Malam ini aku tidak ingin kopi, aku tidak mau terjaga
sepanjang malam mengingat siapa yang kutemui di kantor tadi sore. Semua sudah
berakhir, dan aku juga perlu bicara dengan Manajer Hwan agar meminta bawahanku
yang menangani kostum musical Kyuhyun besok.
Segelas susu cereal yang masih setengah penuh itu menjadi
teman pergolakan hatiku yang sedang sangat pedih.
“Bukankah harusnya aku tidur saja dan melupakan yang terjadi
hari ini.” Aku menuju ranjang tidurku, meraih selimut dan mematikan lampu di
nakas sebelah kanan.
Ketika suasana hatiku tidak baik, seseorang yang selalu
datang padaku adalah Ji Won. Tapi agak canggung sekarang, terlebih dia sudah
mencuri kekasihku dan menjadikannya suami.
“Ji Won, sayang sekali persahabatan kita menjadi serumit
ini.”
Menyayangkan semua yang terjadi kemudian bersyukur, lalu
kemudian terpukul dan terluka lagi. Aaah, hari hariku semakin berat saja akhir
akhir ini. Sedikit melelahkan...
****
“Kenapa wanita setua
ini masih suka permen kapas huh?” Aku tidak menjawab pertanyaannya. Apa bagimu
itu pertanyaan? Itu bahkan lebih terlihat seperti ejekan. Mataku masih terfokus
dengan gumpalan manis itu. Tidak peduli pertanyaan Kyuhyun yang sebenarnya
sedikit menjengkelkan.
“Yaak! Kau
mengabaikanku karena permen kapas?”
“Kau mau coba?”
“Shireo.. pria
sepertiku tidak seharusnya menyukai sesuatu yang manis.” Jawabnya tanpa
sekalipun menatap ke arahku.
“Wae? Apa pria
terlihat tidak maskulin kalau menyukai sesuatu yang manis?”
“Mungkin semacam itu.”
“Hish, pemikiran macam
apa yang kau katakan itu.”
“Hyeon Jung-ah, aku
sudah memilikimu. Lalu apa aku masih butuh sesuatu yang lebih manis lagi? Kau
yang paling manis sampai akhir!”
“Aigooo... Menjengkelkan.”
Aku mencubit gumpalan permen kapas dalam genggamanku dan menyodorkannya tepat
di bibir Kyuhyun. “Aaaa....”
“Shireo...”
“Aaaaa....” Aku tidak
mau menyerah walau Kyuhyun menolak.
“Shireoo...” Kyuhyun
pun bersikeras menolak.
“ Kau benar benar tidak
mau? Aku bersumpah tidak akan mau menonton pertunjukanmu lagi kalau
begitu.” Ancamanku dengan sedikit wajah
sedih nan polos yang membuat tangan Kyuhyun meraih tanganku dan melahap sendiri
permen kapasnya.
Lotte World malam itu,
setelah pertunjukan musicalnya selesai. Kyuhyun membawaku berputar putar di
area permainan. Saat itu Kyuhyun masih menjadi pemain pendukung musical anak
anak dalam festival liburan musim panas di Lotte.
“Kau harus menjadi
penonton terdepanku apapun yang terjadi. Kau harus menjadi penonton setiaku
walaupun aku hanya tampil satu atau dua menit di panggung itu. Arra?”
“E’em...” Aku
menganggukkan kepala dan menikmati permen kapas yang tinggal setengah itu. “Aku
bahkan akan menjadi penonton terdepan walaupun kau hanya tampil lima detik di
panggung itu.”
“Aigoo, gadis ini.”
Kyuhyun membelai rambutku yang tergerai lalu menarik kepalaku agar bersandar di
bahunya. Dan menyanyikan lagu favoritku.
bogopa bogopaseo geudaega bogopaso
(Ingin melihatmu... ingin melihatmu.. karena aku sangat ingin melihatmu)
(Ingin melihatmu... ingin melihatmu.. karena aku sangat ingin melihatmu)
ije nan seupgwancheoreom geudae ireumman bureuneyo oneuldo
(sekarang, aku seperti memiliki kebiasaan ini. Memanggil namamu dengan kencang. Seperti hari ini.
