Friday, April 17, 2015

Complicated Heart (Chapter 4)


Author : Cho Anna

Genre : Drama, Romance

cast : 

Cho Kyuhyun

Kim Min Young

Lee Dong Hae

Other cast : 
Find by your self. 

(Part ini masih berantakan dan belum lulus edit, tapi saking pengennya author post jadi seadanya dulu. Hati hati typo tersebar di segala penjuru)


(Kim Min Young pov)
Pengumuman mahasiswa yang lolos sebagai tim penelitian.  Kyuhyun benar benar tidak menarik keputusannya karena aku benar benar masuk sebagai 10 besar mahasiswa yang lolos seleksi. Aku masih heran, benar benar wawancara konyol. Aku melihat nama Han Cho Im ada dalam daftar mahasiswa itu. Aku tersenyum…Bagaimanapun caranya aku diterima sekarang sudah tidak penting lagi, karena sekarang aku hanya perlu bertanggung jawab atas apa yang sudah ku ambil.
            Pertemuan pertama akan dilaksanakan siang ini di laboratorium kelompok. Setelah menyelesaikan kuliah aku dan Cho Im segera menuju lab.

“Kau terlambat 10 menit Kim Min Young-Sshi…” Kata Cho Kyuhyun, sepertinya dia telah memulai pertemuan ini beberapa waktu yang lalu.

“Dan kau? Siapa namamu?”

“ Han Cho Im imnida.”

“Baiklah, Han Cho Im-Sshi.. dan Kim Min Young-sshi kali ini ku biarkan. Pertemuan selanjutnya tidak boleh ada yang terlambat kecuali sudah ada pemberitahuan sebelumnya”

“Ne… Maafkan kami.”

“Kita lanjutkan lagi… kelompok dibagi menjadi 2. Yaitu Kelompok Lee Kangsanim dan Kelompok Cho Kangsanim. Tiap kelompok terdiri dari lima orang dan kami sudah membuat kelompoknya. Kalian boleh saling bertukar bila tidak berkenan.”
Aku dan Han Cho Im berada di kelompok yang sama. Aku hanya berharap aku berada di kelompok Lee Kangsanim dan pergi sejauh jauhnya dari Cho Kyuhyun. Sayangnya Tuhan tidak mengabulkan satu permintaanku ini. Aku benar benar menjadi tim peneliti Cho Kyuhyun. Kalau saja saat itu aku benar benar mengundurkan diri. Aku pasti tidak terjebak  di sini satu tim bersama Cho Kyuhyun.

“Penanggung jawab penelitian adalah dosen, kalian bertugas sebagai pengumpul data dan pengolah data seperti yang sudah dijelaskan saat wawancara. Dan saya akan menunjuk seorang asisten sebagai orang yang akan menghandle kalian saat saya tidak ada, dan orang itu bertugas melaporkan langsung semua progress penelitian kepada saya. Aegesseo? ” Kata Kyuhyun menjelaskan padaku.

“Ne, Aegesseumnida.”

“Jadi siapa yang akan menjadi asisten?”
Keempat partnerku mengangkat tangannya. Daebak… mereka semua menyerahkan diri untuk menjadi pesuruh seorang Cho Kyuhyun. Aku saja sebenarnya tidak sudi berada di tim nya.. apalagi menjadi pesuruhnya yang berlabel asisten? Malddo Andwae.. aku tidak akan melakukannya. Dan itu mengapa aku tidak mengangkat tanganku bukti penyerahan diri.

“Omo na, apa yang salah denganmu, Min Young-sshi? Mereka semua ingin menjadi asistenku mengapa kau tidak mau?  Kau jangan coba coba menjadi partner yang tidak bertanggung jawab yaa…”

“Anni, aku hanya tidak ingin menjadi asisten. Tapi tenang saja Cho Kangsanim, aku akan bertanggung jawab dengan baik dalam penelitian ini.”

“Kalau begitu aku menunjukmu menjadi asistenku.”

“Mwo? Shiro yo..” Aku reflek saja mengatakan hal itu.

“Lihat dia, bagaimana mungkin kau bertingkah seperti itu pada kangsanimmu.”

“Chosseongeo…” Kataku. Awas saja kau Cho Kyuhyun. Kau sedang bermain api denganku.kau harusnya ingat,  Aku  bukan dongsaeng penurutmu lagi.

Penjelasan demi penjelasan diutarakan Kangsanim menyebalkan itu. Wajahnya.. tidak berubah selama lima tahunan ini. Tetap sama mempesona, Wajah yang dulu pernah membuatku tersenyum melihatnya Lalu tiba tiba saja aku ingat satu hal. Satu hal yang paling membahagiakan dan hanya satu kali dia menunjukannya padaku. Senyum tulusnya,
Saat itu aku pulang dari sekolah. Ada segerombol anak laki laki seusianya datang memalakku, merampas tasku dan menggodaku dan mereka melempar lemparkan tasku kesana dan kemari, dan ada beberapa yang ingin menyentuh tubuhku. Aku bingung dan takut aku hampir saja menangis karena dipermainkan oleh mereka, tapi Oppaku, Cho Kyuhyun datang menghajar mereka semua. Aku menangis melihat perkelahian itu. Perkelahian yang tidak mudah, Kyuhyun bahkan mendapat dua kali tinjuan di wajahnya namun dia tetaplah pemenangnya. Mereka semua lari meninggalkan kami. Aku yang terduduk sambil menangis melihat itu, dihampiri oleh Oppa ku. Dia mengatakan kalau semua baik baik saja.

