Wednesday, February 1, 2017

Andante (Part 1 of 3)



AndantE
 





Aku berlari di jalanan sempit setelah menghambur dari pintu kayu kokoh berwarna cokelat. Sebelumnya teleponku berdering, seseorang memintaku untuk datang ke lapangan meski malam itu sangat dingin, tapi apa peduliku. Aku akan tetap menemuinya meski hujan badai sekalipun atau bahkan jika dia di belahan dunia yang lain.


Suara pantulan bola terdengar meski aku masih puluhan meter jauhnya dari lapangan. Ya, itu pasti dia. Lalu aku berhenti, memperbaiki letak syalku dan berjalan seperti biasa.

Byun Baekhyun, seseorang yang meneleponku baru saja itu pasti sedang memiliki masalah hingga memintaku datang padanya meski malam sudah begitu larut

“Wae?” tanyaku setelah sampai di tepi lapangan.

Baekhyun menyadari keberadaanku, dia menengok padaku, dahinya mengkerut, keheranan.

“Ya! rumahmu pindah di dekat sini?” tanya Baekhyun padaku. Aku menggeleng tidak mengerti. Baekhyun mengecek jam tangannya “Daebak! Aku menelepon tiga menit yang lalu, dan kau sudah sampai disini.” Baekhyun berharap jawaban dariku. Tentu saja tiga menit, karena aku berlari dari rumah hingga tempat ini. Tak kunjung mendapat jawabanku, dia memutuskan mengelilingi lapangan sambil mendribel bola dan berlari menuju ring berwarna orange yang berjarak sekitar lima meter darinya.


“Rebound! Ah... “ Pekikku.

Baekhyun terduduk lemas di depan ring basket, membiarkan bolanya menjauh setelah tembakannya meleset. Bisa kupastikan Baekhyun sedang frustasi. Aku berjalan ke lapangan mendekati Baekhyun dan duduk di sampingnya, memberikan sekaleng minuman bersoda yang kubawa di sakuku padanya.


“Ada apa? Tentang pekerjaan atau tentang orang tuamu?” tanyaku langsung saja. Baekhyun membuka kaleng sodanya dan meneguk sedikit.

“Chaeyeon-ah, sepertinya hanya kau yang mengerti aku. Bahkan tanpa kujelaskan keadaannya.” Baekhyun mengusap bibirnya yang basah karena minumannya. Ah ini membuatku gila dia bahkan terlalu sexy untuk melakukan itu.

 Jawaban Baekhyun membuatku sedikit tersanjung. Seakan bunga bunga di hatiku ini terus tumbuh dan kupu kupu terus menari nari di perutku. Oh baiklah, bagaimana tidak tersanjung. Baekhyun akhirnya menyadarinya setelah sekian lama. “Tetapi sekarang bukan mereka.” Jawab Baekhyun lirih.

“Lalu...” Aku mencondongkan badanku dan mendekatkan kepala padanya.

“Taeyeon...” Baekhyun ragu untuk menjelaskan. “ Aku bertemu dengannya tadi siang bersama Jiyoung Hyung.” Lanjut Baekhyun. Entahlah, kupu kupu yang sedang menari nari di perutku ini mati mendadak dan suasana hatiku menjadi tidak baik jika membahas tentang wanita itu. Aku kembali meluruskan punggungku, menjauhi dari Baekhyun.

“Kau cemburu melihat mereka bersama?” tanyaku. “Ayolah, Ini sudah tiga tahun berlalu Baek, yang benar saja.”


“Bukan, aku tidak cemburu. Aku hanya merasa kosong setelah melihat mereka bersama.” Baekhyun kemudian berbaring menatap langit. “Mantan kekasihku sudah menggandeng pria lain, dan apa yang kulakukan disini? Bermain basket dengan frustasi?”


“Itu karena kau menutup hatimu Baek-ah. Bukalah sedikit hatimu.. kau harus belajar menerima cinta dari orang baru.” Saranku yang satu ini mungkin membuat Baekhyun jengah mendengarnya.

“ Bahkan aku tidak pernah memikirkan wanita lain. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, pulang kerja aku bertemu denganmu dan begitu seterusnya. Aku benar benar tidak ada waktu untuk bersama wanita lain.”


“Yaa, kau melupakan satu hal bahwa aku juga wanita...” tanyaku.


“Kau? Hahahahaha....” Baekhyun menertawaiku “Aku tidak pernah benar benar menganggapmu begitu Chaeyeon-ah, kau itu sahabatku.”

“Kenapa tidak bisa? Sekalipun aku sahabatmu, aku tetap saja wanita. Apa kau sama sekali tidak pernah mempertimbangkanku?” entah mengapa membahas Taeyeon membuatku begitu emosional dan  menimbulkan reaksi yang berlebihan. Hah, masa bodoh tentang reaksiku!

“Yeonie-ya, kau tahu kan aku tidak suka hubungan kita berubah. Aku nyaman bersamamu sebagai sahabat. Suatu saat kau akan tahu mengapa aku melakukan ini.”

