Segelas Cappucino Frappe di hadapanku hampir mencair sempurna.
Menunggu Lee Jong Hyeon memang selalu
membuatku kesal. Kali ini apa lagi yang membuatnya terlambat? Satu kancing
kemejanya yang hilang hingga dia harus pulang mengganti dengan kemeja yang baru
atau sepatunya kurang mengkilap hingga dia perlu waktu yang ekstra untuk
menyemirnya. Aku seringkali heran dengan kebiasaan kekasihku itu. Si Tuan
perfectionist itu selalu saja membuang waktuku hanya untuk penampilannya agar
terlihat sempurna. Menyebalkan? Memang... tapi dia selalu mengatakan hal yang
akan membuatku luluh dalam sekejap. “Aku melakukan ini kan untukmu Chagi, Apa
kamu tidak malu jika kekasihmu ini tidak enak dipandang.” Kata Lee Jong Hyeon ...
Kedua sudut bibirku tertarik ke atas. Apa lagi yang akan dia
bawa untuk minta maaf atas keterlambatannya. Bunga sudah terlalu biasa,
cokelat? Awas saja jika dia memberiku cokelat. Aku sudah mati matian menurunkan
berat badanku hingga seideal ini. Baju baru? Hah.. yang benar saja. Baju
pemberiannya kemarin bahkan belum ku sentuh. Aku bukan senang menerima
pemberian itu, tapi aku lebih baik menghindari pertengkaran jika Jong Hyeon tau
aku menolak pemberiannya.
“Aku merindukanmu, ayo kita bertemu saat makan siang.”
Katanya dalam pesan yang dikirimkannya padaku tadi pagi.
Aku mencoba menghubungi Jong Hyeon tapi dia
tidak menjawab “Yaa, Mungkin dia sedang di jalan.” Pikirku.
Tapi sudah satu jam dia membuatku menunggu. Seharusnya dia tahu kalau menunggu tidak semenyenangkan berbelanja atau pergi ke pusat kebugaran..
Tapi sudah satu jam dia membuatku menunggu. Seharusnya dia tahu kalau menunggu tidak semenyenangkan berbelanja atau pergi ke pusat kebugaran..
Kaca jendela cafe itu
menyuguhkan pemandangan sebuah mobil yang tidak asing. Audi A8 berwarna hitam
mengkilap masuk ke area parkir. Aku akan menebak siapa yang akan keluar dari
sana. Rambut keemasan akan menjadi pemandangan pertama yang aku lihat, lalu sunglasses yang selalu menempel
di hidungnya jika dia terpapar sinar matahari langsung. Lalu menuju ke bawah, aku akan menemukan kemeja atau jas
parlente yang dipadukan dengan sepatu seharga ratusan ribu dollar. Siapa lagi
kalau bukan tuan perfectionist itu. Lee Jeong Hyeon. Kali ini apa yang dia bawa?
Jong Hyeon turun dari mobilnya sama persis dengan tebakanku
tadi, dan sebentar lagi dia akan membuka pintu mobil sebelah kanan untuk
mengambil barang yang akan diberikan padaku.
Dia akan datang kepadaku, memcium keningku dan memberikan
hadiah yang dia bawa.. terlihat
menyenangkan bukan? bagi setiap orang apa yang terjadi padaku
terlihat sangat menyenangkan. Tapi bagiku hanya terkadang...
Dia membuka pintu mobil sebelah kanan, tapi kali ini
tebakanku meleset. Aku tidak melihat dia mengambil bunga, boneka atau
sejenisnya.
Seorang wanita dengan pakaian kantor resmi lah yang turun
dari pintu mobilnya. Jong Hyeon melempar senyum pada wanita itu dan membantunya
keluar dari mobil. Aku semakin ingin tahu apa yang mereka bicarakan hingga
mereka saling melempar senyum. Tapi bukankah itu Kim Ji Won? Dia membawa Kim Ji
Won saat kencan? Yang benar saja pria ini. Walaupun mereka sedang bekerja di luar bersama, bukankah biasanya Ji Won akan kembali ke kantor lebih dulu?
“Hyeon Jung-ah...” Panggil Jong Hyeon setelah aku
mempersilakan mereka duduk.
“Hm? Apa kalian baru meeting di luar?” tanyaku sambil
meneguk Frappe yang esnya telah mencair.
“Tidak, kami sengaja menemuimu.” Jawab Jong Hyeon
“ Kalian berdua? Sepertinya penting sekali..”
Jong Hyeon dan Ji Won tiba tiba berdiri dari tempat duduk
mereka dan berlutut dihadapanku. Aku semakin tidak mengerti yang mereka
lakukan.
“Yaak, apa yang kalian lakukan huh? Ini ditempat umum.”
“Hyeon Jung-ah, aku mohon maafkan aku.” Ji Won menangis
dihadapanku. Dan Jong Hyeon sama sekali
tidak berani menatapku. Jong Hyeon yang
biasanya penuh kejutan sekarang sedang berlutut dan
tertunduk.
“Apa yang kalian lakukan berdirilah!” Aku semakin tidak
nyaman. Beberapa pasang mata menatap ingin tahu apa yang terjadi.
“ Aku...” kata ji Won
“Hyeon Jung-ah... maafkan aku.” Jong Hyeon memotong kalimat Ji Won.
“Aku tidak mengerti kenapa kalian terus meminta maaf padaku
seperti ini? Coba Jelaskan padaku apa yang...”
“Kami akan menikah...” Jawab Jong Hyeon.
“Mwo?” Aku tertawa dengan candaan yang benar benar tidak
lucu itu. Tapi suasana semakin kaku tanpa ada reaksi apapun dari mereka berdua.
Mereka berdua hanya tertunduk sambil terus berlutut.