“Kau tidak apa apa? Kau disakiti oleh mereka? Mana yang sakit?” Katanya. Aku melihat raut kecemasan di wajah Oppaku. 

“Anni… hanya tasku dan uangku diambil oleh mereka.” Kataku masih terus menangis.

“Uljima… mereka semua sudah pergi. Jangan menangis lagi Eoh?” Aku ingat persis dia tersenyum padaku membelai rambutku dan memelukku. Senyum tulusnya yang kulihat untuk pertama kali dan namun senyum itu tidak berlangsung lama. Setelah mengatakn itu, dia kembali lagi dengan kata kata tajamnya.

“Kau seharusnya lebih bisa berhati hati, jangan melewati jalan yang sepi, kau sudah hampir dewasa. Masa tidak bisa menjaga dirimu baik baik. Dasar gadis bodoh! Kau itu bisanya apa hah? Kau hobi sekali menyusahkanku…” Dan bla bla bla bla, aku sudah melupakan akhirnya.
 Dan sekarang aku baru menyadari, itu adalah senyumannya pertama kali dan terakhir kalinya padaku.

“Apa kalian sudah mengerti?” Tanya Cho kyuhyun pada timnya.

“Ne, Aegesseumnida..”
Aku terbangun dari lamunanku, ku lihat Kyuhyun melihatku dengan tatapan kesalnya.

“Kim Min Young Sshi, Aegesseo?”

“Nde…Aegesseumnida..”

“Baiklah, pertemuan kita sampai disini dulu dan nona kim, ada yang ingin ku sampaikan padamu. Kau bisa tinggal disini sebentar.”

“Ndee….”
            Anggota tim telah keluar kecuali aku dan Cho Kyuhyun. Dia mulai menatapku dan memasang wajah bossy nya.

“Apa yang kau lihat Cho Kyuhyun!”

“Aku sudah menerimamu disini kau harusnya sadar diri untuk melakukan yang terbaik Min Young-sshi..”

“Aku sudah…”

“Sudah kau bilang? Pekerjaanmu tadi hanya melamun dan melamun  kau bilang kau melakukan yang terbaik?”

“Aku tidak melamun, aku mengerti semua yang kau ucapkan semuanya.”

“Coba Katakan apa saja!”

“Eng…eng… kita hanya perlu bekerja sama dengan baik dan…”

‘Ssshhh… kapan aku mengatakan itu?”

“Tadi saat kau mengoceh panjang itu…”

“Kalau kau hanya main main dengan penelitian ini, aku sarankan kau mundur sekarang juga”

“ Kau ini.. kalau kau tidak mau bekerja sama denganku, kenapa kau menerimaku. Aish, aku bisa gila disini.”

“Karena aku yakin kau mampu Kim Min Young-Sshi, ku pikir kau bisa bertanggung jawab. Tapi pertemuan pertama ini sangat memuakkan. Kau hanya melamun dan tidak mendengarkanku. Penelitian ini sangat penting untuk karirku. Jangan pernah mencoba menghancurkannya, atau kau berhenti saja sebagai tim.”

“Aaa,jadi begitu. Kau bisa seenaknya menerimaku dan menendangku keluar dari tim ini?”

“Kau tau apa yang akan kau dapat dari penelitian ini? Tau tidak? kau akan mendapat nilai A dalam mata kuliahku, kau mendapat insentif bulanan, Kau bisa direkomendasikan dalam beasiswa luar negeri, dan kau bisa melampirkan sertifikat penelitian ini dalam mencari pekerjaan. Dan kau akan menganggapnya remeh temeh?”

“ Ne?”

“Kalau kau masih tidak serius dengan proyek ini, serahkan surat pengunduran dirimu besok di mejaku sebelum aku datang. Sekarang kau boleh pergi.”
Tanpa berkata kata aku keluar dari laboratorium, tentu saja aku syok mendengar bentakannya. Teringat saat aku mengambil bola basketnya untuk bermain bersama teman temanku di lapangan dekat rumah kami. Dia membentakku seperti ini, memangnya aku siapanya dibentak bentak seperti itu. Kehidupan kuliahku yang menyenangkan sepertinya akan berhenti mulai sekarang. Sebelum hancur semuanya, lebih baik aku mengundurkan diri saja. Tenang saja Cho Kyuhyun, aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku besok jadi tunggu saja.

****
(Author pov)
Amplop coklat bertuliskan surat pengunduran diri sudah berada diatas meja kerja Cho Kyuhyun. Tentu saja Min Young yang sudah mengantarkannya sendiri ke mejanya pagi pagi sekali. Baginya, itu surat pembebasan. Pembebasan dari belenggu Cho Kyuhyun. Sebenarnya jam kuliah Min Young masih satu jam lagi. Akhirnya dia berjalan jalan mengelilingi kampusnya dan duduk di depan ring basket. Memandang sekeliling dan membayangkan Oppanya yang sering bermain basket dengan teman teman kuliahnya di taman dekat rumah. Yang diingat Min Young adalah senyum dan tawa Kyuhyun saat bermain basket. Rasanya nyata… dan tiba tiba dia mengingat kata kata Kyuhyun kemarin sore di laboratorium.