“Sudahlah...” aku berdiri dan kembali ke tepi lapangan.

“Chaeyeon-ah, yaa, jangan marah padaku , jebal!” Baekhyun membuntutiku. Merengek padaku dan membujukku dengan berbagai macam makanan. “Ice Cream?”


“Yak, kau pikir berapa umurku!” Protesku

“Jajangmyeon” Baekhyun memberikan pilihan yang lain

“Sudahlah!” Jawabku ketus.

“Champong?” Baekhyun masih berusaha membujukku dengan makanan yang lain.

“Yaa! Berhenti membujukku dengan makanan!”

“Barbeque?” Baekhyun menaik turunkan alis matanya dan tersenyum lebar.

“Molla molla...”

Baekhyun tertawa, dia tahu aku begitu rapuh jika berurusan dengan makanan apalagi jika Baekhyun mengatakan Barbeque. Membayangkannya saja membuatku luluh padanya. Ah gadis macam apa yang begitu mudah luluh dengan makanan, sementara gadis lain selalu berusaha meminimalkan makanan masuk ke perutnya.


Lalu perasaanku pada Baekhyun?

Benar, aku menyukainya sejak lama. Saat itu persahabatanku dengannya sudah menuju tahun ke sepuluh. Aku sudah menahan perasaan itu sejak lama, dan ketika kelulusan SMA aku menyatakan semua padanya. Aku benar benar menyukainya lebih dari siapapun.

Tapi Baekhyun menolakku.

“Chaeyeon-ah, aku hanya menganggapmu sahabatku. Kita bersahabat sejak lama dan itu tak merubah perasaanku padamu.”

“ Sedikitpun?” tanyaku.

“Sekalipun hatiku berubah, aku tak akan pernah menyatakannya padamu. Aku ingin menjaga persahabatan kita. Jika kau menjadi kekasihku, dan tiba tiba kita putus. Kau mungkin akan menjauhiku, lalu aku akan kehilangan sahabat dan juga kekasih. Itu lebih menyakitkan dari apapun.”

Baekhyun memberiku alasan yang membuatku merasa begitu egois karena aku hanya memikirkan perasaanku saja. Aku tidak memikirkan hubungan persahabatanku akan rusak jika aku menjadi kekasihnya. Walaupun aku sangat yakin aku tidak akan pernah meninggalkannya.

Setelah Baekhyun menolakku, aku masih tidak tahu malu untuk tetap menjadi sahabatnya. Aku mencoba mengubur perasaanku dan tetap bersamanya sebagai sahabat setianya sampai mati.

“Terimakasih Chaeyeon-ah, karena menjadi sahabatku. Berjalan bersamaku, berbagi cerita denganku, makan bersamaku dan melakukan banyak hal bersamaku” Katanya. Kalimat itu membuatku benar benar menyesali pengakuanku padanya  “Aku tidak ingin kehilangan sahabatku.” Lanjut Baekhyun.

Tahun pertama perkuliahan, aku mengambil jurusan seni musik bersama Baekhyun. Tentu saja aku hanya mengikuti Baekhyun untuk masuk jurusan musik, padahal rencana studiku sebelumnya sangat jauh dari seni. Orang tuaku sempat tidak mengijinkanku masuk jurusan ini. Karena Jung Chaeyeon tidak punya bakat apapun dalam bermusik. Beda dengan Baekhyun yang sudah mengetahui dasar dasar berbagai jenis alat musik seperti piano dan flute. Bahkan kemampuan vokal Baekhyun mampu membuat semua orang jatuh cinta kepadanya.
Suatu saat, Baekhyun datang padaku, duduk disampingku sambil terus bersenandung, raut wajahnya benar benar bahagia. Dia sibuk menatap layar handphonenya sambil tersenyum. Karena sikapnya begitu menyebalkan, aku merebut handphonenya dan mencari tahu mengapa dia terus menerus tersenyum menyebalkan begitu.

Ternyata Baekhyun sedang jatuh cinta pada kakak tingkatnya dan sebulan setelahnya mereka berkencan. Ya, kakak tingkat Baekhyun itu adalah gadis yang baru saja dia ceritakan, Taeyeon. Gadis yang dulu begitu populer di kampus karena suara emasnya yang mempesona dan juga wajah cantik alaminya yang membuat para wanita juga ikut mengaguminya. Banyak pria yang iri pada Baekhyun karena dia benar benar pria yang beruntung menaklukan hati gadis itu.

Sebagai sahabat aku seharusnya ikut merasa bahagia. Tetapi mengapa aku begitu terusik karena waktuku bersama Baekhyun semakin berkurang dan sebagai wanita yang mencintai Baekhyun, aku begitu cemburu. Ah benar, aku tidak bisa menempatkan diri dimana diriku sebenarnya. Apa aku terusik sebagai sahabatnya atau sebagai orang yang mencintai Baekhyun. Tapi aku tidak bisa berbuat apa apa kecuali mendukung hubungan mereka.

