Saturday, January 23, 2016

Never Say Goodbye (3/3 end)

Tok tok... dua ketukan menjadi tanda seseorang yang ditunggunya sudah ada di depan pintu ruang kerjanya. Cho Kyuhyun mengenakan kaos dan blazer biru tua, dia berdiri di depan pintu  dengan tangan dimasukkan ke dua saku celananya.


Sebenarnya Seo Hyeon Jung hari ini cukup lelah, kemarin dia berada di kantor sampai pukul  sebelas malam dan melanjutkan pekerjaannya di rumah. Matanya baru terpejam pukul empat pagi dan pagi ini dia harus menyelesaikan laporan untuk kostum festival musim panas kementrian pariwisata sebelum pergi menghandle kostum Kyuhyun di teater.


“Sudah ku bilang aku akan datang sendiri ke teater..” Hyeon Jung membereskan semua file yang ada di meja. Membereskan beberapa laporan dan menyambar tas kerjanya. Hyeon Jung juga membawa satu koper besar berisi beberapa kostum Untuk Kyuhyun.


“Aku sudah disini, kenapa harus sendirian. Toh tujuan kita sama sama ke teater.” Jawab Kyuhyun lalu merebut koper itu dari tangan Hyeon Jung. Tangan mereka bersentuhan lagi, kali ini dengan tatapan Kyuhyun pada bola mata Hyeon Jung. Keduanya sempat saling pandang beberapa detik sebelum Hyeon Jung sadar dan melepaskan tangannya pada pegangan koper dan juga sentuhan dari Kyuhyun.


“As expected! Kau tidak akan pernah mendengarkan ucapanku.” Hyeon Jung keluar diikuti Kyuhyun dengan koper kostum musical di tangannya.


“Mian, mulai saat ini aku yang  akan mendengarmu.” Kyuhyun merasa menang atas kemampuannya yang dari dulu tidak pernah berubah. Membuat Hyeon Jung  mengiyakannya, hanya mengiyakannya.


Cho Kyuhyun tanpa  penolakan ternyata masih berlaku sampai sekarang. Bahkan setelah kepergiannya selama lima tahun.


Latihan akan dilaksanakan jam sebelas siang ini. Kyuhyun segera menancapkan gas mobilnya menembus jalanan Seoul yang sedikit padat. Hyeon Jung yang terlihat lelah hanya diam di kursinya. Matanya terkatup katup memaksa tetap terbuka dengan seluruh tenaganya.


“Kalau kau lelah tidur saja, aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai. Sudah ku bilang dari dulu jangan tidur terlalu malam. Tidak baik untuk kulit wajahmu. Lihat lingkaran di bawah matamu. Sudah seperti zombie saja ckckck.” Kyuhyun mulai mengoceh.


“ Aku benar benar bosan dengan kata ‘dulu’ yang selalu kau ucapkan padaku akhir akhir ini.” Hyeon Jung memejamkan matanya, mencoba tidak peduli dengan tiap kalimat Kyuhyun yang tidak pernah berhenti membuatnya mengenang masa lalunya itu.


“Apa begitu menyakitkan bagimu jika aku selalu membahas tentang hubungan kita yang dulu?” Sungguh pertanyaan yang bagi Hyeon Jung tidak perlu di jawab. Bagi Hyeon Jung, luka yang diberikan Kyuhyun mempunyai tempat tersendiri di hatinya. Tidak akan pernah terlupakan sepanjang hidup. Tapi Hyeon Jung tidak ingin membuatnya rumit. Tubuhnya sedang drop dan sangat lelah karena pekerjaannya yang semakin menumpuk.


“Eoh..” Singkat Hyeon Jung.


“Apa kau tidak ingin aku membahasnya lagi?” Kyuhyun menambah pertanyaannya. Berharap sedikit saja kejujuran Hyeon Jung pada Kyuhyun tentang perasaannya saat ini.


“Eoh...”  Jawab Hyeon Jung untuk pertanyaan tambahan itu.


“Ku mohon Hyeon! Aku ingin kita kembali baik baik saja seperti dulu.” Merasa frustasi dengan pembicaraan mereka, Kyuhyun menepikan mobilnya dan memulai pembicaraan serius dengan Hyeon Jung.


“Baik baik saja? Setelah semua itu?Huh? ” Hyeon Jung tertawa.


“Apa yang salah dengan kembali baik baik saja? Toh aku kembali tanpa wanita lain.” Kyuhyun masih mencoba membujuk Hyeon Jung untuk membuka hatinya lagi. Tapi Hyeon Jung masih tetap pada pendiriannya.


“Kau sudah meninggalkanku, Kyu!”Cairan bening yang sedari tadi tertahan  membentuk kristal di mata Hyeon.


“Tidak, aku tidak pernah meninggalkanmu.” Kyuhyun bersikeras.


“Lalu kau sebut apa pernikahan itu?” Kristal itu mencair, menetes di tepi tepi mata besar Hyeon Jung.
 Pada akhirnya mereka membicarakan tentang pernikahan yang bahkan belum dimulai, tapi sudah  berakhir tanpa penjelasan Kyuhyun. Tanpa kehadiran Kyuhyun dan tanpa ucapan selamat tinggal dari Kyuhyun.


