Friday, January 22, 2016

Never Say Goodbye (2/3)

Malam ini aku tidak ingin kopi, aku tidak mau terjaga sepanjang malam mengingat siapa yang kutemui di kantor tadi sore. Semua sudah berakhir, dan aku juga perlu bicara dengan Manajer Hwan agar meminta bawahanku yang menangani kostum musical Kyuhyun besok.



Segelas susu cereal yang masih setengah penuh itu menjadi teman pergolakan hatiku yang sedang sangat pedih.

“Bukankah harusnya aku tidur saja dan melupakan yang terjadi hari ini.” Aku menuju ranjang tidurku, meraih selimut dan mematikan lampu di nakas sebelah kanan.

Ketika suasana hatiku tidak baik, seseorang yang selalu datang padaku adalah Ji Won. Tapi agak canggung sekarang, terlebih dia sudah mencuri kekasihku dan menjadikannya suami.

“Ji Won, sayang sekali persahabatan kita menjadi serumit ini.”

Menyayangkan semua yang terjadi kemudian bersyukur, lalu kemudian terpukul dan terluka lagi. Aaah, hari hariku semakin berat saja akhir akhir ini. Sedikit melelahkan...
****
“Kenapa wanita setua ini masih suka permen kapas huh?” Aku tidak menjawab pertanyaannya. Apa bagimu itu pertanyaan? Itu bahkan lebih terlihat seperti ejekan. Mataku masih terfokus dengan gumpalan manis itu. Tidak peduli pertanyaan Kyuhyun yang sebenarnya sedikit menjengkelkan.

“Yaak! Kau mengabaikanku karena permen kapas?”

“Kau mau coba?”

“Shireo.. pria sepertiku tidak seharusnya menyukai sesuatu yang manis.” Jawabnya tanpa sekalipun menatap ke arahku.

“Wae? Apa pria terlihat tidak maskulin kalau menyukai sesuatu yang manis?”

“Mungkin semacam itu.”

“Hish, pemikiran macam apa yang kau katakan itu.”

“Hyeon Jung-ah, aku sudah memilikimu. Lalu apa aku masih butuh sesuatu yang lebih manis lagi? Kau yang paling manis sampai akhir!”

“Aigooo... Menjengkelkan.” Aku mencubit gumpalan permen kapas dalam genggamanku dan menyodorkannya tepat di bibir Kyuhyun. “Aaaa....”

“Shireo...”

“Aaaaa....” Aku tidak mau menyerah walau Kyuhyun menolak.

“Shireoo...” Kyuhyun pun bersikeras menolak.

“ Kau benar benar tidak mau? Aku bersumpah tidak akan mau menonton pertunjukanmu lagi kalau begitu.”  Ancamanku dengan sedikit wajah sedih nan polos yang membuat tangan Kyuhyun meraih tanganku dan melahap sendiri permen kapasnya.

Lotte World malam itu, setelah pertunjukan musicalnya selesai. Kyuhyun membawaku berputar putar di area permainan. Saat itu Kyuhyun masih menjadi pemain pendukung musical anak anak dalam festival liburan musim panas di Lotte.

“Kau harus menjadi penonton terdepanku apapun yang terjadi. Kau harus menjadi penonton setiaku walaupun aku hanya tampil satu atau dua menit di panggung itu. Arra?”

“E’em...” Aku menganggukkan kepala dan menikmati permen kapas yang tinggal setengah itu. “Aku bahkan akan menjadi penonton terdepan walaupun kau hanya tampil lima detik di panggung itu.”

“Aigoo, gadis ini.” Kyuhyun membelai rambutku yang tergerai lalu menarik kepalaku agar bersandar di bahunya. Dan menyanyikan lagu favoritku.
bogopa bogopaseo geudaega bogopaso
(Ingin melihatmu... ingin melihatmu.. karena aku sangat ingin melihatmu)

ije nan seupgwancheoreom geudae ireumman bureuneyo oneuldo
(sekarang, aku seperti memiliki kebiasaan ini. Memanggil namamu dengan kencang. Seperti hari ini.

haruharuga jugeul geotman gateun eotteoke haeya haeyo
(Setiap hari setiap hari ini seperti akan membunuhku. Apa yang harus aku lakukan?)

