Sunday, January 17, 2016

Never Say Goodbye (1/3)

Segelas Cappucino Frappe di hadapanku hampir mencair sempurna. Menunggu Lee Jong Hyeon  memang selalu membuatku kesal. Kali ini apa lagi yang membuatnya terlambat? Satu kancing kemejanya yang hilang hingga dia harus pulang mengganti dengan kemeja yang baru atau sepatunya kurang mengkilap hingga dia perlu waktu yang ekstra untuk menyemirnya. Aku seringkali heran dengan kebiasaan kekasihku itu. Si Tuan perfectionist itu selalu saja membuang waktuku hanya untuk penampilannya agar terlihat sempurna. Menyebalkan? Memang... tapi dia selalu mengatakan hal yang akan membuatku luluh dalam sekejap. “Aku melakukan ini kan untukmu Chagi, Apa kamu tidak malu jika kekasihmu ini tidak enak dipandang.” Kata Lee Jong Hyeon ...


Kedua sudut bibirku tertarik ke atas. Apa lagi yang akan dia bawa untuk minta maaf atas keterlambatannya. Bunga sudah terlalu biasa, cokelat? Awas saja jika dia memberiku cokelat. Aku sudah mati matian menurunkan berat badanku hingga seideal ini. Baju baru? Hah.. yang benar saja. Baju pemberiannya kemarin bahkan belum ku sentuh. Aku bukan senang menerima pemberian itu, tapi aku lebih baik menghindari pertengkaran jika Jong Hyeon tau aku menolak pemberiannya.

“Aku merindukanmu, ayo kita bertemu saat makan siang.” Katanya dalam pesan yang dikirimkannya padaku tadi pagi.

Aku mencoba menghubungi Jong Hyeon  tapi dia  tidak menjawab “Yaa, Mungkin dia sedang di jalan.” Pikirku.

Tapi sudah satu jam dia membuatku menunggu. Seharusnya dia tahu kalau menunggu tidak semenyenangkan berbelanja atau pergi ke pusat kebugaran..

 Kaca jendela cafe itu menyuguhkan pemandangan sebuah mobil yang tidak asing. Audi A8 berwarna hitam mengkilap masuk ke area parkir. Aku akan menebak siapa yang akan keluar dari sana. Rambut keemasan akan menjadi pemandangan pertama yang  aku lihat, lalu sunglasses yang selalu menempel di hidungnya jika dia terpapar sinar matahari langsung. Lalu menuju ke bawah, aku akan menemukan  kemeja atau jas parlente yang dipadukan dengan sepatu seharga ratusan ribu dollar. Siapa lagi kalau bukan tuan perfectionist itu. Lee Jeong Hyeon.  Kali ini apa yang dia bawa?

Jong Hyeon turun dari mobilnya sama persis dengan tebakanku tadi, dan sebentar lagi dia akan membuka pintu mobil sebelah kanan untuk mengambil barang yang akan diberikan padaku.

Dia akan datang kepadaku, memcium keningku dan memberikan hadiah  yang dia bawa.. terlihat menyenangkan bukan? bagi setiap orang apa yang terjadi padaku terlihat sangat menyenangkan. Tapi bagiku hanya terkadang...

Dia membuka pintu mobil sebelah kanan, tapi kali ini tebakanku meleset. Aku tidak melihat dia mengambil bunga, boneka atau sejenisnya.

Seorang wanita dengan pakaian kantor resmi lah yang turun dari pintu mobilnya. Jong Hyeon melempar senyum pada wanita itu dan membantunya keluar dari mobil. Aku semakin ingin tahu apa yang mereka bicarakan hingga mereka saling melempar senyum. Tapi bukankah itu Kim Ji Won? Dia membawa Kim Ji Won saat kencan? Yang benar saja pria ini. Walaupun mereka sedang  bekerja di luar bersama, bukankah biasanya  Ji Won akan kembali ke kantor lebih dulu?

“Hyeon Jung-ah...” Panggil Jong Hyeon setelah aku mempersilakan mereka duduk.

“Hm? Apa kalian baru meeting di luar?” tanyaku sambil meneguk Frappe yang esnya telah mencair.

“Tidak, kami sengaja menemuimu.” Jawab Jong Hyeon

“ Kalian berdua? Sepertinya penting sekali..”

Jong Hyeon dan Ji Won tiba tiba berdiri dari tempat duduk mereka dan berlutut dihadapanku. Aku semakin tidak mengerti yang mereka lakukan.


“Yaak, apa yang kalian lakukan huh? Ini ditempat umum.”

“Hyeon Jung-ah, aku mohon maafkan aku.” Ji Won menangis dihadapanku. Dan Jong Hyeon  sama sekali tidak berani menatapku. Jong Hyeon yang  biasanya penuh  kejutan sekarang sedang berlutut dan tertunduk.

“Apa yang kalian lakukan berdirilah!” Aku semakin tidak nyaman. Beberapa pasang mata menatap ingin tahu apa yang terjadi. 

“ Aku...” kata ji Won

“Hyeon Jung-ah... maafkan aku.” Jong Hyeon memotong kalimat  Ji Won.

“Aku tidak mengerti kenapa kalian terus meminta maaf padaku seperti ini? Coba Jelaskan padaku apa yang...”

“Kami akan menikah...” Jawab Jong Hyeon.

“Mwo?” Aku tertawa dengan candaan yang benar benar tidak lucu itu. Tapi suasana semakin kaku tanpa ada reaksi apapun dari mereka berdua. Mereka berdua hanya tertunduk sambil terus berlutut.