“ Ya Tuhan, Hyeon,  aku bahkan tidak pernah mengatakan selamat tinggal.” Kyuhyun mengacak rambutnya sendiri. Sedikit tertekan dengan situasi yang sedang dialami bersama mantan kekasihnya itu.


“Tapi kau tidak pernah datang Kyu... bukankah itu cukup membuatku mengartikan kau meninggalkanku.” Hyeon Jung memelankan suaranya. Memperbaiki nada suara yang sudah bergetar karena menangis.


“Apa jika aku datang itu artinya aku tidak pernah meninggalkanmu?”


“Kalau kau datang, kita tidak akan pernah bersebrangan seperti ini.”


Kalimat terakhirnya membuat bibir Kyuhyun membeku, Kyuhyun tidak mengatakan apapun lagi. Melihat Hyeon Jung hampir terisak membuat Kyuhyun ingin sekali memeluknya seperti dulu. Wanita yang dulu sedikit manja padanya  itu, sudah berubah menjadi lebih dewasa. Tapi wanita tetaplah wanita. Hatinya tetap lembut dan mudah terluka.


“Tidak cukupkah kehadiranku sekarang  membuatmu melupakan semuanya? Aku sudah disini sekarang. Aku tidak akan pergi lagi. Aku mohon jangan menangis lagi, Hyeon.”


“Apa guci yang pecah bisa dengan mudah kembali utuh?” Hyeon Jung  menghela nafas panjang.”Menyetirlah tanpa bicara padaku, aku sangat lelah..”


Kyuhyun kembali menyetir, fokus pada jalanan yang semakin ramai dan membiarkan Hyeon Jung istirahat di mobilnya.


Setelah perdebatan itu, entah apa yang sudah membuat kepala Hyeon Jung terasa berputar putar. Keringat dingin mengucur dari tubuhnya walaupun air conditioning di mobil Kyuhyun sudah berada di level paling rendah.
Bibirnya mengering dan matanya tampak sayu. Kyuhyun hanya berani melirik ke arah Hyeon dan tidak mengganggunya yang sedang mencuri waktu bekerjanya untuk istirahat.


Istirahatlah Seo  Hyeon Jung, kau pasti sangat lelah. Maaf, karena aku membuatmu terluka lagi dengan kedatanganku. Tapi sungguh aku hanya ingin kembali padamu. Kembali pada hubungan kita. Karena sekeras apapun aku mencoba melupakanmu dan menjalani kehidupan dengan wanita lain. Demi Tuhan seharipun aku tidak pernah bisa melupakanmu, Hyeon.


Kyuhyun menyetir dengan tenang menuju teater. Sesampainya di sana, Seo  Hyeon Jung yang masih terlelap di kursinya itu bahkan tidak menyadari kalau mereka sudah sampai. Kyuhyun duduk terdiam sesekali memandang mantan kekasihnya yang terlihat sangat lelah dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.  Jika Hyeon Jung tidur sepulas ini, Kyuhyun pun tidak akan berani membangunkannya.


Dia masih sama, sangat manis kalau tertidur begitu


“Engg, sudah sampai? Kenapa tidak membangunkanku?”  Hyeon Jung memperbaiki posisi duduknya.  Menyisir rambutnya dengan jari jari tangan  dan berkaca untuk melihat wajah sendunya setelah terbangun. Hyeon Jung keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun pada Kyuhyun. Kyuhyun hanya tersenyum di tempat duduknya.


Jika kau tidur semanis itu, apa aku tega membangunkannya?


“Kau sudah terlambat lima menit, mau di dalam mobil saja?” Tanya Hyeon Jung yang mendapati Kyuhyun masih duduk diam di kursi kemudinya.


Kyuhyun berjalan di depan Hyeon Jung. Sejak dulu selalu saja Hyeon Jung tidak pernah bisa mengimbangi langkah kaki Kyuhyun yang besar besar itu.


“Kopernya, biar aku saja yang bawa..” Pinta Hyeon Jung. “Kau kan aktornya, masa kau membawa kostummu sendiri.”




“ Eh, begitu kah? Baiklah...” Kyuhyun memberikan kopernya pada Hyeon Jung. Hyeon Jung mendelik kesal dan mengumpat dalam hati. Padahal dia hanya berbasa basi dengan tawaran membawakannya itu. Koper itu kan berat sekali, terlebih tubuhnya yang mulai lemas, kedinginan dan kepala yang berputar putar.


Kyuhyun mencoba pakaiannya,  hari ini tim musikal berlatih menggunakan kostum yang akan dipakai untuk pertunjukannya.


Hyeon Jung terlalu sibuk mondar mandir membawa pakaian yang akan dipakai Kyuhyun.  Kyuhyun lagi lagi hanya tersenyum. Akhirnya dia bisa bekerja bersama Hyeon Jung.



‘Hyeon, bisa tolong ambilkan air mineralku di ruang make up?” tanya Kyuhyun yang masih sibuk dengan latihannya.


“Ne, Kyuhyun-SSHI” Jawab Hyeon Jung dengan menebalkan aksen Sshi. Bagi Hyeon Jung ini adalah pertemuan resmi perusahaan dengan Klien jadi mereka harus tetap memanggilnya secara formal.


