Author : Cho Anna
Genre : Drama, Romance
cast :
Cho Kyuhyun
Kim Min Young
Lee Dong Hae
Other cast :
Find by your self.
(Part ini masih berantakan dan belum lulus edit, tapi saking pengennya author post jadi seadanya dulu. Hati hati typo tersebar di segala penjuru)
(Kim Min Young pov)
Pengumuman mahasiswa yang lolos
sebagai tim penelitian. Kyuhyun benar
benar tidak menarik keputusannya karena aku benar benar masuk sebagai 10 besar
mahasiswa yang lolos seleksi. Aku masih heran, benar benar wawancara konyol. Aku
melihat nama Han Cho Im ada dalam daftar mahasiswa itu. Aku
tersenyum…Bagaimanapun caranya aku diterima sekarang sudah tidak penting lagi,
karena sekarang aku hanya perlu bertanggung jawab atas apa yang sudah ku ambil.
Pertemuan
pertama akan dilaksanakan siang ini di laboratorium kelompok. Setelah
menyelesaikan kuliah aku dan Cho Im segera menuju lab.
“Kau terlambat 10 menit Kim Min
Young-Sshi…” Kata Cho Kyuhyun, sepertinya dia telah memulai pertemuan ini
beberapa waktu yang lalu.
“Dan kau? Siapa namamu?”
“ Han Cho Im imnida.”
“Baiklah, Han Cho Im-Sshi.. dan Kim
Min Young-sshi kali ini ku biarkan. Pertemuan selanjutnya tidak boleh ada yang
terlambat kecuali sudah ada pemberitahuan sebelumnya”
“Ne… Maafkan kami.”
“Kita lanjutkan lagi… kelompok dibagi
menjadi 2. Yaitu Kelompok Lee Kangsanim dan Kelompok Cho Kangsanim. Tiap
kelompok terdiri dari lima orang dan kami sudah membuat kelompoknya. Kalian
boleh saling bertukar bila tidak berkenan.”
Aku dan Han Cho Im berada di kelompok
yang sama. Aku hanya berharap aku berada di kelompok Lee Kangsanim dan pergi sejauh
jauhnya dari Cho Kyuhyun. Sayangnya Tuhan tidak mengabulkan satu permintaanku
ini. Aku benar benar menjadi tim peneliti Cho Kyuhyun. Kalau saja saat itu aku
benar benar mengundurkan diri. Aku pasti tidak terjebak di sini satu tim bersama Cho Kyuhyun.
“Penanggung jawab penelitian adalah
dosen, kalian bertugas sebagai pengumpul data dan pengolah data seperti yang
sudah dijelaskan saat wawancara. Dan saya akan menunjuk seorang asisten sebagai
orang yang akan menghandle kalian saat saya tidak ada, dan orang itu bertugas
melaporkan langsung semua progress penelitian kepada saya. Aegesseo? ” Kata
Kyuhyun menjelaskan padaku.
“Ne, Aegesseumnida.”
“Jadi siapa yang akan menjadi
asisten?”
Keempat partnerku mengangkat
tangannya. Daebak… mereka semua menyerahkan diri untuk menjadi pesuruh seorang
Cho Kyuhyun. Aku saja sebenarnya tidak sudi berada di tim nya.. apalagi menjadi
pesuruhnya yang berlabel asisten? Malddo Andwae.. aku tidak akan melakukannya. Dan
itu mengapa aku tidak mengangkat tanganku bukti penyerahan diri.
“Omo na, apa yang salah denganmu, Min
Young-sshi? Mereka semua ingin menjadi asistenku mengapa kau tidak mau? Kau jangan coba coba menjadi partner yang
tidak bertanggung jawab yaa…”
“Anni, aku hanya tidak ingin menjadi
asisten. Tapi tenang saja Cho Kangsanim, aku akan bertanggung jawab dengan baik
dalam penelitian ini.”
“Kalau begitu aku menunjukmu menjadi
asistenku.”
“Mwo? Shiro yo..” Aku reflek saja
mengatakan hal itu.
“Lihat dia, bagaimana mungkin kau
bertingkah seperti itu pada kangsanimmu.”
“Chosseongeo…” Kataku. Awas saja kau
Cho Kyuhyun. Kau sedang bermain api denganku.kau harusnya ingat, Aku
bukan dongsaeng penurutmu lagi.
Penjelasan demi penjelasan diutarakan
Kangsanim menyebalkan itu. Wajahnya.. tidak berubah selama lima tahunan ini.
Tetap sama mempesona, Wajah yang dulu pernah membuatku tersenyum melihatnya
Lalu tiba tiba saja aku ingat satu hal. Satu hal yang paling membahagiakan dan
hanya satu kali dia menunjukannya padaku. Senyum tulusnya,
Saat
itu aku pulang dari sekolah. Ada segerombol anak laki laki seusianya datang
memalakku, merampas tasku dan menggodaku dan mereka melempar lemparkan tasku
kesana dan kemari, dan ada beberapa yang ingin menyentuh tubuhku. Aku bingung
dan takut aku hampir saja menangis karena dipermainkan oleh mereka, tapi
Oppaku, Cho Kyuhyun datang menghajar mereka semua. Aku menangis melihat
perkelahian itu. Perkelahian yang tidak mudah, Kyuhyun bahkan mendapat dua kali
tinjuan di wajahnya namun dia tetaplah pemenangnya. Mereka semua lari
meninggalkan kami. Aku yang terduduk sambil menangis melihat itu, dihampiri
oleh Oppa ku. Dia mengatakan kalau semua baik baik saja.