“Kami akan menikah. Hyeon Jung-ah” Kata Jong Hyeon dengan wajah
yang bahkan tidak berani dia tunjukkan padaku.
“Kalian?”
“Apa kau masih tidak mengerti dengan apa yang baru saja ku katakan?” Jong Hyeon berteriak kesal.
“Kalian? Menikah? Kenapa?” Entahlah apa yang sedang terjadi
di otakku. Semuanya terasa kabur dan kemudian blank. Aku masih saja tidak
mengerti maksud dari pernikahan diantara mereka.
“Karena aku mencintai Ji Won dan Ji Won juga mencintaiku.
Terlebih...” Jong Hyeon menghentikan kalimatnya sebentar “...... dia mengandung
anakku.” Lanjutnya.
****
Air mataku yang sedari tadi ku tahan dihadapan mereka
akhirnya lolos begitu saja. Siang itu aku memutuskan untuk tidak kembali ke
kantor. Hebat sekali Lee JongHyeon, setelah membawa bunga dan hadiah hadiah yang
beragam, yang terakhir kali dibawanya padaku sebagai permintaan maaf adalah Kim
Ji Won.
Lee Jong Hyeon, pria yang sudah hampir empat tahun ku
kencani dan setahun lalu sudah bertunangan denganku itu kini malah akan
menikahi wanita lain? Cih, wanita lain apanya? Dia bahkan sahabat yang kukenal
sejak di sekolah menengah. Aku membantunya mencari pekerjaan dan bisa
mempekerjakan Ji Won sebagai sekretaris Jong Hyeon. Tapi dia membalasku dengan
mengambil Jong Hyeon dariku? Apa wanita yang mengambil kekasih sahabatnya itu masih bisa kuanggap sahabat?
Sehari setelah insiden di cafe, semua pekerja di divisiku
bahkan menatapku iba. Salah satu dari mereka menyaksikan aku dipermalukan di depan umum. Simpatipun berdatangan satu persatu.
Ada yang hanya mengucapkan sebaris kata semangat, dan ada yang benar benar
menghiburku, tapi kebanyakan dari mereka memilih membicarakanku di belakang.
Menertawakan atau mengasihani... itu pilihan mereka.
Usiaku bukan remaja lagi, bahkan bulan depan aku sudah
menginjak usia 33 tahun. Karirku melonjak seiring waktu. Tapi sayangnya kisah
cintaku tidak seindah karirku dalam dunia fashion designer. Di usia 28 tahun
aku sudah menjadi ketua tim design dan tiga bulan lagi aku dipromosikan menjadi
manager pemasaran. Tapi kisah cintaku malah semakin tragis saja. Apa benar kata orang orang. Wanita yang sukses dalam
karir akan sulit mendapatkan cinta sejati. Apakah itu juga berlaku untukku?
Apakah tidak ada kehidupan sesempurna yang aku harapkan? Aku
mengobati lukaku dulu dengan kehadiran Jong Hyeon perlahan. Tapi kali ini Jong Hyeon
juga membuat luka ditempat yang sama.
Oh Hati.. apa kau baik baik saja?
Oh Hati.. apa kau baik baik saja?
Eomma adalah orang yang paling bahagia dengan hubungan kami,
karena kehadiran Jong Hyeon telah mengubah
hari hariku yang pedih . Eomma selalu merengek agar aku segera menikah, dan dia
sangat bahagia saat aku bertunangan dengan Jong Hyeon. Dia selalu mendesak agar
pernikahan dilangsungkan secepatnya setelah pertunangan itu, tapi aku menolak
karena pekerjaan di kantor masih banyak yang harus segera di selesaikan. Yaah tentu saja, Eomma mengkhawatirkan usiaku.
“Apa yang akan kukatakan pada Eomma? “ Aku mengacak acak
rambutku.
****
Menghadiri pesta pernikahan mantan kekasih yang menikah
dengan sahabatnya sendiri adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Tapi
mau bagaimanapun, mantan kekasihku adalah atasanku di perusahaaan. Demi
menghormati orang orang penting di perusahaan itulah alasanku menginjakkan
kaki di pesta yang katanya mendadak namun sangat mewah dan terencana.
“Cukkae...” Kata itu yang muncul dari mulutku setelah aku masuk menuju ruang
pengantin wanita. Teman sekelas di Sekolah Menengahku dulu menatap canggung,
persahabatan kami seakan diuji.
Ada yang mendukung Ji Won dan menertawakanku dan tidak sedikit yang mengutuk perbuatan Ji Won karena mengambil kekasih sahabatnya dan menjadikannya suami.
Ada yang mendukung Ji Won dan menertawakanku dan tidak sedikit yang mengutuk perbuatan Ji Won karena mengambil kekasih sahabatnya dan menjadikannya suami.
“Eoh, Hyeon Jung-ah... Kau datang? ” Senyuman Ji Won yang merekah
indah itu tertahan setelah mendapat ucapan selamat dariku.
“Apa aku tidak boleh datang di pernikahan sahabatku? Kau
terlihat sangat cantik.” Jawabku santai.
“ Lihat tingkahnya, apa dia sedang basa basi sekarang?”
Bisik salah satu teman SMA kami.
“Gomawo...” Jawab Ji Won canggung.
Apa mereka bilang?
aku sedang basa basi ditempat ini? Aku benar benar tulus
mengatakannya. Aku bisa saja mengutuk
dua orang brengsek ini dengan kata kata paling kasar di hadapan semua
orang, tapi aku setengah mati menahannya.
Aku tidak bisa mengabaikan janin yang ada di perut Ji Won. Dia bahkan tidak
berhak dikutuk atau dikatai brengsek seperti perbuatan orang tuanya. Karena
janin kecil itu adalah korban dari hubungan perselingkuhan mereka. Oh tidak,
daripada menyebutnya korban lebih baik menyebutnya malaikat kecil yang
menyelamatkanku dari JongHyeon yang tidak setia.
