Wednesday, February 15, 2017

Second Life

Ruangan itu penuh alat penopang kehidupan, selang selang menempel di dada. Penjepit yang menghubungkan tubuh manusia dengan elektrokardiograf tepat berada  di  telunjuk kanan, dengan perlahan  jemari jemari itu bergerak hingga dokter menyadarinya. Aku bersyukur, aku bangkit dari tidur panjangku...




Kejadian itu tepat musim gugur dua tahun yang lalu. Setelah kesadaranku terenggut hampir lebih dari setahun di pembaringan rumah sakit. Aku membuka mata setelah mengalami koma akibat kecelakaan hebat. Aku sama sekali tidak ingat, tetapi dokter mengatakan begitu..



Sekarang aku kembali hidup sebagai manusia biasa, aku pikir, aku benar benar diberi kehidupan untuk yang kedua kalinya. Kenapa, kenapa bukan melanjutkan hidupku sebelumnya?



Karena aku kehilangan seluruh ingatanku.



Setelah terbangun, aku tidak memiliki ingatan, memori, atau kenangan yang tersimpan. Aku tidak tahu siapa namaku, dan dimana keluargaku. Kenapa aku berada di rumah sakit sendirian, kecelakaan apa yang aku alami, dan apakah aku seorang pria single atau beristri. Apakah aku memiliki anak atau rumah tempat kembali. Semuanya tidak ada yang terekam di otakku.



Benar benar kosong,



Itu mengapa aku selalu berpikir aku diberi kehidupan kedua. Bukan diberi kesempatan untuk melanjutkan hidupku. Tapi apa alasannya?



Tuhan memberikan kebuntuan terhadap pikiranku, tak ada ampun. Satu orang pun tak ada yang ku kenal. Aku pikir Tuhan telah menghukumku. Setelah terbangun, aku tidak membaik. Aku hanya menjadi sosok yang depresi karena tak mengingat apapun. Semakin aku mencoba mengingatnya, kepalaku semakin kesakitan, dan selalu muncul sekelebat cahaya putih yang hampir membutakan mataku.



Setelah mengalami masa sulit yang tak kunjung habis, aku tidak percaya masih ada satu hal lagi yang berbeda dari diriku. Hidupku benar benar sudah berubah. Tapi yang membuatku merasa Tuhan sedikit keterlaluan adalah kemampuanku yang... ah aku hampir gila. Mengapa Tuhan memberiku kemampuan ini? Aku hampir tak percaya. Melupakan segalanya bukankah sudah cukup? Kenapa aku harus melihat masa depan kehidupan manusia manusia lain?



Setiap manusia yang muncul dihadapanku, aku selalu melihat rekaman semua kejadian di masa depannya.  Sangat jelas...



Bagaimana dia hidup di masa depan, siapa yang akan mendampinginya, berapa anak yang dimilikinya, atau bahkan kapan waktunya telah habis di dunia.



Aku melihat bermacam macam masa depan baik, tapi aku lebih banyak melihat kematian, kejadian mengerikan, takdir buruk dan sikap putus asa.



Awalnya aku ikut campur dengan kehidupan manusia lain. Aku selalu menolong seseorang agar dia terhindar dari takdir buruk, hanya takdir buruk. Aku tidak mencampuri takdir baik orang lain. Tetapi semakin aku sering menolong, semakin membuat hidupku menjadi rumit. Menolong tidak selalu membuatku menjadi pahlawan. Aku bahkan sempat menjadi penghuni sel hanya karena ingin menolong gadis yang ditakdirkan terserempet truk pembawa sampah yang kebetulan berjalan di depanku.



Itu  bukan yang terburuk, aku sering keluar masuk kantor polisi, sebagai tersangka, sebagai saksi dan sebagainya. Ketika mereka bertanya apa alasanku berbuat demikian, atau menanyakan bagaimana bisa aku mengetahui hal itu, aku tak bisa menjawabnya karena jawaban paling jujur dariku tak pernah bisa diterima. Ketika aku mengatakan aku bisa melihat masa depan , mereka mencemooh, menganggapku gila.



Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, sampai akhirnya aku memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan kehidupan mereka. Aku tidak peduli ketika seseorang ditikam di belakangku meski aku sudah tau hal itu akan terjadi. Aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak lagi mencampuri takdir manusia lain, dan setelah itu kehidupanku mulai membaik. Manusia tidak berhak mencampuri takdir manusia lain yang sudah dituliskan Tuhan. Sadarku....



Tapi mengapa Tuhan memberiku kemampuan itu dan menghapus segala ingatan masa laluku?



<<Just before story>>
<<Belum tau lanjutannya>>
<<Tiba tiba pengen bikin genre fantasy>>
<<Tapi mentok lagi>>


No comments:

Post a Comment