|
AndantE
|
Aku berlari di jalanan sempit
setelah menghambur dari pintu kayu kokoh berwarna cokelat. Sebelumnya teleponku
berdering, seseorang memintaku untuk datang ke lapangan meski malam itu sangat
dingin, tapi apa peduliku. Aku akan tetap menemuinya meski hujan badai
sekalipun atau bahkan jika dia di belahan dunia yang lain.
Suara pantulan bola terdengar
meski aku masih puluhan meter jauhnya dari lapangan. Ya, itu pasti dia. Lalu aku
berhenti, memperbaiki letak syalku dan berjalan seperti biasa.
Byun Baekhyun, seseorang yang
meneleponku baru saja itu pasti sedang memiliki masalah hingga memintaku datang
padanya meski malam sudah begitu larut
“Wae?” tanyaku setelah sampai di
tepi lapangan.
Baekhyun menyadari keberadaanku,
dia menengok padaku, dahinya mengkerut, keheranan.
“Ya! rumahmu pindah di dekat
sini?” tanya Baekhyun padaku. Aku menggeleng tidak mengerti. Baekhyun mengecek
jam tangannya “Daebak! Aku menelepon tiga menit yang lalu, dan kau sudah sampai
disini.” Baekhyun berharap jawaban dariku. Tentu saja tiga menit, karena aku
berlari dari rumah hingga tempat ini. Tak kunjung mendapat jawabanku, dia memutuskan
mengelilingi lapangan sambil mendribel bola dan berlari menuju ring berwarna
orange yang berjarak sekitar lima meter darinya.
“Rebound! Ah... “ Pekikku.
Baekhyun terduduk lemas di depan
ring basket, membiarkan bolanya menjauh setelah tembakannya meleset. Bisa
kupastikan Baekhyun sedang frustasi. Aku berjalan ke lapangan mendekati
Baekhyun dan duduk di sampingnya, memberikan sekaleng minuman bersoda yang
kubawa di sakuku padanya.
“Ada apa? Tentang pekerjaan atau tentang
orang tuamu?” tanyaku langsung saja. Baekhyun membuka kaleng sodanya dan
meneguk sedikit.
“Chaeyeon-ah, sepertinya hanya
kau yang mengerti aku. Bahkan tanpa kujelaskan keadaannya.” Baekhyun mengusap
bibirnya yang basah karena minumannya. Ah ini membuatku gila dia bahkan terlalu
sexy untuk melakukan itu.
Jawaban Baekhyun membuatku sedikit tersanjung.
Seakan bunga bunga di hatiku ini terus tumbuh dan kupu kupu terus menari nari
di perutku. Oh baiklah, bagaimana tidak tersanjung. Baekhyun akhirnya
menyadarinya setelah sekian lama. “Tetapi sekarang bukan mereka.” Jawab
Baekhyun lirih.
“Lalu...” Aku mencondongkan
badanku dan mendekatkan kepala padanya.
“Taeyeon...” Baekhyun ragu untuk
menjelaskan. “ Aku bertemu dengannya tadi siang bersama Jiyoung Hyung.” Lanjut Baekhyun.
Entahlah, kupu kupu yang sedang menari nari di perutku ini mati mendadak dan
suasana hatiku menjadi tidak baik jika membahas tentang wanita itu. Aku kembali
meluruskan punggungku, menjauhi dari Baekhyun.
“Kau cemburu melihat mereka
bersama?” tanyaku. “Ayolah, Ini sudah tiga tahun berlalu Baek, yang benar
saja.”
“Bukan, aku tidak cemburu. Aku
hanya merasa kosong setelah melihat mereka bersama.” Baekhyun kemudian
berbaring menatap langit. “Mantan kekasihku sudah menggandeng pria lain, dan
apa yang kulakukan disini? Bermain basket dengan frustasi?”
“Itu karena kau menutup hatimu
Baek-ah. Bukalah sedikit hatimu.. kau harus belajar menerima cinta dari orang
baru.” Saranku yang satu ini mungkin membuat Baekhyun jengah mendengarnya.
“ Bahkan aku tidak pernah
memikirkan wanita lain. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku, pulang kerja aku
bertemu denganmu dan begitu seterusnya. Aku benar benar tidak ada waktu untuk bersama
wanita lain.”
“Yaa, kau melupakan satu hal
bahwa aku juga wanita...” tanyaku.
“Kau? Hahahahaha....” Baekhyun
menertawaiku “Aku tidak pernah benar benar menganggapmu begitu Chaeyeon-ah, kau
itu sahabatku.”
“Kenapa tidak bisa? Sekalipun aku
sahabatmu, aku tetap saja wanita. Apa kau sama sekali tidak pernah
mempertimbangkanku?” entah mengapa membahas Taeyeon membuatku begitu emosional
dan menimbulkan reaksi yang berlebihan.
Hah, masa bodoh tentang reaksiku!
“Yeonie-ya, kau tahu kan aku
tidak suka hubungan kita berubah. Aku nyaman bersamamu sebagai sahabat. Suatu
saat kau akan tahu mengapa aku melakukan ini.”
“Sudahlah...” aku berdiri dan
kembali ke tepi lapangan.