Memangnya dia siapa memanggilku seperti itu? Memangnya aku asistennya? Menyuruhku mengambilkan minum, mengambilkan peniti dan lain sebagainya.


"Yaa.. benar. Aku kan ketua tim desain di perusahaanku. Aku tidak akan mau jika dia menyuruh nyuruhku lagi.”  Rutuk Hyeon.


“Kau sudah mengambil airnya?” Tanya Kyuhyun dan Hyeon Jung hanya memperlihatkan botol minum di tangannya. “Boleh aku minta tolong lagi? Aku butuh sepatu yang cocok untuk kostum ini. Kau kan desainer, aku pikir kau lebih tahu sepatu mana yang  harus ku pakai.”


“Dimana sepatunya?”Tanya Hyeon Jung. Kyuhyun hanya menunjuk ruang wardrobe dan tersenyum. Hyeon, orang yang tidak akan menolak apapun permintaan Kyuhyun. Yaa, ternyata dia masih Hyeon yang seperti itu.


Hyeon Jung merasa tubuhnya sedang tidak cukup sehat hari itu. Dia menempel pada dinding untuk menahan berat tubuhnya. Kepalanya masih terasa berputar putar dan keringat dingin sudah membanjiri  leher dan tengkuknya.  Dia baru saja keluar dari toilet dan akan kembali menuju ruang make up.


“Kyuhyun-sshi. Selamat atas drama musikal terbarumu. Kau sangat berbakat..” Seseorang menghampiri Kyuhyun dan memberinya ucapan selamat.


"Terimakasih banyak, anda?” 


“Ah, perkenalkan aku Kang Jae Joon.”


“Kang Jae Joon?”


“Kau mungkin tidak ingat, tapi berkatmu. Bakatku akhirnya diakui juga  di dalam bidang seni teater.”


“Aku? Apa yang telah  kulakukan hingga.. aku merasa tidak pernah melakukan apapun padamu.” Kata Kyuhyun dengan kepolosannya.


“ Ah, kau benar benar  orang yang rendah hati seperti kata pemain yang lain. Oh iya, Ku dengar kau sudah menikah lima tahun yang lalu?”


Lamat lamat Hyeon mendengar pembicaraan mereka berdua. Kyuhyun menikah? Lima tahun lalu?
Bukankah itu saat Kyuhyun meninggalkan Hyeon Jung  di pernikahannya.


“Aku yang menggantikan posisimu saat kau tidak datang dalam musical di China.”



“Oooh,  Kang Jae Joon-sshi, jadi kau yang menggantikanku?” Kyuhyun tersenyum kecut  pada pria itu, seperti mengingat kejadian yang bertahun tahun menjadi beban hidupnya. Bukan karena pria itu mengambil perannya, tapi kesalahan Kyuhyun yang membuatnya menyesal selama sisa hidupnya.Yaitu meninggalkan Hyeon-nya.


“Kalau saja kau mengambil kesempatan tampil di China saat itu. Kesempatanku untuk diakui di bidang ini rasanya sangat sulit. Mungkin terlihat kejam ketika aku mengambil peranmu dan sukses besar saat itu. Tapi mendengar kalau kau memutuskan turun dari pesawat dan menikah serta kesuksesanmu sekarang. Aku tidak perlu merasa bersalah lagi. Bakatmu tidak akan pernah tenggelam walau kau meninggalkan satu panggung untuk orang yang kau cintai.”




Sisi lain Kyuhyun yang akhirnya terungkap. Disaksikan oleh Hyeon Jung yang berdiri mematung mendengar percakapan itu di belakang mereka.


Bagi Hyeon Jung, hubungan mereka memang telah berakhir. Semenjak Kyuhyun tidak menampakkan batang hidungnya di pernikahan. Tapi mendengar kenyataan bahwa Kyuhyun menikah di tahun yang sama ketika dia tidak datang di pernikahan mereka. Bukankah itu pukulan berat untuk Hyeon Jung. 


Jadi Kyuhyun menikah dengan orang yang dia cintai. Dan itu bukan Hyeon Jung.


“Tapi...” Kyuhyun menyela.


“ Waah,sepertinya  aku harus pergi menemui PD Choi, Lain kali mari makan malam bersama, kau ajak istrimu juga ya?”


“Aah, ne...” jawab Kyuhyun mempersingkat percakapan itu.


Betapa terkejutnya Kyuhyun melihat wanita yang sudah berdiri lama di belakangnya, mendengar semua percakapannya dengan Kang Jae Joon.


“Napeun...” Kata itu yang terlontar dari bibir Hyeon Jung. Hanya kata itu. Mengumpat tidak ada gunanya. Mengetahui kenyataan bahwa Kyuhyun sudah menikah tapi  dia masih datang dengan segala cinta dan harapan yang baru benar benar melukai Hyeon Jung.


“ Hyeon-ah...” Panggil Kyuhyun.


Hyeon Jung berjalan keluar dengan sisa sisa tenanganya. Tapi tangan dan tubuh Kyuhyun lebih sigap meraih pergelangan tangan Hyeon Jung.


“Apa yang kau dengar itu tidak benar. Hyeon.”


“Tidak ada urusannya denganku.” Hyeon Jung meringis. Tubuhnya yang lemas itu semakin tidak bertenaga.