“Kami akan menikah. Hyeon Jung-ah” Kata Jong Hyeon dengan wajah yang bahkan tidak berani dia tunjukkan padaku.

“Kalian?”

“Apa kau masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja  ku katakan?” Jong Hyeon berteriak kesal.

“Kalian? Menikah? Kenapa?” Entahlah apa yang sedang terjadi di otakku. Semuanya terasa kabur dan kemudian blank. Aku masih saja tidak mengerti maksud dari pernikahan diantara mereka.

“Karena aku mencintai Ji Won dan Ji Won juga mencintaiku. Terlebih...” Jong Hyeon menghentikan kalimatnya sebentar “...... dia mengandung anakku.” Lanjutnya.


****

Air mataku yang sedari tadi ku tahan dihadapan mereka akhirnya lolos begitu saja. Siang itu aku memutuskan untuk tidak kembali ke kantor. Hebat sekali Lee JongHyeon, setelah membawa bunga dan hadiah hadiah yang beragam, yang terakhir kali dibawanya padaku sebagai permintaan maaf adalah Kim Ji Won.

Lee Jong Hyeon, pria yang sudah hampir empat tahun ku kencani dan setahun lalu sudah bertunangan denganku itu kini malah akan menikahi wanita lain? Cih, wanita lain apanya? Dia bahkan sahabat yang kukenal sejak di sekolah menengah. Aku membantunya mencari pekerjaan dan bisa mempekerjakan Ji Won sebagai sekretaris Jong Hyeon. Tapi dia membalasku dengan mengambil Jong Hyeon dariku? Apa wanita yang mengambil kekasih sahabatnya  itu masih bisa kuanggap sahabat?

Sehari setelah insiden di cafe, semua pekerja di divisiku bahkan menatapku iba. Salah satu dari mereka menyaksikan aku dipermalukan di depan umum. Simpatipun berdatangan satu persatu. Ada yang hanya mengucapkan sebaris kata semangat, dan ada yang benar benar menghiburku, tapi kebanyakan dari mereka memilih membicarakanku di belakang. Menertawakan atau mengasihani... itu pilihan mereka.

Usiaku bukan remaja lagi, bahkan bulan depan aku sudah menginjak usia 33 tahun. Karirku melonjak seiring waktu. Tapi sayangnya kisah cintaku tidak seindah karirku dalam dunia fashion designer. Di usia 28 tahun aku sudah menjadi ketua tim design dan tiga bulan lagi aku dipromosikan menjadi manager pemasaran. Tapi kisah cintaku malah semakin tragis saja. Apa benar  kata orang orang. Wanita yang sukses dalam karir akan sulit mendapatkan cinta sejati. Apakah itu juga berlaku untukku? Apakah tidak ada kehidupan sesempurna yang aku harapkan?  Aku mengobati lukaku dulu dengan kehadiran Jong Hyeon perlahan. Tapi kali ini Jong Hyeon juga membuat luka ditempat yang sama.


Oh Hati.. apa kau baik baik saja?

Eomma adalah orang yang paling bahagia dengan hubungan kami, karena  kehadiran Jong Hyeon telah mengubah hari hariku yang pedih . Eomma selalu merengek agar aku segera menikah, dan dia sangat bahagia saat aku bertunangan dengan Jong Hyeon. Dia selalu mendesak agar pernikahan dilangsungkan secepatnya setelah pertunangan itu, tapi aku menolak karena pekerjaan di kantor masih banyak yang harus segera di selesaikan.  Yaah tentu saja,  Eomma mengkhawatirkan usiaku.

“Apa yang akan kukatakan pada Eomma? “ Aku mengacak acak rambutku.

****



Menghadiri pesta pernikahan mantan kekasih yang menikah dengan sahabatnya sendiri adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Tapi mau bagaimanapun, mantan kekasihku adalah atasanku di perusahaaan. Demi menghormati orang orang penting di perusahaan itulah alasanku menginjakkan kaki di pesta yang katanya mendadak namun sangat mewah dan terencana.


“Cukkae...” Kata itu yang muncul  dari mulutku setelah aku masuk menuju ruang pengantin wanita. Teman sekelas di Sekolah Menengahku dulu menatap canggung, persahabatan kami seakan diuji.


Ada yang mendukung Ji Won dan menertawakanku  dan tidak sedikit yang mengutuk perbuatan Ji Won karena mengambil kekasih sahabatnya dan menjadikannya suami.


“Eoh, Hyeon Jung-ah... Kau datang? ” Senyuman Ji Won yang merekah indah itu tertahan setelah mendapat ucapan selamat dariku.

“Apa aku tidak boleh datang di pernikahan sahabatku? Kau terlihat sangat cantik.” Jawabku santai.

“ Lihat tingkahnya, apa dia sedang basa basi sekarang?” Bisik salah satu teman SMA kami.

“Gomawo...” Jawab Ji Won canggung.

Apa  mereka bilang? aku sedang basa basi ditempat ini? Aku benar benar tulus mengatakannya.  Aku bisa saja mengutuk dua orang brengsek ini dengan kata kata paling kasar  di hadapan semua orang, tapi aku setengah mati menahannya.  Aku tidak bisa mengabaikan janin yang ada di perut Ji Won. Dia bahkan tidak berhak dikutuk atau dikatai brengsek seperti perbuatan orang tuanya. Karena janin kecil itu adalah korban dari hubungan perselingkuhan mereka. Oh tidak, daripada menyebutnya korban lebih baik menyebutnya malaikat kecil yang menyelamatkanku dari JongHyeon yang tidak setia.