“Chaeyeon-ah, yaa, jangan marah
padaku , jebal!” Baekhyun membuntutiku. Merengek padaku dan membujukku dengan
berbagai macam makanan. “Ice Cream?”
“Yak, kau pikir berapa umurku!” Protesku
“Jajangmyeon” Baekhyun memberikan
pilihan yang lain
“Sudahlah!” Jawabku ketus.
“Champong?” Baekhyun masih
berusaha membujukku dengan makanan yang lain.
“Yaa! Berhenti membujukku dengan
makanan!”
“Barbeque?” Baekhyun menaik turunkan
alis matanya dan tersenyum lebar.
“Molla molla...”
Baekhyun tertawa, dia tahu aku
begitu rapuh jika berurusan dengan makanan apalagi jika Baekhyun mengatakan
Barbeque. Membayangkannya saja membuatku luluh padanya. Ah gadis macam apa yang
begitu mudah luluh dengan makanan, sementara gadis lain selalu berusaha meminimalkan
makanan masuk ke perutnya.
Lalu perasaanku pada Baekhyun?
Benar, aku menyukainya sejak
lama. Saat itu persahabatanku dengannya sudah menuju tahun ke sepuluh. Aku
sudah menahan perasaan itu sejak lama, dan ketika kelulusan SMA aku menyatakan
semua padanya. Aku benar benar menyukainya lebih dari siapapun.
Tapi Baekhyun menolakku.
“Chaeyeon-ah, aku hanya menganggapmu sahabatku. Kita bersahabat sejak
lama dan itu tak merubah perasaanku padamu.”
“ Sedikitpun?” tanyaku.
“Sekalipun hatiku berubah, aku tak akan pernah menyatakannya padamu.
Aku ingin menjaga persahabatan kita. Jika kau menjadi kekasihku, dan tiba tiba
kita putus. Kau mungkin akan menjauhiku, lalu aku akan kehilangan sahabat dan
juga kekasih. Itu lebih menyakitkan dari apapun.”
Baekhyun memberiku alasan yang
membuatku merasa begitu egois karena aku hanya memikirkan perasaanku saja. Aku
tidak memikirkan hubungan persahabatanku akan rusak jika aku menjadi kekasihnya.
Walaupun aku sangat yakin aku tidak akan pernah meninggalkannya.
Setelah Baekhyun menolakku, aku
masih tidak tahu malu untuk tetap menjadi sahabatnya. Aku mencoba mengubur
perasaanku dan tetap bersamanya sebagai sahabat setianya sampai mati.
“Terimakasih Chaeyeon-ah, karena
menjadi sahabatku. Berjalan bersamaku, berbagi cerita denganku, makan bersamaku
dan melakukan banyak hal bersamaku” Katanya. Kalimat itu membuatku benar benar
menyesali pengakuanku padanya “Aku tidak
ingin kehilangan sahabatku.” Lanjut Baekhyun.
Tahun pertama perkuliahan, aku
mengambil jurusan seni musik bersama Baekhyun. Tentu saja aku hanya mengikuti
Baekhyun untuk masuk jurusan musik, padahal rencana studiku sebelumnya sangat
jauh dari seni. Orang tuaku sempat tidak mengijinkanku masuk jurusan ini.
Karena Jung Chaeyeon tidak punya bakat apapun dalam bermusik. Beda dengan
Baekhyun yang sudah mengetahui dasar dasar berbagai jenis alat musik seperti
piano dan flute. Bahkan kemampuan vokal Baekhyun mampu membuat semua orang
jatuh cinta kepadanya.
Suatu saat, Baekhyun datang
padaku, duduk disampingku sambil terus bersenandung, raut wajahnya benar benar
bahagia. Dia sibuk menatap layar handphonenya sambil tersenyum. Karena sikapnya
begitu menyebalkan, aku merebut handphonenya dan mencari tahu mengapa dia terus
menerus tersenyum menyebalkan begitu.
Ternyata Baekhyun sedang jatuh
cinta pada kakak tingkatnya dan sebulan setelahnya mereka berkencan. Ya, kakak
tingkat Baekhyun itu adalah gadis yang baru saja dia ceritakan, Taeyeon. Gadis
yang dulu begitu populer di kampus karena suara emasnya yang mempesona dan juga
wajah cantik alaminya yang membuat para wanita juga ikut mengaguminya. Banyak
pria yang iri pada Baekhyun karena dia benar benar pria yang beruntung
menaklukan hati gadis itu.
Sebagai sahabat aku seharusnya
ikut merasa bahagia. Tetapi mengapa aku begitu terusik karena waktuku bersama Baekhyun
semakin berkurang dan sebagai wanita yang mencintai Baekhyun, aku begitu
cemburu. Ah benar, aku tidak bisa menempatkan diri dimana diriku sebenarnya.
Apa aku terusik sebagai sahabatnya atau sebagai orang yang mencintai Baekhyun. Tapi
aku tidak bisa berbuat apa apa kecuali mendukung hubungan mereka.