Tak lama, aku begitu malas pergi ke kampus, bertemu Baekhyun dan segala macam tentangnya. Aku mulai menyibukkan diri dengan kegiatan lain kecuali bertemu Baekhyun karena waktu Baekhyun sekarang hanya untuk kekasihnya. Dia memang kerap mengajakku makan, menonton tv atau sekedar jalan jalan, tetapi dia juga mengajak Taeyeon, kekasihnya.

Suatu saat, aku pernah ikut mereka berkencan, dan aku benar benar dianggap angin oleh Baekhyun. Dan Taeyeon pun tidak peduli dengan keberadaanku. Aku tidak tahan melihat perlakuan Baekhyun yang begitu manis pada kekasihnya, itu benar benar membuat hatiku terluka. Mulai saat itu aku bersumpah tidak akan pernah pergi bersama mereka berdua lagi.

“Chaeyeon-ah, aku akan menonton film terbaru Tom Cruise bersama Taeyeon, ayo pergi bersama.” Ajak Baekhyun saat kami menyelesaikan kelas vokal. Tom Cruise adalah aktor favoritku dan Baekhyun ingin menontonnya bersamaku dan Taeyeon. Hah, yang benar saja..

“Aku sudah menontonnya kemarin.” Jawabku. Tentu saja aku bohong. Aku ingin mengajaknya saja tanpa Taeyeon tetapi dia sudah mengajakku lebih dulu dan terlebih, dia juga mengajak Taeyeon.

“Benarkah? Kenapa tidak mengajakku?” Tanya Baekhyun mengerucutkan bibirnya yang membuat pria itu terlihat sialan menggemaskan. Dan sialannya lagi, aku menyukai sahabatku yang menggemaskan itu.


“ Aku pergi bersama Chaerin.” Jawabku. Chaerin adalah adikku perempuanku.

Setelah satu setengah tahun perkuliahanku di jurusan musik. Aku menyadari bahwa passionku tidak pada musik. Bagiku musik hanya bisa kudengarkan. Namun tidak bisa kulakukan. Aku begitu putus asa. Satu semesterku terbuang percuma, aku jarang masuk ke kelas dan lebih memilih pergi ke perpustakaan. Mengambil buku anatomi tubuh hewan dan buku buku kedokteran.

Aku memberanikan diri untuk mengatakan pada orang tuaku bahwa aku ingin berhenti kuliah musik dan mendaftar kuliah kedokteran hewan. Orang tuaku langsung menyetujuinya dan mengatakan “Aku senang kau menyadarinya lebih cepat..” Itu membuatku sedikit lega karena aku tidak perlu merasa begitu bersalah.

Pada tahun ke tiga, aku keluar dari jurusan musik dan masuk ke jurusan kedokteran hewan sebagai mahasiswa tahun pertama. Baekhyun tidak kuberitahu tentang kepindahanku dan dia begitu terkejut ketika temanku yang memberitahukan pada Baekhyun tentang kepindahanku. Sepulang kuliah, Baekhyun mengirim pesan padaku untuk bertemu dengannya di lapangan basket dekat rumah kami.


“Kenapa tak memberitahuku? Aku benar benar kecewa padamu Jung Chaeyeon. Apa aku bukan sahabat lagi sampai aku harus tahu dari orang lain?” Baekhyun marah padaku, dia merasa aku sudah tidak menganggapnya sahabat lagi. Walaupun sebenarnya aku lebih marah karena Baekhyun tidak memiliki waktu untukku bahkan hanya untuk bicara saja.

“Maaf, karena tak memberitahumu. Aku begitu kesulitan berada di sana. Aku hampir gila karena tidak mengerti apapun.”


“Kau kan bisa meminta bantuanku. Aku tidak akan membiarkanmu kesulitan sendirian.”


“ Bagaimana caranya aku memberitahumu? Bagaimana caranya aku meminta bantuanmu Byun Baekhyun?”

“Kau kan bisa....” Baekhyun menghentikan kalimatnya. Mengingat waktu sebelumnya, akhir akhir ini dia begitu sibuk pergi bersama kekasihnya dan baru menyadari dia sudah tidak pernah lagi menghabiskan waktu bersamaku. Meneleponku saja tidak pernah lagi. “Chaeyeon-ah, maafkan aku karena sudah jarang menghabiskan waktu denganmu.” Baekhyun menatapku. Dan tatapan itu membuat luluh, kemarahanku mereda.


“Sudahlah, lagipula walaupun kau membantuku, aku pikir aku tetap tidak akan bisa mengatasi segalanya. Itu bukan karena kau tidak membantuku. Hehe, mungkin karena otakku ini terlalu pandai hingga tidak tertarik untuk memahami not not balok yang aneh itu”

“ Yak, maksudmu otakku terlalu bodoh?”


“Tidak, kau aneh, seperti not not balok itu.” Jawabku. Baekhyun tidak tertawa pada leluconku. Wajahnya berubah serius dan malah merasa bersalah.