“ Lalu kenapa kau seperti ini? Demi Tuhan Hyeon, aku tidak pernah menikah.” Sorot matanya meneduh dan gelisah.


“ Jelaskanlah pada Tuan Kang Jae Joon. Apa aku adalah orang yang perlu dijelaskan tentang pernikahanmu  itu?”


“Ne...” Ucap Kyuhyun tegas.


“Kau seharusnya meminta maaf kepada istrimu karena telah mengatakan niatmu kembali padaku.” 


Hyeon Jung mengumpulkan semua kekuatannya. Matanya yang seperti melihat kupu kupu itu bertahan agar tidak tumbang diantara pembicaraan itu.


“Demi Tuhan Hyeon!!!! Aku tidak pernah menikah dengan wanita manapun.”


" Lepaskan aku Kyu!"


“Hyeon!!!” Bentak Kyuhyun


“Jebal...” Hyeon Jung memohon pada Kyuhyun untuk melepas cengkramannya. “Appo..”  Hyeon Jung menangis disela pembicaraan mereka.


“Hyeon, kau sakit? Hyeon... “ Kyuhyun melepaskan genggamannya di pergelangan Hyeon Jung. Menatap wajah Hyeon yang sudah pucat pasi dan keringat dingin yang sudah membasahi seluruh tubuhnya . Tubuh Hyeon lunglai ke bawah dan tidak sadarkan diri.

 “Hyeon ! Hyeon !  Hyeon !”



*****



Aku teringat mataku berkunang kunang, kepalaku terus saja berputar putar tanpa henti hingga aku tidak sadarkan diri. Aku masih mendengar sayup sayup suaramu  memanggil manggil namaku. Aku masih merasa air matamu  menetes di wajahku.Cho Kyuhyun, kenapa kita harus bertemu lagi?


Rasa ingin tahuku tentang mengapa kau meninggalkanku di hari pernikahan kita memang sempat ku kubur dalam dalam. Lebih baik melupakannya dan tidak perlu mengingatnya. Tapi kau datang lagi, mencoba menjelaskan semuanya, berusaha merebut hatiku lagi . Merebut  hati yang bahkan masih menjadi milikmu. Tapi nyatanya  yang kau jelaskan adalah sebuah kepalsuan.


Pada kenyataannya kau meninggalkanku karena menikah dengan perempuan lain.


Aku membuka mataku, kain putih tebal sudah menyelimutiku sebatas pundak. Aku mengerjap, membenahi bayangan mataku yang masih samar samar.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Ruangan serba putih yang kemudian membawaku mengalir ke kenangan bersamanya... lagi.


Tepat diujung sana, piano yang selalu Kyuhyun mainkan untukku, tepat di ujung yang lain adalah tempatku menjadi penata busana untuk kekasihku dulu. Sebuah cermin tinggi besar dan sebuah kursi untuk menopangku jika aku sedang mengenakan dasinya. Di  Jendela itu tempat Kyuhyun selalu menikmati kopi dan memandang guguran jingga daun maple saat autumn. Ranjang ini, tempat pelukan Kyuhyun yang paling hangat dan ciumannya yang paling liar. Kursi itu, tempat duduk Kyuhyun saat menjagaku ketika aku terlelap tidur disini.


Mataku berhenti pada nakas di sebelah kiri tempat tidurnya. Sebuah foto gadis 26 tahun dan pria disampingnya yang sedang menikmati  ice skating bersama.  Hidung si pria memerah karena kedinginan, dan wajah si gadis terlihat sangat bahagia.



Sudah sembilan tahun foto ini berada di sana. Jadi aku ditempat ini sekarang?


“Kau sudah bangun, aku sudah menyiapkan bubur untukmu. Kau harus makan agar tubuhmu kembali sehat.”


“Sepertinya aku harus kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus ku tangani.” Aku beranjak dari ranjangnya. Cukup sudah untuk mengenang masa laluku di ruangan ini bersama pria dihadapanku sekarang."


“Aku sudah menghubungi Manajer Hwan kalau kau sakit, jadi tidak perlu ke kantor.”


“Kalau begitu aku mau pulang saja.” Aku memang masih sangat lelah dan butuh istirahat. Tapi aku ingin istirahat di apartemenku sendirian saja. Teringat percakapan yang membuatku jatuh pingsan itu, aku hanya cepat cepat menghilang dari pandangan Kyuhyun begitupun sebaliknya. Aku tidak ingin berlama lama memandang Kyuhyun.


“Makanlah dulu, nanti kuantar kau pulang.” Kyuhyun membawa semangkuk bubur, beberapa butir obat dan air putih di nampan.


“ Tidak perlu, aku hanya perlu istirahat di rumah saja.” Aku bersikeras untuk pulang, aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya. Besok aku hanya perlu meminta manajer Hwan untuk memindah tugaskanku dengan pegawaiku yang lain.Kalau perlu aku akan memohon pada Manajer Hwan. Itu tekad bulatku.


“Kau tinggal sendirian, siapa yang akan mengurusmu, huh?”