“Kau tidak apa apa? Kau
disakiti oleh mereka? Mana yang sakit?” Katanya. Aku melihat raut kecemasan di
wajah Oppaku.
“Anni… hanya tasku dan
uangku diambil oleh mereka.” Kataku masih terus menangis.
“Uljima… mereka semua
sudah pergi. Jangan menangis lagi Eoh?” Aku ingat persis dia tersenyum padaku
membelai rambutku dan memelukku. Senyum tulusnya yang kulihat untuk pertama
kali dan namun senyum itu tidak berlangsung lama. Setelah mengatakn itu, dia
kembali lagi dengan kata kata tajamnya.
“Kau seharusnya lebih
bisa berhati hati, jangan melewati jalan yang sepi, kau sudah hampir dewasa.
Masa tidak bisa menjaga dirimu baik baik. Dasar gadis bodoh! Kau itu bisanya
apa hah? Kau hobi sekali menyusahkanku…” Dan bla bla bla bla, aku sudah
melupakan akhirnya.
Dan sekarang aku baru menyadari, itu adalah
senyumannya pertama kali dan terakhir kalinya padaku.
“Apa kalian sudah mengerti?” Tanya Cho
kyuhyun pada timnya.
“Ne, Aegesseumnida..”
Aku terbangun dari lamunanku, ku lihat
Kyuhyun melihatku dengan tatapan kesalnya.
“Kim Min Young Sshi, Aegesseo?”
“Nde…Aegesseumnida..”
“Baiklah, pertemuan kita sampai disini
dulu dan nona kim, ada yang ingin ku sampaikan padamu. Kau bisa tinggal disini
sebentar.”
“Ndee….”
Anggota
tim telah keluar kecuali aku dan Cho Kyuhyun. Dia mulai menatapku dan memasang
wajah bossy nya.
“Apa yang kau lihat Cho Kyuhyun!”
“Aku sudah menerimamu disini kau
harusnya sadar diri untuk melakukan yang terbaik Min Young-sshi..”
“Aku sudah…”
“Sudah kau bilang? Pekerjaanmu tadi
hanya melamun dan melamun kau bilang kau
melakukan yang terbaik?”
“Aku tidak melamun, aku mengerti semua
yang kau ucapkan semuanya.”
“Coba Katakan apa saja!”
“Eng…eng… kita hanya perlu bekerja
sama dengan baik dan…”
‘Ssshhh… kapan aku mengatakan itu?”
“Tadi saat kau mengoceh panjang itu…”
“Kalau kau hanya main main dengan
penelitian ini, aku sarankan kau mundur sekarang juga”
“ Kau ini.. kalau kau tidak mau
bekerja sama denganku, kenapa kau menerimaku. Aish, aku bisa gila disini.”
“Karena aku yakin kau mampu Kim Min
Young-Sshi, ku pikir kau bisa bertanggung jawab. Tapi pertemuan pertama ini
sangat memuakkan. Kau hanya melamun dan tidak mendengarkanku. Penelitian ini
sangat penting untuk karirku. Jangan pernah mencoba menghancurkannya, atau kau
berhenti saja sebagai tim.”
“Aaa,jadi begitu. Kau bisa seenaknya
menerimaku dan menendangku keluar dari tim ini?”
“Kau tau apa yang akan kau dapat dari
penelitian ini? Tau tidak? kau akan mendapat nilai A dalam mata kuliahku, kau
mendapat insentif bulanan, Kau bisa direkomendasikan dalam beasiswa luar
negeri, dan kau bisa melampirkan sertifikat penelitian ini dalam mencari
pekerjaan. Dan kau akan menganggapnya remeh temeh?”
“ Ne?”
“Kalau kau masih tidak serius dengan
proyek ini, serahkan surat pengunduran dirimu besok di mejaku sebelum aku
datang. Sekarang kau boleh pergi.”
Tanpa berkata kata aku keluar dari
laboratorium, tentu saja aku syok mendengar bentakannya. Teringat saat aku
mengambil bola basketnya untuk bermain bersama teman temanku di lapangan dekat
rumah kami. Dia membentakku seperti ini, memangnya aku siapanya dibentak bentak
seperti itu. Kehidupan kuliahku yang menyenangkan sepertinya akan berhenti
mulai sekarang. Sebelum hancur semuanya, lebih baik aku mengundurkan diri saja.
Tenang saja Cho Kyuhyun, aku akan menyerahkan surat pengunduran diriku besok
jadi tunggu saja.
****
(Author pov)
Amplop coklat bertuliskan surat
pengunduran diri sudah berada diatas meja kerja Cho Kyuhyun. Tentu saja Min
Young yang sudah mengantarkannya sendiri ke mejanya pagi pagi sekali. Baginya,
itu surat pembebasan. Pembebasan dari belenggu Cho Kyuhyun. Sebenarnya jam
kuliah Min Young masih satu jam lagi. Akhirnya dia berjalan jalan mengelilingi
kampusnya dan duduk di depan ring basket. Memandang sekeliling dan membayangkan
Oppanya yang sering bermain basket dengan teman teman kuliahnya di taman dekat
rumah. Yang diingat Min Young adalah senyum dan tawa Kyuhyun saat bermain
basket. Rasanya nyata… dan tiba tiba dia mengingat kata kata Kyuhyun kemarin
sore di laboratorium.