Tak lama, aku begitu malas pergi
ke kampus, bertemu Baekhyun dan segala macam tentangnya. Aku mulai menyibukkan
diri dengan kegiatan lain kecuali bertemu Baekhyun karena waktu Baekhyun
sekarang hanya untuk kekasihnya. Dia memang kerap mengajakku makan, menonton tv
atau sekedar jalan jalan, tetapi dia juga mengajak Taeyeon, kekasihnya.
Suatu saat, aku pernah ikut
mereka berkencan, dan aku benar benar dianggap angin oleh Baekhyun. Dan Taeyeon
pun tidak peduli dengan keberadaanku. Aku tidak tahan melihat perlakuan
Baekhyun yang begitu manis pada kekasihnya, itu benar benar membuat hatiku
terluka. Mulai saat itu aku bersumpah tidak akan pernah pergi bersama mereka
berdua lagi.
“Chaeyeon-ah, aku akan menonton film terbaru Tom Cruise bersama
Taeyeon, ayo pergi bersama.” Ajak Baekhyun saat kami menyelesaikan kelas vokal.
Tom Cruise adalah aktor favoritku dan Baekhyun ingin menontonnya bersamaku dan
Taeyeon. Hah, yang benar saja..
“Aku sudah menontonnya kemarin.” Jawabku. Tentu saja aku bohong. Aku
ingin mengajaknya saja tanpa Taeyeon tetapi dia sudah mengajakku lebih dulu dan
terlebih, dia juga mengajak Taeyeon.
“Benarkah? Kenapa tidak mengajakku?” Tanya Baekhyun mengerucutkan
bibirnya yang membuat pria itu terlihat sialan menggemaskan. Dan sialannya
lagi, aku menyukai sahabatku yang menggemaskan itu.
“ Aku pergi bersama Chaerin.” Jawabku. Chaerin adalah adikku
perempuanku.
Setelah satu setengah tahun
perkuliahanku di jurusan musik. Aku menyadari bahwa passionku tidak pada musik.
Bagiku musik hanya bisa kudengarkan. Namun tidak bisa kulakukan. Aku begitu
putus asa. Satu semesterku terbuang percuma, aku jarang masuk ke kelas dan
lebih memilih pergi ke perpustakaan. Mengambil buku anatomi tubuh hewan dan
buku buku kedokteran.
Aku memberanikan diri untuk
mengatakan pada orang tuaku bahwa aku ingin berhenti kuliah musik dan mendaftar
kuliah kedokteran hewan. Orang tuaku langsung menyetujuinya dan mengatakan “Aku
senang kau menyadarinya lebih cepat..” Itu membuatku sedikit lega karena aku
tidak perlu merasa begitu bersalah.
Pada tahun ke tiga, aku keluar
dari jurusan musik dan masuk ke jurusan kedokteran hewan sebagai mahasiswa tahun
pertama. Baekhyun tidak kuberitahu tentang kepindahanku dan dia begitu terkejut
ketika temanku yang memberitahukan pada Baekhyun tentang kepindahanku. Sepulang
kuliah, Baekhyun mengirim pesan padaku untuk bertemu dengannya di lapangan
basket dekat rumah kami.
“Kenapa tak memberitahuku? Aku
benar benar kecewa padamu Jung Chaeyeon. Apa aku bukan sahabat lagi sampai aku
harus tahu dari orang lain?” Baekhyun marah padaku, dia merasa aku sudah tidak
menganggapnya sahabat lagi. Walaupun sebenarnya aku lebih marah karena Baekhyun
tidak memiliki waktu untukku bahkan hanya untuk bicara saja.
“Maaf, karena tak memberitahumu.
Aku begitu kesulitan berada di sana. Aku hampir gila karena tidak mengerti
apapun.”
“Kau kan bisa meminta bantuanku.
Aku tidak akan membiarkanmu kesulitan sendirian.”
“ Bagaimana caranya aku
memberitahumu? Bagaimana caranya aku meminta bantuanmu Byun Baekhyun?”
“Kau kan bisa....” Baekhyun
menghentikan kalimatnya. Mengingat waktu sebelumnya, akhir akhir ini dia begitu
sibuk pergi bersama kekasihnya dan baru menyadari dia sudah tidak pernah lagi
menghabiskan waktu bersamaku. Meneleponku saja tidak pernah lagi. “Chaeyeon-ah,
maafkan aku karena sudah jarang menghabiskan waktu denganmu.” Baekhyun
menatapku. Dan tatapan itu membuat luluh, kemarahanku mereda.
“Sudahlah, lagipula walaupun kau
membantuku, aku pikir aku tetap tidak akan bisa mengatasi segalanya. Itu bukan
karena kau tidak membantuku. Hehe, mungkin karena otakku ini terlalu pandai
hingga tidak tertarik untuk memahami not not balok yang aneh itu”
“ Yak, maksudmu otakku terlalu
bodoh?”
“Tidak, kau aneh, seperti not not
balok itu.” Jawabku. Baekhyun tidak tertawa pada leluconku. Wajahnya berubah
serius dan malah merasa bersalah.