“Kau tau apa yang akan kau dapat dari penelitian ini? Tau tidak? kau akan mendapat nilai A dalam mata kuliahku, kau mendapat insentif bulanan, Kau bisa direkomendasikan dalam beasiswa luar negeri, dan kau bisa melampirkan sertifikat penelitian ini dalam mencari pekerjaan. Geurom, kau akan menganggapnya remeh temeh?”

“Kalau kau masih tidak serius dengan proyek ini, serahkan surat pengunduran dirimu besok di mejaku sebelum aku datang. Sekarang kau boleh pergi.”

“ Tunggu dulu, apa aku semudah itu diterima lalu ditendang begitu saja oleh Cho Kyuhyun?” Pikir Min Young.

“Apa? Kau pikir aku akan menyerah dengan bentakanmu begitu saja? Andwe…Mundur berarti aku dipecundangi Kyuhyun, dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Akan ku buktikan kalau aku bisa bertanggung jawab pada penelitian ini.”  Min Young mulai bicara sendiri. Keputusannya untuk mengundurkan diri pasti kesalahan besar. Min Young menyadari siapa yang ada di dalam penglihatannya.

“Oh My God! Cho Kyuhyun hampir masuk ke ruangannya. Aku harus segera mengambil surat itu.” Min Young berlari menuju ruangan Cho kangsanim, dia harus sampai sebelum Cho kangsanim sampai di mejanya.

“Astaga, dia tidak boleh masuk lebih dulu.. aku harus cepat.” Min Young masuk ke ruangan dan segera mengambil suratnya.

“Sedang apa kau disini?” tanya Cho Kangsanim tepat di belakang Min Yong.  Min Young yang kaget segera menoleh.

“Annimida Kangsanim…” Kata Min Young sambil menyembunyikan suratnya di belakang badannya.

“Kau benar benar menyerah? Hah, sudah kuduga..” Kata Kyuhyun meremehkan Min Young.

“ Kangsanim, kau benar. Hari ini aku berangkat sangat pagi hanya untuk menyerahkan ini. Tapi setelah aku pikir. Aku akan sangat di butuhkan di tim, dengan kemampuan yang kupunya aku akan menjalankan tanggung jawab yang sudah kau berikan padaku. Aku akan bekerja sama dengan anda dan tim dengan baik. Dan untuk menjadi asisten, aku akan melakukan dengan seluruh tenagaku. Aku berjanji kau tidak akan menyesali keputusanmu menerimaku saat wawancara itu. ”

“Bagus..”

“Ne? “

“Kau sudah selesai bicara? “

“Ne…”

“ Kau boleh keluar dan aku akan menagih janjimu itu.”

“Ne kangsanim.”
Min Young melangkah gontai keluar dari ruangan Cho Kangsanim.

“Aku merangkai kata sebanyak itu dan dia hanya mengatakan bagus? Oh Tuhan Kill me now!” Gerutu Min Young. Dari balik gerutuan Min Young, Kyuhyun yang masih berdiri didepan mejanya hanya tersenyum dan memandang Min Young berlalu.

(Kyuhyun pov)
Aku tahu dia tidak akan mengundurkan diri dengan mudah. Dia adalah gadis yang penuh ambisi dan emosi, dia tidak akan tahan dengan hinaan semacam bodoh atau orang yang tidak bertanggung jawab. Kebutuhan berprestasinya juga tinggi. Dengan cara yang lembek memang tidak akan menyadarkannya, tapi sekali aku membentaknya dia akan mati matian membuktikan padaku kalau apa yang aku katakan tentang dia tidak benar. Itu lah yang kupelajari beberapa tahun lalu. Gadis itu, kau sudah tumbuh dewasa rupanya.

“Dan aku ingin sekali memelukmu seperti saat itu. Gadis kecilku ” Kataku lirih.

****
(Author pov)
Min Young berjalan keluar dari rumahnya, menghampiri pria tampan di hadapannya, Lee Dong Hae.

“Kau sudah menunggu lama?”

“Belum, kau sudah siap?”

“Ne..”
Dong Hae membuka pintu depannya mempersilakan Min Young masuk dan segera menuju restoran yang sudah dipesan Dong Hae. Setelah menyelesaikan pemesanan, Dong Hae memandang Min Young lekat lekat.

“Wae yo? Ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Min Young.

“Tidak..kau sangat cantik.” Pujian pertama Dong Hae lolos membuat wajah Min Young memerah.

“Bohong…”

“ Jeongmal, aku tidak bohong. Ah iya Min Young-sshi, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”

“Ne? Katakan saja…”

“ Baiklah, Min Young-sshi, apa aku belum bisa mendapatkan jawaban atas perjodohan kita?”

“Sebenarnya…”

“Aku ingin segera bertunangan denganmu.”

“Mwo?”

“Aku ingin segera bertunangan dan tidak lama setelah itu kita menikah.”

“Menikah?”

“Iya..”
Min Young merasa gugup membicarakan tentang pernikahan, belum terlintas dipikirannya tentang bertunangan dan apalagi pernikahan.

“Apa kau menginginkannya secepat itu?”

“Ne,bagaimana denganmu?”

“Aku, aku ingin tau dulu bagaimana perasaanmu terhadapku.”

“Min Young-ah, aku tidak akan mengajakmu menikah kalau aku tidak menyukaimu.”

“Aku juga menyukaimu Dong Hae-ya, tapi apa menikah hanya karena kita saling menyukai? Selain menyukaiku, apa kau mencintaiku?”

