Tok tok... dua ketukan menjadi tanda seseorang
yang ditunggunya sudah ada di depan pintu ruang kerjanya. Cho Kyuhyun
mengenakan kaos dan blazer biru tua, dia berdiri di depan pintu dengan tangan dimasukkan ke dua saku
celananya.
Sebenarnya Seo Hyeon Jung hari ini cukup
lelah, kemarin dia berada di kantor sampai pukul sebelas malam dan melanjutkan pekerjaannya di
rumah. Matanya baru terpejam pukul empat pagi dan pagi ini dia harus
menyelesaikan laporan untuk kostum festival musim panas kementrian pariwisata
sebelum pergi menghandle kostum Kyuhyun di teater.
“Sudah ku bilang aku akan datang sendiri ke
teater..” Hyeon Jung membereskan semua file yang ada di meja. Membereskan
beberapa laporan dan menyambar tas kerjanya. Hyeon Jung juga membawa satu koper
besar berisi beberapa kostum Untuk Kyuhyun.
“Aku sudah disini, kenapa harus sendirian. Toh
tujuan kita sama sama ke teater.” Jawab Kyuhyun lalu merebut koper itu dari
tangan Hyeon Jung. Tangan mereka bersentuhan lagi, kali ini dengan tatapan
Kyuhyun pada bola mata Hyeon Jung. Keduanya sempat saling pandang beberapa detik
sebelum Hyeon Jung sadar dan melepaskan tangannya pada pegangan koper dan juga
sentuhan dari Kyuhyun.
“As expected! Kau tidak akan pernah
mendengarkan ucapanku.” Hyeon Jung keluar diikuti Kyuhyun dengan koper kostum
musical di tangannya.
“Mian, mulai saat ini aku yang akan mendengarmu.” Kyuhyun merasa menang atas
kemampuannya yang dari dulu tidak pernah berubah. Membuat Hyeon Jung mengiyakannya, hanya mengiyakannya.
Cho Kyuhyun tanpa penolakan ternyata masih berlaku sampai
sekarang. Bahkan setelah kepergiannya selama lima tahun.
Latihan akan dilaksanakan jam sebelas siang
ini. Kyuhyun segera menancapkan gas mobilnya menembus jalanan Seoul yang
sedikit padat. Hyeon Jung yang terlihat lelah hanya diam di kursinya. Matanya
terkatup katup memaksa tetap terbuka dengan seluruh tenaganya.
“Kalau kau lelah tidur saja, aku akan
membangunkanmu kalau sudah sampai. Sudah ku bilang dari dulu jangan tidur
terlalu malam. Tidak baik untuk kulit wajahmu. Lihat lingkaran di bawah matamu. Sudah
seperti zombie saja ckckck.” Kyuhyun mulai mengoceh.
“ Aku benar benar bosan dengan kata ‘dulu’
yang selalu kau ucapkan padaku akhir akhir ini.” Hyeon Jung memejamkan matanya,
mencoba tidak peduli dengan tiap kalimat Kyuhyun yang tidak pernah berhenti
membuatnya mengenang masa lalunya itu.
“Apa begitu menyakitkan bagimu jika aku selalu
membahas tentang hubungan kita yang dulu?” Sungguh pertanyaan yang bagi Hyeon
Jung tidak perlu di jawab. Bagi Hyeon Jung, luka yang diberikan Kyuhyun
mempunyai tempat tersendiri di hatinya. Tidak akan pernah terlupakan sepanjang
hidup. Tapi Hyeon Jung tidak ingin membuatnya rumit. Tubuhnya sedang drop
dan sangat lelah karena pekerjaannya yang semakin menumpuk.
“Eoh..” Singkat Hyeon Jung.
“Apa kau tidak ingin aku membahasnya lagi?”
Kyuhyun menambah pertanyaannya. Berharap sedikit saja kejujuran Hyeon Jung pada
Kyuhyun tentang perasaannya saat ini.
“Eoh...” Jawab Hyeon Jung untuk pertanyaan tambahan
itu.
“Ku mohon Hyeon! Aku ingin kita kembali baik baik
saja seperti dulu.” Merasa frustasi dengan pembicaraan mereka, Kyuhyun
menepikan mobilnya dan memulai pembicaraan serius dengan Hyeon Jung.
“Baik baik saja? Setelah semua itu?Huh? ”
Hyeon Jung tertawa.
“Apa yang salah dengan kembali baik baik saja?
Toh aku kembali tanpa wanita lain.” Kyuhyun masih mencoba membujuk Hyeon
Jung untuk membuka hatinya lagi. Tapi Hyeon Jung masih tetap pada pendiriannya.
“Kau sudah meninggalkanku, Kyu!”Cairan bening
yang sedari tadi tertahan membentuk
kristal di mata Hyeon.
“Tidak, aku tidak pernah meninggalkanmu.”
Kyuhyun bersikeras.
“Lalu kau sebut apa pernikahan itu?” Kristal
itu mencair, menetes di tepi tepi mata besar Hyeon Jung.
Pada akhirnya
mereka membicarakan tentang pernikahan yang bahkan belum dimulai, tapi sudah berakhir tanpa penjelasan Kyuhyun. Tanpa
kehadiran Kyuhyun dan tanpa ucapan selamat tinggal dari Kyuhyun.
“ Ya Tuhan, Hyeon, aku bahkan tidak pernah mengatakan selamat
tinggal.” Kyuhyun mengacak rambutnya sendiri. Sedikit tertekan dengan situasi
yang sedang dialami bersama mantan kekasihnya itu.
