” Ara ragu Seo Jin mau menemui mereka.
“Lalu bagaimana kita tau keadaan Seo Jin kalau kita tidak kesana,
Ini benar benar mencurigakan dia tidak kuliah tanpa mengabari” Kata SeNa lagi.
“Kau benar, aku juga khawatir. Dia berkata pada kita akan ke Dr
Goong waktu itu. Apa yang dia lakukan lagi pada tubuhnya?”
“ Bagaimana kalau dia hamil dan tidak mau kuliah?” Kata SeNa asal
“Yaak…yang benar saja mulutmu.” Ara mengencangkan suaranya.
“ Kenapa dia tidak kuliah ya? Bagaimana jika sore ini kita ke
sana?” Usul SeNa.
“Geurae, Kkajja…”
____
Kelas Vocal telah selesai, Ara dan Sena mendatangi rumah Seo Jin di
daerah Cheongdamdong.
“Aku tidak menyangka, orang tua sahabatku benar benar seorang
Chaebol. Bagaimana bisa aku baru tahu sekarang..” Kata Se Na.
“Aku juga tidak menyangka, Seo Jin tinggal di kawasan sangat Elit
di Korea.”
“Mana rumahnya…?”
“Mungkin di sana, nomer rumahnya adalah 3203A. Oh iyaa itu dia. “
Kata Ara
Saat Ara akan memencet bel, tiba tiba seorang wanita paruh baya
yang tidak begitu cantik namun sangat elegan muncul dari dalam rumah Seo Jin.
“Annyeong Hasseo…apakah ini benar rumah Seo Jin” Kata Ara dan SeNa
sambil membungkuk.
“ Benar, kalian siapa?” Kata wanita itu.
“kami, teman kampusnya,”
“Iya, kami sahabat Seo Jin di kampus, kami ingin menjenguk Seo Jin
karena satu minggu ini dia tidak masuk kelas, apa Seo Jin baik baik saja?”
“Masuklah kalau begitu…”
Ara dan Sena melangkah masuk ke dalam Gerbang menuju sebuah taman.
Rumah Seo Jin sangat indah. Rumah megah dengan taman yang luas di belakang
rumahnya. Serta sungai kecil yang mengalir diantara pekarangan rumahnya. Ada 2
Anjing puddle yang mereka tau itu adalah milik Seo Jin dilihat dari foto foto
anjing itu bersamanya. Kami duduk diatas gazebo yang dipasang di dekat sungai
buatan itu. Dan ibu Seo Jin memulai membuka ceritanya
“Maaf, Ara dan Se Na, aku tidak mempersilakan kalian ke dalam.
Karena kondisi Seo Jin sedang sangat sulit.”
“Sulit?” Ara dan SeNa tidak mengerti.
“Iya, apa kalian tahu tentang keinginannya untuk merubah bentuk
tubuhnya setiap saat?”
“Iya,”
“Beberapa hari yang lalu dokter langganan bedah plastik keluarga kami
menolak untuk memberi dia sentuhan untuk hidungnya. Karena dokter merasa
sudah dilakukan berkali kali dan mungkin akan merusak sel sel penting dalam
hidungnya.”
“Lalu?”
“ Seo Jin terus memaksa dan bersikeras melakukan operasi.”
“Apa dia akhirnya melakukan operasi itu, bu?”
“Pihak rumah sakit menghubungi saya dan Ayah Seo Jin. Mereka
menjelaskan kepada kami suatu masalah dan memberikan saran kepada kami agar
kami membawa Seo Jin ke seorang Psikolog atau Psikiater.”
“Kami sangat marah saat itu, karena pihak rumah sakit sepertinya
menganggap Seo Jin orang gila. Akhirnya kami menjemput Seo Jin dan berbicara
kepada dokter apa yang sebenarnya terjadi.”
“Dokter Goong dengan berbagai cara mengatakan pada kami
untuk coba membawa permasalahan ini ke seorang PSikolog atau Psikiater.
Akhirnya kami menurut dan setelah membawa Seo Jin ke Psikolog di rumah sakit
YN. Psikolog itu menyatakan bahwa Seo Jin menderita Gangguan dismorfik tubuh
(BDD = Body Dismorphic Disorder). Yaitu Gangguan dimana seseorang selalu merasa
tidak puas dengan apa yang ada dalam fisiknya. Seo Jin selalu merasa bahwa
dirinya tidak sempurna, dan tidak cantik. Dia selalu ingin memperbaiki fisiknya
dengan operasi plastic, suntik apapun dan melakukan lyposuction serta diet yang tidak masuk akal. “ Jelas Ibu Seo Jin.
“Lalu bagaimana keadaan Seo Jin sekarang?” Tanya Ara.
“Dia tidak tahu hal ini, ibu saja bingung apa Seo Jin harus tau
tentang keadaannya atau tidak. Ibu sangat syock mendengar itu. Tapi Seo Jin
memang sangat aneh beberapa bulan ini. Taagihan kartu kreditnya selalu
membengkak dan dia hanya bilang sedang memperbaiki tubuhnya. Ibu tidak
menyangka dia benar benar terkena BDD. “
“Dia juga selalu mengatakan ingin melakukan Lyposuction, ingin
operasi double eyelid, operasi hidung, operasi dahi, dan setiap kami ke kamar
mandi. Dia selalu mengatakan dia kurang cantik di depan cermin. Mana yang
harus diubahnya agar tampak lebih kurus dan cantik. Tapi aku selalu
meninggalkannya saat dia sudah berbicara tentang bedah plastic. Ternyata dia….”