“ Cinta bisa tumbuh seiring waktu Min Young-sshi..Aku telah memulainya.”

“Kau yakin bisa mencintaiku?”

“Ya, aku sangat yakin. Apa jangan jangan.. kau tidak mencintaiku dan tidak mau menikah denganku?”

“Bukan begitu..”

“Astaga, aku ditolak lagi..” Raut kekecewaan terpancar dari raut wajah Dong Hae.

“ Dong Hae-sshi..”

“Tunggu, aku mau ke toilet sebentar.”
Sepuluh menit berlalu, makanan yang dipesan mereka telah sampai di meja. Pikiran Min Young bukan tentang menu yang ada di depannya, tetapi ajakan menikah Lee Dong Hae. Sebenarnya apa yang di cari Min Young. Sesempurna sempurnanya seorang pria adalah Lee Dong Hae. Apa lagi yang dicarinya? Selama ini Dong Hae sangat baik dan perhatian, tampan, mapan dan setiap geraknya mempesona mata. Tapi kenapa hati Min Young tidak terpesona seperti matanya?

“Dong Hae benar, aku pasti jatuh cinta padanya kelak. Dong Hae adalah pria yang baik. Tidak ada alasan menolaknya.” Pikir Min Young.


Dong Hae kembali ke mejanya.

“Min Young-sshi..”

“Ne..”

“Apa aku terlalu memaksamu?”

“Em,, itu..”

“ Kau belum ingin melakukannya aku tidak akan memaksamu.”

“Anni, ayo lakukan segera..”

“Mwo?”

“Setelah ku pikir pikir aku apa yang kau bilang ada benarnya. Apa lagi yang kita tunggu. Seperti katamu, cinta bisa tumbuh nantinya.”

“ Jeongmal? Kau mau melakukannya?”

“Ne..”

“Kau yakin?”

“Yaa, aku yakin.”

( Kim Min Young pov)
Sebenarnya aku tidak begitu yakin dengan keputusanku. Aku hanya tidak ingin membuat Dong Hae menunggu lama. Keyakinanku adalah Dong Hae orang yang sangat baik dia memberikan seluruh perhatiannya padaku, semua kriteria sempurna ada padanya dan aku tentu saja tidak ingin menyia nyiakan orang sebaik Lee Dong Hae.

“Iya, aku yakin..” Kataku pada Dong Hae
Aku melihat senyum mengembang di bibir kemerahannya. Dia mengucapkan terima kasih padaku sambil menggenggam tanganku. Sekarang perhatian utamaku adalah dia, dia yang ada di hadapanku. Aku akan belajar mencintainya seperti dia yang sedang mencoba mencintaiku. Ya… Dia Lee Dong Hae.

*****

(Author pov)

“Min Young ayo cepat, aku tidak mau kita terlambat lagi. Kau tau kan kemarin Cho kangsanim menegur kita?”

“Iyaa sebentar.”
Handphone Min young bergetar, panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal.

“Yeobseo..”

“Kim Min Young-sshi, ini aku, Cho Kyuhyun”

“Ne, Cho Kangsanim..”

“Aku ingin kau menghandle pertemuan kita siang ini sebentar saja. Aku ada urusan, setelah selesai aku baru akan datang.”

“Aah, ye… aku akan melakukannya.”

“ Ini sudah saatnya mulai, kau harusnya sudah sampai di laboratorium. Dimana kau?”

“Di kelas,  Kangsanim,” Jawab Min young terbata.

“Mwo ya? Kau harusnya sudah sampai di sana, kau ingat kan dengan apa yang kau katakan padaku.”

“Ne, kangsanim. Aku akan segera sampai..”
            Min Young datang dan mengambil alih pertemuan, karena Cho Kyuhyun sedang tidak ada di tempat. Setelah memberikan tugas kepada tiap tiap anggota tim. Mereka mulai bekerja berdasarkan tugasnya. Dua orang mengurus perijinan penelitian, dan dua orang lainnya memetakan letak letak calon subjek yang memungkinkan.  Dan Kim Min Young bertugas mengawasi mereka. Ini bukan berarti Kim Min Young bebas tugas, tugasnya akan ditunda sampai Cho Kyuhyun datang. Dia harus melaporkan semua yang sudah tim  kerjakan sesempurna mungkin, Bagaimana tidak, dia adalah Cho Kyuhyun. Pria yang menginginkan kesempurnaan dalam setiap apa yang dilakukannya. Jadi Min Young tidak akan sembarangan melapor, semua tanggung jawab tim akan diserahkan kepada Min Young saat pelaporan.
            Setelah beberapa jam mereka berkutat di laboratorium, Lee Kangsanim datang membawa beberapa makanan. Lee Kangsanim dan istrinya membuat banyak makanan untuk berpesta bersama tim penelitian. Tentu saja angin segar untuk para anggota tim setelah berjibaku dengan tugas mereka, sekarang mereka dihadapkan dengan berbagai macam makanan. Wajah kelaparan dan kusut mereka terobati dengan pemandangan di depan meja mereka.

“Mari makan…” Kata salah satu dari mereka. Tidak menunggu waktu lama, Cho Kyuhyun datang dan melihat sepertinya dalam laboratorium sedang diadakan pesta.

“Waa…Lee Kangsanim, kau berpesta tidak mengajakku?” Goda Kyuhyun dengan tersenyum.

“Cho Kangsanim, ayo bergabung.”