“Tapi kau tidak pernah datang Kyu... bukankah
itu cukup membuatku mengartikan kau meninggalkanku.” Hyeon Jung memelankan
suaranya. Memperbaiki nada suara yang sudah bergetar karena menangis.
“Apa jika aku datang itu artinya aku tidak
pernah meninggalkanmu?”
“Kalau kau datang, kita tidak akan pernah
bersebrangan seperti ini.”
Kalimat terakhirnya membuat bibir Kyuhyun
membeku, Kyuhyun tidak mengatakan apapun lagi. Melihat Hyeon Jung hampir
terisak membuat Kyuhyun ingin sekali memeluknya seperti dulu. Wanita yang dulu
sedikit manja padanya itu, sudah berubah
menjadi lebih dewasa. Tapi wanita tetaplah wanita. Hatinya tetap lembut dan
mudah terluka.
“Tidak cukupkah kehadiranku sekarang membuatmu melupakan semuanya? Aku sudah
disini sekarang. Aku tidak akan pergi lagi. Aku mohon jangan menangis lagi,
Hyeon.”
“Apa guci yang pecah bisa dengan mudah kembali
utuh?” Hyeon Jung menghela nafas
panjang.”Menyetirlah tanpa bicara padaku, aku sangat lelah..”
Kyuhyun kembali menyetir, fokus pada jalanan
yang semakin ramai dan membiarkan Hyeon Jung istirahat di mobilnya.
Setelah perdebatan itu, entah apa yang sudah
membuat kepala Hyeon Jung terasa berputar putar. Keringat dingin mengucur dari
tubuhnya walaupun air conditioning di mobil Kyuhyun sudah berada di level
paling rendah.
Bibirnya mengering dan matanya tampak sayu.
Kyuhyun hanya berani melirik ke arah Hyeon dan tidak mengganggunya yang sedang
mencuri waktu bekerjanya untuk istirahat.
Istirahatlah
Seo Hyeon Jung, kau pasti sangat lelah. Maaf,
karena aku membuatmu terluka lagi dengan kedatanganku. Tapi sungguh aku hanya
ingin kembali padamu. Kembali pada hubungan kita. Karena sekeras apapun aku
mencoba melupakanmu dan menjalani kehidupan dengan wanita lain. Demi Tuhan
seharipun aku tidak pernah bisa melupakanmu, Hyeon.
Kyuhyun menyetir dengan tenang menuju teater.
Sesampainya di sana, Seo Hyeon Jung yang
masih terlelap di kursinya itu bahkan tidak menyadari kalau mereka sudah
sampai. Kyuhyun duduk terdiam sesekali memandang mantan kekasihnya yang
terlihat sangat lelah dengan lingkaran hitam di sekitar matanya. Jika Hyeon Jung tidur sepulas ini, Kyuhyun pun
tidak akan berani membangunkannya.
Dia
masih sama, sangat manis kalau tertidur begitu
“Engg, sudah sampai? Kenapa tidak
membangunkanku?” Hyeon Jung memperbaiki
posisi duduknya. Menyisir rambutnya dengan jari jari tangan dan berkaca untuk melihat wajah sendunya setelah
terbangun. Hyeon Jung keluar dari mobil tanpa mengatakan apapun pada Kyuhyun. Kyuhyun
hanya tersenyum di tempat duduknya.
Jika kau
tidur semanis itu, apa aku tega membangunkannya?
“Kau sudah terlambat lima menit, mau di dalam
mobil saja?” Tanya Hyeon Jung yang mendapati Kyuhyun masih duduk diam di kursi
kemudinya.
Kyuhyun berjalan di depan Hyeon Jung. Sejak
dulu selalu saja Hyeon Jung tidak pernah bisa mengimbangi langkah kaki Kyuhyun
yang besar besar itu.
“Kopernya, biar aku saja yang bawa..” Pinta
Hyeon Jung. “Kau kan aktornya, masa kau membawa kostummu sendiri.”
“ Eh, begitu kah? Baiklah...” Kyuhyun
memberikan kopernya pada Hyeon Jung. Hyeon Jung mendelik kesal dan mengumpat
dalam hati. Padahal dia hanya berbasa basi dengan tawaran membawakannya itu.
Koper itu kan berat sekali, terlebih tubuhnya yang mulai lemas, kedinginan dan
kepala yang berputar putar.
Kyuhyun mencoba pakaiannya, hari ini tim musikal berlatih menggunakan
kostum yang akan dipakai untuk pertunjukannya.
Hyeon Jung terlalu sibuk mondar mandir membawa
pakaian yang akan dipakai Kyuhyun.
Kyuhyun lagi lagi hanya tersenyum. Akhirnya dia bisa bekerja bersama
Hyeon Jung.
‘Hyeon, bisa tolong ambilkan air mineralku di
ruang make up?” tanya Kyuhyun yang masih sibuk dengan latihannya.
“Ne, Kyuhyun-SSHI” Jawab Hyeon Jung dengan
menebalkan aksen Sshi. Bagi Hyeon Jung ini adalah pertemuan resmi perusahaan
dengan Klien jadi mereka harus tetap memanggilnya secara formal.
Memangnya dia siapa memanggilku seperti itu?
Memangnya aku asistennya? Menyuruhku mengambilkan minum, mengambilkan peniti
dan lain sebagainya.
"Yaa.. benar. Aku kan ketua tim desain di perusahaanku. Aku tidak akan mau jika dia menyuruh nyuruhku lagi.” Rutuk Hyeon.