“Chaeyeon-ah, mulai sekarang aku akan membagi waktuku untuk bisa bersamamu dan bersama Taeng tanpa mengabaikan satu sama lain. Kalian berdua sangat penting untukku. Maafkan aku karena sempat melupakanmu. Aku tidak akan melakukannya lagi, aku akan menjadi sahabat terbaikmu, yang menjadi tempat untuk menumpahkan segala perasaanmu. Akan kupastikan aku akan tetap berada di sisimu.” Urai Baekhyun. Saat itu rasanya aku ingin menumpahkan air mataku di hadapan Baekhyun.

Demi Tuhan Baek, aku tidak ingin kau membagi apapun dengan Taeyeon. Aku hanya ingin kau bersamaku saja.

“Baekhyun-ah...”

“Kenapa? Kau tersentuh?” Baekhyun menyombongkan diri dengan kalimatnya yang memang begitu menyentuh hatiku.

“Tidak, aku lapar. Kau menyuruhku kemari setelah masa orientasi. Aku benar benar kelaparan.” 

“  Heeiiizz, merusak suasana saja..” Baekhyun kesal

“Baekhyun-ah, kalau kita tidak makan sekarang, aku bisa mati.” Aku berakting lagi.


“baiklah, baiklah, untuk menebus kesalahanku, aku akan mentraktirmu Barbeque! Cool?”


“Cool!!!!” Aku tiba tiba begitu bersemangat dengan barbeque,entah karena aku akan makan bersama baekhyun atau memang aku begitu menyukai barbeque.


Setelah hari itu, hubunganku dan Baekhyun perlahan kembali seperti dahulu. Meski tidak sesering sebelumnya, paling tidak dia memiliki waktu untuk bertemu denganku dan pergi keluar bersama.

Dua tahun berlalu, aku sibuk dengan kuliahku dan Baekhyun dengan kesibukannya dan persahabatan kami masih terjalin sangat baik dengan perasaanku yang tidak pernah berubah meski aku menyadari Baekhyun memiliki kekasih. Aku hanya perlu menerimanya... ya, aku hanya perlu menerima bahwa Baekhyun tidak akan menjadi milikku maka aku akan tetap berada disisinya sebagai sahabat.


Tapi kabar mengejutkan itu datang, Baekhyun dan Taeyeon mengakhiri hubungannya. Baekhyun begitu patah hati. Dia menjadi sangat frustasi. Aku tahu Baekhyun sangat mencintai Taeyeon. Aku benar benar tidak menyangka Taeyeon meninggalkan Baekhyun begitu saja apalagi Baekhyun hampir memberikan segalanya untuk kekasihnya itu.

Setelah kejadian itu, Baekhyun mulai menutup diri terhadap wanita, tidak ada wanita yang mampu merobohkan benteng pertahanannya untuk terus menutup diri pada wanita. Dia hanya pergi dengan teman lelakinya dan satu satunya wanita yang bisa dia ajak pergi selain ibunya hanyalah aku.

Dan sayangnya, aku tidak pernah dianggap sebagai wanita oleh Baekhyun. Aku pernah berusaha meyakinkan Baekhyun untuk mempertimbangkanku lagi, tapi dia tidak pernah mendengarkanku.


“Sampai kapanpun kau tetap sahabatku Chaeyeon-ah. Jangan memintaku untuk membuatmu menjadi kekasihku. Aku tidak mau kehilangan sahabatku hanya karena menjadikanmu kekasih yang bisa meninggalkanku kapan saja.”


“Aku tidak akan meninggalkanmu Baek-ah, percayalah.”
“Kau tahu apa yang paling tidak bisa kupercaya sekarang?” tanya Baekhyun. Aku mengerutkan dahi.

“Apa?” tanyaku.

“Hati manusia, hati manusia yang mudah berubah, jangan pernah membuat janji seperti kau tak pernah meninggalkanku tetapi pada akhirnya kau melakukannya. Aku hanya membutuhkanmu menjadi sahabatku, disisiku, agar kau tak pernah meninggalkanku.” Jelas Baekhyun.


Dua kali aku menyatakan perasaanku padanya, aku memiliki dua penilaian yang berbeda. Awalnya aku menganggap aku yang terlalu egois karena terlalu memaksakan perasaanku pada Baekhyun, tapi saat ini bagiku Baekhyunlah orang yang paling egois itu.

Apa salahnya sahabat menjadi seorang kekasih? Kita sudah saling mengenal satu sama lain. Aku yang selalu ada untuk Baekhyun apapun yang terjadi begitu juga Baekhyun adalah orang yang selalu ada untukku. Tidak perlu saling mengenal lagi karena kita sudah saling mengenal lebih dari siapapun, tidak perlu berpikir siapa yang harus melakukan untuk siapa. Sahabat lebih sempurna dari apapun untuk menjadi seorang kekasih.

Kau harusnya tau itu Baek

*Andante*

  Ini sudah ketiga kalinya aku meminta Baekhyun untuk mempertimbangkan perasaanku padanya dan dia tetap saja menolakku. Aku terlalu naif, sangat yakin jika perlahan Baekhyun pasti bisa membuka hatinya untukku hingga aku bertahan selama ini. Aku hampir putus asa sekarang. Apa aku memang harus mengubur keyakinanku tentang Baekhyun yang mungkin akan menerima perasaanku.