“Chaeyeon-ah, mulai sekarang aku
akan membagi waktuku untuk bisa bersamamu dan bersama Taeng tanpa mengabaikan
satu sama lain. Kalian berdua sangat penting untukku. Maafkan aku karena sempat
melupakanmu. Aku tidak akan melakukannya lagi, aku akan menjadi sahabat
terbaikmu, yang menjadi tempat untuk menumpahkan segala perasaanmu. Akan
kupastikan aku akan tetap berada di sisimu.” Urai Baekhyun. Saat itu rasanya
aku ingin menumpahkan air mataku di hadapan Baekhyun.
Demi Tuhan Baek, aku tidak ingin kau membagi apapun dengan Taeyeon. Aku
hanya ingin kau bersamaku saja.
“Baekhyun-ah...”
“Kenapa? Kau tersentuh?” Baekhyun
menyombongkan diri dengan kalimatnya yang memang begitu menyentuh hatiku.
“Tidak, aku lapar. Kau menyuruhku
kemari setelah masa orientasi. Aku benar benar kelaparan.”
“
Heeiiizz, merusak suasana saja..” Baekhyun kesal
“Baekhyun-ah, kalau kita tidak
makan sekarang, aku bisa mati.” Aku berakting lagi.
“baiklah, baiklah, untuk menebus
kesalahanku, aku akan mentraktirmu Barbeque! Cool?”
“Cool!!!!” Aku tiba tiba begitu
bersemangat dengan barbeque,entah karena aku akan makan bersama baekhyun atau
memang aku begitu menyukai barbeque.
Setelah hari itu, hubunganku dan
Baekhyun perlahan kembali seperti dahulu. Meski tidak sesering sebelumnya,
paling tidak dia memiliki waktu untuk bertemu denganku dan pergi keluar
bersama.
Dua tahun berlalu, aku sibuk
dengan kuliahku dan Baekhyun dengan kesibukannya dan persahabatan kami masih
terjalin sangat baik dengan perasaanku yang tidak pernah berubah meski aku
menyadari Baekhyun memiliki kekasih. Aku hanya perlu menerimanya... ya, aku
hanya perlu menerima bahwa Baekhyun tidak akan menjadi milikku maka aku akan
tetap berada disisinya sebagai sahabat.
Tapi kabar mengejutkan itu
datang, Baekhyun dan Taeyeon mengakhiri hubungannya. Baekhyun begitu patah
hati. Dia menjadi sangat frustasi. Aku tahu Baekhyun sangat mencintai Taeyeon.
Aku benar benar tidak menyangka Taeyeon meninggalkan Baekhyun begitu saja
apalagi Baekhyun hampir memberikan segalanya untuk kekasihnya itu.
Setelah kejadian itu, Baekhyun
mulai menutup diri terhadap wanita, tidak ada wanita yang mampu merobohkan
benteng pertahanannya untuk terus menutup diri pada wanita. Dia hanya pergi
dengan teman lelakinya dan satu satunya wanita yang bisa dia ajak pergi selain
ibunya hanyalah aku.
Dan sayangnya, aku tidak pernah
dianggap sebagai wanita oleh Baekhyun. Aku pernah berusaha meyakinkan Baekhyun
untuk mempertimbangkanku lagi, tapi dia tidak pernah mendengarkanku.
“Sampai kapanpun kau tetap
sahabatku Chaeyeon-ah. Jangan memintaku untuk membuatmu menjadi kekasihku. Aku
tidak mau kehilangan sahabatku hanya karena menjadikanmu kekasih yang bisa
meninggalkanku kapan saja.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu
Baek-ah, percayalah.”
“Kau tahu apa yang paling tidak
bisa kupercaya sekarang?” tanya Baekhyun. Aku mengerutkan dahi.
“Apa?” tanyaku.
“Hati manusia, hati manusia yang
mudah berubah, jangan pernah membuat janji seperti kau tak pernah
meninggalkanku tetapi pada akhirnya kau melakukannya. Aku hanya membutuhkanmu
menjadi sahabatku, disisiku, agar kau tak pernah meninggalkanku.” Jelas
Baekhyun.
Dua kali aku menyatakan
perasaanku padanya, aku memiliki dua penilaian yang berbeda. Awalnya aku
menganggap aku yang terlalu egois karena terlalu memaksakan perasaanku pada
Baekhyun, tapi saat ini bagiku Baekhyunlah orang yang paling egois itu.
Apa salahnya sahabat menjadi
seorang kekasih? Kita sudah saling mengenal satu sama lain. Aku yang selalu ada
untuk Baekhyun apapun yang terjadi begitu juga Baekhyun adalah orang yang
selalu ada untukku. Tidak perlu saling mengenal lagi karena kita sudah saling
mengenal lebih dari siapapun, tidak perlu berpikir siapa yang harus melakukan
untuk siapa. Sahabat lebih sempurna dari apapun untuk menjadi seorang kekasih.
Kau harusnya tau itu Baek
*Andante*
Ini sudah
ketiga kalinya aku meminta Baekhyun untuk mempertimbangkan perasaanku padanya
dan dia tetap saja menolakku. Aku terlalu naif, sangat yakin jika perlahan
Baekhyun pasti bisa membuka hatinya untukku hingga aku bertahan selama ini. Aku
hampir putus asa sekarang. Apa aku memang harus mengubur keyakinanku tentang
Baekhyun yang mungkin akan menerima perasaanku.