"Yaa.. benar. Aku kan ketua tim desain di perusahaanku. Aku tidak akan mau jika dia menyuruh nyuruhku lagi.” Rutuk Hyeon.
“Kau sudah mengambil airnya?” Tanya Kyuhyun
dan Hyeon Jung hanya memperlihatkan botol minum di tangannya. “Boleh aku minta
tolong lagi? Aku butuh sepatu yang cocok untuk kostum ini. Kau kan desainer,
aku pikir kau lebih tahu sepatu mana yang harus ku pakai.”
“Dimana sepatunya?”Tanya Hyeon Jung. Kyuhyun
hanya menunjuk ruang wardrobe dan tersenyum. Hyeon, orang yang tidak akan
menolak apapun permintaan Kyuhyun. Yaa, ternyata dia masih Hyeon yang seperti
itu.
Hyeon Jung merasa tubuhnya sedang tidak cukup
sehat hari itu. Dia menempel pada dinding untuk menahan berat tubuhnya.
Kepalanya masih terasa berputar putar dan keringat dingin sudah membanjiri leher dan tengkuknya. Dia baru saja keluar dari toilet dan
akan kembali menuju ruang make up.
“Kyuhyun-sshi. Selamat atas drama musikal terbarumu.
Kau sangat berbakat..” Seseorang menghampiri Kyuhyun dan memberinya ucapan
selamat.
"Terimakasih banyak, anda?”
“Ah, perkenalkan aku Kang Jae Joon.”
“Kang Jae Joon?”
“Kau mungkin tidak ingat, tapi berkatmu.
Bakatku akhirnya diakui juga di dalam bidang seni teater.”
“Aku? Apa yang telah kulakukan hingga.. aku merasa tidak pernah melakukan apapun padamu.” Kata Kyuhyun dengan kepolosannya.
“ Ah, kau benar benar orang yang rendah hati seperti kata pemain yang lain. Oh iya, Ku dengar kau sudah menikah lima tahun yang lalu?”
Lamat lamat Hyeon mendengar pembicaraan mereka berdua. Kyuhyun menikah? Lima tahun lalu?
Bukankah itu saat Kyuhyun meninggalkan Hyeon
Jung di pernikahannya.
“Aku yang menggantikan posisimu saat kau tidak datang dalam musical di China.”
“Oooh, Kang Jae Joon-sshi, jadi kau yang menggantikanku?” Kyuhyun tersenyum kecut pada pria itu, seperti mengingat kejadian yang bertahun tahun menjadi beban hidupnya. Bukan karena pria itu mengambil perannya, tapi kesalahan Kyuhyun yang membuatnya menyesal selama sisa hidupnya.Yaitu meninggalkan Hyeon-nya.
“Kalau saja kau mengambil kesempatan tampil di China saat itu. Kesempatanku
untuk diakui di bidang ini rasanya sangat sulit. Mungkin terlihat kejam ketika
aku mengambil peranmu dan sukses besar saat itu. Tapi mendengar kalau kau
memutuskan turun dari pesawat dan menikah serta kesuksesanmu sekarang. Aku
tidak perlu merasa bersalah lagi. Bakatmu tidak akan pernah tenggelam walau kau
meninggalkan satu panggung untuk orang yang kau cintai.”
Sisi lain Kyuhyun yang akhirnya terungkap.
Disaksikan oleh Hyeon Jung yang berdiri mematung mendengar percakapan itu di
belakang mereka.
Bagi Hyeon Jung, hubungan mereka memang telah
berakhir. Semenjak Kyuhyun tidak menampakkan batang hidungnya di pernikahan.
Tapi mendengar kenyataan bahwa Kyuhyun menikah di tahun yang sama ketika dia
tidak datang di pernikahan mereka. Bukankah itu pukulan berat untuk Hyeon Jung.
Jadi Kyuhyun menikah dengan orang yang dia cintai. Dan itu bukan Hyeon Jung.
Jadi Kyuhyun menikah dengan orang yang dia cintai. Dan itu bukan Hyeon Jung.
“Tapi...” Kyuhyun menyela.
“ Waah,sepertinya aku harus pergi menemui PD Choi, Lain kali
mari makan malam bersama, kau ajak istrimu juga ya?”
“Aah, ne...” jawab Kyuhyun mempersingkat
percakapan itu.
Betapa terkejutnya Kyuhyun melihat wanita yang
sudah berdiri lama di belakangnya, mendengar semua percakapannya dengan Kang
Jae Joon.
“Napeun...” Kata itu yang terlontar dari bibir
Hyeon Jung. Hanya kata itu. Mengumpat tidak ada gunanya. Mengetahui kenyataan
bahwa Kyuhyun sudah menikah tapi dia
masih datang dengan segala cinta dan harapan yang baru benar benar melukai
Hyeon Jung.
“ Hyeon-ah...” Panggil Kyuhyun.
Hyeon Jung berjalan keluar dengan sisa sisa
tenanganya. Tapi tangan dan tubuh Kyuhyun lebih sigap meraih pergelangan tangan
Hyeon Jung.
“Apa yang kau dengar itu tidak benar. Hyeon.”
“Tidak ada urusannya denganku.” Hyeon Jung meringis. Tubuhnya yang lemas itu semakin tidak bertenaga.
“ Lalu kenapa kau seperti ini? Demi Tuhan
Hyeon, aku tidak pernah menikah.” Sorot matanya meneduh dan gelisah.
“ Jelaskanlah pada Tuan Kang Jae Joon. Apa aku
adalah orang yang perlu dijelaskan tentang pernikahanmu itu?”