Apa aku masih punya waktu untuk menangis karena dicampakkan sekarang?
Apa aku masih punya waktu untuk menangis karena dicampakkan sekarang?
“Kau jangan terlalu lelah, janinmu lebih penting dari
apapun.” Bisikku pada Ji Won.
“Seo Hyeon Jung! Apa yang kau lakukan di sini?” Teriak Lee
Jong Hyeon.
“Ah, kau. Aku hanya mengucapkan selamat pada calon istrimu
Lee sajangnim. Aku juga akan segera pergi, selamat atas pernikahan kalian.”
Aku berjalan keluar ruang pengantin wanita menuju ruang pesta.
“Gwaencanha? Hyeon Jung tidak mengatakan hal buruk padamu kan?
Lagipula kenapa dia harus kemari. Merusak suasana saja.”
“Anniyo... dia hanya mengucapkan selamat atas pernikahan
kita.”
“Aku yakin dia akan melakukan hal buruk padamu dan anak
kita.” Kata Jong Hyeon
Entah pikiran buruk apa yang merasuki otak Jong Hyeon,
memangnya salah aku masuk ke ruang pengantin wanita dan mengucapkan selamat? Mengapa aku yang terlihat seperti monster yang akan mencabik Ji Won dan anak yang dikandungnya? Memangnya aku merusak hubungan
Jong Hyeon dan Ji Won? Bukankah kalian yang merusak kisah hidup sempurnaku?
****
Dunia sangat cepat berubah, kemarin duniaku masih penuh cinta dari Jong Hyeon. Sekarang
aku hanyalah wanita single yang ditinggal kekasihnya menikah dengan sahabatnya.
Mengapa jodoh terlalu sulit untuk diterka.
Untuk menjadi tidak menyedihkan adalah sebuah keputusan yang harus kuambil dari pelajaran masa lalu. Toh matahari masih terbit di sebelah timur dan aku masih bisa bernafas walau harus menahan sakit hatiku . Bagiku tidak ada luka hati yang tidak bisa diobati,
Kecuali peristiwa lima tahun yang lalu? Ah entahlah... apa aku sudah berhasil mengobatinya atau aku hanya mengabaikan rasanya saja.
Untuk menjadi tidak menyedihkan adalah sebuah keputusan yang harus kuambil dari pelajaran masa lalu. Toh matahari masih terbit di sebelah timur dan aku masih bisa bernafas walau harus menahan sakit hatiku . Bagiku tidak ada luka hati yang tidak bisa diobati,
Kecuali peristiwa lima tahun yang lalu? Ah entahlah... apa aku sudah berhasil mengobatinya atau aku hanya mengabaikan rasanya saja.
Manajer Hwan menugaskanku dan tim dalam acara Macau Fashion
Musical. Sebuah pameran fashion kostum musikal. Acara ini sudah dilaksanakan
dua tahun berturut- turut dan menyumbangkan pengaruh besar dalam mengukuhkan
eksistensi perusahaan kami di dunia fashion musical di China.
“Gwajangnim, Gwaencanha?” Tanya anggota tim bawahanku
yang mengkhawatirkan mood kerjaku hari
ini setelah pernikahan paling kontroversial kemarin.
“Never been better Yeon Joo -ya..” Aku harus terlihat baik
baik saja. Tidak peduli betapa luka akan pengkhianatan itu belum juga kering,
tapi pekerjaan tetap harus dilakukan dengan profesional. Apalagi event sebesar
ini yang mempertaruhkan nama baik
perusahaan. Profesionalitas ku sebagai ketua tim sangat dituntut.
Perusahaan tempatku bekerja mulai menekuni design untuk
kostum musical sejak tiga tahun yang lalu dan tanggung jawab itu sudah diemban
oleh tim kami sejak awal, jadi untuk pameran fashion musical di Macau ini semua
sudah dipercayakan kepada timku.
“Uuuuuu.... ketua tim kita memang yang terbaik.” Jawab mereka kompak. Tim kecil ini yang
membuatku nyaman dalam pekerjaanku empat tahun terakhir, mereka adalah tim yang
sudah seperti keluarga. Sangat menyenangkan bekerja bersama mereka sampai akhir
dan sekarang? Lihat apa yang mereka lakukan. Menyemangati wanita menyedihkan yang masih terluka dengan pernikahan kemarin
itu.
“Kau pasti akan mendapatkan yang terbaik, percaya saja
padaku.” Kata Kang Do Ri yang bertingkah sangat yakin dengan setiap kata yang
diucapkannya.
“Ne...ne... aku pasti percaya padamu. Jadi sudah siap ke Macau
hari ini?”
“ Neee...........” Jawab mereka kompak.
Waktu akan menyembuhkan rasa sakitku, mengapa aku tidak
mencoba melepaskanluka itu di luar sana? bersama udara di luar, terikat dengan gumpalan
awan yang menimbulkan turbulensi pesawatku yang terbang meninggalkan Seoul.
Meninggalkan keresahan tentang siapa sebenarnya yang akan
mendampingiku di altar pernikahan dan menghabiskan seluruh hidupnya bersamaku.
Takdir itu semakin hari semakin tidak bisa ditebak. Apa aku harus
mengkhawatirkan sampai sedemikian itu?
***
Bandara Internasional Macau pada sore hari menjadi tempat mendarat kami setelah melalui
beberapa jam penerbangan yang tidak begitu lancar dan berputar putar diatas
awan selama tiga puluh menit.