saranghae saranghaeyo geudaereul saranghaeyo
(mencintaimu...mencintaimu..aku mencintaimu)

maljocha motagoseo geudaereul geureoke bonaenneyo
(Aku bahkan tidak berbicara apapun, aku hanya membiarkanmu pergi)

mianhae mianhaeyo naemari deullinayo
(maafkan...maafkan aku. Apa kau mendengarkan perkataanku?)

dwineuseun nae gobaegeul geudaen deureul su isseulkkayo
(Pengakuan terakhirku. Apakah kau mendengarnya?)
saranghaeyo
(Aku mencintaimu)


***


Ciih, benar benar apa yang salah dengan hidupku ini. Terjaga sepanjang malam akan mengingatkanku padanya. Tidur secepat malah membuatku memimpikannya. Mimpi tentang cerita masa lalu yang... ah sulit sekali jika harus kembali ke masa itu. Terlalu membahagiakan...

“Eonni... Guumoning!!  Ireona! Kau janji padaku hari ini akan membelikan handphone baru.” Gadis SMA yang super menyebalkan itu membuka pintu kamarku seenaknya.

“Min Jung-ah, Kapan kau masuk?”

“Baru saja.. Ah Eonniku yang menyedihkan. Haruskah bangun sesiang ini karena ditinggal kekasihnya menikah dengan Ji Won Eonni, huh?’

“Neo...?”

“Mwo? Wae? Kenapa aku tahu? Semua orang di Daegu juga tahu kau tidak jadi menikah dengan Jong Hyeon Oppa.”

“Jinjja? Lalu Eomma?”

“Dia khawatir padamu jadi dia mengirimku kemari. Oh iya, lagipula kau bilang padaku akan membelikanku handphone baru sepulang dari Macau. “

“Ciih, kau kemari karena hal yang kedua.”

“Yaaak, setidaknya ucapkan terimakasih karena aku membawakan banyak makanan dari Eomma.” Katanya sambil menunjuk kulkas di dapur.

“Geurom, aku harus berterimakasih pada Eomma, bukan padamu.”

“Apapun, Cepat mandi dan belikan aku Handphone baru.” Seo Min Jung mendelik, dia sudah mengeratkan giginya karena kesal.

“Hmm... Arraseo.”  Meledek adikku satu satunya ini memang menyenangkan. Temperamennya entah diturunkan oleh siapa. Eomma penyabar dan ayah yang suka mengalah, tidak ada yang semeledak ledak dia. Aku sering menggodanya dan meledeknya bahwa dia anak angkat dari Gelandangan Seoul. Kemudian dia tidak pulang ke rumah selama 3 hari. Semua anggota keluargaku mencarinya di semua sudut kota Daegu. Tapi dia malah ditemukan di Seoul setelah tersesat selama dua hari. Alasannya adalah, dia ingin mencari orang tua kandungnya seperti yang aku ceritakan padanya. Eomma hanya menggeleng kepala dengan tingkahku. Dan Ayah, dia menasehatiku dengan bijaksana agar tidak membuat Min Jung berpikiran demikian lagi “Mengertilah adikmu Hyeon-ah. Dia masih remaja dan emosinya belum stabil. Bisakah kau mengerti dia sedikit?.” Kata Ayah padaku.

Saat itu aku sangat menyesalinya dan aku berjanji membuatnya bahagia untuk menebus kesalahanku saat itu. Aku benar benar menyayanginya... adik cerewet dan menyebalkan itu.

Hari sabtu tentu saja hari yang sibuk di pusat perbelanjaan. Gadis ini selalu saja membeli lebih dari yang dia minta. Aku sudah membelikannya handphone, dia masih tergiur dengan tas gendong keluaran terbaru. Belum kaos kaos yang dia minta. Untung saja aku tidak tinggal dengannya setiap hari. Bisa bisa tabunganku terkuras habis untuk memenuhi nafsu belanjanya yang menggila.

“Eonni, ayo lihat sepatu...”

“Yak! Sudah berapa tas belanjaan yang kau bawa itu? Kau mau menghabiskan tabunganku huh?”

“eonni, memangnya selain untuk dirimu sendiri. Uang yang kau hasilkan itu untuk siapa?”

“Ne...ne.... lakukan apapun yang kau mau dengan uangku.”
Min Jung tersenyum menang, tidak ada salahnya jika hari ini aku membelanjakannya sebanyak ini. Sudah 2 bulan aku tidak bertemu dengannya, dan gadis ini semakin liar saja dalam urusan belanja. Sepertinya aku tidak boleh sering sering menemuinya.

