Saturday, April 11, 2015

AT CLOSE 5




BDD


Ara pergi ke kantin bersama Seo Jin dan Se Na. Seo Jin mulai menolak makan lagi untuk yang kesekian kalinya. 

“Berhenti membuatku ingin makan Ara!” Kata Seo Jin kesal.

“Kau harus makan… kau tidak lihat wajahmu pucat begitu?”

“Ara benar, ayo makan lah bersama kami, kau sudah sangat lemas..” SeNa menimpali.

“Tidak, aku ingin diet, aku harus kurus, harus cantik untuk ikut audisi.”

“Tapi kau tidak harus sakit hanya karena ingin ikut audisi..”


“Ara-ya, SeNa-ya Jebal..” Teriak Seo Jin. 

“Seo Jin, jebal.. Ayo makan bersama” Ara yang kesal kembali meneriaki Seo Jin. 

“Tidak Ara, aku ingin diet. Aku tidak mau makan. Nasi sangat tinggi kalorinya.”

“Ya sudah kalau begitu kau makan buah saja..”

“Aku sudah makan apel tadi pagi di rumah..”

“Kau bohong, Aku melihat kulkasmu kosong semalam..” Kata Se Na.

Seo jin terus saja menolak makan. Akhirnya dengan terpaksa Ara dan Se Na membiarkan dia tidak ikut makan bersama.

“Aku mau ke dokter Goong hari ini, kalian makan saja. Aku akan pergi sendirian.” Kata Seo Jin

“Mau apa lagi kau kesana?”Tanya SeNa pada sahabatnya.

“Kalian makan lah, aku tidak akan memberitahu kalian apa yang akan kulakukan..” Kata Seo Jin sambil berlari dan tersenyum. Saat Ara melihat Seo Jin berlalu. Muncul Kyuhyun di belakang Seo Jin. Dia bersama teman temannya dan beberapa wanita. Wanita wanita itu bergerombol di kanan kiri Kyuhyun. Ara mengalihkan pandangannya berharap Kyuhyun tidak melihatnya dan mulai makan sambil mengobrol dengan Se Na.

“Aku khawatir dengan Seo Jin..” Kata Ara.

“Aku juga..sudah berapa kali tubuhnya kena pisau bedah. Tapi dia belum juga puas.” SeNa mencemaskan temannya.

“Apalagi sekarang, dietnya sudah tidak wajar. Bagaimana bisa dia satu bulan ini tidak pernah makan bersama kita?”

“Aku rasa Seo Jin sudah berubah..”

*******
Satu minggu kemudian…


“Ara, bagaimana kalau kita menjenguk Seo Jin di rumah orangtuanya?” Tanya Sena.

“Apa dia mau menerima kedatangan kita? Bahkan pesan kita diabaikan. Telpon kita selalu dialihkan.” Ara ragu Seo Jin mau menemui mereka.

“Lalu bagaimana kita tau keadaan Seo Jin kalau kita tidak kesana, Ini benar benar mencurigakan dia tidak kuliah tanpa mengabari” Kata SeNa lagi.

“Kau benar, aku juga khawatir. Dia berkata pada kita akan ke Dr Goong waktu itu. Apa yang dia lakukan lagi pada tubuhnya?”

“ Bagaimana kalau dia hamil dan tidak mau kuliah?” Kata SeNa asal

“Yaak…yang benar saja mulutmu.” Ara mengencangkan suaranya.

“ Kenapa dia tidak kuliah ya? Bagaimana jika sore ini kita ke sana?” Usul SeNa.

“Geurae, Kkajja…”
____

Kelas Vocal telah selesai, Ara dan Sena mendatangi rumah Seo Jin di daerah Cheongdamdong.

“Aku tidak menyangka, orang tua sahabatku benar benar seorang Chaebol. Bagaimana bisa aku baru tahu sekarang..” Kata Se Na.

“Aku juga tidak menyangka, Seo Jin tinggal di kawasan sangat Elit di Korea.”

“Mana rumahnya…?”

“Mungkin di sana, nomer rumahnya adalah 3203A. Oh iyaa itu dia. “ Kata Ara
Saat Ara akan memencet bel, tiba tiba seorang wanita paruh baya yang tidak begitu cantik namun sangat elegan muncul dari dalam rumah Seo Jin.

“Annyeong Hasseo…apakah ini benar rumah Seo Jin” Kata Ara dan SeNa sambil membungkuk.

“ Benar, kalian siapa?”  Kata wanita itu.