Hei Jung Chaeyeon! Bukankah kau berusaha terlalu keras? Apa kau tidak lelah mengejarnya? Berhentilah! dan berjalanlah dengan nyaman mulai sekarang! ‘Bertahan untuk mencintai seseorang’ tidak selalu berbanding lurus dengan ‘pada akhirnya dia menerima perasaanmu’.

Suatu malam Baekhyun menjemputku untuk makan malam, tetapi orang tua Baekhyun menghubunginya meminta untuk makan bersama di rumah. Akhirnya Baekhyun mengajakku bersamanya. Sudah cukup lama aku tidak mengunjungi rumah orang tua Baekhyun, mungkin sudah lima atau enam tahun berlalu. Rumah kami sudah tidak lagi berdekatan karena orang tua Baekhyun pindah sekitar enam tahun lalu dari perumahan yang sama denganku.  

“Chaeyeon-ah, kau datang? Sudah lama eomma tidak melihatmu.” Sambut ibu Baekhyun padaku. Dia masih hangat seperti dulu. Menganggapku seperti anaknya sendiri. Ah, lebih tepatnya seperti adik Byun Baekhyun. Aku memberinya bunga yang kubeli bersama Baekhyun sebelum datang kemari.

Aku, Baekhyun, Kedua orang tuanya serta kakak perempuan Baekhyun duduk bersama di ruang makan. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan orang tuanya yang hampir Baekhyun lupakan. Dasar anak itu, bagaimana dia bisa melupakan ulang tahun pernikahan orang tuanya.

“Aku dengar kau sekarang membuka praktik di dekat studio Baekhyun?” Tanya kakak Baekhyun.


“Ne, eonni. Hanya berbeda beberapa blok dari studio Baekhyun. Kalau Eiko sakit kau bisa membawanya padaku.” Jawabku. Eiko adalah anjing kesayangan kakak Baekhyun.

“Yeobo, bukankah mereka sangat cocok bersama?” Kata Ibu Baekhyun pada suaminya.

“Haha, aku selalu berpikir kalau suatu saat mereka menikah. Satu satunya wanita yang selalu Baekhyun temui hanya kau Chaeyeon-ah.” Ayah Baekhyun tiba tiba membuatku tersipu walau aku tahu itu adalah kebenaran yang tidak disangkal. Baekhyun memang hanya menemuiku.

“Appa, Eomma, kau membuat Chaeyeon tidak nyaman.. kita kan hanya bersahabat.” Jelas Baekhyun.

“Yaak Baekhyuniee Chaeyeoniee, kenapa tidak berkencan saja kalian berdua, huh?” pinta kakak Baekhyun.

“Noona! Jangan memanggilku begitu, aku bukan Baekhyuniee-mu lagi, Ara?” Baekhyun mengerucutkan bibirnya.

“Tapi kalian benar benar cocok bersama. Sungguh.”

“Aniyaa, kenapa kalian begitu ngotot menyuruhku berkencan dengannya. Dia sahabatku dan selamanya akan seperti itu!”


“Chaeyeoniee, kau benar benar tidak memiliki perasaan pada Baekhyun?” tanya Ibu Baekhyun yang hanya ku jawab dengan senyum paksaku. Jika ku ceritakan semuanya, mungkin seluruh keluarganya akan mendukungku. Tapi apa yang harus kulakukan jika Byun Baekhyun saja tidak menginginkannya.

“Eomma, kau benar benar membuatnya canggung.” Protes Baekhyun



*Andante*

Baekhyun mengantarku setelah makan malam bersama keluarganya. Baekhyun berkali kali meminta maaf padaku atas sikap keluarganya yang mungkin membuatku tidak nyaman dengan makan malam tadi. Sejujurnya kalimat kalian cocok bersama adalah kalimat yang paling sering kudengar. Jadi aku tidak pernah merasa tidak nyaman. Bukan karena aku menyukai kalimat itu. tetapi karena aku mulai terbiasa dengan kalimat itu. Kau cocok dengannya, kenapa tidak pacaran saja? Aku pikir Baekhyun cocok denganmu. Bodoh sekali kalau kau selalu menganggapnya sahabat. Apa kau tidak pernah memiliki perasaan lebih padanya? Teman temanku sering menanyakan itu.

“Aku meminta maaf padamu karena ku pikir Noona keterlaluan.”

“Tidak ada yang salah dengan mereka, mereka hanya menginginkan kau segera memiliki kekasih. Tapi kau malah selalu pergi denganku.”

“Apa salahnya pergi bersama sahabatku? Aku senang pergi bersamamu.”

“Perlu kau ulang berapa kali kata “sahabat” itu Byun Baekhyun? Aku bahkan cukup tahu diri dan tidak memintamu mempertimbangkanku untuk yang keempat kalinya.”


“Chaeyeon-ah... aku takut kau jadi salah paham.”