Apa aku masih punya waktu untuk menangis karena dicampakkan sekarang?


“Kau jangan terlalu lelah, janinmu lebih penting dari apapun.”  Bisikku pada Ji Won.

“Seo Hyeon Jung! Apa yang kau lakukan di sini?” Teriak Lee Jong Hyeon.

“Ah, kau. Aku hanya mengucapkan selamat pada calon istrimu Lee sajangnim.  Aku juga akan segera pergi, selamat atas pernikahan kalian.” Aku berjalan keluar ruang pengantin wanita menuju ruang pesta.

“Gwaencanha? Hyeon Jung tidak mengatakan hal buruk padamu kan? Lagipula kenapa dia harus kemari. Merusak suasana saja.”

“Anniyo... dia hanya mengucapkan selamat atas pernikahan kita.”

“Aku yakin dia akan melakukan hal buruk padamu dan anak kita.” Kata Jong Hyeon

Entah pikiran buruk apa yang merasuki otak Jong Hyeon, memangnya salah aku masuk ke ruang pengantin wanita dan mengucapkan selamat?  Mengapa aku yang terlihat seperti monster yang akan mencabik Ji Won dan anak yang dikandungnya?  Memangnya aku merusak hubungan Jong Hyeon dan Ji Won? Bukankah kalian yang merusak kisah hidup sempurnaku?


****


Dunia sangat cepat berubah, kemarin duniaku  masih penuh cinta dari Jong Hyeon. Sekarang aku hanyalah wanita single yang ditinggal kekasihnya menikah dengan sahabatnya. Mengapa jodoh terlalu sulit untuk diterka.

Untuk menjadi tidak menyedihkan adalah sebuah keputusan yang harus kuambil dari pelajaran masa lalu.  Toh matahari masih terbit di sebelah timur  dan aku masih bisa bernafas walau harus menahan sakit hatiku . Bagiku tidak ada luka hati yang tidak bisa diobati,


Kecuali peristiwa  lima tahun yang lalu? Ah entahlah...  apa aku sudah berhasil mengobatinya atau aku hanya mengabaikan rasanya saja.


Manajer Hwan menugaskanku dan tim dalam acara Macau Fashion Musical. Sebuah pameran fashion kostum musikal. Acara ini sudah dilaksanakan dua tahun berturut- turut dan menyumbangkan pengaruh besar dalam mengukuhkan eksistensi perusahaan kami di dunia fashion musical di China.


“Gwajangnim, Gwaencanha?” Tanya anggota tim bawahanku yang  mengkhawatirkan mood kerjaku hari ini setelah pernikahan paling kontroversial  kemarin.


“Never been better Yeon Joo -ya..” Aku harus terlihat baik baik saja. Tidak peduli betapa luka akan pengkhianatan itu belum juga kering, tapi pekerjaan tetap harus dilakukan dengan profesional. Apalagi event sebesar ini yang mempertaruhkan nama baik  perusahaan. Profesionalitas ku sebagai ketua tim sangat dituntut.

Perusahaan tempatku bekerja mulai menekuni design untuk kostum musical sejak tiga tahun yang lalu dan tanggung jawab itu sudah diemban oleh tim kami sejak awal, jadi untuk pameran fashion musical di Macau ini semua sudah dipercayakan kepada timku.

“Uuuuuu.... ketua tim kita memang yang terbaik.”  Jawab mereka kompak. Tim kecil ini yang membuatku nyaman dalam pekerjaanku empat tahun terakhir, mereka adalah tim yang sudah seperti keluarga. Sangat menyenangkan bekerja bersama mereka sampai akhir dan sekarang? Lihat apa yang mereka lakukan. Menyemangati wanita menyedihkan  yang masih terluka dengan pernikahan kemarin itu.

“Kau pasti akan mendapatkan yang terbaik, percaya saja padaku.” Kata Kang Do Ri yang bertingkah sangat yakin dengan setiap kata yang diucapkannya.

Ne...ne... aku pasti percaya padamu. Jadi sudah siap ke Macau hari ini?”

Neee...........” Jawab mereka kompak.

Waktu akan menyembuhkan rasa sakitku, mengapa aku tidak mencoba melepaskanluka itu di luar sana?  bersama udara di luar, terikat dengan gumpalan awan yang menimbulkan turbulensi pesawatku yang terbang meninggalkan Seoul.


Meninggalkan keresahan tentang siapa sebenarnya yang akan mendampingiku di altar pernikahan dan menghabiskan seluruh hidupnya bersamaku. Takdir itu semakin hari semakin tidak bisa ditebak. Apa aku harus mengkhawatirkan sampai sedemikian itu?


***


Bandara Internasional Macau pada sore hari  menjadi tempat mendarat kami setelah melalui beberapa jam penerbangan yang tidak begitu lancar dan berputar putar diatas awan selama tiga puluh menit.
Beberapa dari tim ku menuju ke kamar kecil sementara aku menunggu di  deretan tempat duduk dalam bangunan megah itu. Bandara sibuk ini tidak berbeda dengan Incheon ataupun Gimpo. Lalu lalang penumpang dan awak kabin menjadi pemandangan biasa dan sama sekali tidak menarik perhatianku.