“kami,  teman kampusnya,”

“Iya, kami sahabat Seo Jin di kampus, kami ingin menjenguk Seo Jin karena satu minggu ini dia tidak masuk kelas, apa Seo Jin baik baik saja?”

“Masuklah kalau begitu…”

Ara dan Sena melangkah masuk ke dalam Gerbang menuju sebuah taman. Rumah Seo Jin sangat indah. Rumah megah dengan taman yang luas di belakang rumahnya. Serta sungai kecil yang mengalir diantara pekarangan rumahnya. Ada 2 Anjing puddle yang mereka tau itu adalah milik Seo Jin dilihat dari foto foto anjing itu bersamanya. Kami duduk diatas gazebo yang dipasang di dekat sungai buatan itu. Dan ibu Seo Jin memulai membuka ceritanya

“Maaf, Ara dan Se Na, aku tidak mempersilakan kalian ke dalam. Karena kondisi Seo Jin sedang sangat sulit.”

“Sulit?” Ara dan SeNa tidak mengerti.

“Iya, apa kalian tahu tentang keinginannya untuk merubah bentuk tubuhnya setiap saat?”

“Iya,”

“Beberapa hari yang lalu dokter langganan bedah plastik keluarga kami menolak untuk memberi dia sentuhan untuk hidungnya.  Karena dokter merasa sudah dilakukan berkali kali dan mungkin akan merusak sel sel penting dalam hidungnya.”

“Lalu?”

“ Seo Jin terus memaksa dan bersikeras melakukan operasi.”

“Apa dia akhirnya melakukan operasi itu, bu?”

“Pihak rumah sakit menghubungi saya dan Ayah Seo Jin. Mereka menjelaskan kepada kami suatu masalah dan memberikan saran kepada kami agar kami membawa Seo Jin ke seorang Psikolog atau Psikiater.”

“Kami sangat marah saat itu, karena pihak rumah sakit sepertinya menganggap Seo Jin orang gila. Akhirnya kami menjemput Seo Jin dan berbicara kepada dokter apa yang sebenarnya terjadi.”

“Dokter Goong dengan berbagai cara  mengatakan pada kami untuk coba membawa permasalahan ini ke seorang PSikolog atau Psikiater. Akhirnya kami menurut dan setelah membawa Seo Jin ke Psikolog di rumah sakit YN. Psikolog itu menyatakan bahwa Seo Jin menderita Gangguan dismorfik tubuh (BDD = Body Dismorphic Disorder). Yaitu Gangguan dimana seseorang selalu merasa tidak puas dengan apa yang ada dalam fisiknya. Seo Jin selalu merasa bahwa dirinya tidak sempurna, dan tidak cantik. Dia selalu ingin memperbaiki fisiknya dengan operasi plastic, suntik apapun dan melakukan lyposuction serta diet yang tidak masuk akal. “ Jelas Ibu Seo Jin.

“Lalu bagaimana keadaan Seo Jin sekarang?” Tanya Ara.

“Dia tidak tahu hal ini, ibu saja bingung apa Seo Jin harus tau tentang keadaannya atau tidak. Ibu sangat syock mendengar itu. Tapi Seo Jin memang sangat aneh beberapa bulan ini. Taagihan kartu kreditnya selalu membengkak dan dia hanya bilang sedang memperbaiki tubuhnya. Ibu tidak menyangka dia benar benar terkena BDD. “

“Dia juga selalu mengatakan ingin melakukan Lyposuction, ingin operasi double eyelid, operasi hidung, operasi dahi, dan setiap kami ke kamar mandi. Dia selalu mengatakan dia kurang cantik di depan cermin.  Mana yang harus diubahnya agar tampak lebih kurus dan cantik. Tapi aku selalu meninggalkannya saat dia sudah berbicara tentang bedah plastic. Ternyata dia….” Ara merasa bersalah saat itu.
” Seharusnya aku mendengarkannya dan meyakinkannya kalau dia sudah sangat cantik dan tidak perlu melakukan apa apa lagi pada tubuhnya.” Tambah Ara.

 SeNa memeluk Ara dan mengatakan pada Ara agar tidak ikut menyalahkan diri. Setelah berbincang banyak dengan Ibu Seo Jin mereka pamit pulang dan menitipkan salam serta oleh oleh untuk Seo Jin. Setelah keluar dari gerbang rumah Seo Jin. Mereka berjalan namun saling diam. Semacam tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya tadi. SeNa lebih diam dari Ara. Dia sangat syock tentu saja. Mereka berkawan dan mereka sangat menyesal tidak memperhatikan Seo Jin sedemikian detail.