“ Apa kau akan terus menerus memperjelas batas hubungan kita? Kau bahkan tahu pasti aku sangat menyukaimu.”


“Ta tapi aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya ingin kau tetap menjadi sahabatku.”

“Lalu aku harus bagaimana jika perasaanku lebih dari itu. Kau sangat baik padaku, kau memperhatikanku, kan selalu ada untukku. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padamu?”


“Itu karena kau sahabatku.”


“ Berapa kali kau akan mengatakan sahabat sahabat dan sahabat. Hari ini aku benar benar benci menjadi sahabatmu!”


Aku meninggalkan Baekhyun segera setelah perdebatan malam itu, menangis sejadi jadinya sampai pagi dan aku tidak bohong soal membenci hubungan persahabatanku dengan Baekhyun. Aku benar benar membencinya sekarang.

Tiga hari berlalu, aku selalu menolak bertemu dengannya. Mengabaikan teleponnya, dan menolak ajakan makan bersama. Dia juga datang ke klinik. Tetapi aku tidak pernah menemuinya. Jika aku terus menemuinya, pergi bersamanya, dan mudah luluh padanya, maka aku sudah tidak akan tertolong lagi. Aku mungkin akan selamanya terjebak dalam batas yang selama ini Baekhyun buat untuk kami.



*Andante/ Author POV*
Setelah melepas jas putihnya, Jung Chaeyeon mengganti baju dengan dress berwarna hitam polos selutut dengan lengan panjang transparan yang menggembung. Rambut hitam kecoklatannya tergerai bebas dengan poni samping yang tebal serta anting bulat keemasan yang senada dengan kalungnya.

Dia menyapukan bedak tipis tipis ke wajah dan memulas bibir dengan lipstick berwarna nude yang meninggalkan kesan segar namun tetap sederhana . Dia mengambil tas kerjanya meninggalkan kantor. Sore ini dia memiliki janji dengan seseorang di restoran dekat klinik prakteknya.

Tapi Baekhyun sudah berdiri di depan kliniknya sejak dua jam yang lalu, bersandar di mobilnya dengan menyakukan kedua tangan. Sudah hampir sebulan mereka tidak bertemu karena Chaeyeon terus saja menolak bertemu Baekhyun dan seminggu yang lalu Baekhyun ada pekerjaan di Amerika sehingga dia baru menemui Chaeyeon setelah kepulangannya.

“Hehei, temanku yang sangat cantik. Akhirnya kau keluar juga. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Bagaimana kalau kita makan barbeque? Cool?” Baekhyun masih tetap sama, selalu membujuk Chaeyeon dengan makanan. Bahkan anjing milik Ivan Pavlov saja tidak lagi berliur ketika bel datangnya daging dibunyikan setelah sekian lama.


“Maaf Baekhyun-ah, aku sudah ada janji makan malam dengan seseorang.” Jawab Chaeyeon


“Kau? Makan malam? Dengan siapa?” tanya Baekhyun penasaran. Ini adalah pertama kalinya Chaeyeon menolak Baekhyun makan bersama.


“Hanya seseorang, kau tidak mengenalnya.”


“Kalau begitu aku ikut kau saja, kau juga sering mengajakku makan bersama teman temanmu dulu. Aku benar benar rindu makanan korea setelah seminggu di Amerika.”


“ Baekhyun-ah,maaf hari ini aku tidak bisa mengajakmu.”


“Wae?” tanya Baekhyun. “Oh ya, ngomong ngomong kenapa kau cantik sekali malam ini..” puji Baekhyun. Tapi sungguh, pujian itu terlontar begitu saja dari mulut Baekhyun karena Chaeyeon memang jarang mengenakan dress dan riasan di wajahnya. “Jangan bilang kau mau kencan buta!”


“Eoh, karena itu kau tidak perlu ikut”


“Kau mau kencan buta? Ya, siapa yang merekomendasikan kencan konyol semacam ini padamu? Huh? Memangnya kau tidak bisa kencan dengan normal? Kenapa harus kencan buta. Kau tidak tau dia seperti apa? Mengapa kau mau dijodoh jodohkan begitu saja dengan pria yang bahkan kau tidak mengenalnya.”

“Ini kencan buta Baek,bukan perjodohan. Kenapa berlebihan sekali.”


“Lalu kenapa kau mengiyakan, kau dulu tidak pernah mau ikut kencan konyol seperti ini. Kau tidak mengenal pria itu dengan baik, apakah dia jahat apakah dia baik, apakah dia benar benar serius denganmu. Kau tidak mengenalnya Jung Chaeyeon.”

“Itu mengapa aku harus kencan buta, Jika aku mengenalnya dengan baik, aku pikir aku hanya bisa jadi sahabatnya. Sudah ya aku hampir terlambat.” Jawab Chaeyeon meninggalkan Baekhyun yang membisu di depan klinik.

Baekhyun masuk ke mobil setelah Chaeyeon berlalu, duduk di belakang kemudi dan menyetir ke rumahnya. Karena Baekhyun tidak suka makan sendirian, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke rumah orang tuanya.