Aku mengaktifkan ponselku segera dan mendapati banyak pesan masuk dari Manajer Hwan dan tim design yang tetap tinggal di kantor.

“Seo Gwajangnim!” teriak Min Ji padaku. Refleks wajahku mendongak mencari arah suara itu.


Namun, alih alih mencari Min Ji yang memanggilku. Hatiku malah lebih terguncang dengan pemandangan yang baru saja berlalu dihadapanku. Parfum yang menguar dari seorang pria yang baru saja berhasil mengingatkanku pada seseorang. Punggung itu...

Gwajangnim.. Ayo. Mobil jemputan sudah datang.” Kata Min Ji setelah mengkonfirmasi mobil jemputan mereka yang ternyata mogok di jalan sejak sejam yang lalu.

Eoh, Ne....” Jawabku. Pandanganku tetap tertuju pada pria yang meninggalkan jejak parfum itu.

“Apa ada yang salah Seo Gwajangnim?”

“Eo? Anni... hanya saja seperti orang yang ku kenal.” Ucapku.

“Oooh, begitu... Ayo, mobil kita sudah menunggu.” Kata Min Ji.

***



Apa yang membuatmu tiba tiba mengenang seseorang di masa lalumu? 

Apakah Lagu yang kau nyanyikan bersamanya?

 Segala hal yang kau lakukan berdua?

Jalan yang selalu kau lewati bersama? 

Tempat dimana kau sering bepergian dengannya?  

Atau jika kau menemukan seseorang dengan nama yang sama?

Atau hanya sekedar wangi tubuhnya yang tidak pernah kau lupakan walaupun waktu telah 

berlalu sangat lama.

 Pada akhirnya, jika aku masih mengingatnya. Haruskah aku terus terbelenggu dalam masa lalu itu?


“Seo Gwajangnim, kita sudah sampai... Seo Gwajangnim..” Panggil Minji.

“Eoh?”

“Kita sudah sampai di Hotel..”

“Aaa..” Aku membuka pintu mobil dan menurunkan koper bawaanku, karena pameran akan dilaksanakan satu hari lagi, official Hotel Macau Fashion Musical telah dipadati oleh peserta dari berbagai negara. Semua akomodasi telah dipersiapkan oleh panitia pelaksana termasuk kamar hotel dan transportasi jadi kami hanya perlu memikirkan kostum kostum musical yang akan dipertunjukkan besok.


***


Panggung tertara sangat mewah dengan catwalk mengkilap. Dekorasi internasional yang  membuat semua penonton berdecak kagum, karena apapun yang dilakukan di Macau akan selalu mengagumkan. Mereka tidak pernah setengah hati mengerjakan sebuah proyek sebesar ini.


“ Aku dengar dari tim Tiongkok, kostum terbaik akan dikenakan oleh aktor musikal China pada penampilan drama musicalnya tahun depan. Anda sudah dengar?” Yeon Joo yang sedari tadi sedang berdiri di sampingku mulai menyebarkan info, rumor atau apapun yang dia dengar.


“Iya, aku sudah dengar.” Jawabku masih sibuk melihat dekorasi panggung yang spektakuler itu.


“ Anda tahu, dia sudah berkeliling dunia bermain drama musikal, dia sudah beberapa kali tampil di teater Broadway dan terakhir kali dia bermain di New Amsterdam.” Tambah Yeon Joo. Gadis ini selalu selangkah lebih maju dariku jika soal mencari informasi. Benar benar tidak salah jika aku mempekerjakan dia sebagai sekretaris andalanku.


“Dia pasti aktor yang hebat.” Jawabku. Lalu aku teringat pria yang ku lihat di pintu keberangkatan tadi. 


“ Tentu saja, seseorang yang mendedikasikan dirinya hanya untuk bermain di teater pasti aktor yang sangat hebat. “ Ucapnya yakin.


“Sepertinya kau tahu banyak, Yeon Joo-ya?”


“Semua orang di sini memperbincangkannya. Anda tidak memperhatikan? Dia seharusnya dijadwalkan hadir pada pembukaan hari ini. Tapi kakeknya semalam meninggal jadi dia membatalkan kedatangannya.”

“Ooh, Jadi begitu”



***



Hall Macau fashion musical sudah dipenuhi pengunjung dan tamu tamu undangan. Para model sudah siap tampil dan ada beberapa yang masih berdandan di ruang make up. Acara kali ini benar benar lebih meriah dari dua tahun sebelumnya karena sistem yang selalu diperbaiki dan  negara peserta yang lebih beragam.

Aku melihat beberapa poster dan stand banner diturunkan karena si aktor musikal itu batal menghadiri pembukaan. Entah apa yang menjadi pesona aktor musical itu hingga acara fashion  ini dipenuhi pengunjung yang ternyata hanya ingin melihatnya.

“Apa Gui Xian tidak jadi datang? Ah padahal aku bolos kuliahku dan kemari  hanya untuk menontonnya.” Seru seseorang di kursi pengunjung.

“Mereka harusnya tahu, orang orang kemari kan untuk melihat Gui Xian, mengapa mereka membatalkan kedatangannya. Memangnya siapa yang mau menonton acara fashion musical seperti ini? Kalau tau dia tidak datang aku juga tidak akan pergi kemari.”Kata seseorang di sampingnya.