(sekarang, aku seperti memiliki kebiasaan ini. Memanggil namamu dengan kencang. Seperti hari ini.
haruharuga jugeul geotman gateun eotteoke haeya haeyo
(Setiap hari setiap hari ini seperti akan membunuhku. Apa yang
harus aku lakukan?)
saranghae saranghaeyo geudaereul saranghaeyo
(mencintaimu...mencintaimu..aku mencintaimu)
maljocha motagoseo geudaereul geureoke bonaenneyo
(Aku bahkan tidak berbicara apapun, aku hanya membiarkanmu pergi)
mianhae mianhaeyo naemari deullinayo
(maafkan...maafkan aku. Apa kau mendengarkan perkataanku?)
(maafkan...maafkan aku. Apa kau mendengarkan perkataanku?)
dwineuseun nae gobaegeul geudaen deureul su isseulkkayo
(Pengakuan terakhirku. Apakah kau mendengarnya?)
saranghaeyo
saranghaeyo
(Aku mencintaimu)
***
Ciih, benar benar apa yang salah dengan hidupku ini. Terjaga
sepanjang malam akan mengingatkanku padanya. Tidur secepat malah membuatku
memimpikannya. Mimpi tentang cerita masa lalu yang... ah sulit sekali jika
harus kembali ke masa itu. Terlalu membahagiakan...
“Eonni... Guumoning!! Ireona! Kau janji padaku hari ini akan
membelikan handphone baru.” Gadis SMA yang super menyebalkan itu membuka pintu
kamarku seenaknya.
“Min Jung-ah, Kapan kau masuk?”
“Baru saja.. Ah Eonniku yang menyedihkan. Haruskah bangun
sesiang ini karena ditinggal kekasihnya menikah dengan Ji Won Eonni, huh?’
“Neo...?”
“Mwo? Wae? Kenapa aku tahu? Semua orang di Daegu juga tahu
kau tidak jadi menikah dengan Jong Hyeon Oppa.”
“Jinjja? Lalu Eomma?”
“Dia khawatir padamu jadi dia mengirimku kemari. Oh iya,
lagipula kau bilang padaku akan membelikanku handphone baru sepulang dari
Macau. “
“Ciih, kau kemari karena hal yang kedua.”
“Yaaak, setidaknya ucapkan terimakasih karena aku membawakan
banyak makanan dari Eomma.” Katanya sambil menunjuk kulkas di dapur.
“Geurom, aku harus berterimakasih pada Eomma, bukan padamu.”
“Apapun, Cepat mandi dan belikan aku Handphone baru.” Seo
Min Jung mendelik, dia sudah mengeratkan giginya karena kesal.
“Hmm... Arraseo.”
Meledek adikku satu satunya ini memang menyenangkan. Temperamennya entah
diturunkan oleh siapa. Eomma penyabar dan ayah yang suka mengalah, tidak ada
yang semeledak ledak dia. Aku sering menggodanya dan meledeknya bahwa dia anak
angkat dari Gelandangan Seoul. Kemudian dia tidak pulang ke rumah selama 3
hari. Semua anggota keluargaku mencarinya di semua sudut kota Daegu. Tapi dia
malah ditemukan di Seoul setelah tersesat selama dua hari. Alasannya adalah,
dia ingin mencari orang tua kandungnya seperti yang aku ceritakan padanya.
Eomma hanya menggeleng kepala dengan tingkahku. Dan Ayah, dia menasehatiku
dengan bijaksana agar tidak membuat Min Jung berpikiran demikian lagi
“Mengertilah adikmu Hyeon-ah. Dia masih remaja dan emosinya belum stabil.
Bisakah kau mengerti dia sedikit?.” Kata Ayah padaku.
Saat itu aku sangat menyesalinya dan aku berjanji membuatnya
bahagia untuk menebus kesalahanku saat itu. Aku benar benar menyayanginya...
adik cerewet dan menyebalkan itu.