“Ada apa kemari?” tanya ibu baekhyun.

“Aku rindu pada ibu.” Peluk Baekhyun saat ibunya menyiapkan makan malam di dapur. “aku rindu masakan ibu. Kakak belum pulang?” Tanya baekhyun kemudian duduk di meja  makan.


“Mungkin sebentar lagi, Mana Chaeyeonie?” Tanya ibunya berharap gadis itu datang bersama anaknya.

“Pergi kencan buta.” Jawab Baekhyun malas.

“Benarkah, siapa yang dia temui?” Tanya Ibu Baekhyun penasaran.


“Molla, kenapa ibu menanyakannya padaku.”


“Ya, kau kan sahabatnya, apa Chaeyeon tidak mengatakan apa apa padamu.  Lalu kenapa wajahmu kesal begitu. Kau tidak suka Chaeyeon pergi kencan buta?”


“Huh, mana mungkin aku kesal. Aku senang akhirnya Chaeyeon bertemu seorang pria.  Aku hanya khawatir saja bu, bagaimana kalau dia bertemu pria yang tidak baik, bagaimana kalau dia hanya dipermainkan pria itu. Chaeyeon bahkan tidak tahu apa apa soal pria.” Jawab Baekhyun berapi api yang membuat ibunya tertawa melihat sikap berlebihan anaknya.


“ Baekhyun-ah, ibu tanya padamu. Apa kau benar benar tidak menyukai Chaeyeon?”


“Aku? Chaeyeon? Mana mungkin bu. Dia temanku, sahabatku dan akan selamanya seperti itu.” Jawab Baekhyun. Ibunya kemudian mematikan kompor dan bergeser duduk di hadapan anaknya.


“Lalu Chaeyeon, apa dia juga menganggapmu seperti kau menganggapnya? Apa Chaeyeon hanya menganggapmu sebagai sahabat? Jujur saja Baekhyun-ah, ibu melihatnya berbeda. Jung Chaeyeon sangat menyukaimu. Apa kau tidak merasakannya? Saat kau mengalami gagal ginjal dan butuh donor secepatnya. dia datang ke rumah sakit sambil menangis. Ketika kau membutuhkan ginjal dia bersikeras ingin memberikan miliknya padamu. Ketika jelas jelas ginjal kalian tidak cocok. Dia menangis melebihi tangisan ibu.”


“aku pun akan begitu ketika Chaeyeon yang kena gagal ginjal bu. Dia menyayangiku sebagai sahabatnya.”

“ Anak ini benar benar tidak peka, ckckck astaga... kau benar benar tidak tertolong Baekhyun. Apa benar kau ini anakku.” Ibunya keheranan. Tidak ada satupun sifat ibunya yang turun kepada Baekhyun.

“Eomma..”


“Oh iya kau tidak tahu kan,saat itu Chaeyeon datang kemari saat hujan karena khawatir tentang keadaanmu. Dia bilang kau meneleponnya dengan suara yang tidak baik. Lalu kau memutuskan sambungan teleponnya. Dia khawatir dan mencarimu sampai kemari dan ternyata kau sedang pergi liburan bersama kekasihmu.”


“Hah, Chaeyeon? Melakukannya?”


“Oh ada satu lagi...” Lanjut ibunya tetapi Baekhyun menyela.“Eomma, aku pergi dulu. Kita lanjutkan besok saja.” Baekhyun meraih jaket dan kunci mobil.


“Yaaa, kau harus makan dulu sebelum pergi..” kata Ibunya.


“Tidak usah!” Jawab baekhyun dari kejauhan. “Besok saja. Eomma.”


Baekhyun memarkirkan mobilnya di dekat lapangan basket tempat mereka biasa bertemu dan berjalan menuju rumah Chaeyeon.

“Ya Tuhan ini jauh sekali..” Gumam Baekhyun setelah berjalan sekitar 15 menit dari lapangan. “Kenapa Chaeyeon bisa secepat itu sampai di lapangan kalau....” Baekhyun berhenti sejenak, seperti memikirkan sesuatu. Setelah sampai di depan rumah Chaeyeon, dia mengambil ponselnya.

“Chaeyeon-ah!” Panggil Baekhyun dengan terbatuk batuk. “Kau bisa menemuiku. Uhuk uhuk...” lanjut Baekhyun.

‘baekhyun-ah, kau sakit?” tanya Chaeyeon diujung sana.
Setelah mereka menutup ponsel, tiba tiba Chaeyeon menghambur keluar dan berlari menuju lapangan. Baekhyun sengaja berdiri di tepi pagar agar tak terlihat oleh Chaeyeon.

Baekhyun terkejut ketika melihat Chaeyeon berlari begitu cepat menyusuri jalan jalan kecil dan dia sempat masuk ke apotik untuk membeli sesuatu.

Dia kembali berlari menuju lapangan dan menghentikan langkahnya sebelum sampai di lapangan. Memperbaiki letak jaket dan syalnya serta memasukkan obat ke saku jaketnya.