Beberapa dari tim ku menuju ke kamar kecil sementara aku
menunggu di deretan tempat duduk dalam
bangunan megah itu. Bandara sibuk ini tidak berbeda dengan Incheon ataupun
Gimpo. Lalu lalang penumpang dan awak kabin menjadi pemandangan biasa dan sama
sekali tidak menarik perhatianku.
Aku mengaktifkan ponselku segera dan mendapati banyak pesan
masuk dari Manajer Hwan dan tim design yang tetap tinggal di kantor.
“Seo Gwajangnim!” teriak Min Ji padaku. Refleks wajahku
mendongak mencari arah suara itu.
Namun, alih alih mencari Min Ji yang memanggilku. Hatiku malah lebih terguncang dengan pemandangan yang baru saja berlalu dihadapanku. Parfum yang menguar dari seorang pria yang baru saja berhasil mengingatkanku pada seseorang. Punggung itu...
Namun, alih alih mencari Min Ji yang memanggilku. Hatiku malah lebih terguncang dengan pemandangan yang baru saja berlalu dihadapanku. Parfum yang menguar dari seorang pria yang baru saja berhasil mengingatkanku pada seseorang. Punggung itu...
“Gwajangnim.. Ayo. Mobil jemputan sudah datang.” Kata Min Ji
setelah mengkonfirmasi mobil jemputan mereka yang ternyata mogok di jalan sejak
sejam yang lalu.
“Eoh, Ne....” Jawabku. Pandanganku tetap tertuju pada pria
yang meninggalkan jejak parfum itu.
“Apa ada yang salah Seo Gwajangnim?”
“Eo? Anni... hanya saja seperti orang yang ku kenal.”
Ucapku.
“Oooh, begitu... Ayo, mobil kita sudah menunggu.” Kata Min
Ji.
***
Apa yang membuatmu tiba
tiba mengenang seseorang di masa lalumu?
Apakah Lagu yang kau nyanyikan bersamanya?
Segala hal yang kau lakukan berdua?
Jalan yang selalu kau lewati bersama?
Tempat dimana kau sering bepergian dengannya?
Atau jika kau menemukan seseorang dengan nama yang sama?
Atau hanya sekedar wangi tubuhnya yang tidak pernah kau lupakan walaupun waktu telah
berlalu sangat lama.
Pada akhirnya, jika aku masih mengingatnya. Haruskah aku terus terbelenggu dalam masa lalu itu?
Apakah Lagu yang kau nyanyikan bersamanya?
Segala hal yang kau lakukan berdua?
Jalan yang selalu kau lewati bersama?
Tempat dimana kau sering bepergian dengannya?
Atau jika kau menemukan seseorang dengan nama yang sama?
Atau hanya sekedar wangi tubuhnya yang tidak pernah kau lupakan walaupun waktu telah
berlalu sangat lama.
Pada akhirnya, jika aku masih mengingatnya. Haruskah aku terus terbelenggu dalam masa lalu itu?
“Seo Gwajangnim, kita sudah sampai... Seo Gwajangnim..” Panggil Minji.
“Eoh?”
“Kita sudah sampai di Hotel..”
“Aaa..” Aku membuka pintu mobil dan menurunkan koper bawaanku,
karena pameran akan dilaksanakan satu hari lagi, official Hotel Macau Fashion
Musical telah dipadati oleh peserta dari berbagai negara. Semua akomodasi telah
dipersiapkan oleh panitia pelaksana termasuk kamar hotel dan transportasi jadi
kami hanya perlu memikirkan kostum kostum musical yang akan dipertunjukkan
besok.
***
Panggung tertara sangat mewah dengan catwalk mengkilap. Dekorasi internasional yang membuat semua penonton berdecak kagum, karena
apapun yang dilakukan di Macau akan selalu mengagumkan. Mereka tidak pernah
setengah hati mengerjakan sebuah proyek sebesar ini.
“ Aku dengar dari tim Tiongkok, kostum terbaik akan
dikenakan oleh aktor musikal China pada penampilan drama musicalnya tahun
depan. Anda sudah dengar?” Yeon Joo yang sedari tadi sedang berdiri di
sampingku mulai menyebarkan info, rumor atau apapun yang dia dengar.
“Iya, aku sudah dengar.” Jawabku masih sibuk melihat
dekorasi panggung yang spektakuler itu.
“ Anda tahu, dia sudah berkeliling dunia bermain drama
musikal, dia sudah beberapa kali tampil di teater Broadway dan terakhir kali dia bermain di New
Amsterdam.” Tambah Yeon Joo. Gadis ini selalu selangkah lebih maju dariku jika
soal mencari informasi. Benar benar tidak salah jika aku mempekerjakan dia
sebagai sekretaris andalanku.
“Dia pasti aktor yang hebat.” Jawabku. Lalu aku teringat pria yang ku lihat di pintu keberangkatan tadi.
“ Tentu saja, seseorang yang mendedikasikan dirinya hanya
untuk bermain di teater pasti aktor yang sangat hebat. “ Ucapnya yakin.
“Sepertinya kau tahu banyak, Yeon Joo-ya?”
“Semua orang di sini memperbincangkannya. Anda tidak memperhatikan? Dia seharusnya dijadwalkan hadir pada pembukaan hari ini. Tapi kakeknya semalam meninggal jadi dia membatalkan kedatangannya.”
“Ooh, Jadi begitu”
***
Hall Macau fashion musical sudah dipenuhi pengunjung dan tamu tamu undangan. Para model sudah siap tampil dan ada beberapa yang masih berdandan di ruang make up. Acara kali ini benar benar lebih meriah dari dua tahun sebelumnya karena sistem yang selalu diperbaiki dan negara peserta yang lebih beragam.
Aku melihat beberapa poster dan stand banner diturunkan
karena si aktor musikal itu batal menghadiri pembukaan. Entah apa yang menjadi
pesona aktor musical itu hingga acara fashion ini dipenuhi pengunjung yang ternyata hanya
ingin melihatnya.