Dia lebih dulu masuk ke outlet sepatu, aku menunggu di luar karena masih menerima telepon dari Manajer Hwan.  Ini kan hari libur. Mengapa masih membahas pekerjaan? Bukankah senin masih dua hari lagi. Aku menggerutu kesal siang itu.

Outlet terlihat ramai dan aku tidak tertarik untuk masuk ke dalam.  Terlebih setelah manajer Hwan menelepon dengan segudang pekerjaan yang harus ku lakukan. Aku hanya ingin pulang dan menyelesaikan permintaannya. Kemudian tidur sampai pagi.


“Min Jung-ah kau sudah menemukan...” Min Jung keluar dari outlet dengan dua tas berisi sepatu yang entah berapa harganya. Aku sudah syok melihat dua tas belanja tambahan itu, berapa uang yang sudah dia keluarkan untuk sepatu sepatu itu.  Min Jung dengan wajah ceria, keluar dari outlet diikuti seorang pria. Dan lagi, takdir apa yang membawanya bertemu denganku di tempat seluas ini.

“Eonni, aku bertemu dengan Oppa matematikaku di dalam. Lihat dia sekarang, tampan bukan?”

“Annyeong, Hyeon Jung-sshi.” Sapa Kyuhyun dengan senyum sepihaknya.

Aku  tidak membalas salamnya ataupun pertanyaan adikku. Semuanya terlihat canggung setelah mata kami saling bertemu. Mata cokelat itu, aku tidak bisa berlama lama menatapnya. Karena di sana, pernah ada bayangan diriku tersenyum bahagia bersamanya. Mata yang meneduhkan itu, yang paling ingin aku pandangi setiap bersamanya, pada  akhirnya menjadi bagian yang paling ingin aku hindari saat bertemu dengannya.

“Bagaimana kalau aku traktir makan? Di lantai atas ada restoran yang enak.” Tanya Kyuhyun pada Min Jung.

“Bagaimana kalau kalian berdua saja, aku masih ingin melihat lihat.” Jawabku.

“Waee?  Eonni, kau yang dari tadi mengomel karena  lapar. Kenapa sekarang ingin berbelanja?”

“Ayo lah...” Bujuk Kyuhyun diikuti wajah memohon Min Jung.

“Ayolah Eonni..”

Aku ingin menolak tapi aku juga tidak ingin menjelaskan apapun pada Min Jung jika aku menolaknya.  Akhirnya aku mengikuti langkah semangat mereka di depanku. Kyuhyun seakan tidak peduli padaku dan hanya memperhatikan adikku. Kalau begitu, kenapa dia mengajakku juga. Aku baik baik saja jika mereka hanya makan berdua. Itu lebih melegakan.

Setelah memesan makanan dan Min Jung menceritakan pertemuannya dengan Oppa matematikanya itu, pertemuan itu juga  asal mula mengapa Min Jung membawa dua tas belanja setelah keluar dari outlet.

“Eonni, Oppa membelikanku sepasang sepatu.”

“Kyuhyun-sshi, kau seharusnya tidak perlu melakukannya. Dia sudah membawa dompetku ke dalam.” Ucapku.

“Apa salahnya membelikan sepatu untuk adikku?” Ucap Kyuhyun.

“Adikmu?” Aku mengejek ucapannya. Siapa? Adiknya? Min Jung? Seo Min Jung? Adiknya? Hah... yang benar saja pria ini.  Kalau Seo Min Jung adiknya. Lalu siapa Seo Hyeon Jung?

“Min Jung sudah seperti adikku sendiri.”

Dia benar benar tidak perlu sejauh ini untuk kembali mengingatkanku pada masa lalu. Mendengar namanya disebut saja hatiku masih bergetar. Kenapa harus membahas tentang  keluargaku sekarang?

“Bagaimana kabar Eommeonim?”

“Keumanhae...” Aku meletakkan sendok dan garpuku diatas piring. “ tidak bisakah kita hanya makan lalu pulang?”

Min Jung yang sudah mengerti ada ketegangan diantara kami akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet, sepertinya memberi kami waktu untuk bicara. Padahal aku ingin tetap diam sampai akhir dan tidak membahas apapun tentang ‘kita’

“Kau tidak perlu sejauh ini, Kyuhyun-sshi.” Aku mulai angkat bicara.