“Kau tau apa yang akan
kau dapat dari penelitian ini? Tau tidak? kau akan mendapat nilai A dalam mata
kuliahku, kau mendapat insentif bulanan, Kau bisa direkomendasikan dalam
beasiswa luar negeri, dan kau bisa melampirkan sertifikat penelitian ini dalam
mencari pekerjaan. Geurom, kau akan menganggapnya remeh temeh?”
“Kalau kau masih tidak
serius dengan proyek ini, serahkan surat pengunduran dirimu besok di mejaku
sebelum aku datang. Sekarang kau boleh pergi.”
“ Tunggu dulu, apa aku semudah itu diterima
lalu ditendang begitu saja oleh Cho Kyuhyun?” Pikir Min Young.
“Apa? Kau pikir aku akan menyerah
dengan bentakanmu begitu saja? Andwe…Mundur berarti aku dipecundangi Kyuhyun,
dan aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Akan ku buktikan kalau aku bisa
bertanggung jawab pada penelitian ini.”
Min Young mulai bicara sendiri. Keputusannya untuk mengundurkan diri
pasti kesalahan besar. Min Young menyadari siapa yang ada di dalam
penglihatannya.
“Oh My God! Cho Kyuhyun hampir masuk
ke ruangannya. Aku harus segera mengambil surat itu.” Min Young berlari menuju
ruangan Cho kangsanim, dia harus sampai sebelum Cho kangsanim sampai di
mejanya.
“Astaga, dia tidak boleh masuk lebih
dulu.. aku harus cepat.” Min Young masuk ke ruangan dan segera mengambil suratnya.
“Sedang apa kau disini?” tanya Cho
Kangsanim tepat di belakang Min Yong.
Min Young yang kaget segera menoleh.
“Annimida Kangsanim…” Kata Min Young
sambil menyembunyikan suratnya di belakang badannya.
“Kau benar benar menyerah? Hah, sudah
kuduga..” Kata Kyuhyun meremehkan Min Young.
“ Kangsanim, kau benar. Hari ini aku
berangkat sangat pagi hanya untuk menyerahkan ini. Tapi setelah aku pikir. Aku
akan sangat di butuhkan di tim, dengan kemampuan yang kupunya aku akan
menjalankan tanggung jawab yang sudah kau berikan padaku. Aku akan bekerja sama
dengan anda dan tim dengan baik. Dan untuk menjadi asisten, aku akan melakukan
dengan seluruh tenagaku. Aku berjanji kau tidak akan menyesali keputusanmu
menerimaku saat wawancara itu. ”
“Bagus..”
“Ne? “
“Kau sudah selesai bicara? “
“Ne…”
“ Kau boleh keluar dan aku akan
menagih janjimu itu.”
“Ne kangsanim.”
Min Young melangkah gontai keluar dari
ruangan Cho Kangsanim.
“Aku merangkai kata sebanyak itu dan
dia hanya mengatakan bagus? Oh Tuhan Kill me now!” Gerutu Min Young. Dari balik
gerutuan Min Young, Kyuhyun yang masih berdiri didepan mejanya hanya tersenyum
dan memandang Min Young berlalu.
(Kyuhyun pov)
Aku tahu dia tidak akan mengundurkan
diri dengan mudah. Dia adalah gadis yang penuh ambisi dan emosi, dia tidak akan
tahan dengan hinaan semacam bodoh atau orang yang tidak bertanggung jawab.
Kebutuhan berprestasinya juga tinggi. Dengan cara yang lembek memang tidak akan
menyadarkannya, tapi sekali aku membentaknya dia akan mati matian membuktikan
padaku kalau apa yang aku katakan tentang dia tidak benar. Itu lah yang
kupelajari beberapa tahun lalu. Gadis itu, kau sudah tumbuh dewasa rupanya.
“Dan aku ingin sekali memelukmu
seperti saat itu. Gadis kecilku ” Kataku lirih.
****
(Author pov)
Min Young berjalan keluar dari
rumahnya, menghampiri pria tampan di hadapannya, Lee Dong Hae.
“Kau sudah menunggu lama?”
“Belum, kau sudah siap?”
“Ne..”
Dong Hae membuka pintu depannya
mempersilakan Min Young masuk dan segera menuju restoran yang sudah dipesan
Dong Hae. Setelah menyelesaikan pemesanan, Dong Hae memandang Min Young lekat
lekat.
“Wae yo? Ada yang salah dengan
penampilanku?” tanya Min Young.
“Tidak..kau sangat cantik.” Pujian
pertama Dong Hae lolos membuat wajah Min Young memerah.
“Bohong…”
“ Jeongmal, aku tidak bohong. Ah iya
Min Young-sshi, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu.”
“Ne? Katakan saja…”
“ Baiklah, Min Young-sshi, apa aku
belum bisa mendapatkan jawaban atas perjodohan kita?”
“Sebenarnya…”
“Aku ingin segera bertunangan
denganmu.”
“Mwo?”
“Aku ingin segera bertunangan dan
tidak lama setelah itu kita menikah.”
“Menikah?”
“Iya..”
Min Young merasa gugup membicarakan
tentang pernikahan, belum terlintas dipikirannya tentang bertunangan dan
apalagi pernikahan.
“Apa kau menginginkannya secepat itu?”
“Ne,bagaimana denganmu?”
“Aku, aku ingin tau dulu bagaimana
perasaanmu terhadapku.”
“Min Young-ah, aku tidak akan
mengajakmu menikah kalau aku tidak menyukaimu.”
“Aku juga menyukaimu Dong Hae-ya, tapi
apa menikah hanya karena kita saling menyukai? Selain menyukaiku, apa kau
mencintaiku?”