“Apa Gui Xian tidak jadi datang? Ah padahal aku bolos
kuliahku dan kemari hanya untuk
menontonnya.” Seru seseorang di kursi pengunjung.
“Mereka harusnya tahu, orang orang kemari kan untuk melihat
Gui Xian, mengapa mereka membatalkan kedatangannya. Memangnya siapa yang mau
menonton acara fashion musical seperti ini? Kalau tau dia tidak datang aku juga
tidak akan pergi kemari.”Kata seseorang di sampingnya.
Rasanya aku ingin sekali menyumpal mulut mulut busuk mereka.
Memangnya apa yang salah dengan fashion musical? Lalu mengapa gadis gadis tidak
sopan itu tetap disini jika si aktor idola mereka tidak datang. Memangnya
ini acara fanmeet? Lagipula karya karya
peserta fashion musical ini juga tidak kalah mempesona dari aktor itu.
Ah aku harus tetap fokus pada pertunjukan rancangan kostum
kostum musikal kami. Tidak terlalu mendengarkan ocehan gadis gadis itu mungkin
hal terbaik yang bisa ku lakukan saat ini. Lagipula, itu kan urusan dia dengan
aktor idolanya itu. Siapa? Gui Xian? Entahlah. Aku tidak paham siapa orang itu
karena aku tidak begitu mengikuti perkembangan tentang aktor musikal China. Aku
hanya berharap, si Gui Xian itu bisa memakai kostum hasil rancangan kami untuk
musikalnya tahun depan. Kkkk.. apa aku terlalu egois?
Tapi sayang juga mengapa Gui Xian tidak datang, aku jadi
tidak begitu paham karakter yang akan dibawakannya agar bisa menyesuaikan kostum
mana yang cocok untuknya, paling tidak dia harus menampakkan wajahnya agar kami
tahu kostum mana yang akan kami jadikan “main character” dalam acara ini. Aah, jangankan datang untuk melihat seluruh
acara. Pemotongan pita saja dia tidak bisa hadir. Tapi mau bagaimana lagi,
kakeknya meninggal dan itu adalah hal di luar kendali semua orang. Kalau aku
jadi Gui Xian pun aku akan tetap disana hingga
acara penghormatan terakhir kakeknya usai.
Acara berakhir pukul lima sore dan semua peserta sedang
membereskan perlengkapannya. Kita hanya
perlu mendengar hasilnya sehari kemudian pada gala dinner yang akan di
laksanakan besok malam. Selain fashion musical, hal penting ke dua adalah gala
dinner. Semua peserta datang dengan mengenakan pakaian rancangannya sendiri.
Ini bukan soal mereka akan diperlombakan seperti acara sebelumnya, tapi
tentang gengsi dan harga diri. Seberapa
hebat mereka merancang pakaiannya sendiri untuk dipakai di malam paling
berkesan itu.
sebuah dress hitam
tanpa lengan dengan sedikit kilau di serat serat benangnya, necklace
permata ruby yang cantik dan stiletto
merah marun sepadan dengan warna
lipstick yang kupakai mengantarkanku pada sebuah hotel bintang lima untuk gala
dinner. Acara malam ini adalah penutupan Macau Fashion Musical. Semua yang
sudah bekerja keras boleh berpesta sepuasnya setelah makan malam kaku dengan pelayan
berderet di belakang menunggu perintah dari kita untuk menuangkan champagne
atau membuka tudung saji eksklusif.
Selain makan malam
para designer berbakat akan mengumbar
kecongkakan mereka tentang prestasi dan karyanya dalam pesta yang akan
berlangsung sampai pagi. Aku tidak begitu menyukai bagian ini. Dua tahun yang
lalu aku meladeni desainer asal Eropa yang membanggakan seluruh karyanya hingga
aku bahkan tidak bisa menikmati pesta karena mendengar ocehan ocehan itu. Aku
tidak memotongnya bicara demi nama baik dan profesionalitas. Tapi lama kelamaan
aku jengah juga. Aku berada di sini
bukan untuk menjadi tong sampah omongan orang lain. Aku juga ingin bersenang senang.
Apalagi sekarang suasana hatiku tidak cukup baik setalah pernikahan Jong Hyeon
dan JiWon. Bukankah berpesta bisa sedikit melampiaskan kekecewaanku pada
kehidupan cintaku yang selalu gagal.
“... And The Winner iiiiiiiiiiiissss........” pembawa acara
memberikan cukup banyak jeda untuk membuat peserta merasakan adrenalinnya
dipermainkan.
“ Claire Fashion from South Korea...”
Meja kami mendapat sorotan lampu kemenangan. Yeon Joo dan
Minji menangis saling berpelukan. Kang Do Ri dengan sangat bangga bangkit dari
duduknya dan melambai ke semua tamu perwakilan negara. Sedangkan aku masih sibuk meyakinkan
diri bahwa kami memenangkan kompetisi ini. Jang Tae Joon, satu satunya anggota
pria di tim kami tersenyum bangga.
“Silahkan memberi pidato kemenangan.” MC mempersilakan
perwakilan dari kami untuk memberi sambutan kemenangan. Setelahnya, MC masih
memberikan satu kejutan lagi untuk kami. Yaitu sebuah VCR dari aktor kenamaan
yang sedari kemarin disebut sebut dan menjadi magnet perebutan tropi desain
kostum musical terbaik.
“Hallo selamat malam? Apa kalian menikmati makan
malamnya?....”
Itu lah kalimat yang membuatku tiba tiba terperanjat lagi. Seperti seekor monyet yang sedang ceria bermain lalu dilempar sebuah kerikil. Terkejut, sakit dan marah.