“ Aku benar benar bahagia bisa bertemu denganmu lagi.” Senyum sepihaknya terukir lagi di bibirnya.

“Hah, bahagia katamu?”

“ Kau tidak?” Dia membulatkan matanya. Memasang telinganya lebar lebar untuk mendengar jawabanku.

“Aku? Bahagia? Aku tidak tahu dimana kenangan tentangmu yang membuatku bahagia.” Aku meremas ujung bajuku menahan perasaan yang sedari tadi tersangkut di tenggorokanku. Tidak mampu diungkapkan

Kalau saja kau tahu. Semua yang kujalani bersamamu dulu adalah kebahagiaan. Tentu saja, sebelum kau meninggalkanku di pernikahan itu.

“ Setidaknya kau dulu pernah tertawa bersamaku.”

“Keumanhae Kyuhyun-sshi.” Suaraku bergetar, kristal kristal bening telah terbentuk di kedua mataku. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak membahasnya lagi?”


“ Apa.... kau sangat terluka?”


Aku membisu, menahan air mataku yang hampir jatuh itu tidak mudah. Aku tidak ingin mengenang masa lalu lebih banyak lagi dan segera mengakhiri makan siangku.


“Aku akan menyusul Min Jung di toilet dan langsung pulang. Kau pulang lah.”


Aku berdiri meninggalkannya yang masih terus membicarakan masa lalu.


“Mianhae.... Hyeon Jung-sshi.” Itu adalah kata terakhir Kyuhyun sesaat sebelum aku meninggalkannya. Kata yang membuatku mematung sesaat sebelum akhirnya kuputuskan untuk terus melangkah. Terlebih lagi, aku juga tidak ingin dia melihat air mataku yang sudah mengalir di kedua pipiku.

Min Jung keluar dari toilet dan mengambil satu tas belanja dari tanganku.

“Oppa matematikaku, dimana dia?”

“Mungkin masih di meja, atau mungkin sudah pergi.” Jawabku.

“Eonni, tunggu disini sebentar aku ada urusan. Tunggu disini, aku tidak akan lama. Jangan kemana mana! Eoh?”

Aku hanya mengangguk dan menunggunya di depan toilet. Min Jung dengan kecepatan supersonic menembus kerumunan para tukang belanja dan kemudian hilang entah kemana. Aku hanya perlu menunggunya  dan sedikit menenangkan badai masa lalu di hatiku ini.

Kyuhyun-sshi, ku mohon hentikan semua yang kau lakukan padaku.

***


‘Apa kau menunggu terlalu lama?’ atau ‘apa kau sangat terluka?’ lalu ‘maafkan aku’
Semuanya tidak membantu apapun, bahkan malah membuatku semakin terluka. Aku tidak bisa berlama lama menghadapinya dan bicara dengan hati. Karena aku yakin, benteng pertahananku akan runtuh jika terus bersamanya. Mendengarnya bicara dan menatap ketulusan di matanya.

“Dimana tas belanjamu tadi?” Tanyaku setelah Min Jung dari kejauhan sudah tersenyum padaku tapi dua tangannya tidak menggenggam apapun.


“Itu sepatu yang dibelikan Oppa matematikaku, aku mengembalikan padanya.”

“Wae?” Heran dengan sikapnya baru saja.


“Aku tidak akan membebani perasaanmu Eonni. Aku tahu jika aku menerima hadiah itu pasti perasaanmu terluka. Jika kau melihatku memakai sepatu itu. Kau pasti akan teringat Oppa matematikaku. Ckck... itu tidak baik untuk  hatimu Eonni.” Wajahnya yang sangat serius itu membuatku ingin tertawa.

“Aigoo, adikku sudah belajar memahami situasi rupanya.” Aku mengacak acak rambutnya.

“Yaak Yaak... kau tidak tahu seberapa lama aku menata rambutku ini. Napeun Yeoja!” Katanya sambil menyisir rambutnya dengan kedua tangannya itu.

“ Aigooo....”

“Ah, karena aku sudah mengembalikan sepatuku. Kau harus...”

“Shireo... kau tidak akan mendapatkan sepatu lagi. Aku sudah membelikanmu satu..”

“Eonni... Jebal..”

“ Atau kau mau uang bulananmu ku potong?”

“Aaaaargh... menyebalkan.”