Hei Jung Chaeyeon! Bukankah kau berusaha terlalu keras? Apa kau tidak
lelah mengejarnya? Berhentilah! dan berjalanlah dengan nyaman mulai sekarang! ‘Bertahan
untuk mencintai seseorang’ tidak selalu berbanding lurus dengan ‘pada akhirnya
dia menerima perasaanmu’.
Suatu malam Baekhyun menjemputku
untuk makan malam, tetapi orang tua Baekhyun menghubunginya meminta untuk makan
bersama di rumah. Akhirnya Baekhyun mengajakku bersamanya. Sudah cukup lama aku
tidak mengunjungi rumah orang tua Baekhyun, mungkin sudah lima atau enam tahun
berlalu. Rumah kami sudah tidak lagi berdekatan karena orang tua Baekhyun
pindah sekitar enam tahun lalu dari perumahan yang sama denganku.
“Chaeyeon-ah, kau datang? Sudah
lama eomma tidak melihatmu.” Sambut ibu Baekhyun padaku. Dia masih hangat
seperti dulu. Menganggapku seperti anaknya sendiri. Ah, lebih tepatnya seperti
adik Byun Baekhyun. Aku memberinya bunga yang kubeli bersama Baekhyun sebelum
datang kemari.
Aku, Baekhyun, Kedua orang tuanya
serta kakak perempuan Baekhyun duduk bersama di ruang makan. Hari ini adalah
ulang tahun pernikahan orang tuanya yang hampir Baekhyun lupakan. Dasar anak
itu, bagaimana dia bisa melupakan ulang tahun pernikahan orang tuanya.
“Aku dengar kau sekarang membuka praktik
di dekat studio Baekhyun?” Tanya kakak Baekhyun.
“Ne, eonni. Hanya berbeda
beberapa blok dari studio Baekhyun. Kalau Eiko sakit kau bisa membawanya
padaku.” Jawabku. Eiko adalah anjing kesayangan kakak Baekhyun.
“Yeobo, bukankah mereka sangat cocok
bersama?” Kata Ibu Baekhyun pada suaminya.
“Haha, aku selalu berpikir kalau
suatu saat mereka menikah. Satu satunya wanita yang selalu Baekhyun temui hanya
kau Chaeyeon-ah.” Ayah Baekhyun tiba tiba membuatku tersipu walau aku tahu itu
adalah kebenaran yang tidak disangkal. Baekhyun memang hanya menemuiku.
“Appa, Eomma, kau membuat
Chaeyeon tidak nyaman.. kita kan hanya bersahabat.” Jelas Baekhyun.
“Yaak Baekhyuniee Chaeyeoniee,
kenapa tidak berkencan saja kalian berdua, huh?” pinta kakak Baekhyun.
“Noona! Jangan memanggilku
begitu, aku bukan Baekhyuniee-mu lagi, Ara?” Baekhyun mengerucutkan bibirnya.
“Tapi kalian benar benar cocok
bersama. Sungguh.”
“Aniyaa, kenapa kalian begitu
ngotot menyuruhku berkencan dengannya. Dia sahabatku dan selamanya akan seperti
itu!”
“Chaeyeoniee, kau benar benar
tidak memiliki perasaan pada Baekhyun?” tanya Ibu Baekhyun yang hanya ku jawab
dengan senyum paksaku. Jika ku ceritakan semuanya, mungkin seluruh keluarganya
akan mendukungku. Tapi apa yang harus kulakukan jika Byun Baekhyun saja tidak
menginginkannya.
“Eomma, kau benar benar
membuatnya canggung.” Protes Baekhyun
*Andante*
Baekhyun mengantarku setelah
makan malam bersama keluarganya. Baekhyun berkali kali meminta maaf padaku atas
sikap keluarganya yang mungkin membuatku tidak nyaman dengan makan malam tadi.
Sejujurnya kalimat kalian cocok bersama adalah kalimat yang paling sering
kudengar. Jadi aku tidak pernah merasa tidak nyaman. Bukan karena aku menyukai
kalimat itu. tetapi karena aku mulai terbiasa dengan kalimat itu. Kau cocok
dengannya, kenapa tidak pacaran saja? Aku pikir Baekhyun cocok denganmu. Bodoh
sekali kalau kau selalu menganggapnya sahabat. Apa kau tidak pernah memiliki
perasaan lebih padanya? Teman temanku sering menanyakan itu.
“Aku meminta maaf padamu karena
ku pikir Noona keterlaluan.”
“Tidak ada yang salah dengan
mereka, mereka hanya menginginkan kau segera memiliki kekasih. Tapi kau malah selalu
pergi denganku.”
“Apa salahnya pergi bersama
sahabatku? Aku senang pergi bersamamu.”
“Perlu kau ulang berapa kali kata
“sahabat” itu Byun Baekhyun? Aku bahkan cukup tahu diri dan tidak memintamu
mempertimbangkanku untuk yang keempat kalinya.”
“Chaeyeon-ah... aku takut kau
jadi salah paham.”
“ Apa kau akan terus menerus
memperjelas batas hubungan kita? Kau bahkan tahu pasti aku sangat menyukaimu.”