“ Cinta bisa tumbuh seiring waktu Min
Young-sshi..Aku telah memulainya.”
“Kau yakin bisa mencintaiku?”
“Ya, aku sangat yakin. Apa jangan
jangan.. kau tidak mencintaiku dan tidak mau menikah denganku?”
“Bukan begitu..”
“Astaga, aku ditolak lagi..” Raut
kekecewaan terpancar dari raut wajah Dong Hae.
“ Dong Hae-sshi..”
“Tunggu, aku mau ke toilet sebentar.”
Sepuluh menit berlalu, makanan yang
dipesan mereka telah sampai di meja. Pikiran Min Young bukan tentang menu yang
ada di depannya, tetapi ajakan menikah Lee Dong Hae. Sebenarnya apa yang di
cari Min Young. Sesempurna sempurnanya seorang pria adalah Lee Dong Hae. Apa
lagi yang dicarinya? Selama ini Dong Hae sangat baik dan perhatian, tampan,
mapan dan setiap geraknya mempesona mata. Tapi kenapa hati Min Young tidak
terpesona seperti matanya?
“Dong Hae benar, aku pasti jatuh cinta
padanya kelak. Dong Hae adalah pria yang baik. Tidak ada alasan menolaknya.”
Pikir Min Young.
Dong Hae kembali ke mejanya.
“Min Young-sshi..”
“Ne..”
“Apa aku terlalu memaksamu?”
“Em,, itu..”
“ Kau belum ingin melakukannya aku
tidak akan memaksamu.”
“Anni, ayo lakukan segera..”
“Mwo?”
“Setelah ku pikir pikir aku apa yang
kau bilang ada benarnya. Apa lagi yang kita tunggu. Seperti katamu, cinta bisa
tumbuh nantinya.”
“ Jeongmal? Kau mau melakukannya?”
“Ne..”
“Kau yakin?”
“Yaa, aku yakin.”
( Kim Min Young pov)
Sebenarnya aku tidak begitu yakin
dengan keputusanku. Aku hanya tidak ingin membuat Dong Hae menunggu lama.
Keyakinanku adalah Dong Hae orang yang sangat baik dia memberikan seluruh
perhatiannya padaku, semua kriteria sempurna ada padanya dan aku tentu saja
tidak ingin menyia nyiakan orang sebaik Lee Dong Hae.
“Iya, aku yakin..” Kataku pada Dong
Hae
Aku melihat senyum mengembang di bibir
kemerahannya. Dia mengucapkan terima kasih padaku sambil menggenggam tanganku.
Sekarang perhatian utamaku adalah dia, dia yang ada di hadapanku. Aku akan
belajar mencintainya seperti dia yang sedang mencoba mencintaiku. Ya… Dia Lee
Dong Hae.
*****
(Author pov)
“Min Young ayo cepat, aku tidak mau
kita terlambat lagi. Kau tau kan kemarin Cho kangsanim menegur kita?”
“Iyaa sebentar.”
Handphone Min young bergetar,
panggilan masuk dari nomer yang tidak dikenal.
“Yeobseo..”
“Kim Min Young-sshi, ini aku, Cho
Kyuhyun”
“Ne, Cho Kangsanim..”
“Aku ingin kau menghandle pertemuan
kita siang ini sebentar saja. Aku ada urusan, setelah selesai aku baru akan
datang.”
“Aah, ye… aku akan melakukannya.”
“ Ini sudah saatnya mulai, kau
harusnya sudah sampai di laboratorium. Dimana kau?”
“Di kelas, Kangsanim,” Jawab Min young terbata.
“Mwo ya? Kau harusnya sudah sampai di
sana, kau ingat kan dengan apa yang kau katakan padaku.”
“Ne, kangsanim. Aku akan segera
sampai..”
Min
Young datang dan mengambil alih pertemuan, karena Cho Kyuhyun sedang tidak ada
di tempat. Setelah memberikan tugas kepada tiap tiap anggota tim. Mereka mulai
bekerja berdasarkan tugasnya. Dua orang mengurus perijinan penelitian, dan dua
orang lainnya memetakan letak letak calon subjek yang memungkinkan. Dan Kim Min Young bertugas mengawasi mereka.
Ini bukan berarti Kim Min Young bebas tugas, tugasnya akan ditunda sampai Cho
Kyuhyun datang. Dia harus melaporkan semua yang sudah tim kerjakan sesempurna mungkin, Bagaimana tidak,
dia adalah Cho Kyuhyun. Pria yang menginginkan kesempurnaan dalam setiap apa
yang dilakukannya. Jadi Min Young tidak akan sembarangan melapor, semua
tanggung jawab tim akan diserahkan kepada Min Young saat pelaporan.
Setelah
beberapa jam mereka berkutat di laboratorium, Lee Kangsanim datang membawa
beberapa makanan. Lee Kangsanim dan istrinya membuat banyak makanan untuk
berpesta bersama tim penelitian. Tentu saja angin segar untuk para anggota tim
setelah berjibaku dengan tugas mereka, sekarang mereka dihadapkan dengan
berbagai macam makanan. Wajah kelaparan dan kusut mereka terobati dengan
pemandangan di depan meja mereka.
“Mari makan…” Kata salah satu dari
mereka. Tidak menunggu waktu lama, Cho Kyuhyun datang dan melihat sepertinya
dalam laboratorium sedang diadakan pesta.
“Waa…Lee Kangsanim, kau berpesta tidak
mengajakku?” Goda Kyuhyun dengan tersenyum.
“Cho Kangsanim, ayo bergabung.”