“Ah dan satu lagi. Berhenti memanggilnya oppa matematikaku.”

“Yak, itu urusanku memanggilnya apa. Dia kan bukan pacarmu lagi. “ Kata Min Jung.


****



“Eoddiya? Aku sedang dalam perjalanan ke kantormu.” Tanya Kyuhyun

“Eoh, Aku baru saja keluar lift. Apa ada kencan hari ini, kenapa menjemputku?”

“ Tentu saja, tunggu di depan kantormu. Aku sebentar lagi sampai. Eoh?”

“Okaay..”

Sebelum keluar kantor, aku membalikkan tubuhku menuju toilet. Menyapukan sedikit bedak dan lipstik tipis tipis. Kyuhyun akan datang, setidaknya aku harus terlihat cantik. Aku juga menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhku. Kemana dia mau membawaku? Makan malam romantis? Aaah semoga saja.

Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh hingga membuatku tertidur. Aku baru sadar kemana dia membawaku.

“Mwoya? Apa ini tempat kencan kita?” Aku merengut setelah tahu Kyuhyun memarkirkan mobil di rumah sederhana dengan taman bunga matahari yang cukup terawat itu.

“Turunlah..” Kata Kyuhyun setelah membukakan pintu mobilnya.

“Oppaaaa!!!” teriakan gadis kecil itu tidak terbendung lagi. Dia sangat bahagia melihat kami datang. Aah lebih tepatnya melihat pria yang dipanggilnya  oppa itu.

“Hari ini aku milik Min Jung, Hyeon. Aku akan berkencan dengannya.” Bisiknya padaku.

“Omo..omo... Apa? Kencan? Dengan gadis ingusan ini?” Akupun ikut berbisik padanya.

“Yak, kau mengataiku lagi kan?” Min Jung meneriakiku  setelah mendengar ucapanku.

“Omo... Hyeon Jung-ah.. Kyuhyun-ah... Yeobo, anak anak kita pulang.” Teriak Eomma pada Ayahku.

“Yaak, kenapa kalian semua berteriak huh?” Aku kesal kenapa mereka seperti bicara di tengah hutan begitu. Entah Eomma entah Min Jung. Mereka seakan berjarak ratusan meter satu sama lain.

“Annyeong hasseo Eommeonim.. “ sapa Kyuhyun pada Eomma.

“Aigo menantukuu.. masuklah, udara sangat dingin di luar.” Begitu Eomma memanggil Kyuhyun. Walaupun Kyuhyun belum sah menjadi menantunya. Tapi Eomma selalu memanggilnya begitu. Harapan besar di setiap doanya.

“Oppa, kau benar benar menepati janjimu. Kau pria yang kereeen!” Puji Min Jung dengan mengacungkan kedua jempolnya.

 Apa lagi yang dilakukan anak ini? Membuat janji dengan Kyuhyun di belakangku? Aigo, Aku benar benar merasa ditusuk dari belakang oleh Min Jung dan Kyuhyun.

Aku masuk ke kamarku, meletakkan tas dan segera ke dapur menyiapkan minuman dan makan malam. Kyuhyun sedang mengobrol dengan ayah di depan dan Min Jung? Pasti  sedang mengganggu mereka berdua mengobrol.

“Oppa, aku tidak mengerti soal nomer empat.” Min Jung menyodorkan buku PR matematikanya pada Kyuhyun. Berharap Kyuhyun membantunya mengerjakan soal itu.

“Min Jung-ah, bisakah kau tidak mengganggu Kyuhyun Oppa dan Ayah. Mereka sedang mengobrol. Lagipula kenapa kau masih saja tidak mengerti soal semudah itu. Payah sekali.”

“Eonni, berkacalah sebelum bicara..” Jawab gadis kecil menyebalkan itu.

“Mwo?” Aku merasa ditampar dan dipukul oleh satu kalimat perintah yang dikatakan Min Jung. Benar, aku memang sangat payah di bidang sains. Matematika dan sejenisnya. Aku tidak mampu mengoperasikan otakku jika sudah berhubungan dengan mereka. Berbeda dengan Kyuhyun. Dia pernah mendapat penghargaan dari Kementrian Pendidikan karena memenangkan olimpiade matematika saat sekolah menengah dulu. Soal kualitas  hitung menghitung, We’re totally different...

“ Gwaencanha... aku kemari memang ingin membantu Min Jung mengerjakan PR matematikanya.”