Rasanya aku ingin sekali menyumpal mulut mulut busuk mereka. Memangnya apa yang salah dengan fashion musical? Lalu mengapa gadis gadis tidak sopan itu tetap disini jika si aktor idola mereka tidak datang. Memangnya ini  acara fanmeet? Lagipula karya karya peserta fashion musical ini juga tidak kalah mempesona dari aktor itu.

Ah aku harus tetap fokus pada pertunjukan rancangan kostum kostum musikal kami. Tidak terlalu mendengarkan ocehan gadis gadis itu mungkin hal terbaik yang bisa ku lakukan saat ini. Lagipula, itu kan urusan dia dengan aktor idolanya itu. Siapa? Gui Xian? Entahlah. Aku tidak paham siapa orang itu karena aku tidak begitu mengikuti perkembangan tentang aktor musikal China. Aku hanya berharap, si Gui Xian itu bisa memakai kostum hasil rancangan kami untuk musikalnya tahun depan. Kkkk.. apa aku terlalu egois?

Tapi sayang juga mengapa Gui Xian tidak datang, aku jadi tidak begitu paham karakter yang akan dibawakannya agar bisa menyesuaikan kostum mana yang cocok untuknya, paling tidak dia harus menampakkan wajahnya agar kami tahu kostum mana yang akan kami jadikan “main character” dalam acara ini.  Aah, jangankan datang untuk melihat seluruh acara. Pemotongan pita saja dia tidak bisa hadir. Tapi mau bagaimana lagi, kakeknya meninggal dan itu adalah hal di luar kendali semua orang. Kalau aku jadi Gui Xian pun aku akan tetap disana hingga acara penghormatan terakhir kakeknya usai.

Acara berakhir pukul lima sore dan semua peserta sedang membereskan perlengkapannya.  Kita hanya perlu mendengar hasilnya sehari kemudian pada gala dinner yang akan di laksanakan besok malam. Selain fashion musical, hal penting ke dua adalah gala dinner. Semua peserta datang dengan mengenakan pakaian rancangannya sendiri. Ini bukan soal mereka akan diperlombakan seperti acara sebelumnya, tapi tentang  gengsi dan harga diri. Seberapa hebat mereka merancang pakaiannya sendiri untuk dipakai di malam paling berkesan itu.

sebuah dress hitam  tanpa lengan dengan sedikit kilau di serat serat benangnya, necklace permata ruby yang cantik dan  stiletto merah marun  sepadan dengan warna lipstick yang kupakai mengantarkanku pada sebuah hotel bintang lima untuk gala dinner. Acara malam ini adalah penutupan Macau Fashion Musical. Semua yang sudah bekerja keras boleh berpesta sepuasnya setelah makan malam kaku dengan pelayan berderet di belakang menunggu perintah dari kita untuk menuangkan champagne atau membuka tudung saji eksklusif.


Selain makan malam  para designer  berbakat akan mengumbar kecongkakan mereka tentang prestasi dan karyanya dalam pesta yang akan berlangsung sampai pagi. Aku tidak begitu menyukai bagian ini. Dua tahun yang lalu aku meladeni desainer asal Eropa yang membanggakan seluruh karyanya hingga aku bahkan tidak bisa menikmati pesta karena mendengar ocehan ocehan itu. Aku tidak memotongnya bicara demi nama baik dan profesionalitas. Tapi lama kelamaan aku jengah juga.  Aku berada di sini bukan untuk menjadi tong sampah omongan orang lain. Aku juga ingin bersenang senang. Apalagi sekarang suasana hatiku tidak cukup baik setalah pernikahan Jong Hyeon dan JiWon. Bukankah berpesta bisa sedikit melampiaskan kekecewaanku pada kehidupan cintaku yang selalu gagal.


“... And The Winner iiiiiiiiiiiissss........” pembawa acara memberikan cukup banyak jeda untuk  membuat peserta merasakan adrenalinnya dipermainkan.

“ Claire Fashion from South Korea...” 

Meja kami mendapat sorotan lampu kemenangan. Yeon Joo dan Minji menangis saling berpelukan. Kang Do Ri dengan sangat bangga bangkit dari duduknya dan melambai ke semua tamu perwakilan negara. Sedangkan aku masih sibuk meyakinkan diri bahwa kami memenangkan kompetisi ini. Jang Tae Joon, satu satunya anggota pria di tim kami tersenyum bangga.

“Silahkan memberi pidato kemenangan.” MC mempersilakan perwakilan dari kami untuk memberi sambutan kemenangan. Setelahnya, MC masih memberikan satu kejutan lagi untuk kami. Yaitu sebuah VCR dari aktor kenamaan yang sedari kemarin disebut sebut dan menjadi magnet perebutan tropi desain kostum musical terbaik.

“Hallo selamat malam? Apa kalian menikmati makan malamnya?....”


Itu lah kalimat yang membuatku tiba tiba terperanjat lagi. Seperti seekor monyet yang sedang ceria bermain  lalu dilempar sebuah kerikil. Terkejut, sakit dan marah.

Aku menatap sebuah layar di depan panggung. Mencoba mengerjap ngerjapkan mata berkali kali dan meyakinkan diri, siapa yang sedang bicara di dalam video itu. Suaranya terdengar sama, postur tubuhnya, wajahnya hanya semakin gemuk di bagian pipi. Tapi tawanya tetap dengan irama yang tidak pernah berubah.

“Cho....”


“.......saya Gui Xian. Selamat bersenang senang....” Pungkasnya di akhir Video.


“Eoh? Gui Xian?”


“Waaaaah, daebak.. Gwajangnim. Itu Gui Xian yang akan memakai kostum kita! Aaaaa tampannya..”