“Ta tapi aku tidak bermaksud
begitu. Aku hanya ingin kau tetap menjadi sahabatku.”
“Lalu aku harus bagaimana jika
perasaanku lebih dari itu. Kau sangat baik padaku, kau memperhatikanku, kan
selalu ada untukku. Bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padamu?”
“Itu karena kau sahabatku.”
“ Berapa kali kau akan mengatakan
sahabat sahabat dan sahabat. Hari ini aku benar benar benci menjadi sahabatmu!”
Aku meninggalkan Baekhyun segera
setelah perdebatan malam itu, menangis sejadi jadinya sampai pagi dan aku tidak
bohong soal membenci hubungan persahabatanku dengan Baekhyun. Aku benar benar
membencinya sekarang.
Tiga hari berlalu, aku selalu
menolak bertemu dengannya. Mengabaikan teleponnya, dan menolak ajakan makan
bersama. Dia juga datang ke klinik. Tetapi aku tidak pernah menemuinya. Jika
aku terus menemuinya, pergi bersamanya, dan mudah luluh padanya, maka aku sudah
tidak akan tertolong lagi. Aku mungkin akan selamanya terjebak dalam batas yang
selama ini Baekhyun buat untuk kami.
*Andante/ Author POV*
Setelah melepas jas putihnya,
Jung Chaeyeon mengganti baju dengan dress berwarna hitam polos selutut dengan
lengan panjang transparan yang menggembung. Rambut hitam kecoklatannya tergerai
bebas dengan poni samping yang tebal serta anting bulat keemasan yang senada
dengan kalungnya.
Dia menyapukan bedak tipis tipis
ke wajah dan memulas bibir dengan lipstick berwarna nude yang meninggalkan
kesan segar namun tetap sederhana . Dia mengambil tas kerjanya meninggalkan
kantor. Sore ini dia memiliki janji dengan seseorang di restoran dekat klinik
prakteknya.
Tapi Baekhyun sudah berdiri di
depan kliniknya sejak dua jam yang lalu, bersandar di mobilnya dengan
menyakukan kedua tangan. Sudah hampir sebulan mereka tidak bertemu karena
Chaeyeon terus saja menolak bertemu Baekhyun dan seminggu yang lalu Baekhyun
ada pekerjaan di Amerika sehingga dia baru menemui Chaeyeon setelah
kepulangannya.
“Hehei, temanku yang sangat
cantik. Akhirnya kau keluar juga. Aku sudah menunggumu sejak tadi. Bagaimana
kalau kita makan barbeque? Cool?” Baekhyun masih tetap sama, selalu membujuk
Chaeyeon dengan makanan. Bahkan anjing milik Ivan Pavlov saja tidak lagi
berliur ketika bel datangnya daging dibunyikan setelah sekian lama.
“Maaf Baekhyun-ah, aku sudah ada janji makan malam dengan seseorang.” Jawab Chaeyeon
“Kau? Makan malam? Dengan siapa?”
tanya Baekhyun penasaran. Ini adalah pertama kalinya Chaeyeon menolak Baekhyun
makan bersama.
“Hanya seseorang, kau tidak
mengenalnya.”
“Kalau begitu aku ikut kau saja,
kau juga sering mengajakku makan bersama teman temanmu dulu. Aku benar benar
rindu makanan korea setelah seminggu di Amerika.”
“ Baekhyun-ah,maaf hari ini aku
tidak bisa mengajakmu.”
“Wae?” tanya Baekhyun. “Oh ya,
ngomong ngomong kenapa kau cantik sekali malam ini..” puji Baekhyun. Tapi
sungguh, pujian itu terlontar begitu saja dari mulut Baekhyun karena Chaeyeon
memang jarang mengenakan dress dan riasan di wajahnya. “Jangan bilang kau mau
kencan buta!”
“Eoh, karena itu kau tidak perlu
ikut”
“Kau mau kencan buta? Ya, siapa
yang merekomendasikan kencan konyol semacam ini padamu? Huh? Memangnya kau
tidak bisa kencan dengan normal? Kenapa harus kencan buta. Kau tidak tau dia
seperti apa? Mengapa kau mau dijodoh jodohkan begitu saja dengan pria yang
bahkan kau tidak mengenalnya.”
“Ini kencan buta Baek,bukan
perjodohan. Kenapa berlebihan sekali.”
“Lalu kenapa kau mengiyakan, kau
dulu tidak pernah mau ikut kencan konyol seperti ini. Kau tidak mengenal pria
itu dengan baik, apakah dia jahat apakah dia baik, apakah dia benar benar
serius denganmu. Kau tidak mengenalnya Jung Chaeyeon.”
“Itu mengapa aku harus kencan
buta, Jika aku mengenalnya dengan baik, aku pikir aku hanya bisa jadi
sahabatnya. Sudah ya aku hampir terlambat.” Jawab Chaeyeon meninggalkan
Baekhyun yang membisu di depan klinik.
Baekhyun masuk ke mobil setelah
Chaeyeon berlalu, duduk di belakang kemudi dan menyetir ke rumahnya. Karena
Baekhyun tidak suka makan sendirian, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke
rumah orang tuanya.