Aku tertawa tidak percaya, jadi ini yang dinamakan kencan bersama Min Jung. Membantu adikku mengerjakan PR matematika?

Perasaan kecewa karena tempat kencan yang tidak diharapkan ini mendadak hilang. Kencan ini membuatku mengerti, Kyuhyun tidak hanya mencintaiku. Tapi mencintai keluargaku. Mencintai Ayahku, Eommaku dan adik perempuanku satu satunya.

“Eonni bahkan lebih payah dariku, Oppa.”

“Yak!”

“Mengapa masih disini? Pergilah, siapkan makan malam untuk kita.” Tingkah bossinya keluar lagi jika sudah dibela oleh Kyuhyun.

Anak ini mengusirku dan berduaan dengan kekasihku. Untung dia masih anak anak, kalau sudah dewasa. Aku akan mengeluarkan tanduk dan taringku lalu memakannya hidup hidup. Kyuhyun hanya milikku dan gadis lain tidak berhak membersamainya.

Kyuhyun dan Min Jung, mereka sangat dekat karena Kyuhyun selalu mengajarinya PR matematika. Itulah mengapa Min Jung selalu memanggil Kyuhyun dengan sebutan  ‘Oppa matematikaku’.

***

Hari ini rapat pertama  Manajer Hwan dan staf di Kantor bersama Kyuhyun. Aku mempersiapkan bahan presentasi dan beberapa ide kostum musical yang mungkin bisa dijadikan alternatif lain untuk Gui Xian, aktor musikal paling terkenal itu.

Menyebutnya Gui Xian lebih tidak membebankan bagiku daripada menyebutnya Kyuhyun, walaupun Gui Xian dan Kyuhyun adalah orang yang sama.

Kyuhyun tiba setelah semua staff berkumpul, dia memperkenalkan diri secara formal kepada semua staff yang akan membantunya menyelesaikan kostum kostum musikalnya tahun ini. 
Jangan tanya perasaanku saat ini. Semuanya masih sama seperti saat dia datang ke ruangan kantorku dan restoran akhir pekan lalu.

Presentasi berjalan sangat lancar karena Kyuhyun cukup sederhana dan tidak mempersulit tim kami. Aku bersyukur karena itu Kyuhyun, jika itu Jong Hyeon, aku pasti sudah membusuk di ruang rapat dengan permintaan permintaan tidak masuk akalnya. Ini adalah pertama kalinya aku bersyukur tentang Kyuhyun setelah pertemuan kami.

“Oh iya, Gui Xian-sshi, bisakah kau memberikan kami gambaran alur  ceritanya? Aku dengar kau yang membuat naskahnya.” Manajer Hwan bertanya tentang alur cerita drama musikal yang akan ditampilkannya.

“Ne... ceritanya tentang seorang pria yang penuh keraguan untuk menggapai mimpinya atau menggapai cintanya.” Kyuhyun berhenti dengan ucapannya. Dia menatapku intens seperti hendak menyampaikan ceritanya padaku. “Lalu meninggalkan kekasih yang selama ini dia cintai untuk menggapai mimpinya. Hanya saja, aktor pria ini  tidak benar benar meninggalkannya. Dia terpaksa melakukannya.” Kyuhyun masih menatapku. Berharap aku akan menatapnya kembali dengan lebih mengerti.

“Waaah, sepertinya sangat menarik. ´ Kata Yeon Joo antusias. ”Bagaimana Seo Gwajangnim?” lanjutnya.

“Bagiku meninggalkan tetaplah meninggalkan... Ketika dia tidak pernah datang menemuimu, maka dia telah meninggalkanmu.” Jawaban yang tiba tiba terfikirkan di otakku dan terlontar begitu saja dari mulutku.

“Seo Gwajangnim, Yeon Joo menanyakan pendapatmu tentang jalan ceritanya. Bukan pendapatmu tentang apa yang dilakukan si aktor pria itu.” Kata Manajer Hwan tertawa.

“Hyeon Jung-sshi, seperti  terlalu menggunakan perasaannya.” Ucap Kyuhyun terkekeh.

Aku yakin dia sedang menyindir kisah cintanya sendiri. Yaa dan itu selalu tentang masa lalu. Mengapa Kyuhyun hadir dan selalu mengungkitnya? Cho Kyuhyun, haruskah kau mengingatkanku semua itu. Masa lalu yang pernah membuat hidupku seperti.... mati.