Aku masih terkejut. Tubuhku sudah tidak lagi dalam keadaan baik baik saja. Bahkan champagne belum ku teguk tapi dadaku sudah berdebar dan tubuhku sudah panas. Kenapa Gui Xian itu mirip sekali dengannya?

****
Cho Kyuhyun menghadap keluar jendela memandang guguran daun maple dan menikmati wangi angin. Dia bersenandung, suaranya begitu indah dan aku sangat ingin mendengarnya lebih jelas.

“Oppa, bernyanyilah lebih keras agar aku mendengarnya.” Kataku yang masih berbaring dengan menangkupkan dua tanganku dibawah kepala.

“Shireo...” Jawabnya singkat lalu melanjutkan nyanyiannya.

“Wae?”

“Mendekatlah jika kau ingin mendengarnya dengan jelas.” Katanya.

Aku turun dari ranjang besar milik Kyuhyun yang sedari tadi memanjakanku dengan empuk dan hangatnya. Aku yang hanya memakai kemeja putih kedodoran miliknya itu langsung mendekat. Dia menarik tubuhku ke depan tubuhnya yang hanya memakai handuk mandi. Memelukku dari belakang. Membisikkan lagu yang sedang dinyanyikannya.

Ddaseuhaettdeon neoeui geu pumi
(pelukan hangatmu)

Oneulddara wae iri deo geuriunji.
(mengapa aku lebih merindukannya sekarang)

Geuddaeeui niga geunyang bogo sipeo geurae
(Karena aku merindukanmu pada waktu  itu)

Pelukannya mengerat. Wajahnya dibenamkan di ujung kepalaku dan menciuminya lembut. Dia lalu melanjutkan nyanyiannya, matanya terpejam dan terus bernyanyi. Aku sangat menikmatinya. Pelukan terhangat itu, suara lembut itu, lagu yang sangat menyentuh itu dan musim gugur yang tidak pernah terlupakan  itu.

“Aku mencintaimu, tetaplah disisiku, jangan pernah pergi dariku.” Ucap Kyuhyun padaku. Kata kata itu seakan mantra, mantra untuk membuatku menjadi mabuk dan semakin gila mencintainya.

“Nado... nado saranghae...” 
***

Pagi ini kami kembali ke Korea setelah menyelesaikan semua hal yang harus diurus demi kerjasama dengan pria yang mirip Cho Kyuhyun itu. Mereka mengatakan pertemuan bisa saja dilaksanakan di Macau lagi karena kesibukan Gui Xian di China tidak terbendung, dan kami menyetujuinya.

Kemarin, aku berharap sepulang dari Macau aku bisa sedikit lebih baik. Tapi nyatanya, Macau lah pukulan hebat  setelah Gala Dinner malam itu.

“Gui Xian,  Kyuhyun... ah aku bisa gila.”

Manajer pemasaran mengadakan rapat gabungan bersama anggota tim desain. Tentu saja tentang mega proyek musical Gui Xian selama satu tahun ke depan. Perusahaan kita akan bertanggung jawab atas kostum yang dipakai pada pementasan musicalnya.

“Yeon Joo-sshi, tolong cari semua informasi tentang Gui Xian dan musical apa saja yang pernah dia mainkan. Oh iya jangan lupa video performancenya. Kalau bisa cari yang official shoot.”

“Ne, Algeseumnida..” Jawab Cha Yeon Joo.

Mencari tahu bagi Cha Yeon Joo adalah sebuah keahlian yang sudah ditakdirkan untuk dimilikinya. Mungkin di kehidupan sebelumnya, dia adalah seorang detektif atau bahkan anjing pelacak. Dalam waktu kurang dari setengah hari. Lembaran lembaran informasi dan performance cam nya sudah berada di tanganku.

“Daebak, Seo Gwajangnim! Ternyata Gui Xian berdarah Korea murni!”

“Mworago?”

“ Ini adalah beberapa data yang berhasil saya kumpulkan dan ini adalah musical performance nya.” Kata Cha Yeon Joo menyerahkan tab dan beberapa lembar kertas yang berisi informasi  tentang Gui Xian.

Ini sudah keberapa kali aku terkejut sejak kepulanganku dari Macau. Tubuhku tiba tiba gemetar. Kakiku tidak sanggup menopang tubuhku yang semakin lemas. Pria itu?  Gui Xian benar benar Cho Kyu.. Hyun?

Aku membanting tubuhku ke kursi kerja, perasaanku membuncah, semakin kalut saja. Aku memijit mijit tengkukku, merasakan beban yang mungkin semakin berat jika harus bekerja sama dengan Kyuhyun.  Mengapa hal seperti ini kebetulan terjadi. Aku semakin cemas dan menggigit gigit bibir bawahku.

“Apakah aku harus menerima tanggung jawab ini?”

Tok tok...
Seseorang berdiri di depan ruanganku sejak satu menit yang lalu dan dia baru mengetuk pintu sekarang. Aku lebih terkejut lagi sekarang. Pria yang sedari tadi ku cari tahu berubah menjadi sosok yang nyata berada di hadapanku.

“Sudah lama tidak bertemu... Hyeon Jung ah”  Suaranya tak berubah sedikitpun. Lembut dan sedikit menggoda. Tapi itu tidak membuatku tenang. Jantungku berdetak semakin kencang dan tubuhku melemah lagi. Suaraku tertahan di tenggorokan, mengapa masih saja terasa? Munculnya Cho Kyuhyun bahkan Lebih menyakitkan dari kenyataan bahwa Jong Hyun mengkhianatiku dan  menikah dengan Ji Won.