Hari sabtu tentu saja hari yang sibuk di pusat perbelanjaan.
Gadis ini selalu saja membeli lebih dari yang dia minta. Aku sudah
membelikannya handphone, dia masih tergiur dengan tas gendong keluaran terbaru.
Belum kaos kaos yang dia minta. Untung saja aku tidak tinggal dengannya setiap
hari. Bisa bisa tabunganku terkuras habis untuk memenuhi nafsu belanjanya yang
menggila.
“Eonni, ayo lihat sepatu...”
“Yak! Sudah berapa tas belanjaan yang kau bawa itu? Kau mau
menghabiskan tabunganku huh?”
“eonni, memangnya selain untuk dirimu sendiri. Uang yang kau
hasilkan itu untuk siapa?”
“Ne...ne.... lakukan apapun yang kau mau dengan uangku.”
Min Jung tersenyum menang, tidak ada salahnya jika hari ini
aku membelanjakannya sebanyak ini. Sudah 2 bulan aku tidak bertemu dengannya,
dan gadis ini semakin liar saja dalam urusan belanja. Sepertinya aku tidak
boleh sering sering menemuinya.
Dia lebih dulu masuk ke outlet sepatu, aku menunggu di luar
karena masih menerima telepon dari Manajer Hwan. Ini kan hari libur. Mengapa masih membahas
pekerjaan? Bukankah senin masih dua hari lagi. Aku menggerutu kesal siang itu.
Outlet terlihat ramai dan aku tidak tertarik untuk masuk ke
dalam. Terlebih setelah manajer Hwan
menelepon dengan segudang pekerjaan yang harus ku lakukan. Aku hanya ingin
pulang dan menyelesaikan permintaannya. Kemudian tidur sampai pagi.
“Min Jung-ah kau sudah menemukan...” Min Jung keluar dari
outlet dengan dua tas berisi sepatu yang entah berapa harganya. Aku sudah syok
melihat dua tas belanja tambahan itu, berapa uang yang sudah dia keluarkan
untuk sepatu sepatu itu. Min Jung dengan
wajah ceria, keluar dari outlet diikuti seorang pria. Dan lagi, takdir apa yang
membawanya bertemu denganku di tempat seluas ini.
“Eonni, aku bertemu dengan Oppa matematikaku di dalam. Lihat
dia sekarang, tampan bukan?”
“Annyeong, Hyeon Jung-sshi.” Sapa Kyuhyun dengan senyum
sepihaknya.
Aku tidak membalas
salamnya ataupun pertanyaan adikku. Semuanya terlihat canggung setelah mata
kami saling bertemu. Mata cokelat itu, aku tidak bisa berlama lama menatapnya.
Karena di sana, pernah ada bayangan diriku tersenyum bahagia bersamanya. Mata
yang meneduhkan itu, yang paling ingin aku pandangi setiap bersamanya,
pada akhirnya menjadi bagian yang paling
ingin aku hindari saat bertemu dengannya.
“Bagaimana kalau aku traktir makan? Di lantai atas ada
restoran yang enak.” Tanya Kyuhyun pada Min Jung.
“Bagaimana kalau kalian berdua saja, aku masih ingin melihat
lihat.” Jawabku.
“Waee? Eonni, kau
yang dari tadi mengomel karena lapar.
Kenapa sekarang ingin berbelanja?”
“Ayo lah...” Bujuk Kyuhyun diikuti wajah memohon Min Jung.
“Ayolah Eonni..”
Aku ingin menolak tapi aku juga tidak ingin menjelaskan
apapun pada Min Jung jika aku menolaknya.
Akhirnya aku mengikuti langkah semangat mereka di depanku. Kyuhyun
seakan tidak peduli padaku dan hanya memperhatikan adikku. Kalau begitu, kenapa
dia mengajakku juga. Aku baik baik saja jika mereka hanya makan berdua. Itu
lebih melegakan.