“Aku bisa mengurus  diriku sendiri, aku juga bisa memanggil  Ji W...” Ah, aku benar benar lupa tentang Ji Won. Dia sudah menikah dan sedang hamil. Dan hubungan kami sedang dalam masa yang sulit.

“Ji Won yang menikah dengan kekasihmu yang brengsek itu? Siapa namanya? Jong Hyeon?”


“ Berhentilah bicara Kyu, dia bahkan lebih baik daripada menghilang begitu saja dan diam diam menikah dengan wanita lain.”


“Hyeon, Sudah ku bilang aku tidak menikah dengan wanita manapun! Kau pikir kau tahu segalanya?”


“Kyu, aku lelah. Aku ingin pulang.” Hyeon Jung bangkit dari tempat tidur Kyuhyun. Mencari tas, sepatu, dan blazer yang sudah terlepas dari tubuhku.


“ Saat itu aku mendapat tawaran bermain teater di China.” Suara Kyuhyun bergetar.


“ Yaa, aku tahu. Tapi kau tidak pernah mengatakan padaku.” Aku membaca kontrak itu diatas meja Kyuhyun saat aku sedang mengambil gunting. Tanggal dimulainya kontrak sama dengan tanggal pernikahan kami. Tapi Kyuhyun belum menandatanganinya. Aku tidak pernah berpikir Kyuhyun akan menandatanganinya karena aku tahu betapa Kyuhyun sangat menginginkan pernikahan ini.


“ Aku bukan tidak pernah mengatakannya padamu, tapi aku benar benar bingung saat itu Hyeon.”


“Kyu, berhentilah. Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun darimu.” Tubuhku masih sangat lemah.. Mengetahui kebenaran bahwa Kyuhyun menikah di tahun yang sama saat dia meninggalkanku membuatku semakin tidak berdaya.

“ Dan aku.... tidak pernah menikah dengan wanita manapun.”


“Kyu, Keumanhae,  Aku sudah tidak peduli kau menikah lagi atau tidak.”



Tentu saja, tentu saja sebenarnya aku masih sangat peduli. Kau tahu? Ketika Kang Jae Joon bilang kau sudah menikah.  Rasanya aku hampir mati dua kali.



“Aku tidak akan pernah menikah selain denganmu.” Kyuhyun meninggikan suaranya.


“Mwo?”


“Ku mohon Hyeon, dengarkan penjelasanku.” Kyuhyun melanjutkan.“ Hari saat kita menikah adalah hari dimana aku  harusnya berangkat menuju China. Maafkan aku karena saat itu aku juga bingung. Apa yang harus ku pilih. Di satu sisi aku sangat mencintaimu dan di sisi lain. Kau tahu kan betapa
inginnya aku menjadi aktor musikal?”


“Jadi kau memilih meninggalkanku. Yaa, anggaplah begitu karena kau sama sekali tidak datang di pernikahan kita” Aku berlalu meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri dengan wajah penyesalannya.



“Aku datang Hyeon..” Ucap Kyuhyun.


Deg... 

langkahku terhenti. 


“ Setelah mendarat di China, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak penah keluar dari pintu kedatangan. Hingga aku memutuskan untuk membeli tiket dan pulang ke Korea. Kau menghubungiku kan? Tidak ada jawaban kan? Aku berada di pesawat saat itu. Aku benar benar menyesali kebodohanku itu. Mengapa aku meninggalkanmu.”

“Lalu kenapa kau tidak menemuiku? Kau membaca semua pesanku kan? Aku mengirimimu pesan ratusan kali. ”


“ Aku ingin menemuimu. Aku datang ke Daegu. Tapi kau sudah berada di mobil bersama Ji Won. Kau tidak menungguku hingga hari itu berakhir.”


“Aku menunggumu sampai akhir Kyu, sampai aku tidak punya kekuatan untuk menunggumu.”


“Iya, kau tidak pingsan saat Ji Won membawamu masuk ke mobil.”


“Kau diam saja? Kau tidak datang padaku?” Entah sejak kapan air mata itu mengalir deras di pipiku.


“ Aku tahu Hyeon, betapa pengecutnya aku saat itu. Aku ingin sekali mengejarmu tapi tiba tiba perasaanku menciut. Aku sudah mengecewakanmu, membuatmu menunggu begitu lama.  Aku merasa aku tidak berhak bersamamu Hyeon. Aku tahu itu adalah pikiran paling pengecut yang pernah ada di otakku.”

“ Nappeun Namja!”


“Yaaa, aku tahu... Katakan apapun yang kau mau Hyeon, kutuk aku, katakan apapun yang membuatmu lega. ”


“Kenapa tidak datang setelah aku bangun? Aku masih berharap kau berada di sampingku saat aku membuka mataku Kyu. Lalu kenapa  kau tetap tidak menemuiku setelah hari itu?”


“Aku tahu aku bodoh Hyeon...”


“Apa kau pikir aku tidak akan memaafkanmu kalau kau datang walaupun sangat terlambat? Kau  seharusnya datang, meminta maaf padaku. Jika aku masih belum memaafkanmu. Teruslah minta maaf. Jika aku masih mengusirmu, kau seharusnya datang lagi esok harinya dan lakukan setiap hari sampai aku memaafkanmu.”

“Mian hae Hyeon Jung-ah..”