“Ada acara apa kau membawa makanan
sebanyak ini?”
“Duduk lah Cho kangsanim, istriku
akhirnya hamil setelah 5 tahun menikah. Aku sangat bersyukur dan ingin berbagi kebahagiaan
dengan kalian.”
“Waa, selamat Lee kangsanim, kau
sebentar lagi menjadi
ayah.”
“Kau pasti sangat senang, Selamat
Kangsanim…semoga bayi mu selalu sehat” kata Min Young.
“Aa…aku juga membawa sup, sup buatan
istriku ini sangat enak tidak ada yang menandinginya.”
“Benarkah? Kalau begitu kita harus
mencobanya..” Kata salah satu anggota tim Lee kangsanim.
(Min Young pov)
Sup buatan istri Lee Kangsanim memang
sangat enak, kalau saja mukaku tebal aku pasti akan meminta lagi mangkuk
kosongku ini untuk diisi penuh dengan sup itu. Tapi aku terlalu gengsi untuk
melakukannya. Ku lihat sejenak Cho
Kangsanim, dia hari ini terlihat sangat bahagia saat masuk ruangan ini. Ada apa
dengannya? Berhenti melakukannya Min Young-sshi, jangan pernah ingin tau dengan
urusannya.
Tapi kenapa wajahnya seperti menahan
sakit, nafasnya tersengal sengal… tidak ada yang menyadarinya karena dia
sedikit tersenyum.
“Cho Kangsanim, Neo Gwaencanha yo?”
Tanya Cho Im yang ternyata juga menyadari ada sesuatu yang tidak beres.
“Ne…” Katanya sambil menahan sesuatu.
Aku jadi ingin tahu ada apa dengan wajahnya. Lalu aku menoleh ke arah lain. Aku
melihat Lee Kangsanim sedang menyantap sesuatu dari supnya.
“Ommo na.. jangan jangan… ” Aku segera
mengaduk aduk isi sup dalam mangkukku. Tapi aku tidak menemukannya. Aku
mengaduk sup milik Cho Im berharap menemukan jawaban. Dan nihil.. akhirnya aku
mengaduk tempat sup itu. Iya aku menemukannya…
“Cho Kangsanim, Gwaencanha yo? Cho
Kangsanim..” Aku bertanya pada Cho Kyuhyun
Aku melihat wajahnya memerah dan
nafasnya tersengal. Semua anggota tim dan Lee Kangsanim akhirnya menyadari ada
yang tidak beres dengan Cho Kyuhyun. Aku menghampiri Cho Kyuhyun dan Dia
memegang lenganku, tangannya basah kuyup seperti terkena air. Ini persis sama
dengan kejadian waktu itu. Aku mengaduk sup di mangkuknya dan benar, aku
menemukannya, potongan kecil itu.
“Cho Im cepat telepon 1339, cepat…”
Kataku refleks.
“Ne?” Tanya mereka semua heran
“Palli…”
“Cho kangsanim, ada apa denganmu?”
Tanya Lee kangsanim.
“ Dia alergi udang, Kangsanim. Han Cho
Im, palli.”
“Ne..” Cho Im segera menelepon 1339
10 menit kemudian ambulans datang ke
ruangan dan membawa Cho kyuhyun. Dia sudah pingsan dan bibirnya pucat. Aku dan
Lee kangsanim yang menemaninya saat dibawa ke rumah sakit.
Aku tahu persis saat di pesta ulang
tahun sahabat Appanya. Kami sekeluarga ikut ke pesta itu. Aku mengikutinya dan
memakan apa yang dia makan, apapun. Aku melihat dia memakan sebuah makanan
berbentuk bola bola, aku pun ikut memakannya. Aku melihat didalam bola bola itu
ada seekor udang. Tidak lama setelah dia menghabiskan bola bolanya, nafasnya
tersengal dan wajahnya memerah tapi bibirnya pucat. Seperti ini kondisinya saat
itu..
“Oppa…” sudut mataku meloloskan satu
butir airnya. Aku sangat mengkhawatirkan pria yang sedang berbaring di
hadapanku ini. Mantan kakak tiriku. Cho Kyuhyun.
Setelah masuk ke ruang emergency dan
ditangani oleh dokter dengan diberi obat anti alergi dan obat pelega
pernafasan. Kyuhyun berbaring lemas disebelah ranjangnya. Dokter mengatakan semuanya
akan baik baik saja karena kami memanggil tim medis darurat tepat waktu.
“Aku akan mengurus registrasinya, Kau
tunggu Cho Kangsanim dulu.” Kata Lee Kangsanim
“Ne, Kangsanim.” Jawabku patuh
“Syukurlah, kau baik baik saja, Cho
Kangsanim. Aku sangat khawatir. Kau pasti sangat kesakitan tadi..” Kataku pada
namja yang sedang berbaring diatas tempat tidur di ruang emergency ini. Dia
masih memejamkan matanya. Wajah merahnya telah kembali semula dan tapi bibir
kemerahannya masih saja pucat. Namja ini, dari dulu sangat menarik perhatianku
dan suka membuatku khawatir. Sekarangpun aku masih mengkhawatirkannya.
“Min Young-ah.” Sebuah kata yang
diucapkan Kyuhyun dalam pejaman matanya. Aku tersentak, dia sedang memanggil
namaku. “Min Young-ah, mian hae..” Katanya lagi. Igauannya membuat hatiku
berdesir. Kenapa dia memanggil namaku saat tidur. Tapi apa Min Young yang
dimaksud adalah aku?