“Ne...” Ucap Kyuhyun tegas.
“Kau seharusnya meminta maaf kepada istrimu karena
telah mengatakan niatmu kembali padaku.”
Hyeon Jung mengumpulkan semua kekuatannya. Matanya yang seperti melihat kupu kupu itu bertahan agar tidak tumbang diantara pembicaraan itu.
Hyeon Jung mengumpulkan semua kekuatannya. Matanya yang seperti melihat kupu kupu itu bertahan agar tidak tumbang diantara pembicaraan itu.
“Demi Tuhan Hyeon!!!! Aku tidak pernah menikah
dengan wanita manapun.”
" Lepaskan aku Kyu!"
“Hyeon!!!” Bentak Kyuhyun
“Jebal...” Hyeon Jung memohon pada Kyuhyun
untuk melepas cengkramannya. “Appo..”
Hyeon Jung menangis disela pembicaraan mereka.
“Hyeon, kau sakit? Hyeon... “ Kyuhyun
melepaskan genggamannya di pergelangan Hyeon Jung. Menatap wajah Hyeon yang
sudah pucat pasi dan keringat dingin yang sudah membasahi seluruh tubuhnya .
Tubuh Hyeon lunglai ke bawah dan tidak sadarkan diri.
“Hyeon
! Hyeon ! Hyeon !”
*****
Aku teringat mataku berkunang kunang, kepalaku
terus saja berputar putar tanpa henti hingga aku tidak sadarkan diri. Aku masih
mendengar sayup sayup suaramu memanggil
manggil namaku. Aku masih merasa air matamu
menetes di wajahku.Cho Kyuhyun, kenapa kita harus bertemu lagi?
Rasa ingin tahuku tentang mengapa kau
meninggalkanku di hari pernikahan kita memang sempat ku kubur dalam dalam.
Lebih baik melupakannya dan tidak perlu mengingatnya. Tapi kau datang lagi,
mencoba menjelaskan semuanya, berusaha merebut hatiku lagi . Merebut hati yang bahkan masih menjadi milikmu. Tapi
nyatanya yang kau jelaskan adalah sebuah
kepalsuan.
Pada kenyataannya kau meninggalkanku karena menikah
dengan perempuan lain.
Aku membuka
mataku, kain putih tebal sudah menyelimutiku sebatas pundak. Aku mengerjap,
membenahi bayangan mataku yang masih samar samar.
Aku
mengedarkan pandanganku ke sekeliling. Ruangan serba putih yang kemudian
membawaku mengalir ke kenangan bersamanya... lagi.
Tepat
diujung sana, piano yang selalu Kyuhyun mainkan untukku, tepat di ujung yang
lain adalah tempatku menjadi penata busana untuk kekasihku dulu. Sebuah cermin
tinggi besar dan sebuah kursi untuk menopangku jika aku sedang mengenakan
dasinya. Di Jendela itu tempat Kyuhyun
selalu menikmati kopi dan memandang guguran jingga daun maple saat autumn.
Ranjang ini, tempat pelukan Kyuhyun yang paling hangat dan ciumannya yang
paling liar. Kursi itu, tempat duduk Kyuhyun saat menjagaku ketika aku terlelap
tidur disini.
Mataku
berhenti pada nakas di sebelah kiri tempat tidurnya. Sebuah foto gadis 26 tahun
dan pria disampingnya yang sedang menikmati
ice skating bersama. Hidung si
pria memerah karena kedinginan, dan wajah si gadis terlihat sangat bahagia.
Sudah sembilan tahun foto ini berada di sana. Jadi aku
ditempat ini sekarang?
“Kau sudah
bangun, aku sudah menyiapkan bubur untukmu. Kau harus makan agar tubuhmu
kembali sehat.”
“Sepertinya
aku harus kembali ke kantor, masih banyak pekerjaan yang harus ku tangani.” Aku
beranjak dari ranjangnya. Cukup sudah untuk mengenang masa laluku di
ruangan ini bersama pria dihadapanku sekarang."
“Aku sudah
menghubungi Manajer Hwan kalau kau sakit, jadi tidak perlu ke kantor.”
“Kalau
begitu aku mau pulang saja.” Aku memang masih sangat lelah dan butuh istirahat.
Tapi aku ingin istirahat di apartemenku sendirian saja. Teringat percakapan
yang membuatku jatuh pingsan itu, aku hanya cepat cepat menghilang dari
pandangan Kyuhyun begitupun sebaliknya. Aku tidak ingin berlama lama memandang Kyuhyun.
“Makanlah
dulu, nanti kuantar kau pulang.” Kyuhyun membawa semangkuk bubur, beberapa
butir obat dan air putih di nampan.
“ Tidak
perlu, aku hanya perlu istirahat di rumah saja.” Aku bersikeras untuk pulang,
aku memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengannya. Besok aku hanya perlu
meminta manajer Hwan untuk memindah tugaskanku dengan pegawaiku yang lain.Kalau perlu aku akan memohon pada Manajer Hwan. Itu tekad bulatku.
“Kau tinggal
sendirian, siapa yang akan mengurusmu, huh?”
“Aku bisa
mengurus diriku sendiri, aku juga bisa
memanggil Ji W...” Ah, aku benar benar
lupa tentang Ji Won. Dia sudah menikah dan sedang hamil. Dan hubungan kami
sedang dalam masa yang sulit.
“Ji Won yang
menikah dengan kekasihmu yang brengsek itu? Siapa namanya? Jong Hyeon?”