“Ada acara apa kau membawa makanan sebanyak ini?”

“Duduk lah Cho kangsanim, istriku akhirnya hamil setelah 5 tahun menikah. Aku sangat bersyukur dan ingin berbagi kebahagiaan dengan kalian.”

“Waa, selamat Lee kangsanim, kau sebentar lagi menjadi 
ayah.”

“Kau pasti sangat senang, Selamat Kangsanim…semoga bayi mu selalu sehat” kata Min Young.

“Aa…aku juga membawa sup, sup buatan istriku ini sangat enak tidak ada yang menandinginya.”

“Benarkah? Kalau begitu kita harus mencobanya..” Kata salah satu anggota tim Lee kangsanim.
           
(Min Young pov)
Sup buatan istri Lee Kangsanim memang sangat enak, kalau saja mukaku tebal aku pasti akan meminta lagi mangkuk kosongku ini untuk diisi penuh dengan sup itu. Tapi aku terlalu gengsi untuk melakukannya.  Ku lihat sejenak Cho Kangsanim, dia hari ini terlihat sangat bahagia saat masuk ruangan ini. Ada apa dengannya? Berhenti melakukannya Min Young-sshi, jangan pernah ingin tau dengan urusannya.
Tapi kenapa wajahnya seperti menahan sakit, nafasnya tersengal sengal… tidak ada yang menyadarinya karena dia sedikit tersenyum.

“Cho Kangsanim, Neo Gwaencanha yo?” Tanya Cho Im yang ternyata juga menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

“Ne…” Katanya sambil menahan sesuatu. Aku jadi ingin tahu ada apa dengan wajahnya. Lalu aku menoleh ke arah lain. Aku melihat Lee Kangsanim sedang menyantap sesuatu dari supnya.

“Ommo na.. jangan jangan… ” Aku segera mengaduk aduk isi sup dalam mangkukku. Tapi aku tidak menemukannya. Aku mengaduk sup milik Cho Im berharap menemukan jawaban. Dan nihil.. akhirnya aku mengaduk tempat sup itu. Iya aku menemukannya…

“Cho Kangsanim, Gwaencanha yo? Cho Kangsanim..” Aku bertanya pada Cho Kyuhyun
Aku melihat wajahnya memerah dan nafasnya tersengal. Semua anggota tim dan Lee Kangsanim akhirnya menyadari ada yang tidak beres dengan Cho Kyuhyun. Aku menghampiri Cho Kyuhyun dan Dia memegang lenganku, tangannya basah kuyup seperti terkena air. Ini persis sama dengan kejadian waktu itu. Aku mengaduk sup di mangkuknya dan benar, aku menemukannya, potongan kecil itu.

“Cho Im cepat telepon 1339, cepat…” Kataku refleks.

“Ne?” Tanya mereka semua heran

“Palli…”

“Cho kangsanim, ada apa denganmu?” Tanya Lee kangsanim.

“ Dia alergi udang, Kangsanim. Han Cho Im, palli.”

“Ne..” Cho Im segera menelepon 1339

10 menit kemudian ambulans datang ke ruangan dan membawa Cho kyuhyun. Dia sudah pingsan dan bibirnya pucat. Aku dan Lee kangsanim yang menemaninya saat dibawa ke rumah sakit.
Aku tahu persis saat di pesta ulang tahun sahabat Appanya. Kami sekeluarga ikut ke pesta itu. Aku mengikutinya dan memakan apa yang dia makan, apapun. Aku melihat dia memakan sebuah makanan berbentuk bola bola, aku pun ikut memakannya. Aku melihat didalam bola bola itu ada seekor udang. Tidak lama setelah dia menghabiskan bola bolanya, nafasnya tersengal dan wajahnya memerah tapi bibirnya pucat. Seperti ini kondisinya saat itu..

“Oppa…” sudut mataku meloloskan satu butir airnya. Aku sangat mengkhawatirkan pria yang sedang berbaring di hadapanku ini. Mantan kakak tiriku. Cho Kyuhyun.
Setelah masuk ke ruang emergency dan ditangani oleh dokter dengan diberi obat anti alergi dan obat pelega pernafasan. Kyuhyun berbaring lemas disebelah ranjangnya. Dokter mengatakan semuanya akan baik baik saja karena kami memanggil tim medis darurat tepat waktu.

“Aku akan mengurus registrasinya, Kau tunggu Cho Kangsanim dulu.” Kata Lee Kangsanim

“Ne, Kangsanim.” Jawabku patuh


“Syukurlah, kau baik baik saja, Cho Kangsanim. Aku sangat khawatir. Kau pasti sangat kesakitan tadi..” Kataku pada namja yang sedang berbaring diatas tempat tidur di ruang emergency ini. Dia masih memejamkan matanya. Wajah merahnya telah kembali semula dan tapi bibir kemerahannya masih saja pucat. Namja ini, dari dulu sangat menarik perhatianku dan suka membuatku khawatir. Sekarangpun aku masih mengkhawatirkannya.

“Min Young-ah.” Sebuah kata yang diucapkan Kyuhyun dalam pejaman matanya. Aku tersentak, dia sedang memanggil namaku. “Min Young-ah, mian hae..” Katanya lagi. Igauannya membuat hatiku berdesir. Kenapa dia memanggil namaku saat tidur. Tapi apa Min Young yang dimaksud adalah aku?