Setengah jam berlalu, akhirnya Cho
Kyuhyun terbangun. Aku jadi salah tingkah setelah mendengar dia mengigau.
“Kau sudah lama disini?” Tanyanya
dengan suara parau
“Ne, aku bersamamu sejak tadi.”
“Eoh? Kau sejak tadi?”
“Ne..”
(Kyuhyun pov)
“Eoh? Kau sejak tadi?”
“Ne..” Jawabnya singkat.
Aku mulai khawatir dengan apa yang
dilakukan mulutku. Semoga saja aku tidak mengigau dan mengatakan hal hal yang
sering orang tanyakan padaku. Siapa gadis itu? Kau terus saja meminta maaf
padanya.
“Aaah Cho Kangsanim, kau sudah bangun
rupanya. Bagaimana apa sudah baikan? Aku benar benar minta maaf dengan apa yang
telah terjadi padamu. Aku benar benar tidak tahu kalau kau alergi udang.”
“Ne, Nan Gwaencanha.. aku sudah lebih
baik sekarang. Apa kau tahu dari dokter kalau aku alergi udang?”
“Min Young yang mengatakan kepada
kami.”
“Min Young-sshi?” Tanyaku padanya.
“Kalau kau sudah membaik, ayo kuantar
kau pulang aku akan membayar semua administrasinya.”
“Tidak perlu Lee Kangsanim, aku akan
membayarnya sendiri.”
“Kau tidak membawa tasmu Cho
kangsanim, kau mau membayar pakai apa? ”Ledek Lee kangsanim padaku.
“Aah, matda..”
“Lagipula ini kesalahanku, aku yang membawa
sup itu.”
“Aku juga teledor tidak memeriksa
supnya.”
Lee Kangsanim menuju ke ruang
administrasi, dan Min Young membantuku berdiri dari tempatku berbaring. Aku
masih lemas dan ingin segera istirahat di apartemenku. Aku berjalan bersama Min
Young, dongsaeng kecilku.
“Aa, kau masih ingat tentang alergi
udangku?” Tanyaku padanya. Aku sangat penasaran seberapa jauh ingatannya
tentangku masih bertahan di otaknya.
“Tentu saja, kau selalu mengatakan
hampir mati hampir mati setelah kejadian di pesta saat itu.” Jawab Yeoja kecil
itu dari bibir pinknya. Ah aku lupa, dia sudah tumbuh menjadi gadis dewasa yang
cantik. Bukan yeoja kecil yang mengikutiku kemanapun aku pergi.
“Hei Yeoja kecil, bagaimana dengan
pertemuan tadi. Apa tidak ada masalah?”
“Kau urusi kesehatanmu dulu Kangsanim,
jangan memikirkan hal lain, aku akan mengawasi mereka.” Jawabnya. Aku reflek
saja menyodokkan jari telunjukku ke kening Min Young.
“Kau juga harus bekerja, aegesseo?”
“Ne, Kangsanim.”
“Sudah siap? Ayo kuantar pulang.”
“Kangsanim, aku harus kekampus karena
mobilku di sana. Aku akan ke kampus naik taxi saja. Lee Kangsanim, kau
sendirian mengantar Cho Kangsanim tidak apa apa kan?”
“Tidak apa apa. Kau kembalilah, dan
katakan pada teman temanmu kalau Cho Kangsanim sudah baik baik saja. Pasti
mereka khawatir sama sepertimu.” Kata Lee Kangsanim pada Min Young.
Apa yang baru saja Lee Kangsanim
bilang? Pasti mereka khawatir sama sepertimu? Yeoja kecil itu mengkhawatirkan
aku? Haha, yang benar saja. Kebenciannya padaku saja sangat mendarah daging.
Aaah Lee Kangsanim hiperbola sekali. Sepuluh menit berselang aku telah sampai
di apartemenku.
“Beristirahatlah Cho Kangsanim, kau
harus segera sehat. Dan jangan membuatku semakin bersalah.” Kata Lee kangsanim.
“Aah sayangnya aku harus mengoreksi..
astaga tasku.Lee Kangsanim, apa kau bisa menelepon Min Young untuk mengantarkan
tasku ke apartemen?”
“Kau harus beristirahat Cho Kangsanim,
jangan bekerja keras dulu”
“Aku harus menyelesaikan tugas itu
besok. Ah iya, sekalian handphone ku. Mungkin tertinggal di meja kita makan
tadi.”
“Ye Cho Kangsanim..”
“Khamsahamnida..Aku akan segera
masuk. Jangan lupa menghubungi Min
Young.
(Author pov)
Min
Young baru saja menerima telepon dari Lee kangsanim untuk membawakan tas serta
berkas berkas yang ada di meja Lee kangsanim ke apartemennya. Tidak sulit bagi
Min Young menemukan apartemen Cho Kyuhyun karena tempatnya sangat strategis dan
apartemen Kyuhyun merupakan apartemen yang memiliki iklan di mana mana.
Ting tong…
Kyuhyun melihat Min young sedang
kewalahan dengan seabrek barang barang titipannya dari layar intercom.
“Masuklah.” Kata Cho Kyuhyun. Min
Young masuk dan segera meletakkan semua barang bawaannya ke kursi di depannya.
“Huh melelahkan sekali, Cho kangsanim
ini bukan bagian dari penelitian jadi jangan menyuruhku seenaknya seperti itu.”
“Mian Hae Min Young-sshi.” Kyuhyun
meminta maaf pada Min Young.
“Ne, karena kau sedang sakit jadi aku
mau mengantarkannya.”
“ Kau mau minum apa?”