Setelah memesan makanan dan Min Jung menceritakan
pertemuannya dengan Oppa matematikanya itu, pertemuan itu juga asal mula mengapa Min Jung membawa dua tas
belanja setelah keluar dari outlet.
“Eonni, Oppa membelikanku sepasang sepatu.”
“Kyuhyun-sshi, kau seharusnya tidak perlu melakukannya. Dia
sudah membawa dompetku ke dalam.” Ucapku.
“Apa salahnya membelikan sepatu untuk adikku?” Ucap Kyuhyun.
“Adikmu?” Aku mengejek ucapannya. Siapa? Adiknya? Min Jung?
Seo Min Jung? Adiknya? Hah... yang benar saja pria ini. Kalau Seo Min Jung adiknya. Lalu siapa Seo
Hyeon Jung?
“Min Jung sudah seperti adikku sendiri.”
Dia benar benar tidak perlu sejauh ini untuk kembali
mengingatkanku pada masa lalu. Mendengar namanya disebut saja hatiku masih bergetar.
Kenapa harus membahas tentang keluargaku
sekarang?
“Bagaimana kabar Eommeonim?”
“Keumanhae...” Aku meletakkan sendok dan garpuku diatas
piring. “ tidak bisakah kita hanya makan lalu pulang?”
Min Jung yang sudah mengerti ada ketegangan diantara kami
akhirnya memutuskan untuk pergi ke toilet, sepertinya memberi kami waktu untuk
bicara. Padahal aku ingin tetap diam sampai akhir dan tidak membahas apapun
tentang ‘kita’
“Kau tidak perlu sejauh ini, Kyuhyun-sshi.” Aku mulai angkat
bicara.
“ Aku benar benar bahagia bisa bertemu denganmu lagi.”
Senyum sepihaknya terukir lagi di bibirnya.
“Hah, bahagia katamu?”
“ Kau tidak?” Dia membulatkan matanya. Memasang telinganya
lebar lebar untuk mendengar jawabanku.
“Aku? Bahagia? Aku tidak tahu dimana kenangan tentangmu yang
membuatku bahagia.” Aku meremas ujung bajuku menahan perasaan yang sedari tadi tersangkut di tenggorokanku. Tidak mampu diungkapkan
Kalau saja kau tahu.
Semua yang kujalani bersamamu dulu adalah kebahagiaan. Tentu saja, sebelum kau
meninggalkanku di pernikahan itu.
“ Setidaknya kau dulu pernah tertawa bersamaku.”
“Keumanhae Kyuhyun-sshi.” Suaraku bergetar, kristal kristal
bening telah terbentuk di kedua mataku. “Bukankah aku sudah bilang untuk tidak
membahasnya lagi?”
“ Apa.... kau sangat terluka?”
Aku membisu, menahan air mataku yang hampir jatuh itu tidak
mudah. Aku tidak ingin mengenang masa lalu lebih banyak lagi dan segera mengakhiri
makan siangku.
“Aku akan menyusul Min Jung di toilet dan langsung pulang.
Kau pulang lah.”
Aku berdiri meninggalkannya yang masih terus membicarakan
masa lalu.
“Mianhae.... Hyeon Jung-sshi.” Itu adalah kata terakhir
Kyuhyun sesaat sebelum aku meninggalkannya. Kata yang membuatku mematung sesaat
sebelum akhirnya kuputuskan untuk terus melangkah. Terlebih lagi, aku juga
tidak ingin dia melihat air mataku yang sudah mengalir di kedua pipiku.
Min Jung keluar dari toilet dan mengambil satu tas belanja
dari tanganku.
“Oppa matematikaku, dimana dia?”
“Mungkin masih di meja, atau mungkin sudah pergi.” Jawabku.
“Eonni, tunggu disini sebentar aku ada urusan. Tunggu
disini, aku tidak akan lama. Jangan kemana mana! Eoh?”
Aku hanya mengangguk dan menunggunya di depan toilet. Min
Jung dengan kecepatan supersonic menembus kerumunan para tukang belanja dan kemudian
hilang entah kemana. Aku hanya perlu menunggunya dan sedikit menenangkan badai masa lalu di
hatiku ini.