Setengah jam berlalu, akhirnya Cho Kyuhyun terbangun. Aku jadi salah tingkah setelah mendengar dia mengigau.

“Kau sudah lama disini?” Tanyanya dengan suara parau

“Ne, aku bersamamu sejak tadi.”

“Eoh? Kau sejak tadi?”

“Ne..”


(Kyuhyun pov)

“Eoh? Kau sejak tadi?”

“Ne..” Jawabnya singkat.

Aku mulai khawatir dengan apa yang dilakukan mulutku. Semoga saja aku tidak mengigau dan mengatakan hal hal yang sering orang tanyakan padaku. Siapa gadis itu? Kau terus saja meminta maaf padanya.

“Aaah Cho Kangsanim, kau sudah bangun rupanya. Bagaimana apa sudah baikan? Aku benar benar minta maaf dengan apa yang telah terjadi padamu. Aku benar benar tidak tahu kalau kau alergi udang.”

“Ne, Nan Gwaencanha.. aku sudah lebih baik sekarang. Apa kau tahu dari dokter kalau aku alergi udang?”

“Min Young yang mengatakan kepada kami.”

“Min Young-sshi?” Tanyaku padanya.

“Kalau kau sudah membaik, ayo kuantar kau pulang aku akan membayar semua administrasinya.”

“Tidak perlu Lee Kangsanim, aku akan membayarnya sendiri.”

“Kau tidak membawa tasmu Cho kangsanim, kau mau membayar pakai apa? ”Ledek Lee kangsanim padaku.

“Aah, matda..”

 “Lagipula ini kesalahanku, aku yang membawa sup itu.”

“Aku juga teledor tidak memeriksa supnya.”
Lee Kangsanim menuju ke ruang administrasi, dan Min Young membantuku berdiri dari tempatku berbaring. Aku masih lemas dan ingin segera istirahat di apartemenku. Aku berjalan bersama Min Young, dongsaeng kecilku.

“Aa, kau masih ingat tentang alergi udangku?” Tanyaku padanya. Aku sangat penasaran seberapa jauh ingatannya tentangku masih bertahan di otaknya.

“Tentu saja, kau selalu mengatakan hampir mati hampir mati setelah kejadian di pesta saat itu.” Jawab Yeoja kecil itu dari bibir pinknya. Ah aku lupa, dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik. Bukan yeoja kecil yang mengikutiku kemanapun aku pergi.

“Hei Yeoja kecil, bagaimana dengan pertemuan tadi. Apa tidak ada masalah?”

“Kau urusi kesehatanmu dulu Kangsanim, jangan memikirkan hal lain, aku akan mengawasi mereka.” Jawabnya. Aku reflek saja menyodokkan jari telunjukku ke kening Min Young.

“Kau juga harus bekerja, aegesseo?”

“Ne, Kangsanim.”

“Sudah siap? Ayo kuantar pulang.”

“Kangsanim, aku harus kekampus karena mobilku di sana. Aku akan ke kampus naik taxi saja. Lee Kangsanim, kau sendirian mengantar Cho Kangsanim tidak apa apa kan?”

“Tidak apa apa. Kau kembalilah, dan katakan pada teman temanmu kalau Cho Kangsanim sudah baik baik saja. Pasti mereka khawatir sama sepertimu.” Kata Lee Kangsanim pada Min Young.
Apa yang baru saja Lee Kangsanim bilang? Pasti mereka khawatir sama sepertimu? Yeoja kecil itu mengkhawatirkan aku? Haha, yang benar saja. Kebenciannya padaku saja sangat mendarah daging. Aaah Lee Kangsanim hiperbola sekali. Sepuluh menit berselang aku telah sampai di apartemenku.

“Beristirahatlah Cho Kangsanim, kau harus segera sehat. Dan jangan membuatku semakin bersalah.” Kata Lee kangsanim.

“Aah sayangnya aku harus mengoreksi.. astaga tasku.Lee Kangsanim, apa kau bisa menelepon Min Young untuk mengantarkan tasku ke apartemen?”

“Kau harus beristirahat Cho Kangsanim, jangan bekerja keras dulu”

“Aku harus menyelesaikan tugas itu besok. Ah iya, sekalian handphone ku. Mungkin tertinggal di meja kita makan tadi.”

“Ye Cho Kangsanim..”

“Khamsahamnida..Aku akan segera masuk.  Jangan lupa menghubungi Min Young.
(Author pov)
            Min Young baru saja menerima telepon dari Lee kangsanim untuk membawakan tas serta berkas berkas yang ada di meja Lee kangsanim ke apartemennya. Tidak sulit bagi Min Young menemukan apartemen Cho Kyuhyun karena tempatnya sangat strategis dan apartemen Kyuhyun merupakan apartemen yang memiliki iklan di mana mana.
Ting tong…
Kyuhyun melihat Min young sedang kewalahan dengan seabrek barang barang titipannya dari layar intercom.

“Masuklah.” Kata Cho Kyuhyun. Min Young masuk dan segera meletakkan semua barang bawaannya ke kursi di depannya.

“Huh melelahkan sekali, Cho kangsanim ini bukan bagian dari penelitian jadi jangan menyuruhku seenaknya seperti itu.”

“Mian Hae Min Young-sshi.” Kyuhyun meminta maaf pada Min Young.

“Ne, karena kau sedang sakit jadi aku mau mengantarkannya.”

“ Kau mau minum apa?”

