Ruangan itu penuh alat penopang kehidupan, selang selang
menempel di dada. Penjepit yang menghubungkan tubuh manusia dengan
elektrokardiograf tepat berada di telunjuk kanan, dengan perlahan jemari jemari itu bergerak hingga dokter
menyadarinya. Aku bersyukur, aku bangkit dari tidur panjangku...
Kejadian itu tepat musim gugur dua tahun yang lalu. Setelah
kesadaranku terenggut hampir lebih dari setahun di pembaringan rumah sakit. Aku
membuka mata setelah mengalami koma akibat kecelakaan hebat. Aku sama sekali
tidak ingat, tetapi dokter mengatakan begitu..
Sekarang aku kembali hidup sebagai manusia biasa, aku pikir,
aku benar benar diberi kehidupan untuk yang kedua kalinya. Kenapa, kenapa bukan
melanjutkan hidupku sebelumnya?
Karena aku kehilangan seluruh ingatanku.
Setelah terbangun, aku tidak memiliki ingatan, memori, atau
kenangan yang tersimpan. Aku tidak tahu siapa namaku, dan dimana keluargaku.
Kenapa aku berada di rumah sakit sendirian, kecelakaan apa yang aku alami, dan
apakah aku seorang pria single atau beristri. Apakah aku memiliki anak atau
rumah tempat kembali. Semuanya tidak ada yang terekam di otakku.
Benar benar kosong,
Itu mengapa aku selalu berpikir aku diberi kehidupan kedua.
Bukan diberi kesempatan untuk melanjutkan hidupku. Tapi apa alasannya?
Tuhan memberikan kebuntuan terhadap pikiranku, tak ada ampun.
Satu orang pun tak ada yang ku kenal. Aku pikir Tuhan telah menghukumku.
Setelah terbangun, aku tidak membaik. Aku hanya menjadi sosok yang depresi
karena tak mengingat apapun. Semakin aku mencoba mengingatnya, kepalaku semakin
kesakitan, dan selalu muncul sekelebat cahaya putih yang hampir membutakan
mataku.
Setelah mengalami masa sulit yang tak kunjung habis, aku
tidak percaya masih ada satu hal lagi yang berbeda dari diriku. Hidupku benar benar
sudah berubah. Tapi yang membuatku merasa Tuhan sedikit keterlaluan adalah kemampuanku
yang... ah aku hampir gila. Mengapa Tuhan memberiku kemampuan ini? Aku hampir
tak percaya. Melupakan segalanya bukankah sudah cukup? Kenapa aku harus melihat
masa depan kehidupan manusia manusia lain?
Setiap manusia yang muncul dihadapanku, aku selalu melihat rekaman
semua kejadian di masa depannya. Sangat
jelas...
Bagaimana dia hidup di masa depan, siapa yang akan
mendampinginya, berapa anak yang dimilikinya, atau bahkan kapan waktunya telah
habis di dunia.
Aku melihat bermacam macam masa depan baik, tapi aku lebih
banyak melihat kematian, kejadian mengerikan, takdir buruk dan sikap putus asa.
Awalnya aku ikut campur dengan kehidupan manusia lain. Aku
selalu menolong seseorang agar dia terhindar dari takdir buruk, hanya takdir
buruk. Aku tidak mencampuri takdir baik orang lain. Tetapi semakin aku sering
menolong, semakin membuat hidupku menjadi rumit. Menolong tidak selalu membuatku
menjadi pahlawan. Aku bahkan sempat menjadi penghuni sel hanya karena ingin menolong
gadis yang ditakdirkan terserempet truk pembawa sampah yang kebetulan berjalan
di depanku.
Itu bukan yang
terburuk, aku sering keluar masuk kantor polisi, sebagai tersangka, sebagai
saksi dan sebagainya. Ketika mereka bertanya apa alasanku berbuat demikian,
atau menanyakan bagaimana bisa aku mengetahui hal itu, aku tak bisa menjawabnya
karena jawaban paling jujur dariku tak pernah bisa diterima. Ketika aku
mengatakan aku bisa melihat masa depan , mereka mencemooh, menganggapku gila.
Aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, sampai
akhirnya aku memutuskan untuk tidak peduli lagi dengan kehidupan mereka. Aku tidak
peduli ketika seseorang ditikam di belakangku meski aku sudah tau hal itu akan
terjadi. Aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak lagi mencampuri takdir
manusia lain, dan setelah itu kehidupanku mulai membaik. Manusia tidak berhak
mencampuri takdir manusia lain yang sudah dituliskan Tuhan. Sadarku....
Tapi mengapa Tuhan memberiku kemampuan itu dan menghapus
segala ingatan masa laluku?
<<Just before story>>
<<Belum tau lanjutannya>>
<<Tiba tiba pengen bikin genre fantasy>>
<<Tapi mentok lagi>>
No comments:
Post a Comment