Kyuhyun-sshi, ku mohon
hentikan semua yang kau lakukan padaku.
***
‘Apa kau menunggu terlalu lama?’ atau ‘apa kau sangat
terluka?’ lalu ‘maafkan aku’
Semuanya tidak membantu apapun, bahkan malah membuatku
semakin terluka. Aku tidak bisa berlama lama menghadapinya dan bicara dengan
hati. Karena aku yakin, benteng pertahananku akan runtuh jika terus bersamanya.
Mendengarnya bicara dan menatap ketulusan di matanya.
“Dimana tas belanjamu tadi?” Tanyaku setelah Min Jung dari
kejauhan sudah tersenyum padaku tapi dua tangannya tidak menggenggam apapun.
“Itu sepatu yang dibelikan Oppa matematikaku, aku
mengembalikan padanya.”
“Wae?” Heran dengan sikapnya baru saja.
“Aku tidak akan membebani perasaanmu Eonni. Aku tahu jika
aku menerima hadiah itu pasti perasaanmu terluka. Jika kau melihatku memakai
sepatu itu. Kau pasti akan teringat Oppa matematikaku. Ckck... itu tidak baik
untuk hatimu Eonni.” Wajahnya yang
sangat serius itu membuatku ingin tertawa.
“Aigoo, adikku sudah belajar memahami situasi rupanya.” Aku
mengacak acak rambutnya.
“Yaak Yaak... kau tidak tahu seberapa lama aku menata
rambutku ini. Napeun Yeoja!” Katanya sambil menyisir rambutnya dengan kedua tangannya itu.
“ Aigooo....”
“Ah, karena aku sudah mengembalikan sepatuku. Kau harus...”
“Shireo... kau tidak akan mendapatkan sepatu lagi. Aku sudah
membelikanmu satu..”
“Eonni... Jebal..”
“ Atau kau mau uang bulananmu ku potong?”
“Aaaaargh... menyebalkan.”
“Ah dan satu lagi. Berhenti memanggilnya oppa matematikaku.”
“Yak, itu urusanku memanggilnya apa. Dia kan bukan pacarmu lagi. “ Kata Min Jung.
****
“Eoddiya? Aku sedang
dalam perjalanan ke kantormu.” Tanya Kyuhyun
“Eoh, Aku baru saja
keluar lift. Apa ada kencan hari ini, kenapa menjemputku?”
“ Tentu saja, tunggu
di depan kantormu. Aku sebentar lagi sampai. Eoh?”
“Okaay..”
Sebelum keluar kantor,
aku membalikkan tubuhku menuju toilet. Menyapukan sedikit bedak dan lipstik
tipis tipis. Kyuhyun akan datang, setidaknya aku harus terlihat cantik. Aku
juga menyemprotkan sedikit parfum ke tubuhku. Kemana dia mau membawaku? Makan
malam romantis? Aaah semoga saja.
Setelah menempuh
perjalanan yang cukup jauh hingga membuatku tertidur. Aku baru sadar kemana dia
membawaku.
“Mwoya? Apa ini tempat
kencan kita?” Aku merengut setelah tahu Kyuhyun memarkirkan mobil di rumah
sederhana dengan taman bunga matahari yang cukup terawat itu.
“Turunlah..” Kata
Kyuhyun setelah membukakan pintu mobilnya.
“Oppaaaa!!!” teriakan
gadis kecil itu tidak terbendung lagi. Dia sangat bahagia melihat kami datang.
Aah lebih tepatnya melihat pria yang dipanggilnya oppa itu.
“Hari ini aku milik
Min Jung, Hyeon. Aku akan berkencan dengannya.” Bisiknya padaku.
“Omo..omo... Apa?
Kencan? Dengan gadis ingusan ini?” Akupun ikut berbisik padanya.
“Yak, kau mengataiku
lagi kan?” Min Jung meneriakiku setelah
mendengar ucapanku.