“Tidak usah aku langsung pulang saja.”
“Aaak, dadaku.” Kata Kyuhyun sambil
memegangi dadanya.
“Astaga, nan Gwaencanha…”
“Dadaku Sesak..”
“ Cho Kangsanim, kau istirahat saja.
Apa obatnya sudah kau minum? Mau aku buatkan bubur?”
“Tidak, ambilkan aku obat di laci meja
kamarku.”
Min Young dengan segera mengambil obat
obatan yang didapat Kyuhyun tadi saat di rumah sakit.
“Bagaimana ini, aku harus
menyelesaikan koreksiku besok.” Kata Kyuhyun.
“Koreksi apa? Tidak bisakah ditunda
mengerjakannya sampai kau benar benar sembuh?”
“Aku harus menyelesaikannya,
deadlinenya besok. Kau mau membantuku tidak?”
“membantu apa?”
“Mengoreksi tugas tugas ini
bersamaku.”
“Tapi…”
“Kau boleh meminta apapun.”
“Apapun?”
“Ne, Aku ingin nilaiku di tiap mata
kuliahmu bagus.”
“Bukankah kau bisa mendapatkannya
dengan ikut penelitian ini?”
“Tidak adakah nilai yang lebih tinggi
dari A? A plus
misalnya?” Tanya Min Young sekenanya.
“Min Young-sshi, nilai tidak akan
berarti apa apa tanpa kemampuanmu yang sebenarnya.”
“Aaah iya kau benar.”
“Aku bisa dengan mudah memberi mu
nilai A jika aku mau, tapi kemampuanmu kosong. AKu tidak akan membiarkan
mahasiswaku melakukan itu.”
“Jadi?”
“Akan ku bantu kau menambah ilmu dan
kemampuanmu.”
“Ne, Kangsanim.” Jawab Min Young
lemas.
“Jadi kau akan membantuku mengoreksi
kertas kertas ini kan?” Tanya Kyuhyun semangat
“Ne…” Min Young dengan enggan
menjawab.
Ratusan lembar kertas di depan mata,
mereka mengoreksi bersama sama setelah dipandu oleh Cho kangsanim tentunya.
“Apa apaan ini, dia menyalin semua
yang ada di buku.” Kata Min Young mengomentari satu tugas milik adik tingkatnya.
“Koreksi saja..”
“Kangsanim, kau harusnya melihat
konten yang dia tulis, jangan berdasarkan tebal tidaknya tugas mahasiswamu.”
“Kau sedang mengajariku?” Kyuhyun
melototiku sebal.
“Anni… kau pasti sudah tau hal itu. Kau kan
dosen beraliran perfectionist.”
“Bukan perfectionis, tapi aku ingin
melakukan yang terbaik untuk banyak hal.”
“Ciih, Dua kata itu terdengar sama.”
“Beda, sudah selesaikan saja tugasmu
dan segera pulang.”
“Aku juga ingin segera pulang Cho
Kangsanim. Tidur di kasur empukku. Hiih, Kau yang menawanku disini. Jadi budak
yang berlabel asisten. Astaga… apa yang kulakukan disini.” Min Young mengeluh.
“Kalau kau banyak bicara, aku masih
punya dua tumpuk kertas lagi untuk kau kerjakan.”
“Andwe, aku ingin segera pulang.” Kata
Min Young.
“Ya sudah kerjakan saja dengan
benar..”
“Arraseo..”
(Min Young pov)
Berjam jam kami berkutat dengan kertas
kertas ratusan lembar. Akhirnya aku menyelesaikan
tugas bagianku. Aku melihat ke samping kanan, si pemberi beban ini malah
seenaknya tidur saat aku mengoreksi tugas yang seharusnya dia kerjakan. Tapi
dia sepertinya lelah, atau mungkin pengaruh obat yang tadi diminumnya. Wajahnya
meneduhkan dan mempesona. Aku segera membereskan kertas kertas itu dan merogoh
tasku mengambil handphone. Eomma menelepon menanyakan keberadaanku. Aku bilang
saja masih di kampus sedang membahas penelitian. Aku tidak bercerita tentang
Kyuhyyun pada Eomma, aku takut dia syock karena menceritakan seorang anak yang
membuat kehidupan perkawinannya kandas. Kyuhyun mendengarku menerima telepon
lalu terbangun sejenak kemudian memejamkan matanya lagi. Aku ingin segera pergi
dari apartemen itu, akhirnya aku menulis pesan kecil di memonya.
“Hei kau pria menyebalkan, aku sudah
melaksanakan tugasku. Aku pulang dulu.”
Aku beranjak dari dudukku di sampingnya
untuk segera pulang. Tapi dia meraih tubuhku kembali. Memelukku tidak
membiarkanku pergi.
“Tunggu dulu, aku ingin seperti ini.
Sebentar saja.” Kini kepalanya bersandar di bahuku. Apa yang harus ku lakukan.
Kenapa jantungku berdebar debar seperti ini. Kenapa aku gugup. Kenapa Cho
Kyuhyun berada di pelukanku.
“Cho Kyuhyun, apa yang kau lakukan.”
Kataku terbata bata.
“Tinggallah sebentar saja, jebal…”
Aku tidak bisa melepaskan pelukannya.
Tangan kanannya di atas perutku sedang tangan kirinya melingkar di pinggangku.
Dia hanya memejamkan matanya tapi aku sangat gugup.