“
Berhentilah bicara Kyu, dia bahkan lebih baik daripada menghilang begitu saja
dan diam diam menikah dengan wanita lain.”
“Hyeon, Sudah ku
bilang aku tidak menikah dengan wanita manapun! Kau pikir kau tahu segalanya?”
“Kyu, aku
lelah. Aku ingin pulang.” Hyeon Jung bangkit dari tempat tidur Kyuhyun. Mencari
tas, sepatu, dan blazer yang sudah terlepas dari tubuhku.
“ Saat itu
aku mendapat tawaran bermain teater di China.” Suara Kyuhyun bergetar.
“ Yaa, aku
tahu. Tapi kau tidak pernah mengatakan padaku.” Aku membaca kontrak itu diatas
meja Kyuhyun saat aku sedang mengambil gunting. Tanggal dimulainya kontrak sama
dengan tanggal pernikahan kami. Tapi Kyuhyun belum menandatanganinya. Aku tidak pernah berpikir Kyuhyun akan menandatanganinya karena aku tahu betapa Kyuhyun sangat menginginkan pernikahan ini.
“ Aku
bukan tidak pernah mengatakannya padamu, tapi aku benar benar bingung saat itu
Hyeon.”
“Kyu,
berhentilah. Aku tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun darimu.” Tubuhku
masih sangat lemah.. Mengetahui kebenaran bahwa Kyuhyun menikah di tahun yang
sama saat dia meninggalkanku membuatku semakin tidak berdaya.
“ Dan aku....
tidak pernah menikah dengan wanita manapun.”
“Kyu, Keumanhae, Aku sudah tidak peduli kau menikah lagi atau tidak.”
Tentu saja, tentu
saja sebenarnya aku masih sangat peduli. Kau tahu? Ketika Kang Jae Joon bilang
kau sudah menikah. Rasanya aku hampir
mati dua kali.
“Aku tidak
akan pernah menikah selain denganmu.” Kyuhyun meninggikan suaranya.
“Mwo?”
“Ku mohon
Hyeon, dengarkan penjelasanku.” Kyuhyun melanjutkan.“ Hari saat
kita menikah adalah hari dimana aku
harusnya berangkat menuju China. Maafkan aku karena saat itu aku juga
bingung. Apa yang harus ku pilih. Di satu sisi aku sangat mencintaimu dan di
sisi lain. Kau tahu kan betapa
inginnya aku menjadi aktor musikal?”
inginnya aku menjadi aktor musikal?”
“Jadi kau
memilih meninggalkanku. Yaa, anggaplah begitu karena kau sama sekali tidak
datang di pernikahan kita” Aku berlalu meninggalkan Kyuhyun yang masih berdiri
dengan wajah penyesalannya.
“Aku datang
Hyeon..” Ucap Kyuhyun.
Deg...
langkahku terhenti.
“ Setelah mendarat di China, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak penah keluar dari pintu kedatangan. Hingga aku memutuskan untuk membeli tiket dan pulang ke Korea. Kau menghubungiku kan? Tidak ada jawaban kan? Aku berada di pesawat saat itu. Aku benar benar menyesali kebodohanku itu. Mengapa aku meninggalkanmu.”
Deg...
langkahku terhenti.
“ Setelah mendarat di China, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tidak penah keluar dari pintu kedatangan. Hingga aku memutuskan untuk membeli tiket dan pulang ke Korea. Kau menghubungiku kan? Tidak ada jawaban kan? Aku berada di pesawat saat itu. Aku benar benar menyesali kebodohanku itu. Mengapa aku meninggalkanmu.”
“Lalu kenapa
kau tidak menemuiku? Kau membaca semua pesanku kan? Aku mengirimimu pesan ratusan kali. ”
“ Aku ingin menemuimu.
Aku datang ke Daegu. Tapi kau sudah berada di mobil bersama Ji Won. Kau tidak
menungguku hingga hari itu berakhir.”
“Aku
menunggumu sampai akhir Kyu, sampai aku tidak punya kekuatan untuk menunggumu.”
“Iya, kau
tidak pingsan saat Ji Won membawamu masuk ke mobil.”
“Kau diam
saja? Kau tidak datang padaku?” Entah sejak kapan air mata itu mengalir deras
di pipiku.
“ Aku tahu
Hyeon, betapa pengecutnya aku saat itu. Aku ingin sekali mengejarmu tapi tiba
tiba perasaanku menciut. Aku sudah mengecewakanmu, membuatmu menunggu begitu
lama. Aku merasa aku tidak berhak
bersamamu Hyeon. Aku tahu itu adalah pikiran paling pengecut yang pernah ada di
otakku.”
“ Nappeun
Namja!”
“Yaaa, aku
tahu... Katakan apapun yang kau mau Hyeon, kutuk aku, katakan apapun yang
membuatmu lega. ”
“Kenapa tidak datang setelah aku bangun? Aku masih berharap kau berada di sampingku saat aku membuka mataku Kyu. Lalu kenapa kau tetap tidak menemuiku setelah hari itu?”
“Aku tahu
aku bodoh Hyeon...”
“Apa kau
pikir aku tidak akan memaafkanmu kalau kau datang walaupun sangat terlambat? Kau
seharusnya datang, meminta maaf padaku.
Jika aku masih belum memaafkanmu. Teruslah minta maaf. Jika aku masih
mengusirmu, kau seharusnya datang lagi esok harinya dan lakukan setiap hari sampai
aku memaafkanmu.”
“Mian hae
Hyeon Jung-ah..”