Aku menatap sebuah layar di depan panggung. Mencoba
mengerjap ngerjapkan mata berkali kali dan meyakinkan diri, siapa yang sedang
bicara di dalam video itu. Suaranya terdengar sama, postur tubuhnya, wajahnya
hanya semakin gemuk di bagian pipi. Tapi tawanya tetap dengan irama yang tidak
pernah berubah.
“Cho....”
“.......saya Gui Xian. Selamat bersenang senang....” Pungkasnya di akhir Video.
“Eoh? Gui Xian?”
“Waaaaah, daebak.. Gwajangnim. Itu Gui Xian yang akan memakai kostum kita! Aaaaa tampannya..”
Aku masih terkejut. Tubuhku sudah tidak lagi dalam keadaan
baik baik saja. Bahkan champagne belum ku teguk tapi dadaku sudah berdebar dan
tubuhku sudah panas. Kenapa Gui Xian itu mirip sekali dengannya?
****
Cho Kyuhyun menghadap
keluar jendela memandang guguran daun maple dan menikmati wangi angin. Dia
bersenandung, suaranya begitu indah dan aku sangat ingin mendengarnya lebih
jelas.
“Oppa, bernyanyilah
lebih keras agar aku mendengarnya.” Kataku yang masih berbaring dengan
menangkupkan dua tanganku dibawah kepala.
“Shireo...” Jawabnya
singkat lalu melanjutkan nyanyiannya.
“Wae?”
“Mendekatlah jika kau
ingin mendengarnya dengan jelas.” Katanya.
Aku turun dari ranjang
besar milik Kyuhyun yang sedari tadi memanjakanku dengan empuk dan hangatnya.
Aku yang hanya memakai kemeja putih kedodoran miliknya itu langsung mendekat.
Dia menarik tubuhku ke depan tubuhnya yang hanya memakai handuk mandi.
Memelukku dari belakang. Membisikkan lagu yang sedang dinyanyikannya.
Ddaseuhaettdeon neoeui geu pumi
(pelukan hangatmu)
Oneulddara wae iri deo geuriunji.
(mengapa aku lebih merindukannya sekarang)
Geuddaeeui niga geunyang bogo sipeo geurae
(Karena aku merindukanmu pada waktu itu)
Pelukannya mengerat.
Wajahnya dibenamkan di ujung kepalaku dan menciuminya lembut. Dia lalu
melanjutkan nyanyiannya, matanya terpejam dan terus bernyanyi. Aku sangat
menikmatinya. Pelukan terhangat itu, suara lembut itu, lagu yang sangat
menyentuh itu dan musim gugur yang tidak pernah terlupakan itu.
“Aku mencintaimu,
tetaplah disisiku, jangan pernah pergi dariku.” Ucap Kyuhyun padaku. Kata kata
itu seakan mantra, mantra untuk membuatku menjadi mabuk dan semakin gila
mencintainya.
“Nado... nado saranghae...”
***
Pagi ini kami kembali ke Korea setelah menyelesaikan semua
hal yang harus diurus demi kerjasama dengan pria yang mirip Cho Kyuhyun itu. Mereka
mengatakan pertemuan bisa saja dilaksanakan di Macau lagi karena kesibukan Gui
Xian di China tidak terbendung, dan kami menyetujuinya.
Kemarin, aku berharap sepulang dari Macau aku bisa sedikit
lebih baik. Tapi nyatanya, Macau lah pukulan hebat setelah Gala Dinner malam itu.
“Gui Xian, Kyuhyun...
ah aku bisa gila.”
Manajer pemasaran mengadakan rapat gabungan bersama anggota
tim desain. Tentu saja tentang mega proyek musical Gui Xian selama satu tahun
ke depan. Perusahaan kita akan bertanggung jawab atas kostum yang dipakai pada
pementasan musicalnya.
“Yeon Joo-sshi, tolong cari semua informasi tentang Gui Xian
dan musical apa saja yang pernah dia mainkan. Oh iya jangan lupa video
performancenya. Kalau bisa cari yang official shoot.”
“Ne, Algeseumnida..” Jawab Cha Yeon Joo.
Mencari tahu bagi Cha Yeon Joo adalah sebuah keahlian yang
sudah ditakdirkan untuk dimilikinya. Mungkin di kehidupan sebelumnya, dia
adalah seorang detektif atau bahkan anjing pelacak. Dalam waktu kurang dari
setengah hari. Lembaran lembaran informasi dan performance cam nya sudah berada
di tanganku.
“Daebak, Seo Gwajangnim! Ternyata Gui Xian berdarah Korea
murni!”
“Mworago?”
“ Ini adalah beberapa data yang berhasil saya kumpulkan dan
ini adalah musical performance nya.” Kata Cha Yeon Joo menyerahkan tab dan
beberapa lembar kertas yang berisi informasi
tentang Gui Xian.
Ini sudah keberapa kali aku terkejut sejak kepulanganku dari
Macau. Tubuhku tiba tiba gemetar. Kakiku tidak sanggup menopang tubuhku yang
semakin lemas. Pria itu? Gui Xian benar
benar Cho Kyu.. Hyun?
Aku membanting tubuhku ke kursi kerja, perasaanku membuncah,
semakin kalut saja. Aku memijit mijit tengkukku, merasakan beban yang mungkin
semakin berat jika harus bekerja sama dengan Kyuhyun. Mengapa hal seperti ini kebetulan terjadi.
Aku semakin cemas dan menggigit gigit bibir bawahku.
“Apakah aku harus menerima tanggung jawab ini?”
Tok tok...
Seseorang berdiri di depan ruanganku sejak satu menit yang
lalu dan dia baru mengetuk pintu sekarang. Aku
lebih terkejut lagi sekarang. Pria yang sedari tadi ku cari tahu berubah
menjadi sosok yang nyata berada di hadapanku.