“Ada apa kemari?” tanya ibu
baekhyun.
“Aku rindu pada ibu.” Peluk
Baekhyun saat ibunya menyiapkan makan malam di dapur. “aku rindu masakan ibu.
Kakak belum pulang?” Tanya baekhyun kemudian duduk di meja makan.
“Mungkin sebentar lagi, Mana
Chaeyeonie?” Tanya ibunya berharap gadis itu datang bersama anaknya.
“Pergi kencan buta.” Jawab
Baekhyun malas.
“Benarkah, siapa yang dia temui?”
Tanya Ibu Baekhyun penasaran.
“Molla, kenapa ibu menanyakannya
padaku.”
“Ya, kau kan sahabatnya, apa
Chaeyeon tidak mengatakan apa apa padamu.
Lalu kenapa wajahmu kesal begitu. Kau tidak suka Chaeyeon pergi kencan
buta?”
“Huh, mana mungkin aku kesal. Aku
senang akhirnya Chaeyeon bertemu seorang pria.
Aku hanya khawatir saja bu, bagaimana kalau dia bertemu pria yang tidak
baik, bagaimana kalau dia hanya dipermainkan pria itu. Chaeyeon bahkan tidak
tahu apa apa soal pria.” Jawab Baekhyun berapi api yang membuat ibunya tertawa
melihat sikap berlebihan anaknya.
“ Baekhyun-ah, ibu tanya padamu.
Apa kau benar benar tidak menyukai Chaeyeon?”
“Aku? Chaeyeon? Mana mungkin bu. Dia
temanku, sahabatku dan akan selamanya seperti itu.” Jawab Baekhyun. Ibunya
kemudian mematikan kompor dan bergeser duduk di hadapan anaknya.
“Lalu Chaeyeon, apa dia juga
menganggapmu seperti kau menganggapnya? Apa Chaeyeon hanya menganggapmu sebagai
sahabat? Jujur saja Baekhyun-ah, ibu melihatnya berbeda. Jung Chaeyeon sangat
menyukaimu. Apa kau tidak merasakannya? Saat kau mengalami gagal ginjal dan
butuh donor secepatnya. dia datang ke rumah sakit sambil menangis. Ketika kau
membutuhkan ginjal dia bersikeras ingin memberikan miliknya padamu. Ketika
jelas jelas ginjal kalian tidak cocok. Dia menangis melebihi tangisan ibu.”
“aku pun akan begitu ketika
Chaeyeon yang kena gagal ginjal bu. Dia menyayangiku sebagai sahabatnya.”
“ Anak ini benar benar tidak
peka, ckckck astaga... kau benar benar tidak tertolong Baekhyun. Apa benar kau
ini anakku.” Ibunya keheranan. Tidak ada satupun sifat ibunya yang turun kepada
Baekhyun.
“Eomma..”
“Oh iya kau tidak tahu kan,saat
itu Chaeyeon datang kemari saat hujan karena khawatir tentang keadaanmu. Dia
bilang kau meneleponnya dengan suara yang tidak baik. Lalu kau memutuskan
sambungan teleponnya. Dia khawatir dan mencarimu sampai kemari dan ternyata kau
sedang pergi liburan bersama kekasihmu.”
“Hah, Chaeyeon? Melakukannya?”
“Oh ada satu lagi...” Lanjut
ibunya tetapi Baekhyun menyela.“Eomma, aku pergi dulu. Kita lanjutkan besok
saja.” Baekhyun meraih jaket dan kunci mobil.
“Yaaa, kau harus makan dulu
sebelum pergi..” kata Ibunya.
“Tidak usah!” Jawab baekhyun dari
kejauhan. “Besok saja. Eomma.”
Baekhyun memarkirkan mobilnya di
dekat lapangan basket tempat mereka biasa bertemu dan berjalan menuju rumah
Chaeyeon.
“Ya Tuhan ini jauh sekali..”
Gumam Baekhyun setelah berjalan sekitar 15 menit dari lapangan. “Kenapa
Chaeyeon bisa secepat itu sampai di lapangan kalau....” Baekhyun berhenti
sejenak, seperti memikirkan sesuatu. Setelah sampai di depan rumah Chaeyeon, dia
mengambil ponselnya.
“Chaeyeon-ah!” Panggil Baekhyun
dengan terbatuk batuk. “Kau bisa menemuiku. Uhuk uhuk...” lanjut Baekhyun.
‘baekhyun-ah, kau sakit?” tanya
Chaeyeon diujung sana.
Setelah mereka menutup ponsel,
tiba tiba Chaeyeon menghambur keluar dan berlari menuju lapangan. Baekhyun
sengaja berdiri di tepi pagar agar tak terlihat oleh Chaeyeon.
Baekhyun terkejut ketika melihat
Chaeyeon berlari begitu cepat menyusuri jalan jalan kecil dan dia sempat masuk
ke apotik untuk membeli sesuatu.
Dia kembali berlari menuju
lapangan dan menghentikan langkahnya sebelum sampai di lapangan. Memperbaiki
letak jaket dan syalnya serta memasukkan obat ke saku jaketnya.