“Omo... Hyeon
Jung-ah.. Kyuhyun-ah... Yeobo, anak anak kita pulang.” Teriak Eomma pada
Ayahku.
“Yaak, kenapa kalian
semua berteriak huh?” Aku kesal kenapa mereka seperti bicara di tengah hutan
begitu. Entah Eomma entah Min Jung. Mereka seakan berjarak ratusan meter satu
sama lain.
“Annyeong hasseo
Eommeonim.. “ sapa Kyuhyun pada Eomma.
“Aigo menantukuu..
masuklah, udara sangat dingin di luar.” Begitu Eomma memanggil Kyuhyun.
Walaupun Kyuhyun belum sah menjadi menantunya. Tapi Eomma selalu memanggilnya
begitu. Harapan besar di setiap doanya.
“Oppa, kau benar benar
menepati janjimu. Kau pria yang kereeen!” Puji Min Jung dengan mengacungkan
kedua jempolnya.
Apa lagi yang dilakukan anak ini? Membuat
janji dengan Kyuhyun di belakangku? Aigo, Aku benar benar merasa ditusuk dari
belakang oleh Min Jung dan Kyuhyun.
Aku masuk ke kamarku,
meletakkan tas dan segera ke dapur menyiapkan minuman dan makan malam. Kyuhyun
sedang mengobrol dengan ayah di depan dan Min Jung? Pasti sedang mengganggu mereka berdua mengobrol.
“Oppa, aku tidak
mengerti soal nomer empat.” Min Jung menyodorkan buku PR matematikanya pada Kyuhyun.
Berharap Kyuhyun membantunya mengerjakan soal itu.
“Min Jung-ah, bisakah
kau tidak mengganggu Kyuhyun Oppa dan Ayah. Mereka sedang
mengobrol. Lagipula kenapa kau masih saja tidak mengerti soal semudah itu.
Payah sekali.”
“Eonni, berkacalah
sebelum bicara..” Jawab gadis kecil menyebalkan itu.
“Mwo?” Aku merasa
ditampar dan dipukul oleh satu kalimat perintah yang dikatakan Min Jung. Benar,
aku memang sangat payah di bidang sains. Matematika dan sejenisnya. Aku tidak
mampu mengoperasikan otakku jika sudah berhubungan dengan mereka. Berbeda
dengan Kyuhyun. Dia pernah mendapat penghargaan dari Kementrian Pendidikan
karena memenangkan olimpiade matematika saat sekolah menengah dulu. Soal
kualitas hitung menghitung, We’re
totally different...
“ Gwaencanha... aku
kemari memang ingin membantu Min Jung mengerjakan PR matematikanya.”
Aku tertawa tidak
percaya, jadi ini yang dinamakan kencan bersama Min Jung. Membantu adikku
mengerjakan PR matematika?
Perasaan kecewa karena
tempat kencan yang tidak diharapkan ini mendadak hilang. Kencan ini membuatku
mengerti, Kyuhyun tidak hanya mencintaiku. Tapi mencintai keluargaku. Mencintai
Ayahku, Eommaku dan adik perempuanku satu satunya.
“Eonni bahkan lebih
payah dariku, Oppa.”
“Yak!”
“Mengapa masih disini?
Pergilah, siapkan makan malam untuk kita.” Tingkah bossinya keluar lagi jika
sudah dibela oleh Kyuhyun.
Anak ini mengusirku
dan berduaan dengan kekasihku. Untung dia masih anak anak, kalau sudah dewasa.
Aku akan mengeluarkan tanduk dan taringku lalu memakannya hidup hidup. Kyuhyun
hanya milikku dan gadis lain tidak berhak membersamainya.
Kyuhyun dan Min Jung,
mereka sangat dekat karena Kyuhyun selalu mengajarinya PR matematika. Itulah mengapa Min Jung selalu memanggil
Kyuhyun dengan sebutan ‘Oppa
matematikaku’.