“Aku menghabiskan lima tahunku untuk membencimu Kyu. Apa kau pikir itu adil bagiku?”


“Aku menghabiskan lima tahunku untuk menyesali keputusanku Hyeon.”


"Aku menghabiskan waktu selama itu untuk mengetahui  bahwa ternyata kau tidak meninggalkanku?”


“Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku Hyeon.”


“Seharusnya kau memang tidak pernah datang hari itu. Penyesalanku menangisi pria sepertimu. Kau hanya pria pengecut!.”

“Apa kau pikir hidupku tidak menderita? Aku hidup dengan penuh penyesalan. Menyesal selama sisa hidupku. Aku kemudian tidak bisa jatuh cinta lagi. Saat sendirian aku hanya mengingat caramu mencintaiku. Lalu aku mengingat air mata sebelum kau jatuh pingsan saat itu. Aku hampir gila kalau mengingat semuanya Hyeon.” Kyuhyun menarik tubuhku. Memeluknya erat, sangat erat. Tangisan kami memecah di ruangan itu. 

"Aku benci padamu." Ucapku setelah pelukannya menghangatkan tubuhku. Tapi dibalik kata kata benciku. Kebencianku pada Kyuhyun hilang, luntur, seperti es yang mencair.  Yang tersisa hanya perasaan rindu. Rindu yang bergumul sejak kemunculannya. Rindu yang membuncah pada tangisan kami berdua.

“Hyeon Jung-ah, aku mencintaimu.” Kyuhyun terisak sambil mengucapkan kata itu untuk pertama kalinya sejak perpisahan kami, aku masih saja menangis. Dinding pembatas yang mengkokohkan hatiku agar tidak jatuh ke pelukan Kyuhyun lagi akhirnya retak kemudian seketika hancur.

Aku juga masih mencintainya, tidak ada yang berubah sedikitpun. Aku hanya mengubur sesuatu yang terus tumbuh, dan kini sesuatu itu telah menembus keluar, batangnya menjulang tinggi, cabangnya ke segala arah, dedaunannya tumbuh rimbun, dan kini bunganya telah bermunculan.


Tapi aku masih belum menghentikan tangisanku, dan Kyuhyun terus mengeratkan pelukannya.


“Kau benar benar jahat..” Aku terus menangis dipelukannya, memukul mukul dada Kyuhyun dengan tanganku.


“Aku akan memperbaiki semuanya denganmu. Maafkan aku karena baru datang setelah lima tahun perpisahan kita.”


“Kau benar benar jahat Kyu....”


“Arraseoyoo... bagaimanapun kau akan memaafkanku kan?” Kyuhyun terus meminta maaf. “Aku berjanji padamu, mulai sekarang aku akan mendengarkanmu. Seperti yang kau mau, aku akan meminta maaf padamu sampai kau mau memaafkanku.  Jika kau mengusirku sekarang, aku pasti akan kembali besok dan terus meminta maaf padamu. Maafkan aku Hyeon. Aku mohon maafkan aku.” Kyuhyun membiarkan tanganku terus memukul mukul dadanya.

“Kyu...” Aku melepaskan pelukannya. Kyuhyun terkejut karena aku melepasnya, membuatnya gelisah. Menungguku yang akan menjawab permintaan maafnya.


“Ya, Hyeon...”  Kyuhyun menanti jawabanku, wajahnya penuh harapan dan matanya penuh kecemasan.


“Ini rumahmu, bagaimana bisa aku mengusirmu, huh?”


Kyuhyun menghela nafas panjang,  lega. Dia tahu apa jawabannya. Seorang Seo Hyeon Jung tidak akan mengatakan iya untuk jawaban iya. Kyuhyun memelukku lagi, mengucapkan terimakasih berkali kali. Menciumi ujung kepalaku lalu mencium keningku puluhan kali.

“Terimakasih Hyeon, terimakasih untuk kesempatanmu. Aku mencintaimu. Aku benar benar mencintaimu....”


“Aku juga Kyu, aku mencintaimu. Jangan meninggalkanku lagi. Jangan menjadi pengecut lagi. Eoh?”


“Tidak akan. Terimakasih Hyeon Jung-ah.”



***



“Aaaa.... “ Kyuhyun menyuapiku beberapa sendok bubur buatannya dan menyodorkan miltivitamin.


“Kau pucat sekali, sudah ku bilang jangan tidur terlalu malam. Apa selama aku pergi kau seperti ini?”

“Aku biasanya wanita yang kuat..” Jawabku sambil mengunyah bubur yang Kyuhyun sendokkan ke mulutku. 


“Jadi kau lemah karenaku?”


“Molla...”


“Hyeonie-ya, mulai sekarang jangan sakit sendirian. Aku akan menjagamu apapun yang terjadi.  Mulai sekarang jangan menangis sendirian, jangan terluka sendirian, aku akan bersamamu apapun yang terjadi. Eoh?” Kyuhyun menggenggam tanganku meminta jawaban atas permintaannya baru saja. Aku mengangguk  dan tersenyum.

“Dan kau, jangan pernah meninggalkanku, jangan pernah menjadi pengecut, jangan berpikir hanya kau yang terluka ketika kau meninggalkanku... Oppa..”Kataku.

“Oppa?”

“Kau tidak suka?”