“Sudah lama tidak bertemu... Hyeon Jung ah” Suaranya tak berubah sedikitpun. Lembut dan
sedikit menggoda. Tapi itu tidak membuatku tenang. Jantungku berdetak semakin
kencang dan tubuhku melemah lagi. Suaraku tertahan di tenggorokan, mengapa masih
saja terasa? Munculnya Cho Kyuhyun bahkan Lebih menyakitkan dari kenyataan
bahwa Jong Hyun mengkhianatiku dan
menikah dengan Ji Won.
“Kau...” Suaraku tercekat di tenggorokan, menyakitkan. Batu
batu besar juga seakan menyusup di dadaku, membuatku sulit bernafas. Tatapan
meneduhkan itu kembali mengintimidasiku, senyuman terbaiknya dulu, tanpa rasa
bersalah dia tunjukkan kembali di depan mataku.
“Aku? Aku adalah orang yang baru saja kau lihat di
tabletmu.” Jawab Cho Kyuhyun. “Hari ini aku akan mengadakan rapat dengan
manajermu dan sebelum itu, aku ingin bertemu denganmu dulu.”
“ Proyek akan dimulai dua minggu lagi, dan tidak ada alasan
bagimu menemuiku sekarang.”
“Aku sudah meminta kepada bosmu agar kau yang bertanggung jawab atas kostumku
besok. Dan beliau sudah setuju.”
“Mwo? Tanpa mendengarkan persetujuan dariku?”
“ Lalu jika itu perintah bosmu, apa kau akan menolak?”
Benar, aku tidak akan bisa menolak Manajer Hwan yang super
keras kepala itu. Apalagi jika ini adalah permintaan Klien.
“Bagaimana ini? Aku harus menemui manajer Hwan..” Ucapnya
sambil memeriksa jam di arlojinya. “Aku akan menemuimu jam 5, jadi jangan pergi
kemanapun sebelum aku datang. Arra?” Kata Kyuhyun dengan senyumnya yang dulu
selalu membuatku semakin menggilainya.
Lihat betapa seenaknya pria yang bahkan tidak sadar telah
membuatku pernah hampir putus asa dengan hidupku itu.
“Jangan menemuiku seperti ini lagi.” Aku tidak percaya bahwa
bibirku bisa mengatakan hal semacam ini pada Kyuhyun. Dulu ucapan Kyuhyun
semacam sihir yang selalu membuatku tidak bisa menolak apapun yang
dikatakannya. Yaaa, karena aku terlalu mencintainya.
“Eottohke? Bukankah kita akan bekerja sama . Bagaimana bisa
kau menyuruhku untuk tidak “menemuimu? “
“Aku akan bicara dengan manajer Hwan...”
“Kita bicara nanti saja.
Manajer Hwan sudah menungguku. Mianhae Hyeon Jung-ah”
Apa yang akan kau lakukan jika seseorang yang meninggalkanmu
begitu saja tiba tiba hadir tanpa merasa bersalah sedikitpun? Bahkan senyum
itu... senyuman paling brengsek yang pernah aku temui.
Aku tidak mampu berkata apapun lagi Cukup dengan tidak
muncul di kehidupanku adalah hal yang paling aku minta pada Tuhan. Biarkan pria
itu hilang ditelan bumi dan aku sungguh tidak mau tahu lagi tentang kabarnya.
Pekerjaanku telah selesai. Jam tanganku menunjukkan pukul
4.45, masih lima belas menit lagi dari waktu yang Kyuhyun tentukan untuk bertemu.
Aku benar benar ingin mengabaikannya dan pulang dengan tenang. Tapi mengapa
untuk bangkit dari dudukku saja begitu sulit.
Apa aku benar benar ingin menemuinya?
Toktok.... kaca ruang kerjaku yang sudah terbuka itu diketuk
dua kali.
“Pekerjaanmu sudah selesai?”
“ Ne?” Suara itu lagi
yang terdengar, membuat tanganku bergetar dan jantungku berdebar debar.
“Kau menungguku?” Tanya Kyuhyun dengan senyum yang tanpa
ragu tersungging di bibirnya. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana.
Mendekatiku dan duduk tepat di hadapanku. Aku menyembunyikan tanganku yang
gemetar di balik meja. Mengapa aku begitu ketakutan?
“Tidak, aku hanya baru menyelesaikan pekerjaanku.”
“Sudah ku bilang kau harus menungguku!” Kyuhyun mengeluarkan
jurus paksaannya yang dulu tidak pernah bisa ku tolak.
“Mengapa aku harus menunggumu?” Mataku mendelik, mencoba
sekuat tenaga memandangnya dan mengatakan aku sudah baik baik saja. Aku tidak
membutuhkanmu dan aku tidak pernah berharap untuk bertemu denganmu lagi, bahkan
jika itu di kehidupan selanjutnya.
“Apa kau sudah menungguku begitu lama?”
“Sudah ku bilang aku tidak menunggumu.” Aku merapikan
pekerjaan yang sudah ku selesaikan
diatas meja, mengambil tas jinjing hitam andalanku dan segera beranjak
dari tempat duduk berniat meninggalkan Kyuhyun yang mulai bicara banyak. Ah,
aku hanya tidak ingin disihir dengan kata katanya lagi. Jadi aku harus segera
meninggalkannya sebelum aku tidak bisa menolak permintaannya.
“Apa saat itu kau menungguku begitu lama?” Pertanyaannya membuatku mengurungkan niatku
untuk pergi. Tiba tiba aku ingin mendengar setiap alasan yang akan dia katakan.
Alasannya membuatku menunggu selama itu.
***
“Oppa, neo eoddiseo?”
“Ping...”