Chaeyeon mencari Baekhyun hingga
ke sudut lapangan, tapi Baekhyun tidak ada. Akhirnya Chaeyeon menelepon
Baekhyun.
“Kau dimana?” Nafasnya memburu
karena berlari secepat mungkin agar Baekhyun tidak menunggunya terlalu lama.
“Aku di mobil di depan lapangan.
Kau tidak melihatku?” tanya Baekhyun
“Tunggu sebentar, aku akan
kesana.”
Baekhyun sudah duduk di belakang
kemudinya, menunggu Chaeyeon datang padanya. Kini Baekhyun tau bagaimana cara
Chaeyeon datang padanya dengan sangat cepat. Dia berlari sekuat tenaga untuk
sampai padanya. Kenapa Chaeyeon harus berlari, bahkan jika dia berjalan dan
membutuhkan waktu yang lama Baekhyun akan tetap menunggunya.
“Kenapa lama sekali?” tanya
Baekhyun.
“Eoh? Oh, aku tadi sudah mau
tidur tapi kau menelepon. Jadi aku harus ganti baju dan sebagainya. Ada apa?
Kau tidak apa apa kan? Sepertinya kau flu, aku membawa..”
“Oh, aku tidak apa apa. Bagaimana
kencanmu?” tanya Baekhyun menyela Chaeyeon.
“Kau memintaku kemari hanya untuk
menanyakan itu?”
“Aku khawatir padamu.” Jawab
Baekhyun tertunduk di atas setir.
“Kenapa? Kenapa khawatir padaku?”
Raut wajah Chaeyeon penuh tanya. Mengapa Baekhyun sampai datang kemari hanya
untuk mengetahui bagaimana kencan butanya. Apa Baekhyun menyadari perasaannya
setelah Chaeyeon melakukan ini.
“ Kau kan sahabatku, aku khawatir
kau tidak melakukannya dengan baik. Aku khawatir karena kau bahkan tidak tahu
apa apa soal pria.”
Oh ayolah Chaeyeon, jangan
terlalu berlebihan. Mengapa Baekhyun harus menyadari perasaannya hanya karena
kau pergi kencan buta.
“Baekhyun-ah, mulai sekarang jangan
mengkhawatirkan apapun tentangku. Aku akan melakukan segalanya dengan
caraku.”Chaeyeon menarik gagang pintu mobil Baekhyun hendak keluar tapi Baekhyun
menarik lengannya, mencegahnya turun.
“Baiklah, kalau kau ingin kita berkencan. Ayo
kita berkencan” Ucap Baekhyun yang membuat Chaeyeon mengurungkan niatnya untuk
keluar dari mobil. Dia menatap Baekhyun beberapa lama.
“Kenapa? Kenapa kau mau berkencan
denganku?” tanya Chaeyeon ingin tahu. Kenapa baekhyun harus berkencan
dengannya. Selama ini Baekhyun begitu bersikukuh untuk bersahabat dengan
Chaeyeon dan tidak pernah mengubah perasaannya. Lalu kenapa malam ini dia
mengatakan ingin berkencan dengan Chaeyeon.
“Em... karena aku khawatir
padamu. Aku tidak ingin kau bertemu pria yang tidak baik dan....”
“Baekhyun-ah, berkencan bukan
karena kau mengkhawatirkan seseorang.” Jawab Chaeyeon.
“ Karena kau mencintaiku. Aku
akan berusaha mencintaimu juga Yeonie.”
“kau tidak bisa berkencan
denganku hanya karena aku mencintaimu. Mencintai seseorang bukan kegiatan balas
budi Byun Baekhyun”
“Lalu aku harus bagaimana agar
kau mau berkencan denganku?” Baekhyun tidak mengerti dengan situasinya. Dia
hanya khawatir pada Chaeyeon.
“Apa kau mencintaiku?” Tanya
Chaeyeon.Baekhyun terdiam setelah aku menanyakan pertanyaan paling sensitif
itu. Dia terlihat tidak punya apapun untuk bisa memjawab pertanyaan Chaeyeon.
“Kalau tidak, mengapa kau harus
berkencan denganku.” Tanya Chaeyeon kemudian bergerak keluar dari mobil
Baekhyun.
Baekhyun tetap duduk dibelakang
kemudian memandang Chaeyeon yang perlahan menjauhinya, gadis itu berjalan cepat
dan membuang sesuatu dari kantung jaketnya. Iya, obat yang dibeli Chaeyeon di
apotik baru saja. Baekhyun bingung dengan dirinya sendiri dan juga gadis yang
baru saja meninggalkannya.
“Mengapa wanita begitu rumit, dia
bilang mencintaiku, dia marah ketika aku tidak membalas perasaannya. Tapi
ketika aku berusaha membalas perasaannya, dia malah lebih marah. Jung Chaeyeon,
kau benar benar wanita sekarang.” Baekhyun mengusap wajah dengan kedua
tangannya. “Memahami wanita ternyata tidak semudah itu. Bagaimana bisa menuruti
kemauannya malah membuatnya marah.” Baekhyun menggeleng kepala lalu menyalakan
mesin mobilnya.
*Andante*
No comments:
Post a Comment