(Cho Kyuhyun pov)
Sepertinya sebagian besar skenarioku
berjalan lancar. Aku yang tadi pura pura sesak nafas bisa menahannya berada di
sini. Untuk obat? Ini memang jamnya aku harus minum obat sehingga bisa dengan
mudah membuatnya yakin sesak nafasku sembuh karena obat yang ku minum. Ratusan lembar kertas koreksian itu adalah
alasan ke dua menahannya lebih lama dan itu berhasil. Aku pun pura pura tidur
agar dia tetap disisiku dan menungguku terbangun. Tapi skenario ketiga
sepertinya tidak berjalan lancar sehingga aku melakukan hal nekat seperti ini.
Menariknya dan memeluknya. Tubuhnya hangat, detak jantungnya terdengar dari
telingaku, nafasnya sedikit memburu karena gugup. Aku merindukan gadis ini..
gadis yang selalu hadir dalam mimpiku. Yeoja kecilku… Kim Min Young. Mantan
adik tiriku.
Entah
sejak kapan aku mulai memimpikannya, aku sudah lupa. Namun semenjak percerian
orang tua kami dan aku pindah ke Swedia. Aku selalu memimpikan dia. Apalagi
saat aku lelah. Aku sering terkena sleep
paralysis dan sosok dia yang selalu muncul dalam bayanganku. Dari saat itu,
aku menjadi sangat merindukannya.
Entah
takdir apa yang membawaku kepadanya hari ini. Aku tidak sengaja mendaftar
sebagai dosen di kampus itu, kampus dimana dia sedang belajar, aku juga tidak
menyangka dia mendaftar sebagai anggota tim penelitian. Project penelitianku.
Entah apa scenario Tuhan untukku dan Min Young. Apa aku harus menyelesaikan
takdir bersamanya apa dia hanya hadir sebentar kemudian pergi lagi seperti
dulu?
(Min Young pov)
Aku terduduk kaku di sofa, membiarkan
Kyuhyun melingkarkan tangannya di pinggangku dan kepalanya di bahuku. Setengah
jam lebih kami berada di posisi itu. Bahuku sudah sangat pegal oleh kepalanya
yang berat. Mungkin karena dia menyimpan segala ilmunya di otaknya. Haha yang
benar saja, aku masih bisa bercanda di sela rasa gugupku dan debaran jantung
yang tidak normal ini.
Kyuhyun
sepertinya sudah tertidur, apa lebih baik ku baringkan saja di sofa. Aku
melepas pelukannya pelan pelan dan mengangkat kepalanya dari bahuku kemudian
membaringkannya di sofa. Aku memandang wajahnya dengan meletakkan kedua
tanganku sebagai tumpuannya. Memandang wajah meneduhkan lagi, aku bahkan tidak
akan pernah bosan memandanginya seperti ini. Menyadari kekeliruanku, aku segera
bangkit mengangkat kedua tanganku yang bertumpu sofa. Secepat kilat tangan
seseorang menarikku ke depan. Siapa lagi kalau bukan tangan Cho Kyuhyun. Dan
astaga…
(Author pov)
Bibir Min Young mendarat tepat diatas
bibir Kyuhyun. Kyuhyun mengunci tubuh Min Young dengan kedua tangannya. Min
Young memundurkan kepalanya.
“Sekarang apa lagi? Hentikan Cho
Kyuhyun.” Min Young mulai syok dengan tindakan Kyuhyun
“Diam lah..” Kata Kyuhyun lembut.
Perlahan Kyuhyun bangkit dari
tidurnya, memegang tangan Min Young.
“Diam lah, kau sudah terlalu banyak
bicara.” Kata Kyuhyun lalu mendaratkan ciumannya ke bibir Min Young. Min Young
terduduk kaku dalam ciuman cho Kyuhyun. Dia menutup matanya dan perlahan mulai
menikmati setiap usapan bibir Kyuhyun. Dia mulai membalas apa yang dilakukan
Kyuhyun. Ciuman mereka berbalas hingga udara di sekitar mereka menjadi sangat
panas. Di tengah tengah suasana panas yang sedang terjadi, Min Young secara
mengejutkan melepaskan bibirnya dengan paksa.
“Ini tidak benar…” Katanya pada
Kyuhyun. Dia segera mengambil tasnya dan pergi dari apartemen Kyuhyun.
Min Young pergi dengan suasana kacau.
Dia mengutuk dirinya sendiri yang dengan mudah jatuh kepada pria itu. Dia
memencet tombol lift dan segera setelah terbuka, dia masuk ke dalam. Pikirannya
dan perasaannya tidak sejalan. Min Young menutup matanya, membayangkan betapa
pria yang sedang berada dipikirannya akan marah apabila dia tahu dia telah
berciuman dengan pria lain. Bahkan mungkin tidak hanya marah, tetapi memutuskan
hubungan mereka.
“Haish, setan apa yang merasuki
pikiranku..” Kata Min Young sambil memegangi sudut bibirnya.
(Min Young pov)
“ Haish, setan apa yang merasuki
pikiranku.” Kataku sambil memegangi sudut bibirku. Aku pasti sudah gila, atau
aku sedang mabuk? Tapi aku tidak melakukan apapun sebelum dia menciumku. Lee
Dong Hae, Bagaimana jika dia tahu. Bagaimana perasaannya kalau mengetahui aku
berkomitmen dengannya tapi aku malah berciuman dengan pria lain. Aaah lupakan
segera Kim Min Young. Anggap kau tidak pernah melakukannya. Lagipula dia yang
menciummu lebih dulu dan kau hanya terbawa suasana. Semua manusia bisa saja
menjadi sepertimu.

No comments:
Post a Comment