Ara merasa bersalah saat itu.
” Seharusnya aku mendengarkannya dan meyakinkannya kalau dia sudah
sangat cantik dan tidak perlu melakukan apa apa lagi pada tubuhnya.” Tambah
Ara.
SeNa memeluk Ara dan mengatakan pada Ara agar
tidak ikut menyalahkan diri. Setelah berbincang banyak dengan Ibu Seo Jin
mereka pamit pulang dan menitipkan salam serta oleh oleh untuk Seo Jin. Setelah
keluar dari gerbang rumah Seo Jin. Mereka berjalan namun saling diam. Semacam
tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya tadi. SeNa lebih diam dari Ara.
Dia sangat syock tentu saja. Mereka berkawan dan mereka sangat menyesal tidak
memperhatikan Seo Jin sedemikian detail.
“Apa benar ada penyakit seperti itu?” Tanya SeNa pada Ara.
“ Aku pernah mendengarnya, tapi aku baru melihat aslinya pada
sahabatku sendiri. Kenapa aku tidak menyadarinya. Aku pikir dia hanya kurang
bersyukur. Ternyata separah itu…”
Mereka mengbrol tanpa melihat satu sama lain dan berjalan
sepanjang sore menuju stasiun. Di dalam kereta mereka hanya berdiri dan tidak
saling mengobrol lagi.
“Aku ke halte seberang ya…kita berpisah disini.” Kata Ara pada
SeNa setelah keluar dari Stasiun.
” Biar kuantar kau pulang, tunggu ayahku menjemput.” Kata SeNa.
“Aah, tidak usah. Aku naik bis saja. Lagian rumah kita berbeda
arah.”
“Ini sudah gelap Ara..”
“Tidak apa apa…aku naik bis saja. Ini masih jam 8 malam”
“Selalu begitu. Baiklah… hati hati di jalan kalau begitu.”
“Bye..”
“Bye Ara…”
Setelah sampai di rumahnya, Ara membuka Laptop dan membuka mesin
pencari lalu mengetik
“Body Dismorphic Disorder” muncul beberapa link dan Ara membuka beberapa. Ara membaca salah
satunya.
“Orang dengan dismorfik
tubuh (BDD) terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar besarkan
dalam hal penampilan mereka. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam jam untuk
memeriksa diri di depan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrem untuk
mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan. Bahkan menjalani operasi
plastic yang tidak dibutuhkan. Penderita gangguan lainnya dapat membuang cermin
di rumah mereka agar tidak diingatkan akan cacat yang mencolok dari penampilan
mereka. Orang dengan gangguan ini dapat percaya bahwa orang lain memandang mereka
jelek atau berubah bentuk menjadi rusak dan bahwa penampilan fisik mereka
yang tidak menarik mendorong orang lain berpikir Negative tentang karakter atau
harga diri sebagai seorang manusia… Ah jadi
separah itu persepsi Seo Jin pada dirinya sendiri.Aku kasian padanya, kenapa
aku begitu mengacuhkannya saat itu.” Ara selalu menyesal dengan apa yang sudah
ia lakukan pada Seo Jin.
******
Hari semakin berlalu tanpa kabar dari Seo Jin. Ara dan SeNa
berjalan keluar kelas setelah kelas Vocal 2.
“Ara…bagaimana kabarmu dengan Kyuhyun?”
“Kyuhyun? Kau bicara apa?” Kata Ara sambil menunduk melihat
handphonenya. SeNa mengambil Handphone Ara yang tidak ada panggilan atau pesan
apapun.
“ Kamu tidak menyembunyikan sesuatu padaku kan?”
“Tidak…”
“Dasar pembohong… kau anggap apa aku ini?” Kata SeNa.
“Pembohong apanya?” Ara pura pura tidak mengerti dengan apa yang
dibicarakan SeNa.
“ Kau tidak mau menceritakan hubungan gelapmu dengan Kyuhyun?”
“Aku tidak ada hubungan apapun dengan Kyuhyun.” Tegas Ara.
“Kau turun dari mobil Kyuhyun beberapa minggu lalu…” SeNa mulai
menginterogasi sahabatnya.
“Aku hanya bertemu dijalan dengannya dan dia memberiku tumpangan.
“Aa..begitu? Lalu bagaimana kau menjelaskan, kau masuk lift dengan menangis dari lantai
apartemen Kyuhyun?”
“Ottohke…” Ara belum menyelesaikan pertanyaannya
“Kau masih mau menyangkal?” Tanya SeNa serasa sedang menelanjangi
Ara.
“Itu…..”
“Baiklah… aku tidak akan menanyakan apa apa padamu lagi. sebagai
sahabatmu, ini sangat menyebalkan..” SeNa kesal pada Ara.
“Baiklah baiklah…besok ku ceritakan semuanya. Aku lelah hari ini.
Suaraku hampir habis, Eoh?" Pinta Ara.
“Oke, besok ku jemput kau, kita bicara di jalan menuju rumah
Seo Jin dan aku sangat penasaran dengan ceritamu. Bye Ara.”
“eoh? Bye SeNa…”

No comments:
Post a Comment