“Aku menghabiskan lima tahunku untuk membencimu Kyu. Apa kau pikir itu adil bagiku?”
“Aku menghabiskan lima tahunku untuk menyesali keputusanku Hyeon.”
"Aku
menghabiskan waktu selama itu untuk mengetahui bahwa ternyata kau tidak
meninggalkanku?”
“Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku Hyeon.”
“Seharusnya
kau memang tidak pernah datang hari itu. Penyesalanku menangisi pria sepertimu.
Kau hanya pria pengecut!.”
“Apa kau
pikir hidupku tidak menderita? Aku hidup dengan penuh penyesalan. Menyesal
selama sisa hidupku. Aku kemudian tidak bisa jatuh cinta lagi. Saat sendirian
aku hanya mengingat caramu mencintaiku. Lalu aku mengingat air mata sebelum kau
jatuh pingsan saat itu. Aku hampir gila kalau mengingat semuanya Hyeon.”
Kyuhyun menarik tubuhku. Memeluknya erat, sangat erat. Tangisan kami memecah di
ruangan itu.
"Aku benci padamu." Ucapku setelah pelukannya menghangatkan tubuhku. Tapi dibalik kata kata benciku. Kebencianku pada Kyuhyun hilang, luntur, seperti es yang mencair. Yang tersisa hanya perasaan rindu. Rindu yang bergumul sejak kemunculannya. Rindu yang membuncah pada tangisan kami berdua.
"Aku benci padamu." Ucapku setelah pelukannya menghangatkan tubuhku. Tapi dibalik kata kata benciku. Kebencianku pada Kyuhyun hilang, luntur, seperti es yang mencair. Yang tersisa hanya perasaan rindu. Rindu yang bergumul sejak kemunculannya. Rindu yang membuncah pada tangisan kami berdua.
“Hyeon
Jung-ah, aku mencintaimu.” Kyuhyun terisak sambil mengucapkan kata itu untuk
pertama kalinya sejak perpisahan kami, aku masih saja menangis. Dinding pembatas
yang mengkokohkan hatiku agar tidak jatuh ke pelukan Kyuhyun lagi akhirnya
retak kemudian seketika hancur.
Aku juga
masih mencintainya, tidak ada yang berubah sedikitpun. Aku hanya mengubur
sesuatu yang terus tumbuh, dan kini sesuatu itu telah menembus keluar,
batangnya menjulang tinggi, cabangnya ke segala arah, dedaunannya tumbuh
rimbun, dan kini bunganya telah bermunculan.
Tapi aku
masih belum menghentikan tangisanku, dan Kyuhyun terus mengeratkan pelukannya.
“Kau benar
benar jahat..” Aku terus menangis dipelukannya, memukul mukul dada Kyuhyun dengan tanganku.
“Aku akan memperbaiki semuanya denganmu. Maafkan aku karena baru datang setelah lima tahun perpisahan kita.”
“Kau benar
benar jahat Kyu....”
“Arraseoyoo...
bagaimanapun kau akan memaafkanku kan?” Kyuhyun terus meminta maaf. “Aku berjanji padamu, mulai
sekarang aku akan mendengarkanmu. Seperti yang kau mau, aku akan meminta maaf
padamu sampai kau mau memaafkanku. Jika
kau mengusirku sekarang, aku pasti akan kembali besok dan terus meminta maaf
padamu. Maafkan aku Hyeon. Aku mohon maafkan aku.” Kyuhyun membiarkan tanganku
terus memukul mukul dadanya.
“Kyu...” Aku
melepaskan pelukannya. Kyuhyun terkejut karena aku melepasnya, membuatnya
gelisah. Menungguku yang akan menjawab permintaan maafnya.
“Ya,
Hyeon...” Kyuhyun menanti jawabanku,
wajahnya penuh harapan dan matanya penuh kecemasan.
“Ini rumahmu, bagaimana bisa aku mengusirmu, huh?”
Kyuhyun menghela nafas panjang, lega. Dia tahu apa jawabannya. Seorang Seo Hyeon Jung tidak akan
mengatakan iya untuk jawaban iya. Kyuhyun memelukku lagi, mengucapkan terimakasih
berkali kali. Menciumi ujung kepalaku lalu mencium keningku puluhan kali.
“Terimakasih
Hyeon, terimakasih untuk kesempatanmu. Aku mencintaimu. Aku benar benar
mencintaimu....”
“Aku juga
Kyu, aku mencintaimu. Jangan meninggalkanku lagi. Jangan menjadi pengecut lagi.
Eoh?”
“Tidak akan.
Terimakasih Hyeon Jung-ah.”
***
“Aaaa.... “ Kyuhyun menyuapiku beberapa sendok bubur buatannya dan menyodorkan miltivitamin.
“Kau pucat
sekali, sudah ku bilang jangan tidur terlalu malam. Apa selama aku pergi kau
seperti ini?”
“Aku
biasanya wanita yang kuat..” Jawabku sambil mengunyah bubur yang Kyuhyun sendokkan ke mulutku.
“Jadi kau
lemah karenaku?”
“Molla...”
“Hyeonie-ya,
mulai sekarang jangan sakit sendirian. Aku akan menjagamu apapun yang
terjadi. Mulai sekarang jangan menangis
sendirian, jangan terluka sendirian, aku akan bersamamu apapun yang terjadi.
Eoh?” Kyuhyun menggenggam tanganku meminta jawaban atas permintaannya baru
saja. Aku mengangguk dan tersenyum.