“Aku bahagia mendengarmu memanggilku oppa lagi.” Kata Kyuhyun sembari memberikan suapan terakhirnya. “Baiklah, kuantar kau pulang, Hyeon. Jangan harap aku akan menahanmu di sini ya?” Goda Kyuhyun.

“Siapa yang berharap? aku juga harus pulang. Aku ingin istirahat.”

“Kau masih pusing?” punggung tangannya menyentuh leher dan dahiku.

“E’em sedikit.”


***




Aku turun dari mobilnya, dan Kyuhyun masih terasa berat meninggalkanku. Bukan hanya Kyuhyun saja, akupun begitu. Entah kenapa aku seperti saat aku jatuh cinta padanya pertama kali.

“Hyeon-ah, sudah lama aku tidak minum kopi bersamamu.”

“Maaf Kyu, aku sedang tidak memiliki kopi.”

“Oooh begitu?” Wajahnya sedikit kecewa. Aku sudah menjadi kekasihnya lima tahun, dan masih tetap mencintainya selama lima tahun. Total sepuluh tahun aku mengenalnya Tentu saja aku tahu maksud dari ingin minum kopi bersama.


“ kalau teh bagaimana?” Tanyaku.


“sebenarnya aku tidak suka teh, tapi baiklah kalau kau memaksa.” Kata Kyuhyun.


Ciih, tidak suka teh apanya. Dan siapa yang memaksanya? Dasar Cho Kyuhyun, selalu tampak manis dengan alasan alasan klasiknya agar tidak berpisah denganku.



***


“Waah, apartemenmu banyak berubah Hyeon..” Kyuhyun berjalan mengitari apartemenku dan aku sedang membuatkan teh  hijau untuk dinikmati bersama.

“Aku memiliki hari yang berat saat itu. Lalu aku mengganti semua perabotnya agar mendapatkan suasana baru.” Jawabku.

Kyuhyun menghampiriku. Memelukku dari belakang. “Pasti hari itu sangat sulit untukmu Hyeon, maafkan aku.” Aku mengangguk dan menerima kecupan di rambutku.


“Selain perasaanku, ada satu hal yang tidak pernah kau rubah Hyeon.” kata Kyuhyun.


“Eo?”


“ Kode pintumu masih tanggal lahirku, kau tidak pernah merubah kode pintumu. Kenapa?”


“Karena kau tidak pernah mengucapkan selamat tinggal. Dua tahun berlalu aku masih berharap kau datang padaku. Aku berharap sepulang kantor, aku melihatmu di rumahku. Entah sedang tertidur karena kelelahan menungguku atau memasak makanan italia kesukaanmu. Tapi kemudian, bagiku kode pintu sudah tidak penting lagi. Toh aku juga sudah memiliki kekasih setelah itu dan tidak terfikir untuk mengganti kode pintu.”


“Ooh, begitu. Lalu Jong Hyeon bagaimana? Apa dia pacar yang baik?”


“Kau ingin tahu?”


“Tidak ada gunanya pacar yang baik kalau akhirnya tetap meninggalkanmu. Tapi sudahlah, sudah ada aku disini, Jadi jangan bahas pria itu lagi di depanku. Eoh?”


“Ciih, siapa yang mulai menyebut namanya, huh?”


Kyuhyun kembali menyusuri ruang kerjaku. Membawa beberapa buku bacaan.


“Hyeon, aku ingin membaca, kau mau aku yang duduk dan kau yang berbaring atau sebaliknya?” Kyuhyun menunjukkan buku tebal di tangannya. Itu adalah bukunya yang tertinggal di sini.

“Jika kau yang membaca, maka kau yang harus duduk Kyu” 

“Aigoo, gadis manjaku sudah lebih dewasa sekarang.”


"Aigooo, kau pikir berapa usia kita?" Aku membaringkan tubuhku dan menyandarkan kepalaku di pahanya sementara dia terus membaca. Satu jam berlalu, aku hanya mengupas apel dan menyuapinya makan, tapi Kyuhyun masih saja sibuk dengan bukunya.

“Kyu, sampai kapan kau akan terus membaca?”

“Sebentar lagi. Oh iya, jam delapan aku harus bertemu temanku jadi aku akan membaca sampai jam setengah delapan. Kau bosan menungguiku?” aku menggeleng.


“Kau kan masih sakit, jadi tidurlah dulu. Aku akan pergi setelah menyelesaikan chapter 9.”


“Teman siapa?”


“Teman pria Hyeon, jangan cemburu begitu..” Goda Kyuhyun.


“Memangnya aku bertanya pria atau wanita?”


“Di wajahmu terlihat jelas. Apakah kekasihku akan menemui wanita lain?” Katanya

“Yaaak... memangnya kita sudah menjadi sepasang kekasih?”


“Hei, kita tidak pernah putus sebelumnya. Kau saja yang seenaknya punya kekasih baru."


"Memangnya kau tidak?" Aku mencibir. 


"Baiklah aku akan menyelesaikan bacaanku dan kau harus tidur sekarang. Kau harus sehat besok pagi karena aku akan menjemputmu.”

“Besok kita ke teater lagi?”

“Tiidak, aku akan menjemputmu ke kantor, setelah itu aku akan pergi ke teater sendiri.”