“Apa benar ada penyakit seperti itu?” Tanya SeNa pada Ara.

“ Aku pernah mendengarnya, tapi aku baru melihat aslinya pada sahabatku sendiri. Kenapa aku tidak menyadarinya. Aku pikir dia hanya kurang bersyukur. Ternyata separah itu…”
Mereka mengbrol  tanpa melihat satu sama lain dan berjalan sepanjang sore menuju stasiun. Di dalam kereta mereka hanya berdiri dan tidak saling mengobrol lagi.

“Aku ke halte seberang ya…kita berpisah disini.” Kata Ara pada SeNa setelah keluar dari Stasiun.

” Biar kuantar kau pulang, tunggu ayahku menjemput.” Kata SeNa.

“Aah, tidak usah. Aku naik bis saja. Lagian rumah kita berbeda arah.”

“Ini sudah gelap Ara..”

“Tidak apa apa…aku naik bis saja. Ini masih jam 8 malam”

“Selalu begitu. Baiklah… hati hati di jalan kalau begitu.”

“Bye..”

“Bye Ara…”

Setelah sampai di rumahnya, Ara membuka Laptop dan membuka mesin pencari lalu mengetik

“Body Dismorphic Disorder” muncul beberapa link dan Ara membuka beberapa. Ara membaca salah satunya.

“Orang dengan dismorfik tubuh (BDD) terpaku pada kerusakan fisik yang dibayangkan atau dibesar besarkan dalam hal penampilan mereka. Mereka dapat menghabiskan waktu berjam jam untuk memeriksa diri di depan cermin dan mengambil tindakan yang ekstrem untuk mencoba memperbaiki kerusakan yang dipersepsikan. Bahkan menjalani operasi plastic yang tidak dibutuhkan. Penderita gangguan lainnya dapat membuang cermin di rumah mereka agar tidak diingatkan akan cacat yang mencolok dari penampilan mereka. Orang dengan gangguan ini dapat percaya bahwa orang lain memandang mereka jelek atau berubah bentuk  menjadi rusak dan bahwa penampilan fisik mereka yang tidak menarik mendorong orang lain berpikir Negative tentang karakter atau harga diri sebagai seorang manusia… Ah jadi separah itu persepsi Seo Jin pada dirinya sendiri.Aku kasian padanya, kenapa aku begitu mengacuhkannya saat itu.” Ara selalu menyesal dengan apa yang sudah ia lakukan pada Seo Jin.

******

Hari semakin berlalu tanpa kabar dari Seo Jin. Ara dan SeNa berjalan keluar kelas setelah kelas Vocal 2.

“Ara…bagaimana kabarmu dengan Kyuhyun?”
“Kyuhyun? Kau bicara apa?” Kata Ara sambil menunduk melihat handphonenya. SeNa mengambil Handphone Ara yang tidak ada panggilan atau pesan apapun.

“ Kamu tidak menyembunyikan sesuatu padaku kan?”

“Tidak…”

“Dasar pembohong… kau anggap apa aku ini?” Kata SeNa.

“Pembohong apanya?” Ara pura pura tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan SeNa.

“ Kau tidak mau menceritakan hubungan gelapmu dengan Kyuhyun?”

“Aku tidak ada hubungan apapun dengan Kyuhyun.” Tegas Ara.

“Kau turun dari mobil Kyuhyun beberapa minggu lalu…” SeNa mulai menginterogasi sahabatnya.

“Aku hanya bertemu dijalan dengannya dan dia memberiku tumpangan.

“Aa..begitu? Lalu bagaimana kau menjelaskan, kau masuk lift dengan menangis dari lantai apartemen Kyuhyun?”

“Ottohke…” Ara belum menyelesaikan pertanyaannya

“Kau masih mau menyangkal?” Tanya SeNa serasa sedang menelanjangi Ara.

“Itu…..”

“Baiklah… aku tidak akan menanyakan apa apa padamu lagi. sebagai sahabatmu, ini sangat menyebalkan..” SeNa kesal pada Ara.

“Baiklah baiklah…besok ku ceritakan semuanya. Aku lelah hari ini. Suaraku hampir habis, Eoh?" Pinta Ara.

“Oke, besok ku jemput kau, kita bicara di jalan menuju rumah  Seo Jin  dan aku sangat penasaran dengan ceritamu. Bye Ara.”

“eoh? Bye SeNa…”

No comments:

Post a Comment