“Tidak usah aku langsung pulang saja.”

“Aaak, dadaku.” Kata Kyuhyun sambil memegangi dadanya.

“Astaga, nan Gwaencanha…”

“Dadaku Sesak..”

“ Cho Kangsanim, kau istirahat saja. Apa obatnya sudah kau minum? Mau aku buatkan bubur?”

“Tidak, ambilkan aku obat di laci meja kamarku.”
Min Young dengan segera mengambil obat obatan yang didapat Kyuhyun tadi saat di rumah sakit.

“Bagaimana ini, aku harus menyelesaikan koreksiku besok.” Kata Kyuhyun.

“Koreksi apa? Tidak bisakah ditunda mengerjakannya sampai kau benar benar sembuh?”

“Aku harus menyelesaikannya, deadlinenya besok. Kau mau membantuku tidak?”

“membantu apa?”

“Mengoreksi tugas tugas ini bersamaku.”

“Tapi…”

“Kau boleh meminta apapun.”

“Apapun?”

“Ne, Aku ingin nilaiku di tiap mata kuliahmu bagus.”

“Bukankah kau bisa mendapatkannya dengan ikut penelitian ini?”

“Tidak adakah nilai yang lebih tinggi dari A? A plus 
misalnya?” Tanya Min Young sekenanya.

“Min Young-sshi, nilai tidak akan berarti apa apa tanpa kemampuanmu yang sebenarnya.”

“Aaah iya kau benar.”

“Aku bisa dengan mudah memberi mu nilai A jika aku mau, tapi kemampuanmu kosong. AKu tidak akan membiarkan mahasiswaku melakukan itu.”

“Jadi?”

“Akan ku bantu kau menambah ilmu dan kemampuanmu.”

“Ne, Kangsanim.” Jawab Min Young lemas.

“Jadi kau akan membantuku mengoreksi kertas kertas ini kan?” Tanya Kyuhyun semangat

“Ne…” Min Young dengan enggan menjawab.
Ratusan lembar kertas di depan mata, mereka mengoreksi bersama sama setelah dipandu oleh Cho kangsanim tentunya.

“Apa apaan ini, dia menyalin semua yang ada di buku.” Kata Min Young mengomentari satu tugas milik adik tingkatnya.

“Koreksi saja..”

“Kangsanim, kau harusnya melihat konten yang dia tulis, jangan berdasarkan tebal tidaknya tugas mahasiswamu.”

“Kau sedang mengajariku?” Kyuhyun melototiku sebal.

 “Anni… kau pasti sudah tau hal itu. Kau kan dosen beraliran perfectionist.”

“Bukan perfectionis, tapi aku ingin melakukan yang terbaik untuk banyak hal.”

“Ciih, Dua kata itu terdengar sama.”

“Beda, sudah selesaikan saja tugasmu dan segera pulang.”

“Aku juga ingin segera pulang Cho Kangsanim. Tidur di kasur empukku. Hiih, Kau yang menawanku disini. Jadi budak yang berlabel asisten. Astaga… apa yang kulakukan disini.” Min Young mengeluh.

“Kalau kau banyak bicara, aku masih punya dua tumpuk kertas lagi untuk kau kerjakan.”

“Andwe, aku ingin segera pulang.” Kata Min Young.

“Ya sudah kerjakan saja dengan benar..”

“Arraseo..”



(Min Young pov)

Berjam jam kami berkutat dengan kertas kertas  ratusan lembar. Akhirnya aku menyelesaikan tugas bagianku. Aku melihat ke samping kanan, si pemberi beban ini malah seenaknya tidur saat aku mengoreksi tugas yang seharusnya dia kerjakan. Tapi dia sepertinya lelah, atau mungkin pengaruh obat yang tadi diminumnya. Wajahnya meneduhkan dan mempesona. Aku segera membereskan kertas kertas itu dan merogoh tasku mengambil handphone. Eomma menelepon menanyakan keberadaanku. Aku bilang saja masih di kampus sedang membahas penelitian. Aku tidak bercerita tentang Kyuhyyun pada Eomma, aku takut dia syock karena menceritakan seorang anak yang membuat kehidupan perkawinannya kandas. Kyuhyun mendengarku menerima telepon lalu terbangun sejenak kemudian memejamkan matanya lagi. Aku ingin segera pergi dari apartemen itu, akhirnya aku menulis pesan kecil di memonya.

“Hei kau pria menyebalkan, aku sudah melaksanakan tugasku. Aku pulang dulu.”
Aku beranjak dari dudukku di sampingnya untuk segera pulang. Tapi dia meraih tubuhku kembali. Memelukku tidak membiarkanku pergi.

“Tunggu dulu, aku ingin seperti ini. Sebentar saja.” Kini kepalanya bersandar di bahuku. Apa yang harus ku lakukan. Kenapa jantungku berdebar debar seperti ini. Kenapa aku gugup. Kenapa Cho Kyuhyun berada di pelukanku.

“Cho Kyuhyun, apa yang kau lakukan.” Kataku terbata bata.

“Tinggallah sebentar saja, jebal…”
Aku tidak bisa melepaskan pelukannya. Tangan kanannya di atas perutku sedang tangan kirinya melingkar di pinggangku. Dia hanya memejamkan matanya tapi aku sangat gugup.