“Dan kau,
jangan pernah meninggalkanku, jangan pernah menjadi pengecut, jangan berpikir
hanya kau yang terluka ketika kau meninggalkanku... Oppa..”Kataku.
“Oppa?”
“Kau tidak
suka?”
“Aku bahagia
mendengarmu memanggilku oppa lagi.” Kata Kyuhyun sembari memberikan suapan
terakhirnya. “Baiklah, kuantar kau pulang, Hyeon. Jangan harap aku akan
menahanmu di sini ya?” Goda Kyuhyun.
“Siapa yang berharap? aku juga harus pulang. Aku ingin istirahat.”
“Kau masih
pusing?” punggung tangannya menyentuh leher dan dahiku.
“E’em
sedikit.”
***
Aku turun dari mobilnya, dan Kyuhyun masih terasa berat meninggalkanku. Bukan hanya Kyuhyun saja, akupun begitu. Entah kenapa aku seperti saat aku jatuh cinta padanya pertama kali.
“Hyeon-ah,
sudah lama aku tidak minum kopi bersamamu.”
“Maaf Kyu,
aku sedang tidak memiliki kopi.”
“Oooh
begitu?” Wajahnya sedikit kecewa. Aku sudah menjadi kekasihnya lima tahun, dan masih tetap mencintainya
selama lima tahun. Total sepuluh tahun aku mengenalnya Tentu saja aku tahu
maksud dari ingin minum kopi bersama.
“ kalau teh
bagaimana?” Tanyaku.
“sebenarnya
aku tidak suka teh, tapi baiklah kalau kau memaksa.” Kata Kyuhyun.
Ciih, tidak
suka teh apanya. Dan siapa yang memaksanya? Dasar Cho Kyuhyun, selalu tampak manis
dengan alasan alasan klasiknya agar tidak berpisah denganku.
***
“Waah, apartemenmu banyak berubah Hyeon..” Kyuhyun berjalan mengitari apartemenku dan aku sedang membuatkan teh hijau untuk dinikmati bersama.
“Aku
memiliki hari yang berat saat itu. Lalu aku mengganti semua perabotnya agar
mendapatkan suasana baru.” Jawabku.
Kyuhyun
menghampiriku. Memelukku dari belakang. “Pasti hari itu sangat sulit untukmu
Hyeon, maafkan aku.” Aku mengangguk dan menerima kecupan di rambutku.
“Selain
perasaanku, ada satu hal yang tidak pernah kau rubah Hyeon.” kata Kyuhyun.
“Eo?”
“ Kode
pintumu masih tanggal lahirku, kau tidak pernah merubah kode pintumu. Kenapa?”
“Karena kau
tidak pernah mengucapkan selamat tinggal. Dua tahun berlalu aku masih berharap
kau datang padaku. Aku berharap sepulang kantor, aku melihatmu di rumahku.
Entah sedang tertidur karena kelelahan menungguku atau memasak makanan italia
kesukaanmu. Tapi kemudian, bagiku kode pintu sudah tidak penting lagi. Toh aku
juga sudah memiliki kekasih setelah itu dan tidak terfikir untuk mengganti kode pintu.”
“Ooh, begitu. Lalu Jong Hyeon bagaimana? Apa dia pacar yang baik?”
“Kau ingin
tahu?”
“Tidak ada
gunanya pacar yang baik kalau akhirnya tetap meninggalkanmu. Tapi sudahlah,
sudah ada aku disini, Jadi jangan bahas pria itu lagi di depanku. Eoh?”
“Ciih, siapa
yang mulai menyebut namanya, huh?”
Kyuhyun
kembali menyusuri ruang kerjaku. Membawa beberapa buku bacaan.
“Hyeon, aku
ingin membaca, kau mau aku yang duduk dan kau yang berbaring atau sebaliknya?”
Kyuhyun menunjukkan buku tebal di tangannya. Itu adalah bukunya yang tertinggal
di sini.
“Jika kau
yang membaca, maka kau yang harus duduk Kyu”
“Aigoo,
gadis manjaku sudah lebih dewasa sekarang.”
"Aigooo, kau pikir berapa usia kita?" Aku membaringkan tubuhku dan menyandarkan kepalaku di pahanya sementara dia terus membaca. Satu jam berlalu, aku hanya mengupas apel dan menyuapinya makan, tapi Kyuhyun masih saja sibuk dengan bukunya.
“Kyu, sampai
kapan kau akan terus membaca?”
“Sebentar
lagi. Oh iya, jam delapan aku harus bertemu temanku jadi aku akan membaca
sampai jam setengah delapan. Kau bosan menungguiku?” aku menggeleng.
“Kau kan
masih sakit, jadi tidurlah dulu. Aku akan pergi setelah menyelesaikan chapter
9.”
“Teman
siapa?”
“Teman pria
Hyeon, jangan cemburu begitu..” Goda Kyuhyun.
“Memangnya
aku bertanya pria atau wanita?”
“Di wajahmu
terlihat jelas. Apakah kekasihku akan menemui wanita lain?” Katanya
“Yaaak... memangnya kita sudah menjadi sepasang kekasih?”
“Hei, kita tidak pernah putus sebelumnya. Kau saja yang seenaknya punya kekasih baru."
"Memangnya kau tidak?" Aku mencibir.
"Baiklah aku akan menyelesaikan bacaanku dan kau harus tidur sekarang. Kau harus sehat besok pagi karena aku akan menjemputmu.”
"Memangnya kau tidak?" Aku mencibir.