Chaeyeon mencari Baekhyun hingga ke sudut lapangan, tapi Baekhyun tidak ada. Akhirnya Chaeyeon menelepon Baekhyun.

“Kau dimana?” Nafasnya memburu karena berlari secepat mungkin agar Baekhyun tidak menunggunya terlalu lama.

“Aku di mobil di depan lapangan. Kau tidak melihatku?” tanya Baekhyun

“Tunggu sebentar, aku akan kesana.”

Baekhyun sudah duduk di belakang kemudinya, menunggu Chaeyeon datang padanya. Kini Baekhyun tau bagaimana cara Chaeyeon datang padanya dengan sangat cepat. Dia berlari sekuat tenaga untuk sampai padanya. Kenapa Chaeyeon harus berlari, bahkan jika dia berjalan dan membutuhkan waktu yang lama Baekhyun akan tetap menunggunya.

“Kenapa lama sekali?” tanya Baekhyun.

“Eoh? Oh, aku tadi sudah mau tidur tapi kau menelepon. Jadi aku harus ganti baju dan sebagainya. Ada apa? Kau tidak apa apa kan? Sepertinya kau flu, aku membawa..”


“Oh, aku tidak apa apa. Bagaimana kencanmu?” tanya Baekhyun menyela Chaeyeon.

“Kau memintaku kemari hanya untuk menanyakan itu?”

“Aku khawatir padamu.” Jawab Baekhyun tertunduk di atas setir.

“Kenapa? Kenapa khawatir padaku?” Raut wajah Chaeyeon penuh tanya. Mengapa Baekhyun sampai datang kemari hanya untuk mengetahui bagaimana kencan butanya. Apa Baekhyun menyadari perasaannya setelah Chaeyeon melakukan ini.


“ Kau kan sahabatku, aku khawatir kau tidak melakukannya dengan baik. Aku khawatir karena kau bahkan tidak tahu apa apa soal pria.”

Oh ayolah Chaeyeon, jangan terlalu berlebihan. Mengapa Baekhyun harus menyadari perasaannya hanya karena kau pergi kencan buta.

“Baekhyun-ah, mulai sekarang jangan mengkhawatirkan apapun tentangku. Aku akan melakukan segalanya dengan caraku.”Chaeyeon menarik gagang pintu mobil Baekhyun hendak keluar tapi Baekhyun menarik lengannya, mencegahnya turun.


 “Baiklah, kalau kau ingin kita berkencan. Ayo kita berkencan” Ucap Baekhyun yang membuat Chaeyeon mengurungkan niatnya untuk keluar dari mobil. Dia menatap Baekhyun beberapa lama.

“Kenapa? Kenapa kau mau berkencan denganku?” tanya Chaeyeon ingin tahu. Kenapa baekhyun harus berkencan dengannya. Selama ini Baekhyun begitu bersikukuh untuk bersahabat dengan Chaeyeon dan tidak pernah mengubah perasaannya. Lalu kenapa malam ini dia mengatakan ingin berkencan dengan Chaeyeon.

“Em... karena aku khawatir padamu. Aku tidak ingin kau bertemu pria yang tidak baik dan....”

“Baekhyun-ah, berkencan bukan karena kau mengkhawatirkan seseorang.” Jawab Chaeyeon.

“ Karena kau mencintaiku. Aku akan berusaha mencintaimu juga Yeonie.”

“kau tidak bisa berkencan denganku hanya karena aku mencintaimu. Mencintai seseorang bukan kegiatan balas budi Byun Baekhyun”

“Lalu aku harus bagaimana agar kau mau berkencan denganku?” Baekhyun tidak mengerti dengan situasinya. Dia hanya khawatir pada Chaeyeon.

“Apa kau mencintaiku?” Tanya Chaeyeon.Baekhyun terdiam setelah aku menanyakan pertanyaan paling sensitif itu. Dia terlihat tidak punya apapun untuk bisa memjawab pertanyaan Chaeyeon.

“Kalau tidak, mengapa kau harus berkencan denganku.” Tanya Chaeyeon kemudian bergerak keluar dari mobil Baekhyun.

Baekhyun tetap duduk dibelakang kemudian memandang Chaeyeon yang perlahan menjauhinya, gadis itu berjalan cepat dan membuang sesuatu dari kantung jaketnya. Iya, obat yang dibeli Chaeyeon di apotik baru saja. Baekhyun bingung dengan dirinya sendiri dan juga gadis yang baru saja meninggalkannya.

“Mengapa wanita begitu rumit, dia bilang mencintaiku, dia marah ketika aku tidak membalas perasaannya. Tapi ketika aku berusaha membalas perasaannya, dia malah lebih marah. Jung Chaeyeon, kau benar benar wanita sekarang.” Baekhyun mengusap wajah dengan kedua tangannya. “Memahami wanita ternyata tidak semudah itu. Bagaimana bisa menuruti kemauannya malah membuatnya marah.” Baekhyun menggeleng kepala lalu menyalakan mesin mobilnya.

*Andante*



No comments:

Post a Comment