“Ooh begitu..”

“Kenapa? Kau sangat bersemangat mendampingiku ke teater ya?”

“Ckck.. Pergilah, aku akan tidur secepatnya dan jangan menggangguku.”

“Baiklah, tidur yang nyenyak dan jangan pernah lupa membawaku ke mimpimu ya, Jjaljjayo Hyeonie...” Kyuhyun mencium keningku lalu meninggalkan apartemen.

Hish, aku semakin kesal saja. Sejak tadi aku hanya ditinggal membaca, kemudian dia meninggalkanku di sini. Seharusnya dia menemaniku hingga aku tertidur kan? Semakin tua, romantismenya semakin berkurang saja.

Lima menit setelah Kyuhyun pergi dari apartemenku.


Ting tong...ting tong.


Aku tahu apa maksudnya sekarang, dia sedang bermain main denganku rupanya.  Aku berjalan menuju pintu dan membukanya tanpa melihat wajahnya dari intercom.

“Apa lagi?”

“Maaf, agashi. Ada paket untuk anda sejak kemarin tapi petugas apartemen lupa memberikannya kepada anda.”


“Eoh gwaencanha...” Aku segera menutup pintu dan merutuk. Hebat sekali, mentang dia sudah jadi aktor musikal terkenal, sekarang dia lebih cuek padaku. Bahkan setelah kejadian paling dramatis seumur hidup kami.

Ting tong... ting tong...

Hah, kali ini kau pasti yang memencet belnya. Aku tidak akan tertipu Kyu.

“Kau tidak perlu sejauh ini Kyu...” Aku menutup mulutku segera.

“ Maaf agashi, kau melupakan tanda terimanya.” Kata petugas keamanan yang mengantarkan paket untukku.

Aku membuka isi pesannya

‘Wanita permen kapasku, maaf karena membuatmu menunggu terlalu lama.’

CKH_

Sebuah bingkisan permen kapas yang berbentuk rangkaian bunga pemberian Kyuhyun melupakan perasaan sebalku.


“Kyuhyun masih romantis, yaa Kyuhyun tidak berubah.” Aku tersenyum.


Ting tong....


Aku membuka pintu apartemenku dan melihat Kyuhyun disana.


“Sepertinya kita harus berangkat ke kantormu bersama sama besok.”


“Mwo?”


“Jangan berpikir malam ini akan menjadi malam yang erotis karena  kau masih sakit.”


“Aku tidak memikirkan apapun.” Jawabku sambil menahan tawa yang ingin sekali meledak.


“Boleh aku masuk?”


Aku menggeser tubuhku ke samping memberi jalan Kyuhyun masuk ke apartemenku.


“Lalu bagaimana dengan temanmu?” Belum sempat aku menyelesaikan bicaraku.  Kyuhyun langsung melahap habis bibirku. Mendorongku ke dinding dan melanjutkan permainan bibirnya.


“Kyu...” Nafasku hampir habis.


“Diamlah, bisakah kita hanya berciuman saja?”

“Tapi..” Kyuhyun kembali menciumku seduktif.  Ciuman yang mengisyaratkan kerinduan yang membuncah. Kami saling berpagut hingga aku tidak bisa bernafas. Bibir Kyuhyun masih semenarik dulu, dan kemampuannya masih sama. Apa karena dia tidak pernah berciuman lagi setelah perpisahannya denganku?


Kyuhyun kemudian melepaskan ciumannya begitu saja.


“Jangan harap kita lebih dari ini! Ingat kau masih sakit!  Hyeon, kenapa kau mematikan ACnya huh.” Kyuhyun meninggalkanku begitu saja dan masuk ke dalam.


“Aku tidak berharap apapun.” Aku terkikik geli. Aku tahu betapa Kyuhyun benar benar menahan hasratnya bersamaku karena aku masih sakit.


“Bisakah kau nyalakan ACnya?”


“Ini suhu terendah Kyu. Kau saja yang terlalu terbakar nafsu menciumiku.” Godaku.


Malam ini, kami menghabiskan malam berdua. Kyuhyun menemaniku sampai aku tertidur. Melingkarkan tanganku di perutnya dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Sesekali dia mengusap rambutku dan menciuminya, menarik nafas untuk mencium aroma rambutku.  Kami tertidur bersama hingga pagi. Benar saja, ini bukan malam erotis,  tapi malah terhangat setelah semua yang terjadi.


Aku kembali pada Kyuhyun setelah lima tahun berpisah. Masa laluku yang aku pikir sangat pahit, ternyata menjadi harapan baru bagiku. Kau hanya perlu melihat seluruh sisi untuk memahami situasinya. Kesempatan kedua ku dengan Kyuhyun. Bukan hanya kesempatan yang aku berikan untuk Kyuhyun, tetapi juga untuk ku sendiri. Kesempatan kedua untuk menikmati perasaanku yang terus tumbuh tanpa merasa sakit.


Kami harus berbahagia, karena Tuhan mempertemukan kami kembali setelah kami sama sama terluka di tempat yang sama. Kesalah pahaman dan perasaan takut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Aku belajar untuk terus bertumbuh bersama cintanya yang juga tidak pernah mati. 

No comments:

Post a Comment