“Kau...” Suaraku tercekat di tenggorokan, menyakitkan. Batu batu besar juga seakan menyusup di dadaku, membuatku sulit bernafas. Tatapan meneduhkan itu kembali mengintimidasiku, senyuman terbaiknya dulu, tanpa rasa bersalah dia tunjukkan kembali di depan mataku.

“Aku? Aku adalah orang yang baru saja kau lihat di tabletmu.” Jawab Cho Kyuhyun. “Hari ini aku akan mengadakan rapat dengan manajermu dan sebelum itu, aku ingin bertemu denganmu dulu.”

“ Proyek akan dimulai dua minggu lagi, dan tidak ada alasan bagimu menemuiku sekarang.”

“Aku sudah meminta kepada bosmu  agar kau yang bertanggung jawab atas kostumku besok. Dan beliau sudah setuju.”

“Mwo? Tanpa mendengarkan persetujuan dariku?”

“ Lalu jika itu perintah bosmu, apa kau akan menolak?”

Benar, aku tidak akan bisa menolak Manajer Hwan yang super keras kepala itu. Apalagi jika ini adalah permintaan Klien.

“Bagaimana ini? Aku harus menemui manajer Hwan..” Ucapnya sambil memeriksa jam di arlojinya. “Aku akan menemuimu jam 5, jadi jangan pergi kemanapun sebelum aku datang. Arra?” Kata Kyuhyun dengan senyumnya yang dulu selalu membuatku semakin menggilainya.

Lihat betapa seenaknya pria yang bahkan tidak sadar telah membuatku pernah hampir putus asa dengan hidupku itu.

“Jangan menemuiku seperti ini lagi.” Aku tidak percaya bahwa bibirku bisa mengatakan hal semacam ini pada Kyuhyun. Dulu ucapan Kyuhyun semacam sihir yang selalu membuatku tidak bisa menolak apapun yang dikatakannya. Yaaa, karena aku terlalu mencintainya.

“Eottohke? Bukankah kita akan bekerja sama . Bagaimana bisa kau menyuruhku untuk tidak “menemuimu? “

“Aku akan bicara dengan manajer Hwan...”

“Kita bicara nanti saja.  Manajer Hwan sudah menungguku. Mianhae Hyeon Jung-ah”


Apa yang akan kau lakukan jika seseorang yang meninggalkanmu begitu saja tiba tiba hadir tanpa merasa bersalah sedikitpun? Bahkan senyum itu... senyuman paling brengsek yang pernah aku temui.

Aku tidak mampu berkata apapun lagi Cukup dengan tidak muncul di kehidupanku adalah hal yang paling aku minta pada Tuhan. Biarkan pria itu hilang ditelan bumi dan aku sungguh tidak mau tahu lagi tentang kabarnya.

Pekerjaanku telah selesai. Jam tanganku menunjukkan pukul 4.45, masih lima belas menit lagi dari waktu yang Kyuhyun tentukan untuk bertemu. Aku benar benar ingin mengabaikannya dan pulang dengan tenang. Tapi mengapa untuk bangkit dari dudukku saja begitu sulit.

Apa aku benar benar ingin menemuinya?

Toktok.... kaca ruang kerjaku yang sudah terbuka itu diketuk dua kali.

“Pekerjaanmu sudah selesai?”

“ Ne?”  Suara itu lagi yang terdengar, membuat tanganku bergetar dan jantungku berdebar debar.

“Kau menungguku?” Tanya Kyuhyun dengan senyum yang tanpa ragu tersungging di bibirnya. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Mendekatiku dan duduk tepat di hadapanku. Aku menyembunyikan tanganku yang gemetar di balik meja. Mengapa aku begitu ketakutan?

“Tidak, aku hanya baru menyelesaikan pekerjaanku.”

“Sudah ku bilang kau harus menungguku!” Kyuhyun mengeluarkan jurus paksaannya yang dulu tidak pernah bisa ku tolak.

“Mengapa aku harus menunggumu?” Mataku mendelik, mencoba sekuat tenaga memandangnya dan mengatakan aku sudah baik baik saja. Aku tidak membutuhkanmu dan aku tidak pernah berharap untuk bertemu denganmu lagi, bahkan jika itu di kehidupan selanjutnya.

“Apa kau sudah menungguku begitu lama?”

“Sudah ku bilang aku tidak menunggumu.” Aku merapikan pekerjaan yang sudah ku selesaikan  diatas meja, mengambil tas jinjing hitam andalanku dan segera beranjak dari tempat duduk berniat meninggalkan Kyuhyun yang mulai bicara banyak. Ah, aku hanya tidak ingin disihir dengan kata katanya lagi. Jadi aku harus segera meninggalkannya sebelum aku tidak bisa menolak permintaannya.

“Apa saat itu kau menungguku begitu lama?”  Pertanyaannya membuatku mengurungkan niatku untuk pergi. Tiba tiba aku ingin mendengar setiap alasan yang akan dia katakan. Alasannya membuatku menunggu selama itu.

***
“Oppa, neo eoddiseo?”

“Ping...”

“Ping...”

“Ping....”

“Oppa, Appa dan Eomma mengkhawatirkanmu. Apa kau baik baik saja?”

“Oppa...”

“Pendeta sudah datang sejak tadi.”