“Oh iya, besok kau menemani Gui Xian-sshi ke teater untuk melihat latihannya.” Kata perintah Manajer Hwan.

“Saya? Besok saya harus menyelesaikan proyek dengan dinas pariwisata untuk pembuatan kostum festival musim panas. Apa tidak bisa menyuruh yang lain saja? Aa...anda bisa membawa Min Ji atau Yeon Joo atau mungkin yang....”


“Festival itu masih cukup lama, sedangkan Musicalnya tinggal satu minggu lagi. Aku menyerahkan Kyuhyun padamu.”


***



Toktok... pintu ruang kerjaku diketuk dua kali. Kyuhyun sudah berdiri di sana dengan sesuatu di tangannya.  Aku mengangkat mataku sebentar lalu kembali menatap layar desktopku.


“Mau menemaniku?” tanyanya dengan menyodorkan dua permen kapas padaku. Ya Tuhan, apalagi yang Kyuhyun coba lakukan. Apa dia harus sejauh ini? Mencoba menghadirkan kenangan kenangan indah kami yang sudah setengah mati ku kubur dalam dalam.


“Maaf, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.” Jawabku setenang mungkin.


“Bagaimana kalau setelah pekerjaanmu selesai? Kau masih menyukai permen kapas kan? Kau ingat kan dulu kau sangat menyukainya.” Kenang Kyuhyun.

Benar, aku sangat menyukai permen kapas. Sampai sekarang pun aku masih menyukai permen kapas. Apalagi ketika aku memakannya bersamamu. Aku semakin menyukainya. Aku semakin menyukai saat saat bersamamu menikmati permen kapas dan tertawa bersamamu.


“Aku lembur malam ini.” Jawabnya.


“Aku akan menunggu.”


“Demi Tuhan Kyuhyun-sshi. Apa yang kau coba lakukan padaku?”


“ Aku hanya membeli dua permen kapas saat menuju kemari. Aku hanya teringat padamu Hyeon..” Jawab Kyuhyun.


“ Aku tidak suka permen kapas, dan bisakah kau tidak selalu menyebutkan kata dulu dulu dan dulu?” Kyuhyun tidak menjawab. Dia berdiri sebentar di ruanganku.


“Kau sudah tidak menyukainya?  Kau bahkan selalu bilang satu satunya makanan yang tidak akan membuatmu bosan adalah permen kapas.”


“Kyuhyun-sshi..” Aku meninggikan suaraku. “Jangan menemuiku seperti ini lagi, aku mohon padamu.” lalu memelankan sedikit suaraku.


“Baiklah, jika kau tidak mau bersamaku sekarang. Aku tidak akan memaksamu. Selesaikan pekerjaanmu dan segera pulang. Besok pagi aku akan menjemputmu ke teaterku.”


“Aku akan datang sendiri. Tidak usah menjemputku.” Tegasku.


“Aku akan menjemputmu, jam 10 pagi di bawah. ” Kata Kyuhyun sembari  memberikan dua tangkai permen kapas itu di mejaku. “ Kau tahu kan aku tidak butuh sesuatu yang manis lagi.” Lanjutnya. Kyuhyun membalikkan tubuhnya, berjalan menjauhi meja kerjaku.


“Kyuhyun-sshi...” aku memanggil Kyuhyun  yang hampir meraih gagang pintu ruang kerjaku. “ Kenapa  kau tidak pernah mendengarkanku? “ Kyuhyun berhenti melangkah, kemudian berbalik arah kepadaku. “Kyuhyun-sshi,  kenapa aku harus menurutimu kali ini?” Aku masih melanjutkan kalimatku “Kyuhyun-sshi, Kenapa kau selalu mendengarkan apa yang ingin kamu dengar saja?”

Setidaknya aku harus bicara untuk mengeluarkan semua beban dan kata kata yang ada di otakku. Aku tidak akan membiarkan beban itu hanya berputar putar  di fikiranku saja. Paling tidak, aku harus menyampaikannya.


“ Aku akan mulai mendengarkanmu mulai besok. Jadi sekali ini saja. Tolong dengarkan permintaanku.” Kyuhyun tersenyum, lalu membalikkan badannya. Meraih gagang pintu ruang kerjaku dan pergi begitu saja.

****

tbc

No comments:

Post a Comment