“Ping...”
“Ping....”
“Oppa, Appa dan Eomma
mengkhawatirkanmu. Apa kau baik baik saja?”
“Oppa...”
“Pendeta sudah datang
sejak tadi.”
“Kapan kau akan
sampai?”
“Teman teman sudah
menunggumu.”
“Oppa... ini sudah
melebihi jam yang kita tentukan.”
“Oppa kau baik baik
saja kan?”
“Oppa, kau akan datang
kan? Aku yakin kau akan datang.”
“Oppa...”
Taman kecil di depan
gereja akan menjadi tempat berlangsungnya pernikahan kami. Aku, Seo Hyeon Jung dan kekasihku, Cho
Kyuhyun. Aku sudah mengenakan pakaian pengantin berwarna putih yang sangat
cantik, kami memilihnya saat berkunjung ke Paris bersama sama. Beradu pendapat
tentang memilih gedung yang cocok untuk pernikahan , tapi kami malah menemukan sebuah taman gereja di Daegu. Udaranya sangat sejuk dan
kami mendambakan sebuah pernikahan yang sederhana, hikmad dan hanya disaksikan
kerabat dan teman teman terdekat saja.
Bunga bunga yang serba
putih itu menghias di seluruh tepian. Altar pernikahan yang cantik itu sudah
siap untuk menjadi saksi kami mengucap sumpah setia hingga maut memisahkan.
Tapi Cho Kyuhyun tidak
pernah muncul. Pria yang seharusnya mengenakan tuxedo putih senada dengan gaun
pengantinku itu tidak pernah muncul di upacara pernikahan kami.
Semua orang
menghubunginya, termasuk aku. Tapi dia tidak pernah mengangkat teleponnya. Hingga seluruh tamu merasa canggung dan
memilih untuk pulang.
Aku tidak bisa menahan
mereka, sungguh aku ingin menumpahkan air mataku. Tapi aku menahannya sekuat
tenaga. Aku hanya berharap dia akan datang segera, jikapun terlambat setidaknya
dia mengangkat teleponku. Aku sangat yakin seorang Cho Kyuhyun tidak akan
mencampakkanku dengan cara seperti ini. Cho Kyuhyun yang ku kenal sangat
mencintaiku.
“Oppa, kau akan datang
kan?” Itu adalah pesan ke 224 yang aku kirimkan kepada Kyuhyun. Dan tidak ada
satupun yang dia balas.
Matahari sudah
bergerak turun, Ji Won membawaku kembali ke apartemen. Aku sudah tidak berdaya
untuk menunggunya. Aku hampir jatuh pingsan hingga Ji Won memutuskan untuk membawaku pulang.
Hari itu, dengan
mengenakan baju pengantin yang sangat indah aku ditinggalkan oleh seorang pria.
Pria yang aku cintai, pria yang juga mengatakan kalau dia sangat mencintaiku
dalam sebuah pesta pernikahan yang sudah di rencanakan sejak dua tahun
belakangan.
Aku tidak pernah
menyangka kisah seperti ini menimpa padaku. Aku pikir ini hanyalah kisah kisah
dalam drama yang sangat mustahil untuk terjadi dalam dunia nyata. Seorang pria
yang mencintaiku, tidak pernah datang ke pesta pernikahannya.
Apa kalimat “Seorang
pria yang mencintaiku.” Masih berlaku sekarang?
***
“Mianhae...
Jeongmal Mianhae..” Kyuhyun meraih tanganku yang masih berdiri di
memunggunginya. Tanganku gemetar mengingat saat saat pernikahanku yang gagal
itu.
Aku melepaskan genggaman Kyuhyun pada tanganku dan
meninggalkan dia di ruang kerjaku.
“ Aku harus pulang, dan aku anggap kita tidak pernah
membicarakan ini.”
“ Aku ingin kau memaafkanku.”
“Maka jangan pernah menemuiku untuk membahas masa lalu kita.
Aku benar benar tidak sudi mengingatnya.”
Ruangan berukuran empat kali empat meter yang berisi seluruh
kelengkapan kerjaku menjadi saksi bisu pertemuan kami setelah sekian lama.
Menyaksikan dua insan manusia yang memutuskan berpisah tanpa ucapan selamat
tinggal.
Pikiranku kacau setengah mati, dan perasaanku dibuat tidak
berdaya. Mengapa begitu menyakitkan? Kepergiannya yang tanpa salam perpisahan
itu melekat erat di memori otakku walau telah tertumpuk berbagai macam ingatan
menyakitkan yang lain. Bagiku, luka yang ditorehkan Kyuhyun, memiliki tempat
tersendiri dalam hatiku. Apakah itu luka ataukah rasa yang masih tertinggal.
Aku sungguh ingin tahu, sangat ingin tahu alasan Kyuhyun
meninggalkanku. Mengapa dia tidak membaca pesanku atau mengangkat teleponnya. Dia
meninggalkanku tanpa sepatah katapun sebelumnya. Rasanya ingin mati saja saat
itu.
Aku sungguh ingin memeluknya, ingin merengkuh tubuhnya di
tubuhku. Bahkan saat dia berdiri dengan senyum yang bagai sihir itu. Aku ingin
melenyapkan memori tentang pernikahan itu. Men-skip bagian bagian menyedihkan
kisah cinta kami dan menangis bahagia karena kembali bertemu dengannya.
Tapi janjiku untuk
melupakan Kyuhyun selamanya itu, membuatku menahan diri untuk tidak menanyakannya. Pelukan yang ku harapkan itu, semuanya sudah berakhir setelah hari itu. Biarkan
rasa ingin tahuku mengendap sempurna. Biarkan aku melepaskan cinta pertamaku
yang tidak pernah terlupakan itu.
***
No comments:
Post a Comment