“Kapan kau akan sampai?”

“Teman teman sudah menunggumu.”

“Oppa... ini sudah melebihi jam yang kita tentukan.”

“Oppa kau baik baik saja kan?”

“Oppa, kau akan datang kan? Aku yakin kau akan datang.”

“Oppa...”

Taman kecil di depan gereja akan menjadi tempat berlangsungnya pernikahan kami.  Aku, Seo Hyeon Jung dan kekasihku, Cho Kyuhyun. Aku sudah mengenakan pakaian pengantin berwarna putih yang sangat cantik, kami memilihnya saat berkunjung ke Paris bersama sama. Beradu pendapat tentang memilih gedung yang cocok untuk pernikahan , tapi kami malah menemukan  sebuah taman  gereja di Daegu. Udaranya sangat sejuk dan kami mendambakan sebuah pernikahan yang sederhana, hikmad dan hanya disaksikan kerabat dan teman teman terdekat saja.

Bunga bunga yang serba putih itu menghias di seluruh tepian. Altar pernikahan yang cantik itu sudah siap untuk menjadi saksi kami mengucap sumpah setia hingga maut memisahkan.

Tapi Cho Kyuhyun tidak pernah muncul. Pria yang seharusnya mengenakan tuxedo putih senada dengan gaun pengantinku itu tidak pernah muncul di upacara pernikahan kami.

Semua orang menghubunginya, termasuk aku. Tapi dia tidak pernah mengangkat teleponnya.  Hingga seluruh tamu merasa canggung dan memilih untuk pulang.

Aku tidak bisa menahan mereka, sungguh aku ingin menumpahkan air mataku. Tapi aku menahannya sekuat tenaga. Aku hanya berharap dia akan datang segera, jikapun terlambat setidaknya dia mengangkat teleponku. Aku sangat yakin seorang Cho Kyuhyun tidak akan mencampakkanku dengan cara seperti ini. Cho Kyuhyun yang ku kenal sangat mencintaiku.

“Oppa, kau akan datang kan?” Itu adalah pesan ke 224 yang aku kirimkan kepada Kyuhyun. Dan tidak ada satupun yang dia balas.

Matahari sudah bergerak turun, Ji Won membawaku kembali ke apartemen. Aku sudah tidak berdaya untuk menunggunya. Aku hampir jatuh pingsan hingga  Ji Won memutuskan untuk membawaku pulang.
Hari itu, dengan mengenakan baju pengantin yang sangat indah aku ditinggalkan oleh seorang pria. Pria yang aku cintai, pria yang juga mengatakan kalau dia sangat mencintaiku dalam sebuah pesta pernikahan yang sudah di rencanakan sejak dua tahun belakangan. 

Aku tidak pernah menyangka kisah seperti ini menimpa padaku. Aku pikir ini hanyalah kisah kisah dalam drama yang sangat mustahil untuk terjadi dalam dunia nyata. Seorang pria yang mencintaiku, tidak pernah datang ke pesta pernikahannya.

Apa kalimat “Seorang pria yang mencintaiku.” Masih berlaku sekarang?

***
Mianhae... Jeongmal Mianhae..” Kyuhyun meraih tanganku yang masih berdiri di memunggunginya. Tanganku gemetar mengingat saat saat pernikahanku yang gagal itu.

Aku melepaskan genggaman Kyuhyun pada tanganku dan meninggalkan dia di ruang kerjaku.

“ Aku harus pulang, dan aku anggap kita tidak pernah membicarakan ini.”

“ Aku ingin kau memaafkanku.”

“Maka jangan pernah menemuiku untuk membahas masa lalu kita. Aku benar benar tidak sudi mengingatnya.”

Ruangan berukuran empat kali empat meter yang berisi seluruh kelengkapan kerjaku menjadi saksi bisu pertemuan kami setelah sekian lama. Menyaksikan dua insan manusia yang memutuskan berpisah tanpa ucapan selamat tinggal.

Pikiranku kacau setengah mati, dan perasaanku dibuat tidak berdaya. Mengapa begitu menyakitkan? Kepergiannya yang tanpa salam perpisahan itu melekat erat di memori otakku walau telah tertumpuk berbagai macam ingatan menyakitkan yang lain. Bagiku, luka yang ditorehkan Kyuhyun, memiliki tempat tersendiri dalam hatiku. Apakah itu luka ataukah rasa yang masih tertinggal.
Aku sungguh ingin tahu, sangat ingin tahu alasan Kyuhyun meninggalkanku. Mengapa dia tidak membaca pesanku atau mengangkat teleponnya. Dia meninggalkanku tanpa sepatah katapun sebelumnya. Rasanya ingin mati saja saat itu.
Aku sungguh ingin memeluknya, ingin merengkuh tubuhnya di tubuhku. Bahkan saat dia berdiri dengan senyum yang bagai sihir itu. Aku ingin melenyapkan memori tentang pernikahan itu. Men-skip bagian bagian menyedihkan kisah cinta kami dan menangis bahagia karena kembali bertemu dengannya.
 Tapi janjiku untuk melupakan Kyuhyun selamanya itu, membuatku menahan diri untuk  tidak menanyakannya.  Pelukan yang ku harapkan itu,  semuanya sudah berakhir setelah hari itu. Biarkan rasa ingin tahuku mengendap sempurna. Biarkan aku melepaskan cinta pertamaku yang tidak pernah terlupakan itu.
***

No comments:

Post a Comment