***
Hari ini rapat pertama Manajer Hwan dan staf di Kantor bersama
Kyuhyun. Aku mempersiapkan bahan presentasi dan beberapa ide kostum musical
yang mungkin bisa dijadikan alternatif lain untuk Gui Xian, aktor musikal
paling terkenal itu.
Menyebutnya Gui Xian lebih tidak membebankan bagiku daripada
menyebutnya Kyuhyun, walaupun Gui Xian dan Kyuhyun adalah orang yang sama.
Kyuhyun tiba setelah semua staff berkumpul, dia
memperkenalkan diri secara formal kepada semua staff yang akan membantunya
menyelesaikan kostum kostum musikalnya tahun ini.
Jangan tanya perasaanku saat ini. Semuanya masih sama seperti
saat dia datang ke ruangan kantorku dan restoran akhir pekan lalu.
Presentasi berjalan sangat lancar karena Kyuhyun cukup
sederhana dan tidak mempersulit tim kami. Aku bersyukur karena itu Kyuhyun,
jika itu Jong Hyeon, aku pasti sudah membusuk di ruang rapat dengan permintaan
permintaan tidak masuk akalnya. Ini adalah pertama kalinya aku bersyukur
tentang Kyuhyun setelah pertemuan kami.
“Oh iya, Gui Xian-sshi, bisakah kau memberikan kami gambaran
alur ceritanya? Aku dengar kau yang
membuat naskahnya.” Manajer Hwan bertanya tentang alur cerita drama musikal
yang akan ditampilkannya.
“Ne... ceritanya tentang seorang pria yang penuh keraguan
untuk menggapai mimpinya atau menggapai cintanya.” Kyuhyun berhenti dengan
ucapannya. Dia menatapku intens seperti hendak menyampaikan ceritanya padaku.
“Lalu meninggalkan kekasih yang selama ini dia cintai untuk menggapai mimpinya.
Hanya saja, aktor pria ini tidak benar
benar meninggalkannya. Dia terpaksa melakukannya.” Kyuhyun masih menatapku.
Berharap aku akan menatapnya kembali dengan lebih mengerti.
“Waaah, sepertinya sangat menarik. ´ Kata Yeon Joo antusias.
”Bagaimana Seo Gwajangnim?” lanjutnya.
“Bagiku meninggalkan tetaplah meninggalkan... Ketika dia
tidak pernah datang menemuimu, maka dia telah meninggalkanmu.” Jawaban yang
tiba tiba terfikirkan di otakku dan terlontar begitu saja dari mulutku.
“Seo Gwajangnim, Yeon Joo menanyakan pendapatmu tentang jalan ceritanya. Bukan pendapatmu tentang apa yang dilakukan si aktor pria itu.” Kata Manajer Hwan
tertawa.
“Hyeon Jung-sshi, seperti
terlalu menggunakan perasaannya.” Ucap Kyuhyun terkekeh.
Aku yakin dia sedang menyindir kisah cintanya sendiri. Yaa
dan itu selalu tentang masa lalu. Mengapa Kyuhyun hadir dan selalu
mengungkitnya? Cho Kyuhyun, haruskah kau mengingatkanku semua itu. Masa lalu
yang pernah membuat hidupku seperti.... mati.
“Oh iya, besok kau menemani Gui Xian-sshi ke teater untuk
melihat latihannya.” Kata perintah Manajer Hwan.
“Saya? Besok saya harus menyelesaikan proyek dengan dinas
pariwisata untuk pembuatan kostum festival musim panas. Apa tidak bisa menyuruh
yang lain saja? Aa...anda bisa membawa Min Ji atau Yeon Joo atau mungkin
yang....”
“Festival itu masih cukup lama, sedangkan Musicalnya tinggal
satu minggu lagi. Aku menyerahkan Kyuhyun padamu.”
***
Toktok... pintu ruang kerjaku diketuk dua kali. Kyuhyun sudah
berdiri di sana dengan sesuatu di tangannya. Aku mengangkat mataku sebentar lalu kembali
menatap layar desktopku.