"Baiklah aku akan menyelesaikan bacaanku dan kau harus tidur sekarang. Kau harus sehat besok pagi karena aku akan menjemputmu.”
“Besok kita
ke teater lagi?”
“Tiidak, aku
akan menjemputmu ke kantor, setelah itu aku akan pergi ke teater sendiri.”
“Ooh
begitu..”
“Kenapa? Kau sangat bersemangat mendampingiku ke teater ya?”
“Ckck..
Pergilah, aku akan tidur secepatnya dan jangan menggangguku.”
“Baiklah, tidur yang nyenyak dan jangan pernah lupa membawaku ke mimpimu ya, Jjaljjayo Hyeonie...” Kyuhyun mencium keningku lalu meninggalkan apartemen.
Hish, aku
semakin kesal saja. Sejak tadi aku hanya ditinggal membaca, kemudian dia meninggalkanku
di sini. Seharusnya dia menemaniku hingga aku tertidur kan? Semakin tua,
romantismenya semakin berkurang saja.
Lima menit setelah Kyuhyun pergi dari apartemenku.
Ting
tong...ting tong.
Aku tahu apa
maksudnya sekarang, dia sedang bermain main denganku rupanya. Aku berjalan menuju pintu dan membukanya
tanpa melihat wajahnya dari intercom.
“Apa lagi?”
“Maaf,
agashi. Ada paket untuk anda sejak kemarin tapi petugas apartemen lupa
memberikannya kepada anda.”
“Eoh
gwaencanha...” Aku segera menutup pintu dan merutuk. Hebat sekali, mentang dia sudah
jadi aktor musikal terkenal, sekarang dia lebih cuek padaku. Bahkan setelah
kejadian paling dramatis seumur hidup kami.
Ting tong...
ting tong...
Hah, kali
ini kau pasti yang memencet belnya. Aku tidak akan tertipu Kyu.
“Kau tidak
perlu sejauh ini Kyu...” Aku menutup mulutku segera.
“ Maaf
agashi, kau melupakan tanda terimanya.” Kata petugas keamanan yang mengantarkan
paket untukku.
Aku membuka
isi pesannya
‘Wanita permen kapasku, maaf karena membuatmu menunggu
terlalu lama.’
CKH_
Sebuah
bingkisan permen kapas yang berbentuk rangkaian bunga pemberian Kyuhyun
melupakan perasaan sebalku.
“Kyuhyun
masih romantis, yaa Kyuhyun tidak berubah.” Aku tersenyum.
Ting
tong....
Aku membuka
pintu apartemenku dan melihat Kyuhyun disana.
“Sepertinya
kita harus berangkat ke kantormu bersama sama besok.”
“Mwo?”
“Jangan
berpikir malam ini akan menjadi malam yang erotis karena kau masih sakit.”
“Aku tidak
memikirkan apapun.” Jawabku sambil menahan tawa yang ingin sekali meledak.
“Boleh aku masuk?”
Aku menggeser tubuhku ke samping memberi jalan Kyuhyun masuk ke apartemenku.
“Lalu bagaimana
dengan temanmu?” Belum sempat aku menyelesaikan bicaraku. Kyuhyun langsung melahap habis bibirku.
Mendorongku ke dinding dan melanjutkan permainan bibirnya.
“Kyu...” Nafasku hampir habis.
“Diamlah,
bisakah kita hanya berciuman saja?”
“Tapi..”
Kyuhyun kembali menciumku seduktif.
Ciuman yang mengisyaratkan kerinduan yang membuncah. Kami saling
berpagut hingga aku tidak bisa bernafas. Bibir Kyuhyun masih semenarik dulu,
dan kemampuannya masih sama. Apa karena dia tidak pernah berciuman lagi
setelah perpisahannya denganku?
Kyuhyun
kemudian melepaskan ciumannya begitu saja.
“Jangan
harap kita lebih dari ini! Ingat kau masih sakit! Hyeon, kenapa kau
mematikan ACnya huh.” Kyuhyun meninggalkanku begitu saja dan masuk ke dalam.
“Aku tidak berharap apapun.” Aku terkikik geli. Aku tahu betapa
Kyuhyun benar benar menahan hasratnya bersamaku karena aku masih sakit.
“Bisakah kau
nyalakan ACnya?”
“Ini suhu
terendah Kyu. Kau saja yang terlalu terbakar nafsu menciumiku.” Godaku.
Malam ini,
kami menghabiskan malam berdua. Kyuhyun menemaniku sampai aku tertidur.
Melingkarkan tanganku di perutnya dan menyandarkan kepalaku di dadanya.
Sesekali dia mengusap rambutku dan menciuminya, menarik nafas untuk mencium
aroma rambutku. Kami tertidur bersama
hingga pagi. Benar saja, ini bukan malam erotis, tapi malah terhangat setelah semua yang
terjadi.
Aku kembali
pada Kyuhyun setelah lima tahun berpisah. Masa laluku yang aku pikir sangat
pahit, ternyata menjadi harapan baru bagiku. Kau hanya perlu melihat seluruh
sisi untuk memahami situasinya. Kesempatan kedua ku dengan Kyuhyun. Bukan hanya
kesempatan yang aku berikan untuk Kyuhyun, tetapi juga untuk ku sendiri.
Kesempatan kedua untuk menikmati perasaanku yang terus tumbuh tanpa merasa
sakit.
Kami harus
berbahagia, karena Tuhan mempertemukan kami kembali setelah kami sama sama
terluka di tempat yang sama. Kesalah pahaman dan perasaan takut untuk
mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
No comments:
Post a Comment