(Cho Kyuhyun pov)

Sepertinya sebagian besar skenarioku berjalan lancar. Aku yang tadi pura pura sesak nafas bisa menahannya berada di sini. Untuk obat? Ini memang jamnya aku harus minum obat sehingga bisa dengan mudah membuatnya yakin sesak nafasku sembuh karena obat yang ku minum.  Ratusan lembar kertas koreksian itu adalah alasan ke dua menahannya lebih lama dan itu berhasil. Aku pun pura pura tidur agar dia tetap disisiku dan menungguku terbangun. Tapi skenario ketiga sepertinya tidak berjalan lancar sehingga aku melakukan hal nekat seperti ini. Menariknya dan memeluknya. Tubuhnya hangat, detak jantungnya terdengar dari telingaku, nafasnya sedikit memburu karena gugup. Aku merindukan gadis ini.. gadis yang selalu hadir dalam mimpiku. Yeoja kecilku… Kim Min Young. Mantan adik tiriku.
            Entah sejak kapan aku mulai memimpikannya, aku sudah lupa. Namun semenjak percerian orang tua kami dan aku pindah ke Swedia. Aku selalu memimpikan dia. Apalagi saat aku lelah. Aku sering terkena sleep paralysis dan sosok dia yang selalu muncul dalam bayanganku. Dari saat itu, aku menjadi sangat merindukannya.
            Entah takdir apa yang membawaku kepadanya hari ini. Aku tidak sengaja mendaftar sebagai dosen di kampus itu, kampus dimana dia sedang belajar, aku juga tidak menyangka dia mendaftar sebagai anggota tim penelitian. Project penelitianku. Entah apa scenario Tuhan untukku dan Min Young. Apa aku harus menyelesaikan takdir bersamanya apa dia hanya hadir sebentar kemudian pergi lagi seperti dulu?


(Min Young pov)

Aku terduduk kaku di sofa, membiarkan Kyuhyun melingkarkan tangannya di pinggangku dan kepalanya di bahuku. Setengah jam lebih kami berada di posisi itu. Bahuku sudah sangat pegal oleh kepalanya yang berat. Mungkin karena dia menyimpan segala ilmunya di otaknya. Haha yang benar saja, aku masih bisa bercanda di sela rasa gugupku dan debaran jantung yang tidak normal ini.
            Kyuhyun sepertinya sudah tertidur, apa lebih baik ku baringkan saja di sofa. Aku melepas pelukannya pelan pelan dan mengangkat kepalanya dari bahuku kemudian membaringkannya di sofa. Aku memandang wajahnya dengan meletakkan kedua tanganku sebagai tumpuannya. Memandang wajah meneduhkan lagi, aku bahkan tidak akan pernah bosan memandanginya seperti ini. Menyadari kekeliruanku, aku segera bangkit mengangkat kedua tanganku yang bertumpu sofa. Secepat kilat tangan seseorang menarikku ke depan. Siapa lagi kalau bukan tangan Cho Kyuhyun. Dan astaga…

(Author pov)


Bibir Min Young mendarat tepat diatas bibir Kyuhyun. Kyuhyun mengunci tubuh Min Young dengan kedua tangannya. Min Young memundurkan kepalanya.

“Sekarang apa lagi? Hentikan Cho Kyuhyun.” Min Young mulai syok dengan tindakan Kyuhyun

“Diam lah..” Kata Kyuhyun lembut.
Perlahan Kyuhyun bangkit dari tidurnya, memegang tangan Min Young.

“Diam lah, kau sudah terlalu banyak bicara.” Kata Kyuhyun lalu mendaratkan ciumannya ke bibir Min Young. Min Young terduduk kaku dalam ciuman cho Kyuhyun. Dia menutup matanya dan perlahan mulai menikmati setiap usapan bibir Kyuhyun. Dia mulai membalas apa yang dilakukan Kyuhyun. Ciuman mereka berbalas hingga udara di sekitar mereka menjadi sangat panas. Di tengah tengah suasana panas yang sedang terjadi, Min Young secara mengejutkan melepaskan bibirnya dengan paksa.

“Ini tidak benar…” Katanya pada Kyuhyun. Dia segera mengambil tasnya dan pergi dari apartemen Kyuhyun.
Min Young pergi dengan suasana kacau. Dia mengutuk dirinya sendiri yang dengan mudah jatuh kepada pria itu. Dia memencet tombol lift dan segera setelah terbuka, dia masuk ke dalam. Pikirannya dan perasaannya tidak sejalan. Min Young menutup matanya, membayangkan betapa pria yang sedang berada dipikirannya akan marah apabila dia tahu dia telah berciuman dengan pria lain. Bahkan mungkin tidak hanya marah, tetapi memutuskan hubungan mereka.

“Haish, setan apa yang merasuki pikiranku..” Kata Min Young sambil memegangi sudut bibirnya.

(Min Young pov)

“ Haish, setan apa yang merasuki pikiranku.” Kataku sambil memegangi sudut bibirku. Aku pasti sudah gila, atau aku sedang mabuk? Tapi aku tidak melakukan apapun sebelum dia menciumku. Lee Dong Hae, Bagaimana jika dia tahu. Bagaimana perasaannya kalau mengetahui aku berkomitmen dengannya tapi aku malah berciuman dengan pria lain. Aaah lupakan segera Kim Min Young. Anggap kau tidak pernah melakukannya. Lagipula dia yang menciummu lebih dulu dan kau hanya terbawa suasana. Semua manusia bisa saja menjadi sepertimu.


No comments:

Post a Comment