“Mau menemaniku?” tanyanya dengan menyodorkan dua permen
kapas padaku. Ya Tuhan, apalagi yang Kyuhyun coba lakukan. Apa dia harus sejauh
ini? Mencoba menghadirkan kenangan kenangan indah kami yang sudah setengah mati
ku kubur dalam dalam.
“Maaf, aku harus menyelesaikan beberapa pekerjaan.” Jawabku
setenang mungkin.
“Bagaimana kalau setelah pekerjaanmu selesai? Kau masih
menyukai permen kapas kan? Kau ingat kan dulu kau sangat menyukainya.” Kenang
Kyuhyun.
Benar, aku sangat menyukai permen kapas. Sampai sekarang pun aku masih menyukai permen kapas. Apalagi ketika aku memakannya bersamamu. Aku semakin menyukainya. Aku semakin menyukai saat saat bersamamu menikmati permen kapas dan tertawa bersamamu.
Benar, aku sangat menyukai permen kapas. Sampai sekarang pun aku masih menyukai permen kapas. Apalagi ketika aku memakannya bersamamu. Aku semakin menyukainya. Aku semakin menyukai saat saat bersamamu menikmati permen kapas dan tertawa bersamamu.
“Aku lembur malam ini.” Jawabnya.
“Aku akan menunggu.”
“Demi Tuhan Kyuhyun-sshi. Apa yang kau coba lakukan padaku?”
“ Aku hanya membeli dua permen kapas saat menuju kemari. Aku
hanya teringat padamu Hyeon..” Jawab Kyuhyun.
“ Aku tidak suka permen kapas, dan bisakah kau tidak selalu
menyebutkan kata dulu dulu dan dulu?” Kyuhyun tidak menjawab. Dia berdiri
sebentar di ruanganku.
“Kau sudah tidak menyukainya? Kau bahkan selalu bilang satu satunya makanan
yang tidak akan membuatmu bosan adalah permen kapas.”
“Kyuhyun-sshi..” Aku meninggikan suaraku. “Jangan menemuiku
seperti ini lagi, aku mohon padamu.” lalu memelankan sedikit suaraku.
“Baiklah, jika kau tidak mau bersamaku sekarang. Aku tidak
akan memaksamu. Selesaikan pekerjaanmu dan segera pulang. Besok pagi aku akan
menjemputmu ke teaterku.”
“Aku akan datang sendiri. Tidak usah menjemputku.” Tegasku.
“Aku akan menjemputmu, jam 10 pagi di bawah. ” Kata Kyuhyun
sembari memberikan dua tangkai permen
kapas itu di mejaku. “ Kau tahu kan aku tidak butuh sesuatu yang manis lagi.”
Lanjutnya. Kyuhyun membalikkan tubuhnya, berjalan menjauhi meja kerjaku.
“Kyuhyun-sshi...” aku memanggil Kyuhyun yang hampir meraih gagang pintu ruang kerjaku.
“ Kenapa kau tidak pernah
mendengarkanku? “ Kyuhyun berhenti melangkah, kemudian berbalik arah kepadaku.
“Kyuhyun-sshi, kenapa aku harus
menurutimu kali ini?” Aku masih melanjutkan kalimatku “Kyuhyun-sshi, Kenapa kau
selalu mendengarkan apa yang ingin kamu dengar saja?”
Setidaknya aku harus bicara untuk mengeluarkan semua beban dan kata kata yang ada di otakku. Aku tidak akan membiarkan beban itu hanya berputar putar di fikiranku saja. Paling tidak, aku harus menyampaikannya.
Setidaknya aku harus bicara untuk mengeluarkan semua beban dan kata kata yang ada di otakku. Aku tidak akan membiarkan beban itu hanya berputar putar di fikiranku saja. Paling tidak, aku harus menyampaikannya.
“ Aku akan mulai mendengarkanmu mulai besok. Jadi sekali ini
saja. Tolong dengarkan permintaanku.” Kyuhyun tersenyum, lalu membalikkan
badannya. Meraih gagang pintu ruang kerjaku dan pergi begitu saja.
****
tbc
tbc
No comments:
Post a Comment